
"Hoi! dimana? Kian mabok nih." Roy menelpon sembari mondar-mandir di depan toilet pria.
"Apaa?!" Ethan yang sedang duduk di angkringan belakang Club James Bond kaget.
"Ada apa?" tanya Alexa ingin tahu.
"Oke, oke." Tak menjawab pertanyaan Alexa yang duduk di sebelahnya, Ethan sibuk mengiyakan perintah Roy.
"Ada apa, sih?" tanya Alexa lagi, setelah Ethan mematikan sambungan telpon.
"Kian mabok." jawab pria berkacamata itu sambil membayar semua yang ia dan Alexa makan.
"Kok bisa?" Alexa membulatkan mata. "Jangan-jangan isi equil-nya di ganti Heineken?"
"Nggak tahu." ucap Ethan sambil memasukan dompet ke saku celana.
Kedua orang itu segera meninggalkan warung angkringan yang masih penuh oleh pembeli lain.
Malam kian larut, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Namun, bagian belakang Club James Bond itu terlihat ramai oleh kendaraan bermotor dan suara musik dari dalam.
"Sudah aku traktir nasi tiga bungkus, gorengan lima dan es teh dua gelas. Kalau kalian ketemu jangan marah lagi." Ethan mengingatkan.
"Tetap marah dong, kecuali traktirnya di Fogo." Alexa berkacak pinggang, lalu berjalan mendahului.
"Kau tahu istilah tanggal tua nggak?" seru Ethan lantang, agar Alexa yang berjalan di depan mendengar.
"Yang aku tahu temanku berdompet tebal!" balas Alexa tanpa menoleh ke belakang.
"Tebal struk belanja." gerutu Ethan sembari menyepak tanah.
Namun ia lega, sebab Alexa mau di ajak bicara dan mengerti.
Istilah persahabatan mereka yang dari kepompong, ulat sampai menjadi kupu-kupu seperti sekarang, nyatanya masih kekal dan semoga sampai seterusnya.
Tapi...gawat juga kalau Kian beneran cinta sama cewek seperti itu.
batin Ethan seraya mengikuti Alexa masuk ke dalam Club lewat pintu belakang.
.
Sementara itu di dalam toilet. Kiandra muntah-muntah sampai wajahnya merah dan keringat membasahi rambut serta punggung.
"Astagaaaa...padahal cuma satu teguk." Roy yang berada di belakangnya tak percaya.
Ia berkali-kali mengusap muka dan mengaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Jujur ia merasa bersalah. Tapi, seharusnya Heineken yang dia jual dengan kadar alcohol 3-4% tak akan membuat orang mabuk sampai separah ini. Apa lagi hanya minum satu teguk.
"Ya ampuuunnn..." Roy kembali mengusap wajah, lalu geleng-geleng, ketika Kiandra kembali memuntahkan isi perutnya.
Nafas Kiandra naik-turun dengan tenggorokan yang serasa terbakar dan perut seperti di peras. Ia pandangi dirinya di cermin. Begitu buruk penampilannya saat ini.
"Sialan...." ia mengeram lemah, kemudian berpegang pada pinggir wastafel untuk berdiri tegak. Tetapi, kepalanya sangat pusing dan kedua tangan yang dia jadikan tumpuan gemetar.
Keringat sebesar biji jagung berlomba-lomba turun membasahi kening hingga kerah bajunya betul-betul basah.
Pandangan Kiandra mulai buram. Ia mencoba fokus menatap cermin yang menantulkan bayangan dirinya yang acak-acakan. Tapi, cemin itu seperti berputar dan sedetik kemudian dia ambruk.
Roy kaget sampai berteriak, membuat Victoria yang menunggu di luar terpaksa masuk.
"Chief?!" pekik wanita berbaju hitam tersebut.
Ia segera membantu Roy memapah Kiandra yang tak sadarkan diri keluar dari toilet pria dan membawanya ke ruangan owner yang terletak di sudut.
"Kenapa Chief bisa sampai seperti ini?" tanya Victoria begitu mereka merebahkan Kiandra ke bangku panjang.
"Chief mu mabuk." jawab Roy seraya mengangkat ponselnya yang terus berbunyi.
Mabuk?
Seumur-umur, baru kali ini ia mendengar Chief-nya mabuk. Karena setahu Victoria, meski si Chief sering mendatangi Club malam untuk berkumpul dengan teman-temannya, Chief-nya itu tak pernah menyentuh minuman beralkohol.
