
Tidak sengaja Kiandra melihat Personal Asistennya itu sedang mengobrol bersama kedua kakaknya. Awalnya raut Kiandra yang kesal, berubah sedikit tegang, kemudian ia memilih mengacuhkan mereka setelah sempat memperhatikan untuk waktu yang cukup lama.
"Kenapa?" tanya Alexa yang duduk tepat di sampingnya.
Kiandra mengeleng, sembari merebahkan punggung ke kursi.
"Nggak usah di tanya." celetuk Ethan. "Malam ini dia sedang lemah, letih, lesu." ia terkekeh.
Roy mesem mendengar guyonan tersebut.
Namun, Kiandra yang sedang banyak pikiran tak berminat mengurusi candaan teman-temannya yang berusaha membuatnya ikut gembira.
Omongan Rico masih menjadi topik utama di kepalanya, serta sikap Personal Asistennya yang akhir-akhir ini mulai janggal. Tetapi, untuk masalah yang terakhir, Kiandra masih percaya pada kredibilitas dan integritas pria itu soal pekerjaan, entah jika soal lainnya.
Ia menghela nafas panjang untuk kesekian kali, lalu meminum beer tanpa alcohol untuk menghangatkan diri.
"Hei, itu pacarmu, kan?" seru Alexa tiba-tiba.
Malas-malas Kiandra menoleh ke arah yang di tunjuk wanita dengan dress hitam berpotongan seksi pada salah satu sisinya tersebut.
"Dia sudah di cut jadi pacar." Ethan memyilangkan kedua tangan.
Alexa sesaat membeliakkan kedua mata. "Aku kira kisahnya akan seperti Cinderella." ucapnya sembari melihat Kiandra dengan ujung mata.
"Aku juga mengira... seseorang akan meletakkan mahkota kejombloan-nya yang mulai berkarat." sindir Roy seraya menyesap rokok dan menghembuskan asapnya.
"Dimana-mana itu enak jadi single." Ethan yang masih lajang menimpali. "Bebas!" lanjutnya sambil memasukan camilan ke mulut.
Kiandra masa bodoh dengan pembicaraan mereka, karena matanya masih fokus tertuju ke Anna yang sedang di datangi seorang tamu pria. Yang membuat kening Kiandra berkerut dalam adalah, tamu itu bisa membuat Anna yang tadinya murung, kini tersenyum lebar sampai menutupi mulutnya dengan tangan.
Gombalan model apa yang dia dengar?
batinnya tak suka.
Kembali kepada Aldo yang tengah berbincang dengan Kirana dan Dave. Di tengah keramaian pesta, serta kebisingan suara musik yang di putar, mereka terlihat dekat satu sama lain.
"Maaf. Tapi... saya selalu penasaran, kenapa Tuan Dave tidak kembali saja ke kota dan memimpin Sanjaya Company?" tanya Aldo ingin tahu. "Maksud saya... yah.. Anda tahu sendiri, kadang kala Chief sedikit kelabakan dengan banyaknya pekerjaan." ia melucu.
Suami-istri itu saling pandang, "kan sudah ada Pak Aldo yang membantu." ujar Dave sembari tersenyum.
Aldo salah tingkah dengan garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Maksud saya bukan begitu, Tuan." ia mencoba meralat.
Kirana geli melihat tingkah Aldo yang gugup.
"Iya, saya paham." Pria lima puluh tahun itu menenangkan. "Saya paham maksud Pak Aldo." ia kembali tersenyum.
Aldo meneguk ludah memandang wajah Dave yang sudah tidak lagi muda. Tetapi, mau sebanyak apapun kerutan di wajahnya atau seberapa berubah warna rambutnya, ia masih bisa mengenali pria itu sebagai mantan kakak ipar yang tak pernah di kenal.
"Hidup di kota serta memiliki semua, kadang tidak menjamin ketenangan batin." kata pria di hadapannya itu.
Kedua mata Aldo melebar.
"Mungkin kami yang aneh." ia menoleh ke arah istrinya, dan mereka saling melempar senyum, sebelum ia kembali menatap pria dengan setelan jas warna navi tersebut. "Tapi, hidup di desa lebih membuat kami tenang dan bahagia." lanjutnya.
"Benarkah?" tanya Aldo tanpa di duga.
Pasangan itu sedikit kaget dengan intonasi suara Aldo yang berubah.
"Alam pedesaan memang membuat tenang." lanjutnya. "Sayapun di besarkan di lingkungan seperti itu." ia menipiskan bibir. "Sangking tenangnya... sampai-sampai kita bisa melupakan jati diri.." sorot mata Aldo berubah sayu.
Tiba-tiba terdengar jeritan seorang wanita, yang membuat perhatian mereka seketika teralih. Di sudut sana, Kama menyalakan petasan, yang membuat beberapa tamu berhamburan.
Tapi, ada juga tamu-tamu lain yang tertawa dengan tingkah spontan orang-orang yang biasa nampak kalem, tetapi bisa histeris karena sebuah petasan.
"Anak-anak itu." Kirana geram, serta tanpa di suruh segera menghampiri dua bocah yang tertawa ngakak sampai terbungkuk-bungkuk dan memegangi perut tersebut.
