Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
IBU DAN ANAK



"Pasti Ibu sangat mencintai Daddy." Kiandra menatap lembut.


Si ibu tertawa sembari mengusap ujung matanya yang berair. "Tentu saja." Rautnya berubah ceria. "Tapi seumur hidup, Daddy mu selalu mengatakan bahwa dia yang lebih mencintai ibu." Ia membusungkan dada.


"Ibu memang sangat cantik, wajar jika Daddy lebih mencintai Ibu." Kiandra membenarkan, seraya terkekeh melihat sikap si ibu yang mendadak kekanakan.


"Daddy mu sampai menyusul ibu ke Deli Serdang dan rela menunggu sampai bertahun-tahun." Wanita itu menambahkan dengan sangat antusias.


"Waahh..luar biasa Daddy." Kiandra menunjukkan kekaguman yang berlebih.


"Daddy mu memang luar biasa." si ibu tertawa."Padahal ibu hanya sok jual mahal." Bisiknya kemudian.


Kiandra terbahak.


"Karena yang sebenarnya..." Ia sengaja memperlambat kalimatnya. "Ibu yang  telah lebih dulu jatuh cinta pada Daddy mu, sejak pertama bertemu." Kedua pipi wanita yang tak lagi muda itu merona. Persis seperti seorang yang sedang kasmaran.


Bagi keluarga Marthadinata, orang tua memang tak ubahnya seperti sahabat yang kita bebas bercerita apa saja.


Terutama pada ibu mereka yang selalu bisa memposiskan diri sebagai apa pun, dan tak pernah menghakimi setiap cerita yang anak-anaknya sampaikan.


Karena itu pula, baik Kiandra atau pun kakak perempuannya bisa begitu dekat dengan orang tua. Terutama Kiandra dengan sang ibu, sedang si kakak lebih dekat dengan Daddy mereka.


Hubungan yang sewajarnya juga bisa di miliki oleh keluarga manapun. Namun sayang, tak semua orang tua bisa sebijak itu dan tak semua anak mampu berpikir dewasa.


"Ibu, apa ibu juga ingin aku menikah?" tanya Kiandra setelah mereka tadi berintermezzo.


Dari raut wajah ibunya yang tercenung dan tak langsung menjawab, Kiandra sudah bisa menebak apa yang akan di utarakan. Tapi senyum yang kemudian merekah di bibir, serta gengaman tangan yang menenagkan, membuat hati Kiandra yang gundah menjadi sedikit damai.


"Jika kau bertanya seperti itu, tentu ibu sangat ingin melihat mu menikah." Dia memandang anak lelaki satu-satunya yang ia kandung dan lahirkan dengan susah payah, dan kini telah menjelma menjadi sosok rupawan yang begitu sempurna fisik serta hatinya. "Tapi jika dengan menikah kau merasa beban, maka kau tak perlu melakukan itu, nak." Wajah tua-nya kembali tersenyum.


"Tapi Daddy mengharap..." Kiandra tak melanjutkan kalimatnya, lalu menunduk risau.


"Semua orang tua pasti mengharapkan anaknya menikah." Ibu Kiandra menepuk pundak anaknya. "Sebab dengan berkeluarga akan ada seorang yang merawat dan memperhatikanmu kelak ketika kami telah tiada." Kehawatiran di mata si ibu tak bisa di tutupi.


Khawatir tentang usia yang terus mengerogoti, serta entah kapan maut akan menjemput. Namun putranya ini belum juga menemukan pendamping.


Kening Kiandra berkerut sedih, sebab tahu maksud orang tuanya itu baik dan ibunya ini tak pernah ingin ia merasa bersalah.


"Kau sudah bukan anak kecil atau remaja lagi, melainkan lelaki dewasa." Si ibu kembali berkata. "Bahkan kau kini seorang pemimpin yang di segani. Ratusan orang mengantungkan hidup pada tiap keputusan yang kau buat, dan selama ini ketentuan yang kau pilih selalu benar." Ia menyanjung.


Ibu dan anak itu saling pandang.


"Jadi.. ibu yakin, nak. Kalau kau pasti punya alasan kuat kenapa sampai tak mau menikah."


Hati Kiandra terenyuh. Di dunia ini memang ibunya lah yang paling mengerti. Bahkan ia tak perlu bicara dan menjelaskan, sebab wanita yang telah melahirkan dirinya itu akan paham dengan sendirinya.


"Sudah, kau tak perlu memikirka hal itu lagi." Si ibu menepuk lengan Kiandra pelan, karena ia hanya diam. "Bagaimana kalau kau menginap di sini saja dan kejutkan Daddy mu besok pagi?" wanita berusia senja, namun memiliki rambut hitam dan sedikit uban itu mencoba mencairkan suasana yang kaku.


"Ibu." Kiandra memanggil pelan.


Sang ibu langsung fokus padanya.


"Ibu, kenapa Kak Dave..." Kiandra tak melanjutkan kata-katanya. Dia terlihat sulit sampai menunduk dan menggelengkan kepala pelan.


Kiandra terlihat mencari kalimat yang paling sesuai. Namun ia juga terlihat menyesal kenapa membahas hal itu.


"Kian..." Si ibu mengusap-usap punggung anaknya. "Kau belum rela, nak?" tanyanya getir.


