Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
PAGI



"Selamat pagi, Chief." Aldo yang sudah menunggu di ruang tamu langsung berdiri, begitu melihat Kiandra yang datang bersama dua keponakan-nya.


"Waahh...ada om ganteng." Kalila yang baru pertama bertemu Aldo terkesima.


"Ganteng?" Kama memiringkan kepala menatap pria dengan setelan jas warna charcoal tersebut.


"Kita berangkat." tak mengubris dua keponakannya yang masih mengamati personal asistennya, ia terus berjalan menuju pintu keluar.


"Baik, Chief." Aldo sedikit membungkukkan badan, lalu berjalan mengikuti di belakang.


"Yaaah...om ganteng pergi." Kalila kecewa.


Baru saja kalimat itu ia ucapkan, Aldo menoleh ke arahnya dan tersenyum melambaikan tangan.


Kalila seketika girang. Ia berjingkrak-jingkrak membalas lambaikan pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Daaaddaaahh...main sini lagi, yaa, om!" ia berseru.


Tapi Aldo sudah menghilang bersama Kiandra di balik pintu.


Melihat tingkah adiknya, Kama cuma tersenyum sinis sambil ngupil.


.


"Guten morgen, Chief."


Begitu sampai di halaman Kiandra di sambut salam dari Victoria.


Kening pria berkemeja abu itu berkerut. "Mau apa ke sini?" tanya-nya setelah dekat.


"Saya yang akan menyetir." jawab Victoria sembari menundukan kepala.


"Aku tak merasa memberi perintah padamu." Kiandra berdiri di hadapannya.


"Benar. Ini kemauan saya sendiri." Victoria menjawab lugas.


Kiandra mendengus. "Terserahlah." ia mengibaskan tangan dan masuk ke dalam mobil.


"Hai, Vic." Gantian Aldo yang menyapa dengan ekspresi ceria yang biasa.


Victoria melengos, lalu masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesinnya.


"Apa dia masih marah soal ciuman itu...?" tanya Aldo pada diri sendiri. Lalu segera menyusul masuk.


Mobil Lexus ES jenis sedan warna sonic iridium itu mulai berjalan membelah halaman luas berlapis rumput jepang tebal dengan jalan aspal di tengahnya.


Mobil itu harus melewati setengah  kilometer lebih, sebelum sampai di gerbang utama rumah induk keluarga Marthadinata yang terbuat dari kayu kalimatan berukir gunungan khas kota Jepara.


"Saya kaget anda masuk kerja, Chief." Aldo yang duduk di samping Victoria yang tengah menyetir membuka obrolan. "Saya pikir, anda masih betah healing. Ternyata cuma bertahan tiga hari anda tidak menyentuh pekerjaan." Personal asistennya itu berujar riang.


"Kita keliling dulu ke swalayan, setelah itu baru ke kantor." Tak menanggapi gurauan Aldo, Kiandra malah memberi perintah dengan wajah kaku nya.


"Siap, Chief." Dengan senang hati Aldo melaksanakan perintah, kemudian kembali menghadap depan. Ia sempat melirik sekilas ke arah Victoria, tapi tak mengatakan apapun.


Mobil masuk ke jalan tol untuk menghemat waktu. Pandangan Kiandra terarah ke langit yang hari ini cerah dengan awan putih mirip marsmellow. Tiba-tiba ia menarik sedikit ujung bibirnya, kala membayangkan ciuman keduanya kepada Anna.


Aku suruh saja dia makan marsmellow, supaya rasanya lebih manis.


pikiran gilanya nyaris membuat terkekeh.


Demi mengalihkan pikiran absurd tersebut, ia mulai membaca setumpuk laporan yang tadi di bawakan oleh Aldo.


.


Kembali ke rumah keluarga Marthadinata, yang mana tidak seperti biasanya Ayah Kiandra itu sudah rapi dengan setelan jas warna hitam dari brand Kiton.


"Aku pikir Kian." istrinya yang baru saja masuk ke dalam kamar terkejut.


Pria delapan puluh tahun bertinggi 187cm itu menoleh ke belakang. "Kau selalu membandingkan aku dengan anakmu." ia berujar, lalu mencium kening istrinya setelah dekat.


"Anakmu," ia berkata sambil berbalik kembali menghadap kaca dan merapikan dasi. "Kalau dia anakku, pasti sekarang sudah perawani banyak wanita."


"Kau selalu bicara seenak perutmu sendiri." istrinya kesal, kemudian mencubit pinggangnya pelan.


Suaminya pura-pura kesakitan, membuat-nya geli. Kemudian tanpa di minta, ia ikut merapikan dasi si suami yang miring.


"Aku tahu kalau sebenarnya kau juga khawatir dengan Kian." Ibu Kiandra itu berkata sambil mengikat ulang dasi suaminya.


