Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
SIA-SIA



Hari hampir pagi, tetapi Rico masih duduk di meja kerjanya sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.


Akibat yang di timbulkan dari aksi nekatnya beberapa hari lalu, ternyata lebih buruk dari yang ia kira.


Tidak hanya somasi yang bisa berujung deportasi. Tapi juga Perusahaannya yang kini tidak bisa menjual barang apapun.


Marthadinata Groub dengan jaringan bisnisnya yang luas, dengan begitu mudahnya memerintah Perusahaan-Perusahaan kecil di sekitarnya untuk mengeluarkan semua produknya dari toko mereka. Entah imbalan apa yang yang di beri, sehingga mereka bisa begitu tunduk dengan Perusahaan Multinasional itu.


Sekali lagi Rico menghela nafas panjang, kemudian memijit keningnya yang berdenyut. Pikirannya rumit, dengan berbagai masalah yang terjadi sekarang dan kenangan masa lalunya dengan Anna yang tumpang tindih.


Seandainya aku tidak gegabah dalam bertindak.


batinnya sedikit menyesal.


Namun, ia sangat marah dengan kenyataan yang memang benar Anna ada hubungan dengan CEO Marthadinata Groub itu.


Benar ia dulu hanya memanfaatkan gadis itu. Tapi, hatinya juga tidak bisa terus-terusan menyangkal, jika ia menaruh hati padanya.


Akan tetapi, perbedaan derajat dan semuanya membuat ia mustahil untuk bersanding dengannya. Dan akhirnya ia memilih menjadi penjahat.


Harusnya aku tiduri saja dia waktu itu!


ia mengepalkan tangan di atas meja.


Melihat kehancurannya di depan mata membuat gundah. Ia bingung harus bertindak bagaimana untuk menyelamatkan masa depan dan Perusahaannya.


Ia menoleh ke arah laptopnya yang mati. Di sampingnya terdapat lembar undangan berwarna merah muda yang bertuliskan namanya dan Radha. Itu adalah contoh undangan pernikahan mereka yang baru beberapa hari lalu di kirim untuk meminta acc cetak, jika sudah puas dengan hasilnya.


Selama bertahun-tahun, akhirnya ia menemukan wanita yang cocok untuk memenuhi ambisinya. Tetapi, semua hancur karena cemburu butanya.


Iya, dari pada kaget saat tahu Marthadinata Groub membatalkan perjanjian kerjasama. Ia lebih syok, ketika melihat Anna berada di samping CEO itu. Membuat otaknya membenarkan segala pikiran negatifnya, serta membuat emosinya bak di guyur minyak tanah.


"Aku masih punya permata itu." ucapnya seorang diri. "Sampai kapanpun, tidak akan aku berikan benda itu." ia bertekad.


Tiba-tiba dari jendela kamar terlihat sorot lampu mobil. Rico tak beranjak dari duduk, sebab ia sudah tahu, siapa yang datang di pagi buta seperti ini.


Begitu masuk ke dalam rumah, Radha langsung menuju kamar tidur. Tapi sayang, orang yang di carinya tak ada. Kemudian dengan terburu, dia berjalan menuju ruang kerja, hingga lupa untuk menutup pintu kamar.


Radha yang harus pulang-pergi dari Jakarta-Kuala Lumpur, segera pulang dengan penerbangan awal, begitu mendengar berita buruk dari Pamannya yang tinggal di Jakarta.


"Rico!" serunya begitu pintu di buka.


Pria dengan kaos merah dan muka lelah itu tak terkejut, karena sebelumnya sudah memperkirakan.


"Apa yang terjadi? Kenapa jadi seperti ini?" tanyanya begitu duduk di hadapan Tunangannya itu.


Rico tak menunjukkan reaksi apapun.


"Barang-barang kita banyak yang retur. Sedangkan di KL, kita sudah terlanjur order dalam jumlah besar. Akan kita kemanakan barang-barang itu?" mengebu-gebu wanita Melayu itu bercerita.


Rico memalingkan muka dengan begitu tenangnya. Sangat kontras dengan Radha yang sampai lupa nafas ketika bercerita.


"Paman juga menagih seluruh uangnya di kembalikan, karena beliau merasa Perusahaan kita sudah tidak punya harapan." ia menurunkan intonasi suaranya karena kecewa dengan respon pria itu.


Kening Rico berkerut, lalu memandang wanita dengan dress tanpa lengan warna putih itu.


"Kenapa... kau harus membuat marah seorang Kiandra Marthadinata?" tanya Radha sedih.


