
"Tante tak menyangka hubungan kalian akan secepat ini." Ujar Nisa girang.
Hatinya ikut berbunga-bunga, saat beberapa jam lalu Anna di antar pulang oleh Kiandra.
Anna yang sudah kembali memakai celemek warna hijau tosca berbordir Nisa Florist, hanya tersenyum kecut mendengarnya.
"Tante juga kaget, orang seperti dia mau minta maaf kepada masyarakat kelas rendah seperti kita. " Nisa tersipu.
"Saya minta maaf, karena sudah membawa pegawai anda makan siang tanpa ijin"
Apa dia tak di ajari cara bicara yang santai?
tanya Anna dalam hati, sebab sikap dan cara Kiandra minta maaf terkesan formal dan aneh.
"Hari ini betul-betul hari keberuntungan kita." Nisa yang berdiri di rak lain dan tengah memilah bunga potong yang layu, terlihat sangat bahagia.
Anna hanya menghela nafas panjang, kemudian jongkok agar lebih nyaman menata pot-pot kecil dari plastik yang baru saja dia keluarkan dari dus besar.
"Tidak cuma wajahnya yang tampan. Tapi hatinya baik, sikapnya sopan dan juga dermawan."
Anna mendengar Nisa memuji Kiandra.
"Dia mengganti semua onderdil motor tua kita dengan yang baru."
Untuk kesekian kali sejak Anna pulang, Nisa kembali membahas hal tersebut.
Kiandra memang tak hanya menggantar motor mogoknya pulang ke ruko. Tetapi juga memperbaiki, mengganti sparepart dan mengisi bensin motor tersebut sampai full.
Mungkin jika dia tahu BPKB motor itu di gandaikan, akan di tebusnya juga.
batin Anna sembari menghela nafas.
"Anna." Nisa menepuk pelan pundak gadis itu.
Anna terkejut, Nisa sudah berdiri di sampingnya.
"I, iya Tante?" ia menyahut, kemudian lekas bangkit.
"Dari siang sampai sore, kemana saja kalian?" selidik Nisa sembari mengedipkan satu mata.
Sebenarnya Nisa bertanya cuma untuk mengoda-nya. Tapi, reaksi Anna sungguh di luar perkiraan.
Netra gadis itu melebar dan mendadak terlihat ketakutan.
"Saya...saya hanya...tadi..." Anna mengigit bibit bawah, seraya meremas jemari tangannya yang dingin.
"Apa saja yang kalian lakukan seharian?"
pertanyaan hampir sama dengan yang Nisa tanyakan terlintas.
"Setiap jam makan siang kalian selalu menghilang."
"Tak pantas wanita bermarga Tengku bertingkah sepertimu!"
"Memalukan!"
Anna gemetar mengingat makian yang di lontarkan oleh orang-orang terdekatnya di masa lalu.
"Kau aib di keluarga ini!"
Anna tersentak.
Mama...
ucapnya dalam hati.
Kedua mata Anna sudah meremang, teringat seorang wanita yang bahkan tak sudi memandang ke arahnya.
Nisa gelisah melihat perubahan sikap Anna.
"Anna? ada apa?" tanyanya bingung.
"Apa kau pikir dengan bunuh diri semua yang kau hancurkan bisa kembali?"
"Percuma kau jadi lulusan terbaik Stanford, kalau logikamu mati soal Rico."
Padahal Anna pikir, dengan ia mampu meredam kesedihannya ketika bertemu Rico, itu artinya dia telah lebih kuat.
Namun kenyataannya, luka masa lalu itu masih mengangga dan belum kering.
Sakitnya masih sama, sesaknya masih sama. Membuat air mata Anna berjatuhan tanpa bisa di bendung dan ia sulit bernafas.
"Anna?" Nisa panik, ketika Anna jongkok dan meringkuk menyembunyikan wajah.
"Mama...papa..." tangis Anna kian menjadi, meski ia coba tahan.
Wajah-wajah yang sangat ia rindukan itu bermunculan dalam ingatan. Membuat hati Anna kian perih oleh rasa bersalah dan menyesal.
"Astaga Anna..." Nisa ikut jongkok di sampingnya.
Dia prihatin dengan keadaan pegawainya itu. Tetapi, ia juga tak tahu ada apa dan harus bagaimana untuk mengurangi kesedihannya.
Apa tadi kata-kataku ada yang menyinggungnya?
pikir Nisa sembari mengelus-elus rambut dan punggung Anna yang masih saja gemetar.
"Anna, maaf kalau tadi Tante salah bicara." ucap Nisa penuh simpati.
Namun, Anna sama sekali tak bereaksi dan hanya sedu sedannya yang terdengar.
"Delana?"
Rico yang tertegun melihatnya muncul di pikiran.
Kemudian di susul sosok wanita yang berdiri di sisinya dan memanggil mesra.
Dia melupakanku begitu saja setelah semua yang aku berikan dan korbankan...?
batin Anna sesak oleh nestapa.
Dia tak menyangka, dua tahun pelariannya tak berarti apa-apa. Rico ada di kota ini dan artinya dia harus pergi.
Menyadari itu membuat tangis Anna mereda, lalu perlahan mengangkat muka dan memandang Nisa yang masih menatap khawatir.
