Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
APARTEMEN



Anna terbangun, ketika sinar matahari yang sudah tinggi membias jendela yang tertutup vitrase warna putih.


Ia mengheluh, sembari memegangi kepalanya yang terasa berkunang.


Dimana ini?


tanyanya dalam hati, sebab pandangannya masih buram.


Apa yang terjadi semalam?


batinnya bingung.


Ia masih memakai baju yang sama. Bahkan jas milik Kiandra masih ia kenakan rapat-rapat.


Ia pandangi kuku-kuku palsu yang kemarin di pasang untuk mempercantik tampilan jari tangannya, kini rusak dan sebagian hilang entah ke mana.


"Aduuh...." keluhnya sambil memijit kepalanya yang mendadak pening.


Anna mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin, dari dia pergi berbelanja dengan sang Ibu, lalu ke salon spa, dan terakhir pergi bersama Kiandra ke sebuah Club malam untuk bertemu teman-temannya.


Waktu itu ia begitu kesal dengan sikap Kiandra yang tak peka, dan malah asik bercanda dengan kawan-kawannya, sedangkan teman wanitanya di situ terus-terusan menatap seolah ingin menelannya bulat-bulat.


Setelah itu... Apa yang terjadi?


batinnya kembali bertanya.


Kamar tidur dengan dominan warna putih-abu tua itu terasa sunyi, dengan hanya ada dia seorang.


Kamar siapa ini?


pandangan mata Anna menjelajah ke seluruh ruangan.


Tiba-tiba ia teringat kejadian beberapa tahun lalu, di mana saat itu Rico membawanya ke suatu pesta, dan pagi harinya ia bangun dalam keadaan telanjang bulat dan semua telah terjadi begitu saja.


Anna gemetar, pikirannya mulai di rayapi kenangan buruk yang serasa familiar dengan keadaannya sekarang.


"Guk! Guk!" gonggongan Snow membuat Anna tersentak.


"Hei, Snow!" Kiandra yang sudah berdiri di ambang pintu meletakkan jari telunjuknya ke bibir, sebagai tanda agar anjing itu diam.


Dengan patuh, anjing berbulu putih dengan sedikit warna cokelat muda di beberapa bagian itu duduk.


Anna kaget menatap pria yang sudah rapi dengan setelan jas dari brand Bluberry, beserta anjing besar bermata biru itu.


"Kenapa cuma diam? Masih mau melamun lagi?" kening Kiandra berkerut seperti biasa.


"A, anu.. ini..." Anna gagap, karena fokusnya terbagi antara takut melihat Snow, dan pikiran negatif tentang apa yang terjadi semalam.


Kiandra berjalan mendekat, membuat jantung Anna berpacu lebih kencang.


"Selamat pagi, Delana."


sapaan Rico di pagi buta kala itu, menjadi lembar pembuka mimpi buruknya.


"Mandi sana!" perintah Kiandra, membuat lamunan Anna seketika buyar.


Anna terbengong seperti orang linglung.


"Kau dengar tidak?" ucap Kiandra mulai kesal.


Anna gugup. "A, Anda... anu.. saya..." ia kesulitan berkata-kata.


Kedua alis Kiandra hampir menyatu. "Kau ingin pulang dengan keadaan seperti ini?" tanyanya ketus.


Anna mengeleng cepat.


"Lalu kenapa kau masih tak beranjak dari tempat tidur?" ujar Kiandra sambil melipat kedua tangan ke dada.


"Tempat tidur ini...? A, anu... kamar... Anda...?" Anna ingin memastikan.


Tak menjawab, muka Kiandra malah berubah masam. "Ini sudah siang!" ujarnya seraya menunjuk jam di pergelangan tangan. "Kau pikir aku CEO di novel-novel yang tak punya kerjaan, selain mengurusi perempuan sepertimu, hahh?!" ia marah.


Kening Anna berkerut mendengar penuturan Kiandra. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia segera turun dari ranjang dan masuk ke dalam ruangan yang ia yakini sebagai kamar mandi.


Kiandra yang di tinggal sendirian langsung terduduk di pinggir ranjang, kemudian mengusap wajahnya yang kalut dan menghela nafas panjang.


Ia mengambil ponsel dari balik jas mahalnya, lalu mengeser layar ponsel beberapa kali. Sebuah pesan dari Roy yang ia terima tadi, di buka nya lagi.


Bagaimana rasanya bobo' bareng dengan Princess Kelantan?


Kalimat yang seharusnya hanya bercanda, tetapi menjadi serius, karena di sertai foto Anna yang mengenakan kerudung yang di ambil dari Google.


ucapan Anna, saat ia hampir saja bisa memilikinya terlintas. Dan nama itu, sama dengan nama Sang Putri dari salah satu Negara bagian Malaysia.