Muka Rico langsung merah padam. Kata-kata yang paling tidak ingin ia dengar. Seolah ia memang terlahir hanya untuk melayani yang berkuasa. Menekankan pada dirinya sendiri, bahwa mau sekeras apapun ia berusaha, letaknya akan tetap di bawah, sebab ia tidak terlahir dari keluarga yang mempunyai privilege.


"Kita minta maaf." ucap wanita itu kemudian, membuat Rico seketika menatap ke arahnya. "Mungkin dengan meminta maaf, semua masih bisa di perbaiki." lanjutnya.


"Rico!" hardik Radha sambil berdiri. "Golden Hope seperti anak untuk kita. Keringat dan air mata kita di situ. Selama bertahun-tahun kita menumbuhkannya. Kenapa kau begitu enteng melepasnya? Apa kau tak memikirkan kepercayaan keluargaku yang sudah menjadi pemodal untuk usah kita itu? Lalu Paman. Apa kau pikir sebelum ke sini, aku tak memohon-mohon kepada beliau agar bunga yang mesti kita bayarkan bulan ini bisa di tangguhkan? Aku mampu merendahkan harga diriku! Tapi kenapa kau tidak mau melakukan hal yang sama, padahal masalah ini bermula dari dirimu sendiri!"


Rico menghela nafas berat, kemudian memalingkan muka. "Batalkan saja pernikahan kita." ucapnya.


Kedua mata Radha seketika membulat sempurna. "Apa...?" ia berguman tak percaya.


Pria dengan celana panjang kain dan kaos oblong warna merah itu bangkit dari duduk, kemudian berjalan ke arah pintu. Akan tetapi, Radha segera mencegah.


"Apa selama ini kau tak mencintaiku?" ia bertanya sembari menatap dalam-dalam calon suaminya itu.


"Sudahlah Radha." Rico berkata tanpa emosi. "Kalau kau mau uang keluargamu, jual saja Golden Hope beserta property nya. Walau itu masih belum cukup untuk melunasi separuhnya, tapi setidaknya aku ada niat untuk mengembalikan." ia berjalan ke samping untuk menuju pintu.


"Sudah aku duga." ucap Radha, menghentikan gerakan Rico yang hendak memutar handle pintu.


Wanita berambut panjang itu berbalik dan menatap punggung Rico yang menghadap pintu. "Kau hanya menanfaatkan ku untuk karirmu. Kau sama sekali tidak mencintaiku." tuduhnya dengan suara bergetar.


Rico terdiam. Kemudian pergi begitu saja, tanpa memberi klarifikasi terlebih dulu.


Radha menangis seusai kepergian Tunangannya itu. Padahal ia berharap Rico mengatakan mencintainya, meski dalam hati ia tahu jika itu bohong.


.


Keesokan harinya, beberapa Penyidik datang untuk membawa Rico ke kantor Polisi. Dengan bukti CCTV dan atensi dari Marthadinata Groub, dengan mudah ia di jadikan tersangka dan di pulangkan ke Negara asalnya.


Dalam perjalanan dari Jakarta menuju Malaysia, ia menatap keluar jendela pesawat dengan pikiran melayang. Sedangkan di kanan, depan dan belakang tempat duduknya di jaga intel untuk memastikannya tidak kabur.


Rico tegar menjalani itu semua. Bahkan ia tidak terkejut, kenapa surat penahannya turun begitu cepat. Iya, uang bisa mengatur segalanya.


Aku tidak perlu uang banyak. Cukup kita bersama. Aku mau hidup apa adanya.


Mendadak ia teringat ucapan Anna bertahun-tahun lalu.


Delana, kau ambisiku. Tapi, kau juga yang membuatku tersungkur sampai ke dasar jurang seperti ini.


ia berkata dalam hati.


Semua orang mengira dia telah kalah. Tetapi, hal terbaiknya masih ia simpan, dan itu membuatnya tersenyum diam-diam.


.


Di waktu yang hampir bersamaan, di ruang tunggu bandara, Radha masih duduk sembari menatap langit biru di atas sana.


Meski tak bisa bertemu secara lamgsung. Akan tetapi, rasa cintanya yang begitu besar kepada pria itulah mendorongnya untuk datang.


"Lupakan saja laki-laki tak tahu diri itu."


orang tuanya menyarankan.


Namun, mana mungkin perasaanya bisa beralih secepat itu.


Rico, seandianya kau mau minta maaf...


batinnya masih menyesali sikap tinggi hati mantan Tunangannya tersebut.


Pada akhirnya, semua yang ia lakukan untuk orang yang di cintainya sampai mengorbankan seluruh harta benda dan kepercayaan keluarganya sendiri, berakhir sia-sia.


Radha yang malang.