Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
OBROLAN



Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, ketika Kiandra sampai di rumah orang tuanya.


Meskipun kini Kiandra menyetir sendiri. Namun dia yakin jika Victoria masih mengikuti dengan motor sport-nya.


Bodyguard nya itu menang tak pernah lelah untuk selalu menjaga dan melindungi kemana pun dia pergi, kecuali ia telah masuk ke dalam ruang apartemen-nya untuk tidur.


Sedang Aldo, begitu mereka tadi sampai kantor. Pria itu segera pamit dan menaiki mobilnya sendiri untuk pulang.


Kiandra meraih buket mawar putihnya, kemudian di amati sesaat bunga-bunga berkelopak bersih itu.


"Anna." Ia langsung membayangkan wajah sedu wanita tersebut. "Akan aku ingat-ingat nama itu." Kiandra memastikan, kemudian turun dari mobil.


Rumah Keluarga Marthadinata terlihat masih sama seperti ketika ia tinggali dulu. Banyak kenangan di rumah megah nan luas ini, yang membuat Kiandra merasa rindu, namun juga kecewa. Hal yang membuat penilaian Kiandra tentang menikah, tidak lah begitu baik. Meski dia terlahir dari pasangan yang sangat rukun dan harmonis.


"Tuan muda?" seorang penjaga yang sedang berkeliling terkejut melihat kedatangannya.


Kiandra menyapa dengan senyum, lalu melewati pria bertubuh tinggi besar yang menundukkan kepala saat dia berjalan di depan.


"Sosok Tuan muda dari belakang, benar-benar mirip dengan Tuan besar." Seorang penjaga lain yang baru datang mengamati. "Bahkan cara jalannya pun bisa sama."


"Orang tua dan anak pasti mirip bukan?" Ia berseloroh.


"Benar juga." Rekan-nya tertawa.


Mereka berdua memandangi Kiandra sampai pria dengan buket bunga di tangan itu masuk ke dalam rumah.


"Dulu saat masih kecil, beliau anak yang ceria serta baik hati." Penjaga yang tadi menanggapi. "Aku masih ingat, tiap kali beliau berulang tahun, Tuan muda sendiri yang akan membagi-bagikan kue untuk semua yang bekerja di rumah ini."


"Oya?" rekan yang baru beberapa tahun bekerja itu membeliakkan mata.


Pria bertubuh tinggi besar itu tersenyum lebar. "Meski berasal dari keluarga konglomerat. Tapi Tuan muda dan Nona muda sejak kecil sudah di ajari untuk menghargai bawahan, karena itu juga kami bekerja sepenuh hati dan sampai bertahun-tahun mengabdi."


"Aku belum pernah melihat Nona muda." Penjaga dengan postur lebih kecil itu berkata.


"Setelah Nona muda menikah, beliau tinggal di Jepang. Sampai suami pertamanya itu meninggal, Nona masih menetap di sana selama bertahun-tahun."


"Suami pertama?" ia kaget.


"Iya, Nona muda menikah dua kali." Penjaga yang lebih senior itu menjelaskan. "Suami pertama meninggal karena sakit, lalu beliau menikah kembali setelah sepuluh tahun berlalu."


Kedua pria berpakaian hitam-hitam itu kembali berkeliling sambil mengobrol.


"Hanya saja pernikahan kedua beliau sedikit...yaah..." Ia nampak kesulitan menjabarkan.


"Yah?" rekannya penasaran.


"Begitulah." Pria tinggi besar itu angkat bahu.


Si junior tak mengerti.


"Hidup orang kaya memang enak, tapi penuh drama di baliknya." Ambigu dia menjawab.


.


"Halo, Ibu." Kiandra tersenyum sembari menyerahkan buket mawar putih yang di bawanya.


"Ah.. Kian, ini indah sekali." Mata ibunya berbinar. "Terima kasih, nak." Ia peluk putra semata wayang-nya sesaat.


"Maaf, malam-malam aku malah ke sini." Kiandra menatap wajah penuh kerutan yang masih saja menjadi wanita pertama di hati.


"Kenapa bicaramu seperti orang lain?" ibunya tak senang. "Ini rumahmu, nak. Kau bebas datang kapan saja."


Kiandra hanya tersenyum.


Ibunya memanggil salah satu pelayan kemudian mengatakan sesuatu, ketika Kiandra duduk di sofa ruang tamu dan menjatuhkan punggungnya yang pegal.


"Bagaimana keadaan kantor?" Ibu Kiandra berjalan sumringah ke arahnya dengan buket bunga masih di tangan. "Kau pasti lelah mengurus semua." Wanita itu duduk di samping Kiandra dan memandang penuh rasa sayang.


"Tidak juga." Nada bicara Kiandra santai. "Ibu tahu, kan, aku senang bekerja."


Si ibu tersenyum lebar melihat gerak-gerik anaknya yang teramat mirip dengan suaminya ketika muda.


"Penjualan, pembangunan dan SDM juga tak ada masalah. Semua stabil, jadi santai saja." Kiandra melanjutkan dengan gaya sedikit congkak.


Kiandra melipat kedua tangan dan tersenyum bangga.


"Padahal ibu pikir, kau sedang ada masalah sampai malam-malam datang ke sini sambil membawa bunga." Ia yang paham watak anaknya ikut tersenyum sombong.


