Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
ASISTEN PRIBADI



"It's so easy."


Kiandra teringat ucapan Roy yang menirunya.


"Seperti katamu, membawa gadis bernama Anna dan memperkenalkannya pada kami itu hal yang sangat mudah bukan?"


Dahi Kiandra berkerut mengingat betapa menyebalkan raut teman baiknya yang gemar merokok itu.


"Chief?"


Sial! bagimana aku memperkenalkan dia...?


tanya-nya dalam hati.


Boro-boro memperkenalkan, dia mau pergi denganku saja sudah bagus.


Dahi Kiandra makin berkerut.


"Chief?"


Tapi..aku sudah memberi banyak hadiah. Kalau hanya pergi, harusnya dia mau dong?


Mata Kiandra berbinar oleh pemikirannya sendiri.


"Chief? Chief, kita..."


"Berisik!" bentak Kiandra yang merasa terganggu.


Sontak suasana rapat pagi menjadi hening dengan para pesertanya yang kaget menatap ke arah Kiandra.


"Maaf kan saya Chief." Aldo yang duduk di samping Kiandra dan baru saja kena bentak segera meminta maaf, meski ia sendiri tak tahu salahnya dimana.


Astagaa...


Runtuk Kiandra dalam hati.


Walau rasanya ia ingin mengumpati kebodohannya yang melamun di saat penting. Akan tetapi, Kiandra yang terlatih untuk bersikap penuh wibawa, pada akhirnya mampu menguasai keadaan, sehingga rapat bisa kembali berjalan seperti sedia kala.


Awas saja kalau mereka berani bergosip aneh-aneh di belakangku


Jiwa kekanakan Kiandra mengancam para stafnya yang masih syok dengan kemarahannya yang tiba-tiba, dan kini mereka diam-diam tengah saling pandang dan berbisik penuh tanya.


.


"Maaf tadi aku membentakmu di tengah rapat." Dengan berbesar hati Kiandra meminta maaf pada Aldo setelah mereka kembali ke ruangan.


Didikan sempurna dari ibunya, untuk menekankan kata maaf jika berbuat salah tanpa memandang status dan terima kasih jika di beri sesuatu, begitu melekat di hati Kiandra. Sehingga tanpa sungkan ia meminta maaf pada bawahan yang tak sengaja tadi dia permalukan di depan umum.


"Tidak apa-apa Chief." Aldo yang maklum tersenyum. "Saya tahu pusingnya Chief memikirkan semua."


Kiandra tersenyum kecut, karena di saat dia di tuntut tanggung jawab pada pekerjaan. Nyatanya ia malah memikirkan hal tak penting.


"Oya, Nyonya Kirana dan Tuan Dave titip salam untuk anda." Aldo yang duduk di hadapan Kiandra dan hanya di pisahkan oleh meja kerja berkata.


Raut Kiandra yang tadi gundah, mendadak berubah dingin.


"Beliau berdua menanyakan keadaan anda dan juga bertanya tentang kenapa anda tak datang ke acara?"


"Lalu kau jawab apa?" Kiandra balik bertanya.


Seandainya Aldo bisa menangkap keketusan dari nada bicara Kiandra, tentu ia akan langsung mengalihkan pembicaraan.


Namun sayangnya, Aldo terlalu senang dengan permintaan maaf dari bos besaranya tersebut. Hingga lalai, bahwa membicarakan kakak perempuan beserta suami Atasnya itu adalah hal tabu.


"Tentu saja saya jawab sesuai dengan mandat dari anda Chief, sibuk." Aldo menjawab mantap.


Kiandra mendengus serayak memalingkan muka, kemudian mulai membalik lembar-lembar dokumen yang berada di depannya.


"Eemm...Chief," ragu Aldo memanggil.


Kiandra hanya melirik sesaat, lalu kembali fokus pada lembaran kerja.


"Tuan Dave..."


Tiba-tiba gestur Kiandra menegang, kemudian menatap Aldo tajam.


"Beliau...masih terlihat segar bugar, kenapa tak mau membantu anda dalam mengelola perusahan? eh, maksud saya...supaya anda tak terlalu berat mengurus semua...begitu..." suara Aldo mengecil dan menghilang, kala menyadari kedua alis Chief-nya makin menyatu dengan sorot mata kecokelatannya yang memandang penuh antipati.


"Apa aku terlihat berat melakukan semua sendiri?" ucap Kiandra ketus.


"Ti, tidak Chief, maksud saya..."


"Apa perlu aku membuka lowongan Asisten pribadi, karena Asisten pribadi ku merasa payah menghandle sedikit pekerjaan yang aku limpahkan padanya?" Kiandra kembali berkata, sebelum Aldo menyelesaikan kalimatnya.


"Bu, bukan begitu maksud saya Chief..." Pria berkemeja abu tua itu langsung gugup, sebab kata-kata Kiandra merujuk pada pemecatan.


Dasar tolol! bisa-bisanya kau menyinggung soal Nyonya Kirana dan Tuan Dave di hadapan Chief.


Sesal Aldo dalam hati.


"Kau bermaksud begitupun tak masalah. Aku tinggal cari yang lain." Ucap Kiandra tanpa melihat lawan bicara.


"Jangan seperti itu Chief.." Aldo memelas. "Anda tahu bukan itu maksud saya. Saya juga minta maaf, karena dengan lancang membicarakan kakak Chief. Tapi sumpah, saya hanya ingin menyampaikan pesan dari Kakak anda."


Kiandra yang duduk di kursi kulit kebesarannya tetap tak bergeming dalam posisi miring.


"Chief..." panggil Aldo muram.


