
Awalnya Anna tidak begitu mengenali. Sebab bias matahari dan Kiandra yang memakai kacamata hitam, membuat tampilannya sedikit berbeda.
Namun, ketika pria itu membuka pintu mobil dan berjalan ke arahnya, barulah Anna mengenali.
"Kenapa malah bengong?" tanya Kiandra yang kini telah berdiri di hadapannya.
Lagi-lagi Anna terkesima. Pria itu memang mempunyai ketampanan di atas rata-rata. Di tambah baju-baju yang di kenakan selalu cocok di tubuh, membuat fisik Kiandra makin sempurna.
Kiandra menutup lubang telingan dengan jari, ketika suara bising motor yang lewat membuat gendang telinganya hampir pecah.
Wajah-nya menunjukkan raut muak, kala dari kejauhan sepeda motor tinggal kerangka itu melaju dan meninggalkan bunyi dan asap yang menambah polusi.
Beberapa kendaraan lain membunyikan klakson untuk menegur. Akan tetapi, si pengendara malah makin kencang memutar gas motor modifikasinya.
Kiandra berdecak melihat kelakuan pengendara motor tak tahu aturan itu.
Semoga selamat aja itu orang.
Kiandra menyumpahi dalam hati.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Anna tanpa mengindahkan pertanyaan Kiandra sebelumnya.
Pria yang menanggalkan jas dan kini hanya memakai kemeja lengan panjang yang di lipat sampai siku itu menoleh ke arah-nya.
"Memang ini jalan moyangmu?" tanya Kiandra sambil berkacak pinggang.
"Bukan begitu." Ralat Anna dengan wajah memerah. "Maksud saya, kenapa anda berhenti di sini?"
"Kau mau melarangku berhenti?" Kiandra berjalan lebih maju.
Anna mengeleng sembari mundur-mundur. Ia takut terjadi sesuatu yang tak terduga, misal seperti ketika pria itu mewarnai bibirnya.
"Kenapa di pinggir jalan sendirian?" melihat reaksi Anna yang ketakutan, Kiandra tahu diri dan menjaga jarak.
"Ah, saya.."
"Ini milikmu?" sebelum Anna menjawab, Kiandra sudah menunjuk kardus besar yang berada di atas pembatas jalan.
"Iya." Jawab Anna gusar.
Kiandra amati benda tersebut, lalu pandangannya teralih ke motor beAT keluaran tahun 2014 warna fun red black yang terparkir di sebelahnya.
Anna was-was, sebab cara Kiandra melihat persis seorang mandor yang mengawasi anak buah.
"Kau naik ini?" tiba-tiba Kiandra kembali bertanya.
Anna tergagap, karena percayalah. Nada bicara dan ekspresi Kiandra kaku dan sama sekali tak ramah.
"Kau melamun?" tanya Kiandra seolah menuduh bawahan.
Anna yang kaget makin gelagapan. "Saya tidak..."
"Bisa-bisanya melamun di pinggir jalan ramai begini" Kiandra tak habis pikir.
Anna mengepalkan kedua tangan. Lama-lama sebal juga dia dengan sikap Kiandra yang seenaknya dan main tuduh.
"Kau ini..."
"Kau naik motor kecil ini, dengan membawa kardus sebesar ini?" sebelum Anna melampiaskan kekesalnya, Kiandra lebih dulu memotong dengan sebuah pertanyaan lain.
"Apa?" lagi-lagi respon Anna lamban dan malah balik bertanya.
Kiandra berdecak, lalu memalingkan muka dengan raut malas. "Kalau kau jadi karyawanku, sudah aku pecat di hari pertama." ia menatap Anna tajam.
Anna sudah membuka mulut untuk meluapkan emosi.
Tetapi, saat Kiandra membuka kacamata hitamnya dan mata mereka bertemu, perempuan berkuncir sederhana dengan anak-anak rambut yang menempel di sebagian kening dan pipinya yang basah oleh keringat itu malah tertegun.
"Hei, kau naik motor dengan membawa kardus sebesar televisi?" Kiandra kembali bertanya.
Kalau dari dekat seperti ini memang mirip.
batin Anna sembari memandang tanpa kedip.
"Hei!" Kiandra berjalan mendekat.
Namun, Anna masih terbawa arus masa lalu dan tak menjawab.
