
"A, ada apa?" tanya Anna gugup.
Tidak menjawab pertanyaan wanita itu, Kiandra malah masuk tanpa permisi dan menutup pintu.
Anna tertegun. Matanya bergerak panik, meski sebisanya ia tetap terlihat tenang. Eskpresi Kiandra kaku seperti biasa dan itu makin membuat pikiran Anna mengarah ke hal-hal tidak baik.
Pria itu melangkah maju. Jantung Anna berdetak makin kencang. Belakang-nya persis adalah ranjang dan ia memilih tetap bertahan di tempat.
Anna hampir tak bisa bernafas, saat Kiandra berjalan makin mendekat.
"Sore ini ada orang datang membawa pupuk." ucap Kiandra datar.
Anna tertegun menatap pria yang kini berada tepat di hadapan-nya, serta tengah menatap dirinya
"Ibu tadi lupa memberitahu, dan menyuruhku menyampaikan padamu." ia menerangkan.
Kedua mata Anna mengerjap. "O, ooh...iya...Nanti..nanti akan saya tunggu...orang...yang membawa pupuk..." ucap-nya gugup.
Dia cuma mau menyampaikan hal itu?
hati Anna, masih tak tenang.
Ia melirik ke arah pintu yang tertutup di belakang Kiandra, lalu kembali menunduk gelisah.
Kenapa pintu kamar-nya harus di tutup?
batin Anna, sembari mengigit bibir bawah.
"Kau itu kebiasaan, ya?" Kiandra berkata lugas.
"Apa...?" Anna mengangkat muka tak mengerti.
"Kau selalu mengigit bibirmu sendiri. Hentikan kebiasaanmu itu." perintah Kiandra dengan muka masam.
Anna baru membuka mulut hendak menimpali, ketika pria itu sudah lebih dulu maju dan mengusap bibir-nya.
Anna meringis, sebab bibir bawahnya memang sedikit lecet.
"Lihat, luka kan?" nada bicara Kiandra terdengar mengintimidasi.
Kedua alis Anna hampir menyatu. Bibir bawahnya terluka, memang karena ia gigit kuat malam itu. Tetapi, dia melakukannya karena tindakan Kiandra yang seolah hendak memperk*sa-nya.
"Jangan...jangan sembarangan menyentuh saya!" larang Anna seberani mungkin.
Awalnya Kiandra kaget. Tapi, kemudian dia malah tersenyum, lalu melangkah mendekat.
"Tunggu...ja, jangan..." Anna mundur-mundur sampai menubruk pembatas tempat tidur.
"Kenapa sekarang kau takut?" Kiandra sedikit membungkukkan badan, agar wajah mereka sejajar. "Jangan menyentuh mu?" ia mengulang kalimat Anna dan berlagak kaget. "Kau lupa, kalau semalam kita sudah bersentuhan?" Kiandra menekankan pada kata terakhir.
Seketika wajah Anna memerah. Dia ingin membantah. Tapi, tak satupun kata yang keluar dari bibir-nya yang mulai gemetar.
"Aku rasa...selain semalam, kita juga sudah sering bersentuhan." Kiandra menegakkan tubuh, membuat tinggi wanita itu kini hanya sedagu-nya.
Mata Anna membelalak. "Kapan saya..?" ia tercekat. Dia merasa tak pernah melakukan apa yang pria itu tuduhkan.
"Pura-pura lupa?" Kiandra melipat kedua tangan ke dada dan tersenyum sinis.
"Saya tidak pura-pura!" bantah Anna marah. Ia kesal, karena di tuduh begitu. Hanya malam itu mereka bersentuhan, itupun karena pikirannya sedang kacau akibat bayangan masa lalu yang selalu menghantui.
"Waktu kita makan sushi. Di dalam mobil kau menangis, lalu aku menenangkanmu dengan..."
"Tidak!" potong Anna cepat. "Saya memang menangis. Tapi, itu karena ada hal lain dan ketika di mobilpun anda tidak...." Mendadak perkataan Anna terhenti.
Kiandra menatap angkuh tanpa senyum.
Ya Tuhan....
Anna menutup mulut dengan bola mata bergetar.
rapat-nya dalam hati.
"Masih berani mungkir?" tanya Kiandra tanpa emosi. Tetapi, ekspresi-nya terlihat lebih menakutkan dari biasa.
Anna tak mampu menjawab. Bahkan ketika Kiandra maju sampai jarak mereka hanya beberapa jengkal, Anna masih diam tak bergerak.