"Kian, kami sudah berkali-kali menjelaskan padamu, bukan?" si Ibu meminta pengertian.


"Aku tahu, Bu. Ibu tenang saja, aku mengerti." Kiandra mendamaikan perasaanan ibunya yang gelisah. "Seperti yang ibu bilang, aku bukan anak kecil atau remaja lagi. Tapi laki-laki dewasa dan aku paham."


"Apa itu alasanmu tak mau menikah, nak?" tebakan ibunya tepat sasaran.


Tentu tidak, bu." Kiandra berbohong.


Sorot mata si ibu tak percaya.


Kiandra memalingkan muka, demi menghindari tatapan si ibu yang pasti tahu, jika ia tengah berdusta.


"Kak Dave adalah kakak-ku, sama seperti Kirana." Kiandra berucap tanpa melihat lawan bicara. "Saat itu aku masih kecil dan hanya itu yang aku tahu." Wajah Kiandra berubah pahit. Ia pejamkan matanya sesaat, seolah sedang meresapi tiap kenangan yang terpatri begitu kuat, menyesakkan dan juga indah.


"Nak, ibu tahu kau sangat mengagumi Dave, dan kecewa ketika tahu kenyataan dia bukan kakak mu." Ibu Kiandra mencoba tetap bijak, meski sebenarnya hati sama resah. "Kau juga sangat syok dengan pernikahan Kirana dan Dave. Tapi, nak. Ada hal-hal yang memang di luar kuasa kita. Terutama jika itu menyangkut tentang jodoh dan perasaan."


Raut Kiandra yang lara memandang si ibu.


"Seperti halnya mulut yang bisa berbohong. Tapi hatimu, perasaanmu tak akan mungkin bisa ikut berbohong." Wanita yang telah banyak makan asam garam kehidupan itu memberi nasehat.


"Aku tak mengerti, bu." Kiandra berkata. "Yang aku tahu, orang menikah pasti saling mencintai. Seorang bersama, pasti karena merasa nyaman satu sama lain. Seperti Ibu dan Daddy."


"Nak, setiap orang punya ujiannya sendiri." Ibu Kiandra menegaskan. "Jika sekarang kau melihat ibu dan daddy saling mengasihi dan nyaris tanpa pertengkaran, itu karena kami telah melalui banyak cobaan."


"Lalu kenapa Kak Dave tak berusah melalui cobaan dalam rumah tangganya? Kenapa memilih bercerai, lalu menikah dengan Kirana?" Kiandra menuntut kejelasan.


Kerutan di dahi ibunya bertambah. Mata tuanya menatap penuh gundah.


"Aku tak mengerti dengan apa yang Kirana maksud bahagia." Mata Kiandra mulai berkaca-kaca.


"Aku bahagia, sungguh."


Memori tentang seorang wanita berkebaya putih, dengan sanggul sederhana dan tersenyum padanya membayang.


"Kian, terima kasih. Terima kasih Adik-ku." Wanita itu memeluknya dengan linaan air mata.


"Dia di caci dan di fitnah sampai harus kehilangan semua dan hidup terasing jauh dari kita." Kiandra sesak oleh emosi yang selalu ia tahan sampai memenuhi rongga dada.


"Kian..." Netra ibunya ikut meremang.


"Melihat orang yang di cintai menikah dengan wanita lain, lalu dia sendiri menikah dengan pria yang tak dia cintai." Wajah Kiandra merah padam. "Aku pun tertipu, mengira senyumnya tulus. Ternyata itu hanya topeng untuk menutupi lara hatinya."


Air mata si ibu mengalir.


"Aku tak bisa membayagkan bagaimana dia menjalani rumah tangganya selama bertahun-tahun di negara asing." Kiandra mengusap kedua matanya yang basah. "Kirana bodoh, sampai suaminya meninggal pun dia tak mau pulang, hanya karena tak mau menganggu keutuhan rumah tangga kak Dave." Ia menatap ibunya getir. "Padahal kak Dave sendiri telah lama bercerai, dan dia merahasiakan itu dari Kirana. Supaya apa?" Kiandra seolah bertanya. "Supaya rumah tangga Kirana bersama pria yang tak dia cintai itu tetap utuh. Konyol, bukan?" Pria itu tersenyum pahit.


"Kian." Ibunya mencoba menenagkan Kiandra yang terbawa sentimen hati.


"Ibu lihat sendiri bagaimana kehidupan Kirana sekarang bersama Kak Dave. Apa ibu tak merasa kasihan pada anak dan cucu ibu?" Kiandra meluapakan ketidak puasan serta rasa kecewanya.


"Waktu tak akan mungkin bisa terulang. Tapi Kirana selalu tersakiti. Bahkan ketika akhirnya dia bisa bahagia di usia yang tak lagi muda, bahagianya hanya seujung kuku."


"Kian, tak semua hal bisa kau mengerti." Ibunya masih berusaha memberi nasehat.


"Iya, aku tak mengerti ibu..." Nada bicara Kiandra yang tadi berapi-api, kini menurun. "Aku tak mengerti, sebab aku tak sebodoh Kirana, dan tak sepengecut Kak Dave!" Kiandra segera bangkit dari duduk dan pergi begitu saja.