
"Ada apa, Chief?" Victoria yang berjaga di balik pintu terkejut.
Tapi Kiandra tak menjawab dan malah makin mempercepat langkah.
Melihat Kiandra yang bahkan tak menjawab sapaan dari para karyawan saat ia melintas, membuat Victoria berpikir pasti ada sesuatu yang genting.
Bergegas ia mengejar Kiandra, ketika pria jangkung dengan setelan jas warna hitam dari brand Dolce&Gabbana itu memasuki lift.
Tetapi sayang, sebelum Victoria ikut masuk, pintu telah ditutup.
Kenapa dia selalu memperlakukan ku seperti ini?
Ujar Victoria dalam hati.
Tak berkeluh kesah terlalu lama karena tindakan Chief-nya, Victoria berinisiatif menyusul lewat tangga darurat.
.
"Itu fotonya kan? jadi benar dia yang ke sini bukan? mencariku?" di dalam lift, bagai orang gila Kiandra bertanya-tanya seorang diri.
Hadiah terakhir berupa set make up dari Dior yang ia berikan kepada Anna memang dia selipkan kartu nama-nya.
Ternyata berhasil juga.
Kiandra girang sembari menutup mulutnya yang membentuk senyum lebar.
Sial! kenapa jantungku berdetak kencang sekali.
Ia mengusap wajah, kemudian berjalan mondar-mandir untuk menenangkan diri.
Sesekali ia usap rambut cepaknya ke belakang, kemudian tersenyum. Kiandra merasa rencananya mendekati Anna dengan mengirim berbagai hadiah telah berhasil.
Tiba-tiba, dia berhenti di depan tembok lift yang berbentuk kaca. Mata cokelat terangnya membulat heran. Perlahan dia melangkah makin maju untuk mengamati pantulan diri.
"Sejak kapan wajahku semerah ini?" ia raba pipinya yang bersemu oleh rona kemerahan. "Bagaimana kalau dia mengira aku pakai blush on?" dahi Kiandra berkerut.
Kedua alis tebal Kiandra makin menyatu, kala melihat wajahnya yang berbentuk oval dengan rahang tegas, tulang hidung tinggi, bibir tipis, serta sepasang mata cokelat terangnya berbinar.
Ini gara-gara daddy. Wajahku jadi seperti banci!
Tak ada angin, tak ada hujan, Kiandra menyalahkan daddy nya yang mewariskan gen asia timur dan memberi kesan awet muda.
Sepanjang sisa perjalan dari lantai tiga puluh ke lantai dasar, Kiandra heboh sendiri soal penampilan. Ia memutari ruang kecil berbentuk persegi itu, sambil berkali-kali merapikan jas dan rambut cepaknya.
Sampai akhirnya pintu lift terbuka.
Kiandra langsung memperlihatkan wibawa, ketika dua orang pegawai yang menunggu di depan lift terkejut melihat-nya yang muncul dari balik pintu.
"Selamat siang, Chief."
"Siang, Chief."
Mereka menyapa penuh rasa hormat.
"Siang." Kiandra mengangkat sebelah tangan dan segera berlalu.
"Tumben Chief pergi tanpa di dampingi Pak Aldo dan bodyguard nya yang cantik." si pegawai berkata sembari memperhatikan punggung Kiandra yang menjauh.
"Yang cantik?" rekan wanitanya tersenyum mengejek. "Kau akan tetap mengatakan dia cantik, jika melihat dia menembak lawan sampai mati?"
"Ah, dia melakukan itu kan untuk melindungi Chief kita." pria berkemeja maroon itu mengibaskan tangan, kemudian menyusul rekannya masuk ke dalam lift yang segera menutup.
.
Di lobbi kantor yang luas dengan interior modern.
Beberapa pegawai yang berlalu lalang dan tak sengaja berpapasan dengan Kiandra menyempatkan menyapa dengan pandangan bertanya, sebab tak biasanya ia berjalan sendiri.
Dimana dia?
tanya Kiandra dalam hati.
Matanya menjelajah ruang. Namun sosok yang ia cari tak kunjung terlihat.
Sampai akhirnya, Kiandra memutuskan bertanya pada resepsionis.
Hal yang tak lumrah, mengingat betapa tinggi jabatan-nya, dan bertanya langsung pada pegawai di bawahnya seperti ini, tak pernah di lakukan oleh CEO sebelum dia.
