Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
CARA DAN ILMU



Anna bangun dengan wajah kusut, serta mata bengkak. Untungnya, ini hari sabtu, dan meskipun toko tetap buka. Tapi Nisa memerintahkan agar khusus di hari sabtu, ia libur dari semua rutinitas di toko.


Alhasil, Anna masih berbaring tengkurap di kasur busanya yang tipis, meski matahari telah tinggi.


Wajah pucat Anna yang menatap jendela, terbias sinar mentari, membuatnya sedikit nyaman oleh rasa hangat. Walau semakin siang, sinarnya semakin membuat pedih di mata.


Anna masih dalam posisi tengkurap dan menatap ke luar dengan pandangan kosong. Mimpi tentang Kiandra semalam, membuatnya merana. Sampai-sampai ia menangis sepanjang malam dan kini tubuhnya seolah tak bertulang.


Mendadak perut Anna berbunyi, membuatnya mau tak mau bangkit dari tidur tengkurap dan kini duduk di atas kasurnya yang langsung beralas lantai.


Sudah hampir jam sebelas, dan dia belum sarapan. Dia enggan beranjak dari peraduan. Namun perutnya mulai protes minta di isi.


Mimpi adalah peringatan. Mengabaikan rasa lapar, Anna malah merenung. Dan ini adalah peringatan untukku, supaya menjauh dan tak menjalin hubungan apa pun dengan pria itu.


Masih sangat jelas dalam ingatan Anna, wajah sinis Kiandra yang muncul di mimpinya.


"Berapa harga yang harus ku bayar untuk barang rusak?"


Anna memeluk tubuhnya yang mendadak mengigil mengingat bisikan Kiandra yang menusuk gendang telinga.


"Tidak, itu tidak nyata. Itu hanya mimpi. Hanya mimpi." Anna menekankan berkali-kali kalimat tersebut, kemudian menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan. Hal itu ia lakukan sampai tiga kali, atau kadang lebih, untuk menenangkan diri.


Setelah mampu menyembunyikan ketakutannya dengan baik, Anna mulai merapikan tempat tidur, kemudian beranjak hendak mandi.


"Anna, kau sudah bangun?" suara Nisa dari balik tirai terdengar, membuat Anna mengurungkan niat untuk mandi dan meletakkan kembali handuknya.


Kamar pribadi Anna memang tak berpintu, melainkan hanya di tutup kordeng tebal, sebab sebenarnya itu hanya satu ruangan. Hanya, Nisa membagi menjadi dua dengan dirinya.


"Anna, kau sudah bangun?" kembali Nisa bertanya dari balik tirai. Walau ia tinggal menyibak kain tipis itu untuk masuk ke area kamar tidur. Namun Nisa tak melakukan, dan memilih menunggu.


"Sudah, Tante." Cepat-cepat Anna mengulung rambut, lalu membuka tirai.


"Lihat!"


Begitu Anna membuka tirai, di depannya terdapat paperbag ukuran sedang yang di julurkan Nisa sampai hampir mengenai wajah.


"..Apa ini...?" tanpa sadar Anna bertanya. Mulutnya membuka dan matanya membulat kaget melihat paperbag dengan motif autentic bertulisakan Dior di bagian tengah.


"Coba di buka. Tante juga penasaran." Ia lebih antusias.


"Bu, bukan begitu. Maksudnya...i, ini siapa...?"


"Siapa lagi kalau bukan si dingin yang gemoy." Nisa terkekeh.


Awalnya Anna tak paham. Namun ia langsung tahu, ketima melihat memo kecil yang tertempel di bagian luar paperbag.


"Jadi gemas sendiri, kan?" Nisa geli.


Anna mematung membaca memo bertulisakan, dipakai pada bagian luarnya.


Bunyi lonceng dari lantai bawah terdengar, menandakan jika ada pembeli. Nisa segera turun, setelah memastikan Anna akan memberi tahu isi dalam paperbag.


Dan kini, Anna makin tercenung setelah membuka dan mengeluarkan semua isinya. Berbagai make up dari brand Dior, kini terhampar di hadapannya.


"Di, dia...memberikan ini semua...? untukku...?" ia tak yakin.


Diambil eye shadow berwarna hitam dengan ornamen emas membentuk kata Dior.


"Apa dia sudah gila...?" Anna mengeleng tak percaya.


Matanya bergerak memperhatikan eye palete, rouge Dior lipstick, Dior lip tatto, cushion powder, Diorshow on stage liner, Diorshow mascara, rouge blush, sampai satu set brush Dior, yang Anna sendiri tak tahu fungsi masing-masing dari kuas tersebut.