"Anna, kenapa tiba-tiba kau menghilang dan muncul di sini dengan nama Delana?" Kiandra kembali bertanya.
Anna meneguk ludah. Rasanya sulit, sampai kerongkongkannya sakit.
Seharunya aku tidak terpancing...
Anna masih saja menyesal.
Kiandra menjebak-nya. Pria itu sengaja menuduhnya untuk sesuatu yang tidak di lakukan, membuat-nya sentimen dan akhirnya terucap sebuah kejujuran.
Keadaan kamar sunyi tanpa suara. Mereka masih berdiri berhadapan tanpa bicara. Sampai akhirnya Anna mengalah, dengan menghela nafas putus asa.
"Delana...memang nama asli saya." ucap-nya nyaris tak terdengar.
Kiandra masih menunjukkan sikap menghakimi.
"Saya betul-betul amnesia, saat Bu Marisa menabrak saya. Lalu..." Anna merunduk, serta kembali mengigit bibir bawah.
Hal itu membuat Kiandra berdecak, seraya mengusap bibir wanita itu lagi.
Serta merta Anna memalingkan muka dengan kening berkerut. Ia ingin protes, agar Kiandra berhenti melakukan hal itu. Tetapi, pada akhirnya ia tak mengatakan apapun dan cuma tertunduk makin dalam.
Anna tak mampu melawan, karena merasa bersalah sudah berbohong.
"Tas saya di curi. Saya...tidak mempunyai apapun. Saya...saya memanfaatkan kebaikan ibu anda...supaya...supaya..." Anna kesulitan untuk jujur. Ia merasa malu. Tapi, dia memang memerlukan rumah dan makan, serta tak mau lagi hidup terlunta di jalanan.
Anna hampir saja mengigit bibir bawahnya kembali, kalau saja tidak ingat kelakuan Kiandra.
Sebenarnya ia sudah bisa memprediksikan semua ini. Bahwa suatu saat, kebohongannya akan terbongkar. Hanya saja, Anna tidak pernah menyangka, jika hakim-nya adalah Kiandra.
"Saya minta maaf..." Anna berkata tulus. Ia sungguh-sungguh tidak bermaksud membohongi keluarga yang sudah begitu baik padanya. "Begitu mendapat pekerjaan. Saya berjanji akan segera pergi dari rumah ini, serta tidak akan lagi..."
"Siapa yang menyuruhmu pergi?" tanya Kiandra, sebelum kalimat yang di ucapkan wanita itu selesai.
Anna tercenung. Kedua mata yang sudah meremang dan siap mengucurkan air-nya itu kini menatap-nya heran.
"Aku kan cuma tanya, kenapa kau menghilang dan tiba-tiba muncul dengan nama Delana. Apa dari kalimatku ada kata-kata yang menyuruhmu pergi?" tanya Kiandra ketus.
Raut Anna semakin sedih.
"Tas mu hilang? hilang dimana? kau kan tahu kantorku. Kau tinggal datang dan menyebut namaku. Aku pasti bantu carikan. Kenapa kau malah tertabrak mobil ibu? beruntung supir ibu tidak pernah ngebut. Bisa mikir, bagaimana kalau bukan ibu yang menabrakmu? mungkin sekarang kau sudah..."
Kiandra berhenti mengomel, ketika melihat bahu Anna gemetar dan pipi-nya sudah basah oleh air mata.
Anna berusah tak menangis di depan orang lain. Dia selalu menahan semua sendiri. Tetapi, kata demi kata yang di lontarkan Kiandra membuat hati-nya merana.
Anna tahu dia salah. Dia membohongi semua orang, termasuk Nisa dan kini ibu Kiandra, semata demi keegoisan-nya.
Hal itu menyadarkan Anna, bahwa dia tak berkemampuan. Jangankan membawa pulang berlian keluarga-nya kembali ke Kelantan. Untuk menghidupi dirinya sendiri pun, ia belum mampu.
Anna terisak, sembari merunduk dan menutupi wajah-nya dengan tangan.
Kenapa dia malah menangis? aku kan tidak mengusirnya. Apa dia tak paham ucapanku?
Kiandra mengacak rambut-nya sendiri. Ia selalu bingung, kenapa wanita bisa begitu gampang menangis.
Namun, perlahan ia mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk pundak Anna pelan
"Aku minta maaf. Sudah, jangan menangis lagi..." Kiandra berkata canggung.