Perbedaan tinggi yang cukup singnifikan membuat ayah Kiandra harus membungkuk, agar istrinya nyaman ketika merapikan dasinya.


"Khawatirku cuma sedikit." ia berkata santai, sembari kedua matanya yang berwarna sama seperti anak-anaknya itu menatap lembut pada wanita tulang rusuknya itu.


Istrinya mengulum senyum.


Dia tertawa. Sudah setua ini. Tapi, hatinya selalu bungah dan jantungnya masih berdebar-debar, tiap kali melihat wajah istrinya yang selalu cantik di matanya.


"Hari ini aku ada keperluan." ia berkata setelah si istri selesai mengikat dasinya. "Mungkin pulang dini hari. Tapi, mungkin juga aku harus menginap dan baru pulang keesokan harinya."


"Tumben." Wanita yang masih mengenakan baju yang sama dengan saat berkebun tadi itu heran.


"Iya, ini penting." Suaminya tersenyum, seraya mengelus pundaknya.


"Baiklah kalau begitu." Ibu Kiandra mencoba memahami.


Sudah bertahun-tahun suaminya meninggalkan dunia bisnis. Tepatnya, di lima tahun usia pernikahan Kirana dan Dave. Sejak itu suaminya lebih memilih menghabiskan waktu bersama dengannya. Entah itu mengantar berbelanja, jalan-jalan, menonton televisi, atau cuma sekedar duduk di paviliun sambil memandangi danau di belakang rumah.


Suaminya selalu bilang sudah lelah dan menyerahkan segala urusan kepada anak lelakinya.


Namun, pagi ini ia melihat pria yang seluruh rambutnya telah berubah putih itu mengenakan setelan jas yang sudah lama tidak di pakai.


"Pokoknya jaga kesehatan. Di sana makan yang teratur. Jangan makan pedas dan minum kopi terlalu banyak. Kalau tidur gunakan selimut, lalu..."


"Aku cuma menginap sehari, sayang." ia terkekeh.


Istrinya muram.


"Yaah...memang berat berpisah dengan suami yang baik seperti ku. Kau pasti kepikiran dan ingin aku cepat-cepat pulang." penyakit narsis nya kumat, membuat gestur tubuh dan cara bicaranya sangat mirip Kiandra.


Tetapi, kali ini istrinya tak tertawa.


"Anniverssary pernikahan kita tinggal menghitung hari." ucapnya sambil memeluk sang suami. "Aku masih berharap Kirana, Dave dan Kian bisa seperti dulu."


Suaminya balas memeluk, kemudian mengecup puncak kepalanya sesaat dan mempererat dekap-nya. "Selama kita menikah, apa ada harapan, keinginan atau mimpi mu yang tak bisa aku kabulkan?" ia bertanya.


Ibu Kiandra tertegun, kemudian tersenyum. "Tidak ada." ucapnya, sembari mendesakkan kepala dan menghirup dalam-dalam aroma rockrose, patchouli dan cedarwood yang membaur menjadi wangi akuatik yang manis dan selalu ia senangi sejak dulu.


"Kalau begitu percaya padaku." ia kembali mencium puncak kepala istrinya.


.


Anna sudah duduk di depan paviliun yang terbuat dari bambu dan beratap daun kelapa kering yang di tumpuk dan di ikat erat.


Matahari telah tinggi. Tapi halaman belakang rumah keluarga Marthadinata yang terdapat danau buatan, serta di tumbuhi banyak pohon cemara yang di tanam berkeliling mengikuti tembok pembatas, sama sekali tak terasa menyengat panasnya.


Duduk di situ dan menghadap view danau berlatar langit biru, serta mencium wangi mawar yang di bawa angin, betul-betul membuat Anna nyaman dan tanpa sadar lupa dengan kegelisahan hatinya.


"Lhoh? kau tidak membersihkan diri dulu?" tanya Kirana yang baru datang.


"Ti, tidak." Lamunan Anna buyar. Dan ia langsung kikuk, begitu Kirana duduk di sampingnya.


"Maaf, tadi aku menyiapkan makan untuk si kembar dulu. Mereka lapar lagi." ia berkata. "Heran, padahal baru sarapan beberapa jam lalu." ia geleng-geleng sendiri.


"Tuan muda Kama dan Nona muda Kalila anak-anak yang ceria dan juga sangat aktif, jadi membutuhkan energi dua kali lipat dari anak seusianya." Anna berusaha bersikap sewajarnya.


"Kau benar." Kirana tertawa, membuat kedua matanya menyipit.


Anna tercenung, meski wajah Kiandra tak seoriental Kirana. Tetapi, mereka memilik garis senyum yang sama, dan hal itu membuat pipi Anna bersemu, lalu tertunduk malu.