Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
DUGA-TAK TERDUGA



Rumah keluarga Marthadinata itu luas dengan ornamen gebyok dan kayu ukir di tiap sudutnya.


Mendiang Kakek Kiandra memang sangat menyukai kerajian kayu dari kota Jepara. Maka tak heran, walau rumahnya bergaya modern. Tetapi, hampir semua furniturnya terbuat dari kayu dengan ukir-ukirannya yang luar biasa indah.


Kiandra berhenti, pandangannya di edarkan ke seluruh ruang. Lengang, tak ada seorang pun di situ.


Kemana mereka?


tanya-nya dalam hati.


Berpikir ini sebuah kesempatan, sehingga ia tak perlu di serang pertanyaan monoton seputar jodoh dan menikah, Kiandra secepatnya menuju kamar tidurnya.


Namun, baru saja ia menapaki anak tangga yang akan membawanya ke lantai dua. Samar-samar Kiandra mendengar suara wanita berbincang.


Rasa ingin tahu membuat-nya berhenti berjalan dan sejenak mendengarkan obrolan mereka.


Kiandra mengerucutkan bibir mendengar seorang yang tengah bercerita dengan penuh semangat dan kadang di selingi gurauan, lalu di sambut tawa lawan bicara.


Meski Kiandra tak melihat siapa-siapa yang sedang mengobrol. Tetapi, jelas ia tahu, siapa tukang guyon yang suaranya paling melengking.


"Dasar Kirana. Kalau sudah ngelawak nggak ingat umur." Kiandra mengejek.


Kalau benar itu Kirana, kakak perempuannya. Maka yang tertawa dan menanggapi tiap ocehannya, pastilah si ibu.


Berarti kemungkinan Dave sedang bersama Daddy.


tebak Kiandra dalam hati.


Kedua alis Kiandra hampir menyatu membayangkan selama satu minggu harus tinggal berdampingan dengan kakak dan kakak iparnya.


Aku akan berangkat kerja pagi-pagi, lalu pulang di atas jam sembilan malam dan langsung masuk kamar dengan alasan capek.


batin Kiandra berencana.


Memilih mengabaikan apa yang kakak dan ibu-nya bicarakan, Kiandra bergegas menaiki anak tangga.


Namun,


"Terima kasih..."


Gerakan Kiandra seketika terhenti. Samar ia mendengar suara perempuan lain, selain ibu dan kakak-nya.


"Saya pasti akan memakainya..."


Mendadak jantung Kiandra berdebar sangat kencang, sampai kedua telapak tangannya lembab berkeringat dan perutnya terasa mulas.


Tidak mungkin.


Kiandra menyangkal dugaan-nya sendiri.


Tetapi, suara wanita dengan nada lembut itu sangat familiar di telinga.


"Terima kasih. Tapi, jangan kirim apapun lagi."


Tiba-tiba saja bayangan Anna muncul dan meracuni pikiran, membuat Kiandra merasa tak nyaman dan bahkan memukul dadanya sendiri sangking tak enaknya.


Pembicaraan para wanita itu terus berlanjut. Perlahan Kiandra menuruni anak tangga, sembari memfokuskan pendengaran.


"Ibu dan Nona Kirana sangat baik, saya tidak tahu harus membalas dengan apa..."


Kiandra meneguk ludah dalam-dalam. Seolah ia mata-mata yang di kirim musuh, dengan hati-hati ia berjalan menuju ruangan yang hanya di sekat oleh lemari besar dari kayu jati yang empat penyangganya berbentuk ukiran mawar.


"Panggil saja Kak, kau seusia dengan adik lelaki ku."


Perut Kiandra seperti di kocok mendengar ucapan kakak perempuannya.


"Ta, tapi saya.."


****!!


Kiandra mengumpat dalam hati. Ia remas dada-nya yang bak genderang perang.


Cara bicara serba kikuk dan aksen aneh yang di gunakan, harusnya cukup membuat Kiandra yakin akan tebakannya.


Tidak, tidak! Ini tidak mungkin. Ini rumah ku. Ada Daddy dan ibu di sini dan tidak mungkin sembarang orang bisa masuk dan bahkan berbincang santai seperti ini dengan keluargaku.


Logika Kiandra tak bisa menerima.


"Kau bicara apa? ibu saja kau panggil ibu. Tapi, kenapa aku Nona? apa itu berarti kedudukan ibu di bawahku?"


"Bu, bukan seperti itu. Hanya saja...."


Dari celah lemari besar yang banyak terdapat hiasan keramik biru-putih, Kiandra melihat tiga orang wanita duduk di sofa ruangan samping. Tapi, dengan sudut pandangnya sekarang, ia tak bisa melihat bagian muka.


"Hanya saja kau takut ibu memarahimu, makanya menurut, ya?"


Kiandra mendengar gurauan si ibu, kemudian di susul tawa renyah ketiganya.


"Kau lucu sekali, Delana..."


Kiandra kaget mendengar ucapan si kakak yang tak begitu jelas, sebab di barengi dengan tawa.


Anna?! Kirana bilang Anna??


Kiandra heboh sendiri dengan pikirannya.


Ia penasaran dengan sosok tersebut. Tetapi, ia juga enggan bertemu Kakak perempuannya.


Perang batin membuat Kiandra seperti orang gila yang berjalan mondar-mandir, sembari sesekali mengumpat tanpa suara.


