Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
DI RUANG MAKAN II



Tak seperti yang Anna duga, pria berpostur mirip Kiandra tersebut terlihat tak terganggu dengan kehandirannya, dan hal tersebut membuatnya sedikit lega.


Keluarga Marthadinata memulai makan pagi setelah kepala keluarga memimpin doa, lalu si istri menaruh nasi putih yang masih mengepulkan asap tipis ke piring suaminya, dan barulah yang lain mengikuti.


Dengan tak sabar si kembar mengambil beberapa potong lauk, kemudian dengan penuh semangat mereka berlomba menghabiskan sarapan.


"Kali ini aku yang menang." ucap Kalila dengan pipi mengelembung sebelah.


"Menang lebih gemuk maksudnya?" sindir Kama dengan bulir nasi menempel di sudut bibir.


Muka Kalila langsung masam. Ia tahu, saudaranya berkata begitu untuk menciutkan nyalinya. Tetapi, hadiah lomba yang di prakarsai mereka sendiri terlalu mengiurkan, yaitu bisa memerintah satu sama lain selama seminggu jika berhasil makan lebih banyak.


"Astaga...kenapa anak-anakmu bisa serakus ini?" Kirana tak habis pikir saat melihat duo kembar menambah porsi makan untuk kedua kali.


"Mirip denganmu, kan?" si suami berkata santai sembari menyuapkan sendok berisi nasi dan lauk ke mulutnya.


Kening Kirana langsung berkerut. "Aku tak pernah seperti itu." ujarnya sebal.


Suaminya cuma mengulum senyum.


Semua orang sibuk menyantap makanan, sedangkan Anna masih mematung dengan piring kosong. Satu-satunya penghibur di ruangan itu adalah tingkah si kembar yang kocak dan tak bisa diam.


Bagaimana ini?


Ia tertunduk sambil memainkan jari-jari tangannya di bawah meja.


"Kenapa diam saja?" tanya Kiandra membuatnya terkejut.


Anna mengangkat muka dan mendapati pria dengan dandanan tak bercelah itu sudah menatapnya.


"Kenapa? Mau bilang aku tampan?" ucap Kiandra ketus, karena Anna melihatnya tanpa kedip.


Seketika Anna memalingkan muka dengan kedua pipi merona.


Kiandra mendengus melihat sikapnya. Tetapi, ia juga tak tega membiarkan wanita itu kelaparan karena kekikukannya sendiri.


Memang sialan dia!


umpatnya dalam hati.


Namun, meski ekspresinya menunjukkan kekesalan. Tetapi, di ambilnya nasi, lalu sayur dan lauk terdekat yang bisa ia jangkau dengan tangan tanpa harus berdiri dan di taruh semua ke piring wanita itu.


Anna tertegun, ketika Kiandra tak henti menaruh beragam lauk ke piringnya. Ia ingin menyuruh-nya berhenti, tapi tatapan pria itu menciutkan nyali


"Makan!" perintah Kiandra kemudian.


"Sa, saya tidak mungkin..."


"Mau aku tambah lauk?" potong Kiandra sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.


"Ti, tidak..." Anna geleng-geleng. Tetapi Kiandra sudah lebih dulu meletakkan potongan paha ayam ke atas gunungan di piringnya.


Anna meneguk ludah, saat paha ayam itu membuat gundukan makanan di bawahnya runtuh dan menyebar sepiring penuh.


"Makan!" perintah Kiandra untuk kedua kali, kemudian melanjutkan makannya yang tertunda.


Mana mungkin aku menghabiskan semua?


Anna mengigit bibir bawah dengan wajah putus asa.


Tanpa Anna maupun Kiandra sadari, orang tua dan kakak-kakaknya memperhatikan keduanya. Mereka tak percaya, adiknya yang koleris bin arogan mau mengambilkan nasi untuk orang lain. Bahkan Kirana sampai mengangga tak bergerak untuk beberapa waktu, sampai akhirnya si suami menepuk pundaknya.


Sedangkan si Ibu yang ingin memastikan sesuatu dan ternyata benar, merasa bungah luar biasa.


"Akhirnya Kian mau menikah." ia berbisik ke suaminya.


Namun, Ayah Kiandra tak terlalu senang mendengarnya.


"Sayang, coba sapa dia." istrinya kembali berbisik. "Dia pasti gugup karena kau tak mengajaknya bicara." ia melirik ke arah Anna yang masih bingung bagaimana menghabiskan makanan porsi kuli-nya.


Suaminya meneguk air putih, lalu memandangi Anna sesaat. "Delana." panggilnya kemudian.