Anna meneguk ludah, semua make up ini tak akan mampu ia beli, bahkan dengan lima bulan gaji sekalipun.


"Kenapa dia mengirimiku semua ini?" Tangan Anna yang terkepal, tak sengaja mengenggam sebuah lipstik.


"Bagaimana mungkin...semua yang dia kirimkan padaku adalah..." Anna tak melanjutkan kalimatnya, ketika pandangan matanya tak sengaja mengarah ke cermin yang tertempel sejajar dia duduk.


Dia pegangi pipinya yang kusam, lalu menelusuri bibirnya yang pucat dan kering.


Anna terpaku menatap wajahnya di cermin. Betapa menyedihkan dirinya kini.


Waktu pelarian selama bertahun-tahun, serta duka tak berperi yang terus bercokol dalam hati, melenyapkan rona kecantikannya.


Kedua mata Anna kembali meremang. Dia tertunduk, sembari meremas lipstik yang masih enggan ia lepas. Namun untuk di pakai pun,dia tak sanggup.


Sebelum air mata kembali menetes, Anna segera mengusap kasar,


"Aku harus mengembalikan ini semua." Dengan segera ia meraih paperbag-nya.


Namun karena terburu-buru, membuat tas kertas itu terjatuh.


Mata Anna membulat, saat ia mengambil tas tersebut dan mendapati sebuah kartu nama tergeletak di bawahnya.


.


Malam minggu adalah hari spesial di Club James Bond, sebab di malam itulah pengunjung membludak dan seorang penyanyi atau DJ papan atas akan di undang untuk mengisi acara.


Lampu utama di matikan dan di ganti lampu sorot warna-warni. Suara musik yang di remix seorang Dj seksi Dinar Permen menambah panas suasana.


Pengunjung ramai memadati area panggung dan lantai dansa, sambil berharap bisa melihat lebih dekat wajah cantik, serta aset kembar sang Dj yang sengaja di biarkan menginitp dari balik baju kurang bahannya.


Ethan dan Alexa telah larut dalam lautan pesta. Mereka menari, tertawa, dan saling peluk tanpa sungkan dalam hingar-bingar lantai dansa bersama pengunjung lain.


Semua larut dan mengila di bawah musik yang di ramu sang DJ seksi. Pengunjung khususnya kaum pria, akan melempar uang atau bersorak memanggil nama sang DJ, tiap kali wanita berponi tersebut menari dengan sensual.


Semua terhipnotis akan kecantikan dan kemolekan tubuh sintal DJ Permen. Namun hanya satu yang menoleh pun tidak, dan lebih asik bermain game di Club malam tersebut.


"Bagaimana dengan Anna?" Roy yang menemani iseng bertanya, karena Kiandra tak juga mau berhenti bermain game.


Mendengar nama Anna, membuat pandangan mata Kiandra langsung teralihkan.


"Ternyata tak sesulit yang aku duga." Kiandra mematikan game dan secara alami menaruh ponselnya ke atas meja.


"Tak sulit?" Roy pura-pura terkejut.


Kiandra tahu, Roy meremehkannya. Tapi dia malah tersenyum angkuh.


"Sebelum tahu ilmunya memang terasa sulit. Tapi, setelah tahu semua dan mempraktekan langsung, it's so easy." Kiandra menjentikan jari, lalu bersedekap.


Roy tertawa, "Kau membicarakan wanita atau bisnis?" tanyanya geli.


"Dua hal itu sebenarnya sama. Hanya berbeda ungkapan saja." Kiandra menjawab santai sembari meminum equil-nya yang tinggal separuh.


Roy makin terbahak.


Kiandra cuek, seraya melihat Ethan dan Alexa yang tak juga berhenti menari di tengah pengunjung lain.


"Baiklah, jika wanita dan bisnis itu sama dan so easy untuk seorang pria yang telah men*j*omblo hampir tiga puluh lima tahun," Roy menekankan pada kata so easy.


"Aku jomblo karena tak mau, bukan karena tak ada yang mau." Kiandra meralat cepat dengan kening berkerut. Ia langsung kesal, jika di singgung kejombloan-nya.


"Ya, ya, ya, yaa.." Roy mangut-mangut, lalu menyesap rokok dan menghembuskannya.


Kiandra menenguk mineral water nya langsung dari botol untuk meredahkan emosi.


"Jadi kapan, akan kau bawa Anna ke sini dan di perkenalkan pada kami?"


Seketika Kiandra menyemburkan air yang tengah ia minum, dan terbatuk-batuk karena tersedak mendengar pertanyaan dari Roy.