
Namun, Kiandra sudah terlanjur memasukinya, membuat tubuh Anna menegang oleh sesuatu yang baru pertama ia rasakan.
"Ber.. hentii...." Anna mencengkram kuat kedua pundak Kiandra, sampai kuku-kuku jarinya melukai kulit pria itu. Ia tidak tahan dengan rasa sakit yang di timbulkan dari gesekan tersebut, membuat untuk bernafas pun ia kesulitan.
Tetapi, Kiandra yang sudah di mabuk gairah, tak mempedulikan semuanya. Dengan mudah dia menguasai tubuh Anna yang mengelinjang bak ketindihan batu besar. Ia tak menyangka, tubuh wanita bisa senikmat ini. Ia sampai tak bisa mengontrol diri dan terus mengingingkan lebih.
"Kian, pelan.. sakit... Aku sakit sskalii..." Anna terengah sampai kesulitan bicara.
Akan tetapi, bukannya menghentikan aksinya, pria itu malah menambah dengan menjelajahi pundak serta lehenya yang lembab. Anna memalingkan muka dan memeluk pundak Kiandra lebih erat. Seluruh tubuhnya ikut meremang, ketika lidah Kiandra yang panas mengenai tengkuk lehernya yang dingin.
"Kian..." Anna tak berdaya di bawah kuasa pria itu.
Permainan Kiandra yang dominan, membuat ia tak bisa memikirkan apa-apa, kecuali hanya raut pria itu yang memerah dengan peluh yang membasahi kening dan rambutnya yang berantakan.
Beberapa kali ia berteriak, mengerang, menangis dan menarik apapun yang bisa meredam gelombang hebat yang di munculkan Kiandra di dalam dirinya.
"Kiaann.., Kiaan, peellaan...Aaagh...!" Anna mendesah-desah tak karuan. Tubuhnya seperti di ayun-ayun hingga menimbukkan rasa pening dan gelap pada pandangan.
Seumur hidup, baru kali ini Kiandra betul-betul mengila tanpa peduli aturan atau estetika yang biasanya di junjung. Seolah tenggorokannya kering dan Anna lah oase-nya. Tidak bisa berhenti, dan ia pun enggan menghentikan, sebelum dahaganya terpuasakan.
Telah berapa kali ia menahan diri untuk tak menjamah wanita itu, hanya karena memikirkan ini-itu yang nyatanya tak penting. Ucapan Rico lah pemicunya, dan seharunya ia berterima kasih kepada laki-laki brengsek tersebut.
Anna...
batinnya sembari mengeram dan memeluk wanita itu erat-erat.
Sensasi nikmat menjalar ke seluruh tubuh, yang anehnya justru menimbulkan efek kecanduan dan menuntut untuk merasakan lebih, serta lebih lagi.
Ia tak peduli pada Anna yang berteriak atau menangis, karena hal itu justru menambah hasratnya bercinta.
Sebelumnya ia tak suka dengan wajah pucatnya. Tetapi kini, wajah pucat dengan sebagian rambut panjangnya yang basah dan menempel di pipi serta dahinya tersebut, justru membuatnya berpikir itu cantik.
"Anna, aku mencintaimu.." Kiandra berbisik di telinga, bersamaan hawa panas yang membuat wanita itu memejamkan kedua mata.
Sedetik kemudian, Anna tersentak dan memekik keras, saat Kiandra kembali membawanya terbang sampai jauh ke nirwana.
.
"Laki-laki itu membohongimu." ucap Kiandra, saat Anna yang duduk di sebelahnya masih sibuk menutupi diri dengan selimut.
Muka Anna yang sembab, dengan rasa pusing di kepala dan lelah di sekujur tubuh, melihat ke arahnya. Tetapi, ia tak mengatakan apapun. Tenggorokannya kering, dan ia belum begitu mencerna tentang apa yang pria itu ucapkan.
Namun, sama seperti Kiandra. Ia juga terkejut, karena ternyata selama ini Rico hanya memanipulatif pikirannya saja.
Dahulu ia selalu terbangun dalam keadaan telanjang tanpa bisa mengingat apa yang terjadi. Hanya kadang kala, di leher atau dadanya terdapat kiss mark yang mempertegas ucapan Rico, bahwa kehormatannya telah terenggut.
Anna merunduk memikirkan kebodohannya, yang karena hal itu membuatnya sampai ingin mengakhiri hidup.
Ia menghela nafas, kemudian menoleh ke arah Kiandra yang masih berbaring di sebelahnya. Ternyata pria itu sudah lebih dulu memandanginya, membuat kedua pipinya merona dan ia segera memalingkan muka.