Akan tetapi, pada akhirnya ia tak peduli dengan gengsi-nya sendiri.


Sial!!


untuk kesekian kali Kiandra mengumpat dalam hati, seraya mengepalkan kedua tangan dan langsung menampakkan diri.


"Kian?" si ibu yang duduk di tengah tersenyum. "Kau baru sampai, nak?" tanya-nya.


Kiandra tak bergeming.


"Apa kabar, Kian?" Kakak perempuannya yang bermata lebih sipit dan memiliki kulit lebih putih darinya dan si ibu, ikut menyapa.


Namun, lagi-lagi Kiandra tak memberi tanggapan. Pria itu tetap mematung di tengah ruang dan pandangannya hanya tertuju pada satu titik.


Bukan pada Ibu atau Kakak-nya. Tapi, pada sosok yang selama ini ia cari dan kini duduk manis di rumah-nya sendiri.


Ini pasti mimpi.


Kiandra masih saja tak percaya.


Sebaliknya, wanita itu terlihat rikuh. Kedua netranya nampak berkaca-kaca dengan kening yang berkerut dalam. Ia menundukkan muka, ketika Kiandra maju tanpa mengalihkan pandangan darinya.


"Siapa dia?" tunjuk Kiandra tanpa basa-basi.


"Kenapa? kau terpesona?" Kirana yang menjawab.


Kiandra yang mulai bisa menguasai keadaan, berdecak mendengar omongan wanita setengah abad yang di anugerahi gen awet muda turunan dari sang Daddy.


"Duduk dulu, nak." ibunya meminta.


Kiandra menurut, meski sebenarnya ingin membantah.


"Dia Delana." si ibu memperkenalkan.


"Delana?" mata Kiandra membulat sempurna.


Perlahan Anna mengangkat muka, lalu balas memandang Kiandra yang kini duduk di depannya, dan hanya di sekat meja kaca berbentuk oval yang di atasnya terdapat setumpuk pakaian yang di peruntukan untuk dirinya.


"Delana...?" seperti orang tolol, Kiandra yang cerdas menyebut kembali nama itu.


Dia tak berkedip, demi memastikan bahwa yang di hadapannya adalah orang yang sama.


"Delana, dia Kiandra. Anak laki-laki ibu, yang sering ibu ceritakan." wajah penuh keriput itu tersenyum cerah.


Anna mengangguk kecil, lalu kembali menoleh ke arah Kiandra yang masih terbengong.


"Tuan muda Kiandra." Anna menyapa santun.


Seolah tadi tertidur, Kiandra kaget di panggil demikian.


"Kau ini..."


"OM KIKIII...!!"


Belum sempat Kiandra menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba dua anak lelaki dan perempuan menyerbu dari belakang.


Mereka langsung mengalungkan kedua lengan masing-masing ke pundak Kiandra, sampai leher pria itu tercekik dan punggungnya terjatuh ke sofa.


"Kama! Kalila!" hardik Kirana. "Jangan seperti itu pada Om Kian!" ia memarahi anak kembarnya yang di nilai tak sopan.


Namun, sayangnya tak ada yang mendengar, menoleh pun mereka tidak.


"Ayo pergi, Om!" yang laki-laki memerintah.


"Cepat, Om. Sebelum Mama keluar tanduk!" yang perempuan menimpali.


"Lepaskan dulu tangan kalian." Kiandra hampir tak bisa bergerak dengan dua bocah usia tiga belas tahun yang nempok pada dirinya.


"Minta gendong Om Kiki!"


"Sudan lama Om Kiki tak mengendong kami!"


"Gendong kami sampai kamar!"


"Ayo gendong, Om!"


"Gendooonnggg...!!"


Dua anak itu saling sahut dengan intonasi suara yang membuat gendang telinga serasa berdengung.


"Kama, Kalila, turun! Kalian sudah besar!" Kirana berdiri dan bersiap maju untuk melepaskan anak-anaknya yang menempel seperti parasit.


Kedua anak kembar itu kompak menjerit sembari menguncang dan menarik kerah baju Kiandra berkali-kali.


"Ayo, Om!"


"Ayo, Om!


"Mama marah!"


"Cepat Om!"


"Ayooo...!"


Mereka begitu berisik. Sampai-sampai tak ada celah untuk yang lain bicara.


Tak mau telingan-nya cidera karena dua bocah yang terus berteriak di dekat indra pendengarannya, Kiandra terpaksa menurut.


"Kama! Kalila!" muka Kirana merah padam, saat dua anaknya menjauh sambil menjulurkan lidah dan menarik kelopak mata bagian bawah.


Mengabaikan semua, termasuk Anna yang memandang takjup ke arahnya, Kiandra dengan susah payah membopong dua keponakan kembarnya di kiri dan kanan-nya, lalu mengajak mereka keluar dari ruangan.


"Ngidam apa aku, sampai mereka begitu terobesi pada Kian?" Kirana geleng-geleng melihat tingkah anak-anaknya, yang masih saja mengejek dirinya dari kejauhan.


"Rumah jadi ramai." Si ibu menjadi satu-satunya orang yang terhibur di situ.


Anna yang duduk di samping ibu Kiandra tersenyum menanggapi. Tetapi, sesaat kemudian ia tertunduk dengan ekspresi sedih.