
"Apa?" suara dari ponsel terdengar kaget.
"Iya, Kian tak mau menemuiku." Dave memijit pelipisnya yang berat.
"Kenapa dia jadi kurang ajar seperti ini? apa dia merasa sudah hebat karena mampu menggantikan Daddy?" suara dari speaker terdengar marah.
"Tidak. Aku yakin Kian bukan orang seperti itu." Dave mencoba menenangkan istrinya.
"Dia sudah membuatmu menunggu dari siang sampai malam. Tapi kau masih membelanya?" istrinya tak habis pikir.
"Mungkin Kian memang benar-benar sibuk. Kau tahu sendiri beban pekerjaan yang harus dia pikul." Pria 50 tahun itu tetap kalem.
Terdengar hembusan nafas dari seberang sana.
"Bagi Kian itu bukan beban. Bukannya dia sendiri yang dengan senang hati menawarkan diri. Dia haus pujian Daddy dan ibu, makanya dia..."
Istrinya terus mengomel tentang Kiandra yang di anggap tak sopan dan tidak sepantasnya berbuat seperti itu pada suaminya, yang notabene adalah kakak iparnya sendiri.
Dave mendengar tanpa sekalipun menyela. Bagi dia yang sudah menjalani biduk rumah tangga bertahun-tahun dan paham watak istrinya. Hal seperti ini tak pernah ia masukan ke hati.
Dave tahu marah istrinya hanya lantaran emosi sesaat, yang sebentar lagi akan mereda dan di ganti gundah, karena Kiandra yang tak kunjung mau berdamai dengan mereka.
"Dari dulu Kian dan aku memang sering bertengkar. Tapi..kau tahu kan, kalau aku sangat menyayanginya...?"
Benar saja dugaan Dave. Intonasi bicara istrinya telah melembut dan terdengar gemetar, yang artinya ia sedang menahan duka.
"Iya, kalian dekat." Dave merebahkan diri ke jog mobil, sembari memandangi halaman luas rumah keluarga Marthadinata yang hampir tak berubah dari terakhir ia tinggali.
"Bagaimana bisa kita menjelaskan, kalau dia selalu menghindar seperti ini? padahal aku ingin sekali bertemu dengannya.."
Pandangan Dave tertunduk mendengar racauan istrinya.
"Kian...,kenapa hubungan kami jadi seperti ini...?"
Kini suara istrinya telah berubah menjadi tangis.
"Sudah, tidak usah di pikirkan. Besok aku akan langsung ke apartemennya." Dave tetap tenang, meski sebenarnya gelisah.
"Aku takut kalian bertengkar seperti waktu itu..."
Dave menghela nafas, kemudian memejamkan kedua mata sesaat.
"Tidak." ia menjawab. "Aku yakin sekarang Kian jauh lebih dewasa."
"Tapi..."
"Kirana..." Suaminya memotong kalimatnya lembut. "Percaya padaku, semua akan baik-baik saja."
"Baiklah Dave..." suara dari dalam speaker terdengar pasrah. "Aku hanya ingin kita seperti dulu."
"Kita akan seperti dulu, Sayang. Aku berjanji." Dave menyakinkan.
"Aku menantikan hari itu..."
"Aku juga menantikan-nya." Dave berkata. "Kita barberque-nan di tepi danau seperti dulu. Bersama Dad, ibu, si kembar dan mungkin Kian akan membawa pasangannya."
"Wanita seperti apa yang akan kuat dengan si Kian itu." celetuk istrinya kesal.
Dave tertawa.
"Cuma di luar saja dia kelihatan tenang dan berwibawa. Padahal sebenarnya dia lebih gila dari Daddy."
"Hush..Kirana." Dave menyuruhnya diam, sebab secara tak langsung ia menjelekkan orang tua. Tapi, yang di katakan istrinya itu memang benar, dan hal itu membuat Dave mengulum senyum.
" Paling tidak, wanita yang kelak menjadi pendampingnya harus selembut dan sesabar ibu." Kirana masih saja nerocos.
Jika sudah membicarakan adik lelaki satu-satunya itu, Kirana memang sangat bersemangat sampai lupa usia.
Mendengar ocehan istrinya, Dave tersenyum sampai kerutan di wajahnya makin bertambah. Tetapi anehnya, wajahnya malah terlihat makin mempesona.