Jantungnya berdesir mengingat apa yang baru saja mereka lakukan. Ia beringsut hendak turun, ketika ia baru menurunkan sebelah kakinya dan di bawahnya terdapat bercak merah bercampur cairan putih yang menodai sprei.
Anna tertegun, lalu menggigit bibir bawah gusar. Ada sesuatu dalam hatinya yang terasa nyeri, saat melihat hal tersebut.
"Hei," Kiandra meraih pundaknya, membuatnya kaget dan melihat ke arahnya. "Kenapa?" ia khawatir.
Anna tak menjawab dan hanya menatap bagai orang asing.
Kening Kiandra berkerut tak mengerti. Tapi bukannya menjawab, Anna malah tertunduk sedih.
"Ma, masih sakit?" tanyanya ragu. Jujur ia sedikit merasa bersalah. Sebelumnya ia tak ada niat untuk melakukan hal seperti ini. Hanya saja, ia cemburu pada Rico dan juga pada laki-laki yang begitu gampang membuatnya bahagia.
Air mata Anna meleleh, bersamaan rasa sesak yang memenuhi rongga dada akibat penyesalan berbuat dosa.
Perlahan tangan Kiandra bergerak mengenggam jemari tangan Anna, membuat wanita yang sedang bersedih itu menoleh ke arahnya.
"Aku akan membawamu pulang ke Kelantan, kemudian melamarmu secara resmi di sana." ia berkata.
Kedua mata Anna melebar menatap keseriusan dari wajah pria yang masih bertelanjang dada tersebut.
"Aku minta maaf." lanjutnya. "Tapi, aku akan bertanggung jawab dan membuatmu bahagia."
Anna terkesima sampai rasanya kalimat itu sebuah kebohongan.
Kiandra mempererat gengaman tangannya dan mengecup punggung tangan Anna yang masih tertegun menatapnya. "Itu janji dari seorang Kiandra Marthadinata."
.
Pesta di luar di tutup dengan kebingungan si Ibu mencari anak lelakinya, karena banyak tamu yang ingin berpamitan dengannya.
"Sudahlah, mungkin Kian bosan dengan suasana pesta." suaminya menenangkan.
"Bosan?" ia tak percaya. "Aku sudah membuat konsep semi formal, karena tahu..."
"Sepertinya Delana juga menghilang." potong si suami sembari pura-pura heran.
Ibu Kiandra kaget sampai menutup mulutnya yang mengangga, ketika menyadari maksud ucapan si suami.
Pria tua dengan rambutnya yang telah memutih seluruhnya itu memandang jauh ke keramaian orang-orang yang mulai meninggalkan tempat acara.
"Terkadang untuk bisa jujur kita hanya butuh privasi." ia menoleh ke arah pasangan hidupnya, dan tersenyum sampai kedua matanya berbentuk bulan sabit.
.
.
Diluar tembok tinggi yang menutup kawasan rumah keluarga Marthadinata yang luas, mobil jenis Mercedes-Benz GLC class warna granite grey metallic itu terparkir dari beberapa jam lalu.
Rico dengan setelan jas rapi berada di dalamnya. Ia tahu, jika kartu undangnya sudah tak berlaku dan dia pun tidak ada niat mempermalukan diri dengan tetap nekat menerobos masuk.
Hanya saja, pikiran tentang Anna justru lebih mengusik, daripada soal bisnisnya yang bisa di pastikan akan hancur.
Pukulan di tengkuk yang masih bisa ia rasakan nyerinya, serta surat gugatan dari Pengacara Kiandra atas kasus pencemaran nama baik, sudah di terimanya.
Namun, bukanlah Rico jika gentar karena hal sepele seperti itu. Ia sudah pernah meraskan dinginnya penjara di Negara asalnya, pernah kelaparan dan meraskan lebih banyak kekelaman hidup dari orang kebanyakan.
Iya, kelam, yang membuat hatinya gelap dan tak tersentuh oleh kebaikan atau cinta model apapun.
Akan tetapi,
"Kalau bisa, aku tak mau lahir sebagai Putri. Terlalu banyak aturan. Aku jengah dan tertekan."
Ia melihat kearahnya yang murung.
"Aku mau menikah denganmu saja. Jadi ibu rumah tangga yang mengurus anak dan menunggumu pulang bekerja."
Entah tulus atau tidak, tetapi senyum itu sampai mengetarkan hatinya.
Tuan Putri itu terlalu polos, sehingga berkali-kali ia mendapat kesempatan. Akan tetapi, berapa kalipun ia berhasil mencampur obat tidur ke dalam minumannya, kemudian melucuti semua pakaiannya, ia tak pernah tega untuk berbuat nista.
"Delana..." Rico menjatuhkan kening ke stir mobilnya yang keras.