"Kelantan...?" Tiba-tiba Kiandra teringat obrolannya saat bersama Rico.


.


Sementara itu, di ruangan yang Anna kira hanya berupa tempat untuk mandi, ternyata begitu luas dengan deretan gantungan baju dan jas di kanan kiri. Sepatu-sepatu dari berbagai merk terkenal, sampai aksesoris pria yang meliputi kacamata, jam tangan, hingga perhiasan. Semua tertata rapi dalam lemari-lemari kaca, mirip seperti di etalase toko.


Anna yang melihat semua itu sampai membelalakkan kedua matanya lebar-lebar. Ia berjalan pelan, sembari mengamati setiap barang yang berada di situ.


"Perhiasannya banyak sekali..." ucapnya takjub. "Apa dia memakai semua ini?" ia sedikit tak percaya, karena umumnya lekaki tak menyukai perhiasan emas.


Jemari tangannya meraba sebuah lemari kaca berisi kalung keluaran terbaru dari Chanel dan Bvlgari.


Desainnya cantik.


pikirnya sedikit iri.


Anna memang sangat menyukai perhiasan, terutama perhiasan dengan desain sederhana nan elegant seperti dua brand tersebut.


"Bagaimana dengan milikku di rumah ya...?" gumannya murung, kala teringat koleksi perhiasan yang dahulu ia tinggalkan.


Namun, rasa sedih itu segera tertepis, ketika tak sengaja ia melihat lemari kaca di sebelahnya.


Anna mengangga melihat satu lemari hanya berisi aneka parfume pria, mungkin juga ada parfume wanita. Entahlah, yang jelas banyak sekali dan semua dari brand terkemuka, yang satu botolnya saja bernilai jutaan.


"Pantas saja dia selalu wangi." tanpa sadar Anna berkata.


Selain itu, di ruangan tersebut juga terdapat beberapa merk skincare, yang membuat Anna geli sampai ia melupakan kesedihan dan juga rasa was-was nya.


Aku tidak bisa membayangkan dia memakai semua ini.


ia berkata dalam hati, sembari memegangi perutnya yang kram menahan tawa.


Melihat sisi lain dari seorang Kiandra, membuat Anna sedikit terhibur, dan ia bisa menikmati mandi-nya yang walau terburu-buru, tapi mampu membuatnya rileks dengan guyuran air hangat dari shower.


Namun, kesenangan itu tidak berlangsung lama. Anna yang telah selesai mandi, serta kini hanya membelit tubuhnya dengan handuk, mendadak terpaku menatap cermin yang kebetulan terpasang di dinding kamar mandi.


Apa ini...?


pikirnya sambil mengusap tanda merah samar yang terdapat di bagian leher dan dada.


Anna mendekatkan diri ke cermin untuk memastikan luka apa itu. Tetapi, seketika ia mundur dan menahan nafas, karena di lihat dari sisi manapun, itu adalah kiss mark.


.


Kembali ke Kiandra, yang kini duduk di ruang tamu sambil menelpon seseorang.


"Apa lagi? Sudah aku jawab, kan? Aku belum tidur dari semalam." suara Roy yang ngebass terdengar dari speaker ponsel.


"Aku serius, sial!" Kiandra memijit pelipisnya.


"Aku juga serius, ngantuk!" Roy tak mau kalah. "Wanitamu memang mirip Putri dari Kelantan. Aku suruh cek google, kau tak mau." ia kesal.


"Aku tak percaya." Kiandra berdecak.


"Sejak kapan kau lebih percaya padaku dari pada google?" ujar Roy seraya terdengar suara orang menguap keras-keras.


"Masalahnya..."


"Dari pada kau terus mempertanyakan kemiripan mereka. Lebih baik dongengi aku tentang malam pertama kalian." Roy malah membahas hal lain.


Kedua alis Kiandra seketika menyatu. "Sialan kalian!" ia mengumpat.


"Sialan, sialan. Bilang saja enak." Roy terbahak.


Kiandra kembali berdecak dengan muka memerah.


"Heh, sebagai tanda maaf, kami mau mengirim satu box Fiesta aroma stroberi lo." obrolan Roy mulai absrud.


"Aku lebih suka yang bergerigi, sialan!" ujar Kiandra kesal, lalu segera mematikan sambungan telpon berbarengan dengan tawa Roy yang menggelegar.


Memang sinting mereka!


Kiandra mengomel dalam hati sambil menyimpan kembali ponselnya.


Tiba-tiba terdengar bunyi smart lock system dari pintu digital yang kebetulan mengarah langsung ke dimana Kiandra duduk.


Aldo yang membuka pintu, kaget melihat Kiandra sudah pulang ke Apartemen.