"Hei, kau benar-benar suka padaku ya?" Kiandra sedikit membungkuk, hingga wajah mereka kini sejajar.
"Kenapa kau selalu tak sopan seperti ini?" Anna berkata tanpa mau melihat lawan bicara.
Wajah Kiandra sangat dekat dan itu menganggu-nya.
"Siapa yang tak sopan? aku ini bertanya dan kau tak menjawab." ucap Kiandra lugas.
"Apa..?" untuk kesekian kali, respon Anna membuat kening Kiandra berkerut.
Lihat tampangnya yang seperti orang bodoh itu. Benar-benar khas Kirana. Harusnya kau saja yang jadi adiknya.
umpat Kiandra dalam hati.
Terik matahari makin membuat keringat keduanya mengalir deras. Bahkan punggung Kiandra sudah benar- benar basah oleh keringatnya sendiri.
Beberapa kali pejalan kaki lewat dan melihat keduanya. Tapi, tak ada yang mengusik, sebab menganggap mereka pasangan yang sedang bermasalah.
"Masuk." Tak tahan dengan panas yang membakar kulit, Kiandra membuka pintu mobil.
Hawa dingin dari dalam mobil menyeruak keluar, membuat Kiandra sedikit nyaman dan tak sabar ingin segera masuk ke dalam.
"Kenapa masih diam saja? kau ingin aku jadi gosong dulu, baru kau mau masuk?" Kiandra makin kesal.
"Maksudmu apa?" kedua mata Anna sampai menyipit karena mendongkak menatap Kiandra yang berada di bawah matahari.
Pria jangkung itu mendengus, lalu mengusap rambutnya yang basah oleh keringat. "Apa kau ingin aku tinggal, hah?" hampir habis sabarnya menghadapi perempuan yang mirip kakak perempuannya itu.
"Tinggal saja." tanpa di duga Anna malah mengamini.
Kali ini Kiandra yang kaget.
"Ini di pinggir jalan." Ia berdiri menjulang di hadapan Anna yang duduk di pembatas jalan.
Yang bilang ini di rumah siapa?
dahi Anna berkerut. Tapi ia tak mau bicara dan malah memalingkan muka.
"Kau mengacuhkan aku?" Kiandra tak percaya.
Anna tetap tak mengubris. Pandangannya di buang jauh ke keramaian jalan raya yang padat oleh lalu lalang kendaraan.
Sama-sama dari keluarga Marthadinata. Tapi sikapnya betul-betul tidak mencerminkan keluarga tersebut yang terkenal santun dan dermawan.
Selama tiga tahun pelariannya. Baru kali ini Anna di buat marah oleh seseorang. Biasanya ia mampu meredam emosi demi hidup nyaman tanpa ketahuan.
Namun, sikap antik Kiandra betul-betul tak hanya mengusik hidupnya yang sekarang. Tapi juga membangkitkan perasaan yang coba ia kubur dengan menjadi introvert.
"Hei, Anna." panggil Kiandra.
Kembali jantung Anna berdebar lebih kencang, saat Kiandra memanggil namanya. Tetapi, sebisa mungkin ia tak menoleh ke arah pria tersebut.
Dasar wanita, punya mulut tapi nggak mau ngomong.
Sebenarnya bisa saja Kiandra meninggalkan Anna. Namun, sejak awal diam-diam wanita itu sudah menarik hatinya.
Sayang Kiandra yang memproklamirkan diri menolak menikah belum menyadari perasaannya sendiri.
Anna menunggu sampai Kiandra pergi.
Namun, betapa terkejutnya dia, ketika ekor matanya menangkap Kiandra yang memasukan barang bawaanya ke dalam mobil.
"Apa yang kau lakukan?" Anna segera bangkit untuk mencegah.
Tapi terlambat, kardus besar itu telah Kiandra dudukan ke atas jog, kemudian ia tutup pintunya.
"Kau ini..." Anna menatap kesal.
"Masuk." dengan tenang, pria kaku itu gantian membuka pintu depan.
Anna mengigit bibir bawah sangking jengkelnya.
"Masuk." Kiandra kembali memerintah dan membuka pintu mobil lebih lebar.
Astagaa... apa hidupku kurang rumit, sampai aku harus bertemu laki-laki seperti ini?
keluh Anna dalam hati.