Kiandra tetap tak mau melihat ke arahnya dan malah pura-pura membaca kertas dokumen.


Bagi orang yang tak tahu, posisi dan cara bicara mereka yang sedikit ambigu, pasti akan memancing salah paham.


Tetapi, untungnya di ruang kerja Kiandra dengan interior mewahnya itu hanya ada mereka berdua dan pintu dalam kondisi tertutup.


Bisa kacau kalau sampai Chief ambil Asisten Pribadi lain. Aku di pecat, dan tak mungkin Vic mau bertemu denganku di luar kantor.


runtuk Aldo dalam hati.


"Keluar sana." perintah Kiandra tanpa melihat raut terpuruk Asisten pribadinya.


"Saya minta maaf, Chief..." Aldo cemas, sebab Chief nya yang memiliki sifat dan pemikiran yang kadang kala begitu out of the box itu akan mengambil keputusan ekstrime yang akan membuat dirinya tak bisa bersama cintanya.


"Keluar." Perintah Kiandra lagi sembari mengibaskan tangan kanan.


Tak ada pilihan, dengan gontai Aldo bangkit dari duduk. Namun, baru saja ia berdiri. Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Halo?" ucap Aldo tegas, meski wajahnya memelas.


"Halo. Selamat siang Pak Aldo, di lobbi ada seorang wanita ingin bertemu dengan Chief." suara dari dalam speaker ponsel membuat Aldo menoleh ke arah Kiandra yang masih tak acuh padanya.


"Dari Perusahaan mana? karena hari ini Chief tak ada janji dengan seorang wanita." Aldo berjalan agak menjauh dari meja Kiandra.


Perlu di ketahui, bahwa semua janji atas nama Kiandra, Aldo lah yang menjadwalkan. Melalui dia pula semua orang yang ingin bertemu Kiandra di seleksi.


Bisa di bilang, Aldo tak hanya Asisten Pribadi, tapi juga temeng untuk lelaki jangkung bermata cokelat terang tersebut.


"Nona ini bilang tidak dari perusahaan manapun."


Aldo yang sudah badmood karena perselisihan kecilnya dengan Kiandra langsung kesal.


"Sudah tahu seperti itu kenapa tetap menghubungi saya? panggil satpam, usir wanita itu. Jelas-jelas dia datang hanya untuk mengacau." Aldo mengomel.


Kiandra yang mendengar suara Aldo sedikit terganggu, membuat dia memutar kursi dan memperhatian pria tersebut dari kejauhan.


"Tapi dia membawa kartu nama Chief dan bilang Chief menyukainya."


"Apa?" Aldo hampir tertawa, kalau saja tak melihat Kiandra yang menatap dari tempatnya duduk.


"Bukankah tak semua orang bisa memiliki kartu nama Chief?" suara dari dalam ponsel mengingatkan.


Mata Aldo langsung membelalak.


Benar. Chief tak pernah memberikan kartu namanya kepada sembarang orang.


ucap Aldo dalam hati.


"Pasti dia mencuri dari seseorang." Aldo menyimpulkan.


Melihat Aldo nampak seperti ada masalah, serta sayup-sayup ia mengatakan 'mencuri', membuat Kiandra bangkit dari duduk dan berjalan ke arah Asisten Pribadi-nya.


"Saya juga awalnya berpikir begitu. Tapi, dia bersikukuh tak mencuri dan kartu nama itu di berikan langsung oleh Chief."


"Mana ada pencuri yang mau mengaku." Aldo makin kesal. "Sudah usir saja." ia memerintahkan.


"Baik kalau memang anda menghendaki begitu."


"Jangan lupa foto wajahnya, lalu teruskan ke saya dan kepala keamanan. Supaya kita tak sembarangan lagi membiarkan orang yang sama masuk ke dalam lingkungan kantor." Aldo menambahkan sebelum menutup sambungan.


"Ada apa?" tanya Kiandra yang telah berdiri di samping Aldo.


"Tidak ada apa-apa Chief." Aldo tersenyum lebar agar di maafkan. "Hanya orang iseng atau mungkin saingan bisnis kita yang mencoba menbobol masuk."


"Membobol masuk?" Kiandra kurang paham.


"Jadi..ada seorang wanita ingin bertemu dengan anda. Tapi, sudah saya suruh bagian resepsionis mengusirnya." Aldo menjelasakan.


Wanita?


Kening Kiandra berkerut, karena rekanan bisnisnya rata-rata pria.


Ponsel Aldo kembali berbunyi. Tapi hanya sebentar. Aldo segera mengeser layarnya.


"Nah, ini dia orangnya." ia segera menginfokan foto wanita yang di maksud kepada Kiandra.


"Anehnya, dia sampai memiliki kartu nama anda." Aldo kembali bercerita, saat kedua mata Kiandra membulat sempurna melihat foto pada ponsel yang di sodorkan ke arahnya.


"Kejahatan semakin maju saja dengan membuat duplikat kartu tanpa..."


"Dimana wanita ini sekarang?" potong Kiandra tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.


"Sudah saya suruh mengusir..." kalimat Aldo mengantung, kala melihat kedua alis Kiandra hampir menyatu.


"A, ada apa Chief?" ia tak mengerti.


"Kau aku pecat!" bentak Kiandra penuh emosi, kemudian berjalan cepat keluar ruangan.


"Hah? eh? apa?" Aldo kebingungan.


Butuh waktu beberapa detik, sampai akhirnya pria tersebut sadar, kemudian meracau seorang diri.


"Pecat? hah? Pecat? Chief memecatku?" Aldo kelimpungan.


Lalu bagaimana dengan cita-citaku menikahi Vic??


tanya Aldo dalam hati.