.
"Wanita...ber..nama Anna...?" si Resepsionis berbaju putih dengan setelan jas kerja warna hitam itu kembali melontarkan pertanyaan yang sama, karena terpana oleh ketampanan, serta terkejut oleh kedatangan Kiandra yang mendadak.
Kening Kiandra berkerut melihat respon pengawainya yang di rasa lamban
"Saya bertanya, kenapa malah kembali bertanya?!" ia mengebrak meja tak sabar.
"Ma, maaf kan saya Chief." Resepsionis berwajah cantik dengan rambut di gelung sederhana itu merunduk gemetar.
"Dimana?" menahan marah dan mengabaikan pegawainya yang ketakutan, Kiandra kembali bertanya.
"A, anu...wanita...wa, wanita tadi..."
"Chief!" dari kejauhan Victoria memanggil.
Malas-malas Kiandra menoleh ke arah dimana Victoria berlari-lari ke arahnya.
Yang aku cari siapa, yang datang siapa?
Kiandra berkata dalam hati.
"Ada apa, Chief?" tanya bodyguard yang selalu mengenakan pakaian ketat berwarna hitam dengan rambut panjang terkuncir itu.
Wajah Kiandra makin masam saja.
.
Sementara itu di pinggir jalan raya dekat gedung utama Marthadinata-Sanjaya Groub.
Anna berjalan lesu, dengan satu tangan menenteng paperbag bertulis Dior dan satu tangannya yang lain *******-***** kartu nama milik Kiandra.
"Saya tidak tahu bagaimana anda mendapatkan kartu nama itu. Tapi, CEO kami tak mungkin sembarangan memberikan kartu nama nya pada orang lain."
Ucapan resepsionis berwajah cantik dan berbau harum itu membuat Anna sedikit kesal.
"Jika anda tidak pergi juga. Dengan sangat terpaksa akan saya panggil satpam."
Anna mengigit bibir bawah, kemudian melempar kartu nama yang telah berubah bentuk menjadi bulatan itu ke tengah jalan raya.
Sebenarnya untuk apa aku melakukan semua ini?
raut Anna yang semula marah, kini berubah sedih.
Diliriknya paperbag berisi peralatan make up mahal yang Kiandra kirim.
CEO? jadi dia CEO perusahaan Marthadinata-Sanjaya Groub?
Dari pada terkesan. Anna lebih menyesal, telah bersinggungan dengan Kiandra.
Kenapa aku harus bertemu CEO perusahaan sebesar itu?
keluhnya dalam hati.
Kenapa dia yang harus tahu semua keburukan yang kulakukan? kenapa bukan menjauhi, malah makin mendekati? apa sebenarnya dia suruhan....
Tiba-tiba langkah-nya terhenti.
Bagaimana kalau benar?
mata Anna melebar.
Tidak. Mana mungkin. Jabatannya sangat sakral. Jadi, mustahil dia mendekatiku karena dia..
Anna mulai gelisah.
Tapi..tapi kalau bukan...lalu kenapa dia mendekati terus...??
Ia bertanya dalam hati.
"Untukmu."
Lagi-lagi wajah tampan Kiandra dengan mata indahnya itu terlintas di pikiran.
Pandangan Anna meredup dan wajahnya berubah sendu.
Bagaimanapun Kiandra terlalu sempurna untuk dirinya yang hina.
Meski tak di pungkiri, ada perasaan berdebar tiap kali pria itu memberi banyak perhatian untuknya.
Anna menengadah melihat sinar matahari yang menerobos ke celah-celah pepohonan rindang yang memayungi trotoar tempat-nya berdiri.
Debu dan panas jalanan yang dahulu tak pernah ia rasakan, kini menjadi hal biasa bagi Anna.
Kulitnya yang dulu bagai porselen, kini perlahan menghitam.
Anna kembali menunduk, kemudian ia raba wajahnya yang kusam dan mulai di penuhi freckles. Anna juga mengelus rambut pajangnya yang tersampir di pundak, terasa kusut dengan ujung bercabang dan merah.
Anna hampir saja mengeluh, sebab semua itu membuat ia makin rendah diri, ketika bunyi klakson mobil membuat ia kaget dan secepat kilat melihat ke sumber suara.