"Anna, kau tak apa-apa?" wanita 40 tahun itu ikut sedih melihat wajah Anna yang memerah oleh lara.
Nisa dengan cekatan mengambil tisu dari atas meja, lalu memberikan kepada-nya.
"Terima kasih." Anna menerima, kemudian ia gunakan untuk mengeringkan air mata.
Nisa membantu Anna bangkit, kemudian mengandeng dan menduduknya ke kursi panjang, tempat para pelanggan biasa menunggu bunga di rangkai.
"Maaf kalau tadi Tante salah bicara." Nisa yang salah paham, kembali minta maaf.
"Tidak, Tante." Anna menggeleng sambil menangkup tangan Nisa yang memegangi dirinya. "Tante tidak salah, saya yang tiba-tiba teringat orang tua."
Mulut Nisa membulat. Walau sebenarnya ia penasaran dengan siapa Anna sebenarnya. Tapi, Nisa cukup tahu diri untuk tak mengulik kehidupan orang lain.
"Kau pasti begitu merindukan mereka." ucap Nisa bijak.
"Iya..saya sangat merindukan mereka." Anna memandang Nisa yang sudah seperti saudaranya sendiri.
Pandangan mata Anna membuat Nisa terenyuh. Ia ambil tisu dari atas meja, kemudian dia usap lembut sisa air mata di sudut mata gadis itu.
"Sabtu kan libur, pulanglah." Nisa menyarankan.
"Mereka jauh, Tante." Kebaikan Nisa, membuat Anna sedikit membuka diri.
"Kau bisa bon gaji untuk naik travel."
Anna tertunduk, kemudian kembali memandang wanita yang menjadi dewi penolongnya tersebut.
"...mereka tidak tinggal di kota ini.."
"Tidak masalahkan? ada banyak transportasi yang bisa kau pilih." Nisa menasehati.
"Mereka... tinggal di negara lain." ucapan Anna membuat Nisa kaget.
.
Malam Chief, semua laporan hari ini sudah saya jadikan satu file dan saya kirimkan lewat email.
Demikian Kiandra membaca pesan WhatsApp dari Aldo.
Setelah mengantar Anna, ia memang tak kembali ke kantor dan memilih berputar-putar keliling kota dengan mobil sampai larut malam.
Itu adalah salah satu kebiasaan Kiandra jika ia tengah menghadapi masalah dan tak menemukan titik temu.
Sambil mengecek notif yang masuk di ponsel, ia melepas jas dan membuka satu persatu kancing kemeja.
Kening Kiandra berkerut melihat banyaknya panggilan telpon dan pesan dari kontak yang ia beri nama 'Kakakku' dan 'Dave.'
Namun, Kiandra tak berniat membuka pesan-pesan dari kedua orang itu, apa lagi membalas-nya.
Ia duduk di pinggit ranjang, dan melihat panggilan telpon dari Daddy, kemudian Ibu.
"Mau apa lagi mereka sampai melibatkan Daddy dan Ibu?" ucap Kiandra kesal.
Dari pada mengurusi hal itu, Kiandra lebih senang berbalas pesan dari grub WhatsApp yang bernama Teletubbies.
-Alexa: Sebentar lagi Roy ulang tahun. Mau di belikan apa?"
-Ethan: Rokok.
-Roy: Yang lain. Aku sudah punya stok di rumah.
-Kiandra: Pematik.
-Ethan: [Yang lain. Aku sudah punya stok melimpah di rumah.]
Ini kado. Jadi suka-suka yang ngado.
-Ethan: [Pematik.]
Ide bagus 👍
Kita beli yang dari kayu, lebih ramah lingkungan.
-Roy: [Pematik]
Sudah punya.
-Roy: [Ini kado. Jadi suka-suka yang ngado.]
Siapa yang kemarin mengataiku knalpot?
-Kiandra: Setan.
-Alexa: Ethan.
-Ethan: [Siapa yang kemarin mengataiku knalpot?]
Case -nya beda. Ini kado, jadi cari yang murah. Tapi nggak murahan.
-Ethan:[Setan]
Apa nih? maen pedang-pedangan sono!
-Alexa: Wkwkwkw
-Alexa: [Case -nya berbeda. Ini kado, jadi cari yang murah. Tapi nggak murahan.]
Satu batang rokok, nggak usah banyak-banyak. Dia bilang sudah punya stok.
-Ethan: Setuju.
-Roy: Kalian niat kasih aku kado nggak sih?
Kiandra terkekeh membaca pesan-pesan dari grub WhatsApp-nya.
Berkumpul dan bercengkraman dengan teman-temananya memang healing tersendiri untuk Kiandra. Tapi, entah kenapa malam ini ia tak berminat melanjutkan obrolan.
Ia mematikan ponsel dan menaruh-nya begitu saja ke ranjang, lalu berjalan ke arah tembok apartemen yang terbuat dari kaca.
Dari kamarnya itu, Kiandra bisa melihat pemandangan kota yang gemerlap.
"Jangan bersedih. Aku tak suka melihat wanita menangis." Kiandra membayakan wajah pucat Anna yang siang tadi di banjiri air mata.