
Masih ia dengar si ibu memanggil berkali-kali. Namun tetap tak Kiandra indahkan.
Seharusnya aku tak pulang ke rumah. Sesalnya dalam hati.
Dengan tergesa Kiandra menyalakan mesin mobil, kemudian menginjak pedal gas kuat.
Sesaat saja, Mobil BMW M5 warna tanzanite blue metallic itu melaju kencang melewati jalan beraspal panjang yang membelah halaman rumah keluarga Marthadinata yang memiliki danau serta kebun bunga mawar putih lengkap dengan rumah kaca di tengahnya yang nampak menjulang.
"Sial!" Kiandra memukul setir berkali-kali, ketika mobil tersebut memasuki jalan raya.
"Aku sampai membelikan bunga untuk ibu karena ingin minta maaf. Tapi kenapa aku malah membahas hal tak penting dan sudah lama berlalu?" Kiandra tak habis mengerti. "Bahkan aku berkata kasar dan pergi tanpa pamit pada ibu." Ia mengusap wajah, lalu menghela nafas.
Daddy bisa membunuhku kalau tahu ibu menangis karena aku. Kiandra murung mengingat raut ibunya yang di penuhi air mata, namun masih berusaha menjelaskan dan tak menyalahkan sudut pandangnyan yang berbeda.
Kau memang anak durhaka, Kian. Dia membodohkan diri sendiri. Padahal apa susahnya diam dan mengangguk? Biar cepat selesai! ia memperingatkan diri sendiri.
Jam di mobil menunjukkan pukul dua belas dini hari. Suasana jalan raya sepi dan hanya terdapat beberapa kendaraan yang masih beroperasi.
"Ini semua terjadi karena gosip-gosip sampah itu!" Kiandra mulai muak. "Memang kenapa kalau tak punya pasangan? Apa setelah punya pasangan lalu semua menjadi happy end? konyol!" Ia marah-marah seorang diri di dalam mobil sembari menyetir. "Buat apa punya pasangan hanya untuk s3x dan berkembang biak. Hewan juga bisa kalau hanya seperti itu, anjing!" Jika dalam keadaan emosi dan sendiri, sisi kekanakan Kiandra akan muncul dan memperlihatkan sifat asli dari Chief Executive Officer dari Perusahaan raksasa Marthadinata-Sanjaya Groub yang terkenal tenang dan sangat kharismatik itu.
"Aseksual, Gay, Impoten!"
Makian Ayahnya masih membayang.
"Aku tak percaya teman baik ku homo."
Perkataan Alexa dengan gaya hiperbola turut serta melintas di pikiran.
"Impoten tahu apa soal mengoda dan di goda."
Guyonan Ethan beberapa waktu lalu menambah tinggi tensi Kiandra.
"Dikira selama ini aku tak tersinggung di sebut gay dan impoten?" dia mengomel. "Aku hanya tak seperti kalian yang murahan dengan membiarkan sembarang wanita menyentuh." Kiandra teringat kawan-kawannya yang suka cek in dengan wanita berbeda.
"Mau secantik atau semenarik apa pun, namanya bekas ya bekas. Apa lagi bekas pakai banyak orang." Kiandra mengusap rambut cepaknya dengan kening yang sedari tadi berkerut.
Standar Kiandra tentang semua hal memang tinggi. Tak terkecuali soal wanita.
Di saat semua temannya tergerus arus negatif milenial dengan pacaran sama dengan bebas melakukan hubungan layaknya suami istri. Dia tetap menjaga standar, dengan tak mau ikut-ikutan.
Bahkan Kiandra pernah sangat marah, sampai menyiram kan air ke wajah wanita penghibur dan memakinya habis-habisan. Sebab dengan lancang, wanita tersebut berani mengerayangi paha atasnya. Karena itu pula, jika datang ke Club, tak ada satu pun wanita penghibur yang berani mendekati Kiandra lagi.
Padahal jangan tanya, telah berapa perempuan yang menyatakan cinta sejak ia masih berseragam putih-merah.
Itu belum termasuk yang mengagumi Kiandra diam-diam. Mengirim surat, bunga, cokelat, serta aneka barang lain yang selalu memenuhi loker milik pria berwajah dingin tersebut, tanpa dia sendiri tahu siapa yang mengirim.
Tapi tentu saja, siapa yang tak jatuh cinta pada wajah tampannya yang terpatri indah.
Bibir tipis, hidung mancung, postur bak model, dan dari semua itu yang paling istimewa dari seorang Kiandra Mahika Marthadinata adalah, sepasang mata berwarna cokelat terang yang mampu menyihir siapa pun yang memandang.
Warna mata unik seperti orang barat, namun face ketimuran dengan mata lebar khas asia tenggara.
Melengkapi kesempurnaan Kiandra, dia terlahir sebagai anak laki-laki keluarga konglomerat yang kekayaanya masuk daftar seratus orang terkaya di dunia.
Tampan dan kaya. Dua hal yang di damba dan di cari semua orang di dunia yang fana ini. Namun Kiandra memilikinya, tanpa perlu bersusah payah.