"Iya, dia pingsan dan aku bawa ke ruanganku." Roy berbicara melalui sambungan telpon.
"Sampai pingsan?!"
Suara Alexa dan Ethan begitu keras, sampai membuat Roy menjauhkan telpon genggamnya.
"Memang dia minum berapa botol?" tanya Ethan ingin tahu.
"Kau mengganti isi equil-nya ya?" tuduh Alexa sebelum Roy menjawab pertanyaan Ethan.
"Enak saja!" semprot Roy tak terima. "Dia minum sendiri dan dia cuma minum satu teguk. Satu teguk tahu, bukan satu botol. Cuma satu teguk!" Roy menekankan berkali-kali.
Kening Victoria berkerut mendengarkan Roy yang tengah menelpon, kemudian pandangannya teralih pada Chief -nya.
Ia bersimpuh agar sejajar dengan Kiandra yang sedang tertidur. Dalam jarak dekat seperti itu, Victoria bisa melihat wajah Kiandra dengan jelas. Sejelas ia melihat kening Kiandra yang basah oleh peluh.
Ekspresi Victoria mendadak gelisah, ia menoleh ke arah Roy yang masih sibuk dengan ponselnya, lalu kembali memandang Kiandra. Dan meski ragu, ia memberanikan diri mengusap kening Chief-nya yang berkeringat dengan telapak tangannya.
.
Di waktu yang sama. Di dalam kamarnya, Anna sedang duduk bersandar pada jendela kamar yang ia biarkan terbuka.
Ia suka memandangi lampu-lampu kota di malam hari dari jendela ruko lantai dua seperti ini. Ada ketenangan yang dia dapat, dengan semakin larut dan heningnya sekitar.
Angin dingin menerpa wajah Anna, membuat rambut panjangnya berkibar.
"Kau tinggal merayu seorang wanita. Menjadi kan dia pasanganmu, lalu perlihatkan pada orang tuamu dan siapa pun wanitanya tak masalah. Asal bisa membuat orang tuamu percaya."
Ucapan Alexa terlintas, kemudian di susul kalimat-kalimat lain yang di obrolkan Kiandra beserta teman-temannya di Club tadi.
"Wanita mana pun tak masalah..." Anna berkata seorang diri. Ia tersenyum. Tapi, mata tak pernah bisa berbohong.
Detik suara jam terdengar, membuat pikiran Anna kian mengawang.
"Akhirnya aku tahu, kenapa orang sehebat dia bisa tiba-tiba tertarik padaku. Bahkan merayu dengan mengajak makan dan mengirim barang-barang mahal." Anna kembali tersenyum.
Kamar telah rapi dengan tas besar miliknya yang ia taruh di atas kasur tipis tempatnya biasa tidur.
Sunyi kian terasa, dengan lampu kamar yang tak di nyalakan dan satu-satunya penerang hanya dari bias lampu jalan yang menyorot jendela kaca tempat Anna duduk.
Anna teringat pertemuan pertamanya dengan Kiandra, ketika pria itu menolongnya dari om-om mesum yang mencoba melecehkannya.
Ia juga teringat pertemuan keduanya, ketika pria itu membelanya yang di tuduh mencuri. Di lanjut pertemuan ketiga, saat pria itu datang ke toko dan mencari bunga.
Betapa ketika itu hati-nya berdesir, karena tatapan tajam dari kedua bola mata Kiandra yang indah.
Air mata Anna hampir jatuh, kalau saja ia tak segera menyekanya. Dia tak boleh menangis, karena memang tak ada yang perlu di tangisi.
Namun, segala perhatian Kiandra selama ini mampu membuatnya terlupa akan masa lalu dan sedikit memberi harapan di hidupnya yang putus asa.
"Seharusnya aku tahu diri." ucap Anna sembari memejamkan mata.
Angin malam kembali berhembus, terasa dingin menerpa kulit wajah Anna yang sepucat purnama di langit sana.
...----------------...
Terima kasih dukungannya. Meski jam update tidak tentu. Tapi, saya usahakan update terus setiap hari, kecuali hari minggu.
Tenang saja, Seducing Miss Introvert akan saya tamatkan di Noveltoon.
Sekali lagi terima kasih sudah membaca, memberikan like, vote dan gift nya 🙏
-🍀-