"Oya, mana si kembar?" tanya Dave setelah Kirana puas mengeluarkan segala uneg-uneg nya.
"Mereka sudah tidur." Kirana menjawab singkat. Dia masih kesal dengan Kiandra dan mengomel hampir 5 menit rasanya belum cukup.
"Aku rindu mereka." Dave memelas.
"Seharian mereka juga menanyakanmu, katanya, kenapa papa nggak pulang-pulang?" kali ini tak ada lagi nada kesal ataupun sedih.
Dave terkekeh. "Mereka lucu, mengemaskan dan tak bisa diam sepertimu."
"Malam ini aku akan menginap di rumah Dad. Apa kau mau video call dengan mereka?" Dave menawari sambil mematikan mesin mobil.
"Ah, aku rindu Daddy dan ibu..." suara istrinya berubah lesu.
"Minggu depan saat si kembar libur, kita main saja kesini." Dave mengusulkan.
"Kalau Kian marah bagimana?"
"Mana mungkin Kian marah kalau kita membawa si kembar?" Dave menepis pikiran buruk istrinya.
"Tapi keluarga Adriansyah...."
"Kenapa malah berbicara sampai sana?" Dave terlihat tak suka. "Kebahagiaan kita tak ada hubungannya dengan hal itu."
Hening tak terdengar suara apapun dari dalam speaker.
Kening pria paruh baya itu sedikit berkerut. Tapi kemudian, ia kendurkan berbarengan dengan ia menghela nafas panjang.
Beberapa penjaga yang melihat pria tersebut membungkuk hormat.
"Tuan Dave."
"Selamat datang Tuan Dave.
"Malam Tuan Dave."
Para bodyguard itu menyapa. Dave yang sedang menelpon hanya tersenyum sembari berjalan lurus menuju rumah induk keluarga Marthadinata yang megah dengan dua pilar besar di kedua sisinya.
"Aku sudah sampai. Nanti aku telpon lagi." Dave memutus sambungan telpon tanpa menunggu istrinya menjawab.
Seorang pelayan wanita membuka pintu, dan sedikit kaget melihat kedatangannya.
"Tuan Dave?"
Di keluarga Marthadinata, semua pelayan nyaris tak ada yang diganti. Bahkan ada yang turun temurun mengabdi kepada keluarga tersebut. Maka tak heran, jika para pelayan tahu tiap kejadian di masa lalu.
"Si, silahkan Tuan." Pelayan berkebaya jaman dulu itu mempersilahkan.
Awalnya Dave ragu untuk melangkah, sebab ada sesuatu yang membuatnya berat untuk kembali ke rumah ini.
Tetapi, hubungan dengan Kiandra yang retak dan bertahun-tahun tak ada titik temu, memaksanya kembali ke kota ini, ke rumah ini.
Dad...
ucap Dave dalam hati.
Mendadak manis-pahit kenangan mereka di masa lalu beseliweran di pelupuk mata.
"Tuan Dave." panggilan si Pelayan membuat-nya terbangun dari lamunan.
Dave tersenyum untuk menutupi gundah hati.
"Silahkan masuk Tuan." kembali ia mempersilahkan. "Tuan dan Nyonya sedang duduk di ruang tengah."
"Terima kasih." Akhirnya Dave melangkah masuk.
Berbeda dengan keadaan di luar yang gelap remang-remang. Di dalam rumah terang benderang, dengan berbagi perabot yang rata-rata terbuat dari ukiran kayu khas kota Jepara.
Di sepanjang tembok yang Dave lalui, ia pandangi figura-figura foto yang memuat memori masa lalu keluarga tersebut.
Tak terkecuali foto dirinya bersama istri dan Kiandra yang kala itu masih berusia 7 tahun.
Dave berhenti untuk menatap foto tersebut.
"Kenapa kau nekat menikahi kakakku? kenapa hanya kakakku dan keluargaku yang kena hujat?!"
Amarah Kiandra terbayang.
"Kita memang tak sedarah Dave!"
Dave menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
Kita hidup di masa sekarang dan harusnya hanya menatap masa depan.
Tapi, kenapa orang senang sekali merindukan masa lalu yang menyakitkan?