"Saya juga permisi." Aldo menundukkan kepala sebentar, lalu berbalik.
"Tunggu." cegah Dave, membuat langkah pria itu terhenti.
"Ya?" Aldo menoleh ke arahnya dan tersenyum seperti biasa.
Dave berjalan maju, membuat kini mereka berdiri sejajar.
"Dad bilang, Pak Aldo sudah 10 tahun mengabdi di Perusahaan." ucap Dave tanpa tendensi apapun.
Awalnya Aldo bergeming, kemudian mengangguk dan tersenyum.
Dave membalasnya dengan senyuman yang sama. "Terima kasih." lanjutnya.
Aldo terkejut. Tapi, dia berusaha tak memperlihatkan keterkejutannya.
"Selain memiliki integritas tinggi, pastilah Pak Aldo orang yang sabar, karena tidak semua orang bisa tahan dengan kinerja Chief kalian yang keras." ia terkekeh.
Aldo mencoba tertawa mendengar lelucon tersebut, meski tawanya terdengar hambar.
Keduanya kembali terdiam. Walau sekitar bising, tetapi entah kenapa di sekitar mereka terasa hening.
Tiba-tiba Dave mengulurkan tangan. "Saya minta maaf." ucapnya.
Kedua mata Aldo membulat sempurna.
"Atas nama keluarga Marthadinata dan Sanjaya, saya minta maaf." lanjut Dave tulus.
"Ke, kenapa Anda..." Aldo bingung untuk bersikap dengan hal di luar prediksinya ini.
"Pak Aldo tidak mau menjabat tangan saya?" Dave pura-pura heran.
Di tanya seperti itu, mau tak mau akhirnya Aldo menjabat tangan pria yang seharusnya menjadi CEO di Perusahaan tempatnya bekerja.
"Tuan Dave, Anda tidak perlu..."
"Saya akan sangat senang, jika Pak Aldo terus mendampingi Chief dan bersama memajukan Perusahaan."
Seketika Aldo tertegun.
Dave memandang pria seusia adik iparnya itu seraya menipiskan bibir. "Pak Aldo benar, lingkungan pedesaan yang tenang, membuat kita seolah lupa akan jati diri. Saya pun tidak menampik hal itu." Dave membuang pandangannya jauh ke keramaian pesta.
"Saya senang, ketika orang hanya mengenal saya sebagai guru di SD kecil. Atau mengenal istri saya, hanya sebagai ibu rumah tangga yang kadang kala membantu tetangga bertani. Kehidupan yang terlihat harmonis sampai membuat sekitar iri. Tetapi, itu semua tidak bisa merubah kenyataan, jika kami bahagia di atas penderitaan orang lain bukan?" Dave kembali menatap Aldo, yang membuat kedua bola mata pria itu sampai bergetar.
".... Saya tidak mengerti..., kenapa Anda membahas hal pribadi seperti ini dengan saya." ia berkata tanpa melihat lawan bicara.
"Angela." ucap Dave.
Seketika jantung Aldo bagai terhantam palu godam.
"Nama istri pertama saya." ia melanjutkan.
Aldo masih merunduk.
"Bagaimana pun, saya lah yang salah karena tak bisa membahagiakannya. Tapi, saya juga tidak bisa terus-terusan membohongi Angela dengan pura-pura mencintainya."
Aldo langsung menatap pria berjas hitam tersebut.
"Mungkin Dad memang laki-laki kejam yang menghalalkan segala cara. Tetapi bagi kami, Dad adalah sosok Ayah yang selalu berusaha melindungi keluarganya."
Kedua tangan Aldo terkepal, seraya membuang muka. Di detik itu, jelas terlihat wajah asli seorang Aldo. Terluka, dengan ekspresi marah dan getir yang membaur jadi satu.
"Pak Aldo boleh dendam, karena itu hal yang wajar." Dave kembali berkata. "Tapi, dendam lah hanya kepada saya, sebab semua terjadi karena keegoisan saya." ia melangkah mendekat.
Aldo tetap tertunduk tak bergeming.
"Dad sudah sangat tua." ucap pria dengan cahaya mata yang tak kalah pedihnya dengan dirinya tersebut. "Kirana, Ibu dan bahkan Kian, tak tahu apa-apa tentang hal itu." ia melanjutkan.
Ekspresi Aldo menyiratkan keterkejutan.
"Sayapun baru tahu, saat Dad masuk rumah sakit, dan di situlah beliau jujur tentang semua." Dave menambahkan.
Rasa sesak kembali menjalar di rongga-rongga dada Aldo. Sama sakitnya, dengan saat pertama kali dia tahu, bahwa sebenarnya dia adalah putra dari Adriansyah Adam, seorang konglomerat yang seluruh keluarganya meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis. Atau begitulah yang ia dengar dari suami-istri yang selama ini ia kira orang tua kandungnya, dan koran-koran yang memberitakan tentang kejadian tersebut.
Victoria yang menguping pembicaraan mereka, perlahan menurunkan senjata api jenis FN yang di lengkapi peredam suara. Dia yang curiga terhadap Aldo, sengaja berjaga-jaga, sekedar untuk memastikan pria itu tidak berbuat bodoh.
Namun, karena hal itu pula, Victoria melupakan tanggung jawab utamanya.