Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
KELANTAN



"Dekatkan saya dengan Chief anda. Beri ruang lebih supaya produk-produk dari PT saya bisa merajai gerai-gerai milik Sanjaya Company." Rico berkata dengan mimik serius, setelah pertunjukan pole dance yang mengundang syahwat itu selesai.


Aldo tak langsung menjawab. Wajahnya tetap mengulas senyum, sembari memainkan gelas berisi air berwarna seperti teh itu.


"Tentu saja saya tidak akan meminta tolong secara cuma-cuma kepada Personal Asisten dari Chief Executive Officer Perusahaan nomor satu di Negara ini." ucap Rico setelah terdiam beberapa saat.


Lagu I Until Found You dari penyanyi aslinya Stephen Sanchez mengalun menggantikan para penari pole. Lagu bergenre alternativ indie itu di nyanyikan oleh seorang wanita berpenampilan bak Marilyn Monroe, lengkap dengan tahi lalat di atas bibir.


Aldo hampir terkekeh melihat penampilan penyanyi itu, karena menurut pengamatannya, 30% wanita itu menjual suara, dan 70% lainnya hanya menjual tubuh sintal-nya.


Dasar, apa yang di cari para crazy rich itu dengan membuang-buang uang untuk hal tak berguna seperti ini?


batin Aldo, ketika melihat si Marilyn Monroe meliuk-liuk di depan para tamu.


"Anda tertarik dengan-nya?" tanya Rico, karena melihat pandangan Aldo mengarah ke panggung bernuansa glamour tersebut.


"Sedikit." Aldo mendekatkan jari jempol dan telunjuknya.


"Kenapa tidak banyak?" seloroh Rico.


"Saya takut mabuk kalau kebanyakan." Aldo terkekeh.


"Anda ada-ada saja." Rico ikut tertawa. "Anda bahkan dari tadi cuma minum satu gelas." ia menuang botol whisky ke gelas kaca Aldo. "Cheers." lanjutnya sambil mengangkat gelas.


Mau tak mau Aldo mengikuti. "Cheers." ujarnya, seraya mereka minum bersama.


Dari kejauhan, Aldo melihat si Marilyn Monroe sedang berinteraksi dengan salah satu tamu dengan menyanyi di pangkuannya.


Tanpa merasa risih, wanita itu membiarkan si tamu menyentuh dan mengelus punggungnya yang terbuka, lalu turun ke panggul dan menepuk-nepuk gemas.


Lucunya, bukannya merasa di rendahkan, si penyanyi malah menyodorkan dadanya yang padat berisi.


Aldo yang sepuluh tahun karir nya di habiskan di sisi Kiandra, tak pernah sekalipun di ajak untuk menonton hal seperti ini oleh si Chief, yang mungkin saja jika ke tempat seperti ini, tidak hanya akan mendapat tempat VIP. Tapi, VVIP atau Premium Class, mengingat keluarga Marthadinata adalah salah satu konglomerat terkaya di Asia.


Tentu saja selera Chief bukan wanita yang sudah di jamah banyak pria seperti itu.


Aldo menilai dalam hati.


"Tapi saya serius lo." ucap Rico, membuat Aldo mengalihkan perhatiannya kepada lawan bicara.


"Maksud pak Rico?" ia tak mengerti.


Pria berkebangsaan Malaysia itu tersenyum penuh makna. "Kalau anda mau, saya bisa menyuruh penyanyi itu untuk duduk bersama kita." jawabnya kemudian.


"Tidak, tidak. Saya tadi hanya bergurau." Aldo mengibas-ngibaskan tangan panik.


Rico terbahak.


Obrolan kosong itu sudah berlangsung satu jam. Tetapi, apa yang ia mau dari lelaki berkemeja putih itu belum juga di dapatkan.


Aku pikir ini akan mudah. Tapi, dia seperti orang tolol yang tak tertarik pada apapun.


batin Rico kesal.


Aldo meluruskan punggung, lalu membenarkan duduknya. Ia berdehem beberapa kali, seraya tersenyum pada Rico yang tengah berpikir keras.


"Saya berterima kasih pak Rico mengundang saya ke acara yang hebat ini." ucap Aldo sembari memandangi seluruh ruangan mewah dengan makanan dan minuman nomor satu. "Jujur saya baru tahu hal-hal seperti ini." lanjutnya sungguh-sungguh.