Tapi begitulah, tak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini.
Entah manusianya yang tak pandai bersyukur, atau memang ukuran sempurna tiap orang itu berbeda.
Kiandra memicingkan mata melihat kaca spion tengah. Dalam jarak beberapa meter ke belakang, sebuah motor CBR 250RR warna bravery red black terlihat mengikuti.
Mood nya yang buruk memuncak. Pada sebuah tikungan, mendadak Kiandra menghentikan laju mobil, lalu keluar dan membanting pintu.
"Hor auf, mir nachzulaufen!" (Berhenti mengikutiku!) bentak pria itu begitu sampai di hadapan Victoria.
Dari awal Kiandra tak setuju soal bodyguard wanita. Dia risih dan merasa tak nyaman seorang wanita mengikuti bagai stalker .
Harga dirinya juga terusik, karena pria seharusnya yang melindungi wanita. Walau atas nama emansipasi, hal seperti itu kini tak berlaku,
"Chief..." Victoria yang telah di sumpah untuk menjaga dan melindungi Kiandra di mana pun dan kapan pun itu hendak berkata.
"Gehen!" (Pergi!) potong Kiandra sebelum wanita berjaket kulit dengan rambut panjang di kuncir tinggi itu menyelesaikan kalimatnya.
"Nein, Chief." (Tidak, Chief) Tidak seperti biasanya, kali ini Victoria menolak tegas. "Ich kann dich nicht allein lassen. Meine pflicht, dich zu beschutzen." ( Saya tidak bisa meninggalkan anda sendiri. Tugas saya melindungi anda.)
Muka Kiandra merah padam.
Bodyguard kelahiran Munchen-Jerman itu memang berada di bawah perintah Ayah Kiandra langsung. Membuat ia tak bisa memecat atau pun memberi perintah di luar perjanjian Victoria dengan sang Ayah.
Tiba-tiba tanpa di sangka, Kiandra telah mencabut kunci kontak dari motor sport warna hitam dengan list merah milik Victoria, kemudian melempar benda kecil penting itu ke kekegelapan malam.
Mata Victoria seketika membulat. Tak menyangka Chief nya akan berbuat kekanakan begini.
"Komm, folge mir weider, verdammth!" (Ayo, ikuti aku lagi, sialan!) ejek Kiandra kemudian berbalik arah menuju mobil.
Victoria kelabakan dengan motor yang kini tanpa kunci kontak. Dia makin kebingungan, ketika mobil Kiandra mulai berjalan meninggalkan diri nya di pinggir jalan raya yang gelap.
"Tahu rasa dia." Kiandra menyringai memandang Victoria dari kaca spion tengah yang menampilkan sosok wanita blasteran Indonesia-Jerman itu tengah membungkuk menelusuri semak di pinggir jalan mencari-cari kontak motornya yang hilang.
Sebenarnya Victoria tidak lah bersalah. Dia hanya korban kekesalan Kiandra, sebab wanita tersebut telah berani menolak perintahnya.
Kiandra menginjak pedas gas lebih dalam, ketika melihat seorang pengendara motor lain lewat dan terlihat hendak membantu Victoria.
Tentu saja tak benar-benar 'membantu', sebab sangat rawan seorang wanita berada di jalananan sepi dini hari seperti ini. Apa lagi dengan wajah cantik, serta baju ketat seperti Victoria.
Tapi Kiandra masa bodoh. "Hajar saja mereka jika berani macam-macam."
Benar saja, tak lama terdengar pekik kesakitan seorang pria yang tangannya di plintir oleh Victoria.
"Bastard!" Victoria memukul wajah pengendara yang pura-pura membantu, nyatanya malah berniat melecehkan dirinya tersebut.
.
Kiandra telah memutari jalanan ibu kota hampir satu jam dengan pikiran melayang.
Kalau di pikir aku memang tak pernah dekat dengan wanita manampun kecuali Ibu dan Alexa. Ia merenung.
Setelah beberapa jam berkeliling, emosi Kiandra reda sendiri.
Mungkin jika aku sekali saja pernah berpacaran, maka tak akan ada gosip gay atau pun impoten. Ia mulai bisa berpikir dingin, bahwa tak mungkin ada asap tanpa ada api.
Kiandra menghela nafas panjang beberapa kali. Amarahnya kini benar-benar hilang. Di lihat jam di tangan telah menunjukan hampir pukul dua pagi.
"Lebih baik aku pulang dan tidur." Ia memutuskan.
Baru saja Kiandra berpikir begitu, mendadak matanya membulat melihat seorang wanita dengan piyama keroppi berdiri di pinggir jembatan layang.
Mulut Kiandra mengangga. Matanya tak berkedip demi memastikan, jika wanita itu adalah orang yang ia kenal.
"Anna?" Kiandra tak yakin.
Lingkungan di situ senyap oleh malam. Namun Kiandra memastikan bahwa itu benar si target, si pencuri, dan si penjual bunga.
Wanita yang hanya dalam tempo satu hari, telah Kiandra temui sebanyak tiga kali dan dalam ketidaksengajaan yang rumit.