Anna kaget sampai jantungnya mau melompat "Iya, Tuan?" jawabanya cepat. Baru kali ini Ayah Kiandra memanggil namanya.


Anna terkesima dengan kedua bola mata berwarna cokelat terang yang menjadi favorite-nya tersebut. Meski wajah Ayah Kiandra tak lagi muda, serta tak setampan dulu, tetapi tetap saja kharismanya tak lekang oleh waktu.


"Terima kasih, Tuan." Anna tersenyum, seraya untuk pertama kali berani memandangi wajah pria yang dahulu menjadi cinta monyetnya.


Merasa bahagia, akhirnya Anna mulai menyendokkan nasi ke mulut dan makan seperti yang lain.


Kiandra yang melihat semua itu menatap curiga kepada Ibunya yang sumringah, serta Ayahnya yang langsung melanjutkan makan tanpa mempedulikan Anna lagi. Kemudian tanpa sengaja ia bertemu pandang dengan Kirana, dan keduanya seketika membuang muka.


Jangan-jangan benar, mereka mau menjodohkan ku dengan Anna.


batin Kiandra.


Ia melihat Anna yang sedang makan dengan ujung mata, kemudian menjadi salah tingkah sendiri.


Sialan, kenapa aku malah memikirkan dia jadi istriku?


Kiandra tak habis pikir.


Suasana makan berlangsung hangat, serta sesekali di selingi tawa, karena tingkah absurd si kembar.


Walau tak ikut mengobrol, tapi Anna sudah cukup senang, dan ia berhasil menghabiskan setengah dari makanan-nya yang tadi menggunung, sebelum seorang pelayan mengganti piringnya dengan puding dingin.


"Bagaimana pemeriksaan terakhir Delana, Bu?" tanya Dave tiba-tiba.


Anna yang jarak duduknya paling jauh dari Dave tersentak. Ia yang awalnya ingin mencicipi puding di hadapannya seketika hilang selera.


"Apa ingatannya masih belum pulih?" pria lima puluh tahun yang masih sangat gagah itu menatap Anna dari kejauhan.


Selama tinggal di situ, Anna memang rutin mendapat pemeriksaan dari Dokter pribadi keluarga Marthadinata, sekedar untuk memastikan bahwa luka yang di sebabkan kelalaian sopir Ibu Kiandra dulu sudah benar-benar sembuh.


"Dokter bilang Delana sudah sehat." Ibunya menjawab sambil tersenyum ke arah Anna yang tertunduk. "Tapi.. soal ingatan... Dokter belum bisa memastikan." raut wanita tua itu memelas.


"Ooh.." Dave terlihat maklum.


"Tapi, tidak masalah kan? Delana malah bisa tinggal lebih lama di sini, atau kita angkat menantu saja?" gurau Ibunya.


Kiandra yang sedang minum terbatuk-batuk, membuat dua keponakannya terbahak.


"Om Kiki grogi."


"Makanya kalau minum pelan-pelan, Om."


Mereka menyempatkan mengoda si Om yang wajahnya merah sampai telinga, sebelum melanjutkan perlombaan makan.


"Sesuatu yang serius jangan di buat bercanda." tegur Ayah Kiandra, membuat suasan ruang makan seketika hening.


"Sayang?" istrinya tak tak mengerti.


"Delana gadis yang baik. Tapi, baik saja tidak cukup kan, untuk bisa bersanding dengan anak kita?" Ayah Kiandra tersenyum.


Seketika Anna tertohok.


"Andre, kenapa bicara begitu?" bisik istrinya tak suka. "Bukankah kau bilang tak masalah, kalau Kian menikah dengan kalangan biasa?"


Suaminya pura-pura tak mendengar dan malah menikmati puding buahnya. Sedangkan Kirana dan Dave saling pandang tanpa bicara.


Anna sendiri langsung di kuasai perasan rendah diri. Ia tertunduk dalam dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Baik saja tidak cukup?" Kiandra mengulang kalimat Ayahnya. "Oh, harus bersaudara dulu, baru boleh naik tingkat jadi pasangan?" ia terkekeh.


"Kian..." Ibunya mecoba menengahi.


"Apa, Bu? Itu kenyataan. Daddy memang inginnya seperti itu." Kiandra tersenyum lebar, membuat wajahnya aneh, sebab biasanya terlihat galak.


"Kian." kali ini Dave yang menegur. Dan hanya di balas tatapan sengit oleh adik iparnya tersebut.


"Jangan membahas itu di sini." giliran Kirana yang bicara.


"Bilang itu pada Daddy, jangan di aku." ucap Kiandra sambil menaruh sendok makannya keras-keras.


Sekitar mulai memanas, tapi Ayah Kiandra masih santai menikmati puding buahnya.