Aldo menipiskan bibir.


"Sabtu besok saya sudah harus kembali ke Kuala Lumpur dan pasti komunikasi kita akan sulit. Maka sebelum itu, saya hanya ingin memastikan, bahwa pak Aldo bisa membantu saya untuk meningkatkan penjualan, sehingga Golden Hope bisa menjadi rekanan ekslusif untuk Marthadinata-Sanjaya Groub." ia menerangkan.


"Ah, saya bukan orang yang..."


"Seperti yang saya bilang tadi," potong Rico, sambil mencondongkan tubuh ke depan. "Saya tidak akan meminta tolong secara cuma-cuma, kepada orang yang menjadi tangan kanan sekaligus kepercayaan CEO perusahaan sebesar Marthadinata-Sanjaya Groub "


"Eeemmm...begini, pak Rico." Aldo terlihat canggung. "Chief saya sedikit berbeda dengan pemimpin kebanyakan, beliau...eemmm...tidak begitu..."


"Saya tahu apa yang beliau favoritkan sekarang." Rico berkata cepat.


Aldo tercenung.


"Bukankah beliau sedang dekat dengan seseorang?" pertanyaan Rico seolah tak membutuhkan jawaban.


"Apa?" kali ini Aldo benar-benar di buat heran.


Rico terkekeh, "Jadi orang yang paling dekat dengan Chief Kiandra pun tak tahu tentang hal ini?" ia pura-pura kaget.


Aldo sedikit mengkerutkan kening.


"Wanita itu bernama Delana." tandas Rico, membuat kedua bola mata Aldo seketika melebar. "Lengkapnya, Tengku Delana Amirah Petra." ia menatap pria di depannya itu baik-baik.


Aldo tak bergeming. Tampilannya yang tadi santai, kini mendadak serius.


"Mungkin di Negara ini tak ada yang tahu. Tapi, Delana Petra itu salah satu anak dari Yang Di Pertuan Agong ke 29 Sultan Al-Kelantan Tengku Ismail Petra yang beberapa tahun lalu turun takhta karena sakit." Rico menjabarkan.


Aldo tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Waah..anda sampai syok seperti ini." Pria yang memakai setelan jas dari Armani itu geli. "Tampaknya anda tidak tahu apa-apa tentang Chief anda sendiri."


"Yah...karena Chief jarang membicarakan hal pribadi kepada saya." Aldo meraih gelas alcohol-nya, lalu meminum sampai habis.


"Benar juga, biasanya Atasan hanya memerintah Bawahan." Entah ada maksud lain atau tidak. Tetapi, ada sedikit nada menghina dari ucapan pria berwajah eurasia itu


"Begitulah." Aldo menanggapi santai.


Rico bersedekap, kemudian merebahkan punggung ke kursi.


"Maaf. Tapi, ini sudah hampir pagi dan besok saya harus bekerja." Aldo sudah bersiap untuk pamit.


"Delana mempunyai skandal besar yang membuatnya terusir dari istana." ujar Rico, yang membuat gerakan Aldo terhenti.


Pria yang siang tadi di ributkan Kiandra untuk ikut mencari hadiah permintaan maaf untuk seorang bernama Anna, kembali duduk dan menyimak apa yang Rico katakan.


"Skandal itu membuat malu seluruh keluarga kerajaan Kelantan. Sampai-sampai Sang Sultan sakit dan mengundurkan diri dari urutan takhta, dan langsung lompat kepemimpinan kepada Sultan Alam Syah of Terengganu."


"Itu tidak ada kaitannya dengan Chief." Aldo tetap tenang.


"Tentu saja sekarang ada kaitannya, karena Chief anda sudah menjalin hubungan dengan seorang yang mengakibatkan banyak masalah di Negaranya, lalu dengan santainya sekarang melarikan diri ke Negeri orang" Rico bersikeras.


"Belum pasti itu orang yang anda maksud." Aldo tetap menyanggah. "Bisa jadi itu orang yang berbeda. Lagi pula, Chief saya bukan tipe orang yang asal suka pada..."


"Tunggu." potong Rico. Lalu mengambil selembar foto dari balik jas mahalnya. "Dia Tengku Delana Amirah Petra of  Kelantan." tunjuk-nya pada foto bergambar seorang wanita yang Aldo ingat bernama Anna.