Kiandra yang sedang berpuas diri, seketika terkejut dan menoleh ke arah wanita dengan baju tidur panjang dari satin yang di rangkap cardingan rajut tersebut.


Sebab memang menjadi kebiasaan Kiandra jika sedang banyak pikiran, maka ia akan datang dan bercerita pada ibunya. Namun seiring waktu, kebiasaan itu lama kelamaan menghilang.


"Aku hanya kepikiran ibu." Kiandra menutupi kekalutan hatinya. "Terakhir kita bertemu, ibu sampai pingsan gara-gara omonganku."


"Siapa yang mengatakan ibu pingsan karena dirimu?" ibu Kiandra terkejut. "Ibu pingsan karena kecapean." Wanita itu menjelaskan. "Kau lihat sendiri ibu sudah tua." Ia tertawa.


Kiandra tahu, ibunya bermaksud mengalihkan pembicaraan supaya dia tak merasa bersalah.


"Ibu mu tak pernah mengatakan apa pun.Tapi harusnya kau tahu,dia yang paling khawatir dengan keadaanmu!"


Amukan Ayahnya masih sangat Kiandra ingat.


"Dimana Daddy?" tanya Kiandra setelah terdiam beberapa menit.


"Sudah tidur." jawab si ibu. "Akhir-akhir ini kondisinya tak begitu baik." Raut wajahnya terlihat muram. "Penyakit komplikasi yang sudah bertahun-tahun di deritanya juga sering kambuh." Ia menghela nafas. "Kadang Daddy mu terlihat segar bugar, bahkan bisa jogging keliling danau. Tapi secara tiba-tiba, untuk berjalanpun kakinya tak sanggup."


"Ibu..." Kiandra mengenggam jemari tangan wanita yang telah melahirkannya itu.


Wajah perempuan yang seumur hidup tak pernah membentak atau pun menuntut agar menjadi sesuai dengan yang dia inginkan itu terlihat berduka.


Bagi pasangan yang telah berusia senja, sakit adalah momok paling menakutkan. Pikiran buruk pasti selalu menghantui. Takut akan kehilangan satu sama lain, karena jika itu sampai terjadi, sisa umur bagi yang di tinggalkan tak ubahnya seperti mati.


"Daddy masih bisa mengancam dan memarahi ku sampai berjam-jam menyuruh ku menikah, itu artinya umur Daddy masih akan sangat lama, sebab aku belum mau menikah." Kiandra menghibur seraya tersenyum jahil.


"Anak nakal." Raut ibunya yang tadi di selimuti duka, kini bersemu oleh tawa.


Seorang pelayan datang dengan membawakan wedah uwuh panas serta beberapa camilan.


"Silahkan, Nyonya, Tuan muda Kian." Dia menunduk hormat, kemudian berlalu.


"Ibu tak bisa membayangkan bagaimana eksrepsimu ketika membelikan buket bunga ini." Ibu Kiandra mengelus kelopak mawar putih pada buket yang ia letakkan di sofa samping.


Kiandra yang sedang menyesap wedang uwuh nya hanya tersenyum.


"Pasti si penjaga toko mengira ini untuk pasanganmu." Ibunya menebak.


Kiandra kembali menipiskan bibir. Di letakkan cangkir yang telah separuh ia minum ke tempatnya semula.


Mungkin ibunya hanya bergurau. Namun Kiandra merasa, jika sang ibu ingin menyuruhnya menikah lewat kalimat yang di ucapkan.


"Walau hanya mawar putih lokal, tapi keindahan dan keharumanya tak kalah dengan mawar-mawar import yang ada di kebun dan rumah kaca kita." Si ibu memandang lembut buket cantik tersebut, kemudian membaui wanginya.


Kiandra yang melihat itu, mendadak terbayang wajah Anna yang pucat. Namun elok di antara bunga-bunga.


Seketika Kiandra menutup mata, lalu mengusapnya. Seolah dengan begitu bayangan Anna akan lenyap.


"Ibu jadi ingat, dulu Daddy mu pernah mengirim buket bunga mawar putih yang sangat besar." Ia menatap Kiandra.


"Daddy pasti orang yang sangat romantis." Pujinya dengan senyum lebar. Sudah kelihatan dari foto masa mudanya yang tampang playboy. Cemooh Kiandra dalam hati.


Wanita dengan rambut panjang hitamnya itu tersenyum simpul. "Daddy mu bukan orang yang romantis. Dia cenderung egois dan seenaknya sendiri."


Kiandra langsung terbahak membayangkan.


" Daddy mu mengirim buket mawar putih juga karena merasa bersalah dan ingin minta maaf pada ibu. Tapi tak berani." Ibunya terkekeh.


"Pengecut." Ejek Kiandra bersemangat, karena tahu kelemahan Ayahnya yang selalu terlihat superior itu.


Kali ini Ibunya yang tertawa.


"Mungkin Daddy mu memang pengecut." Raut ibunya mendadak berubah serius. "Dia juga orang paling jahat dan sewenang-wenang yang pernah ibu kenal."


Kiandra tercenung, dan sedikit tak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari pasangan yang terlihat begitu mengasihi.


"Tapi..Daddy mu juga orang paling tulus yang pernah ibu kenal." mata tua dari wanita yang melahirkannya itu berkaca-kaca.