
Dokter mengatakan itu serangan jantung. Tapi, ada yang bilang itu faktor kelelahan akibat menyiapkan acara pernikahan. Kemudian ada juga yang mengatakan, usianya sudah tua dan wajar jika waktunya meninggal.
Apapun penyebab kematiannya, tubuh lelaki dengan badan yang masih tegap dan rambut tebal seputih salju itu terlihat tersenyum di saat-saat terakhir tanah menguburnya.
Semua menangis kala itu. Tak terkecuali Dave dan si kembar. Sedangkan Kirana, jangan di tanya lagi, Kakak perempuan Kiandra itu sampai memeluk tanah makam Ayahnya yang berselimut taburan bunga.
Wanita lima puluh tahun tersebut bahkan tak mau pulang dan terus meraung hingga para pelayat pergi. Dia baru berhenti menangis, setelah di peluk dan di tenangkan oleh si Ibu.
"Bu, kenapa Daddy meninggalkan kita? Kita semua sedang berbahagia, kan? Kian akhirnya menikah. Itu keinginan Daddy dan Ibu, kan?" sesenguan Kirana berkata.
"Nak, kematian itu sesuatu yang pasti. Kita saja yang tidak siap, dan sampai kapanpun kita tak akan siap." Ibunya menjawab lembut.
Kiandra yang waktu itu juga mendengar, ikut perih di ulu hati.
Dia tahu, walau terlihat tegar. Tapi, beberapa kali Ibu mereka jatuh pingsan saat memandikan jenazah si Ayah. Dan meski telah di larang, serta di minta istirahat saja, wanita yang telah melahirkannya itu berkata,
"Ini yang terakhir, jadi jangan larang Ibu untuk menyentuh dan melihat Daddy kalian."
Kalimat yang membuat anak-anaknya merunduk dengan dada yang membengkak oleh duka yang semakin mendalam.
Yang lebih membuat pilu, di hari kedua setelah pemakaman, rambut panjang nan hitam milik si ibu mendadak memutih dengan begitu cepat.
Kondisi tersebut mirip dengan cerita sejarah reformasi Perancis, di mana Ratu mereka Marie Anttoinete, rambutnya juga memutih dalam semalam pasca di jatuhi hukuman pancung.
.
Apa kehilangan Daddy begitu menakutkan seperti hukuman mati, bu?
Kiandra berkata dalam hati, sembari memandangi deretan papan berhias bunga kertas berisi kalimat bela sungkawa yang bertumpuk dengan ucapan selamat untuk pernikahannya.
Begitu berita kematian pemilik jaringan bisnis Marthadinata Groub di umumkan, papan-papan hias semacam itu memang terus berdatangan, entah dari keluarga, relasi, teman atau suatu Institute tertentu.
Tak hanya itu, selama seminggu ini rumah menjadi lebih ramai dengan hadirnya tamu-tamu yang mengaturkan simpati dan empati. Serta tak lupa, mereka juga mengucapkan selamat atas penikahannya dengan Putri dari Kelantan.
Hal yang seharusnya membuat bangga. Akan tetapi, kehilangan orang terdekat yang mendadak ini membuat hatinya hampa.
"Kiandra."
Suara Anna membangunkan dari lamunan.
Ia menoleh ke belakang. Istrinya dengan wajah yang terlihat pucat tersenyum.
"Ayo, turun. Sarapan sudah siap." ajaknya.
Kiandra berjalan mendekat. "Sudah berapa lama kau di sini?" ia justru menanyakan hal lain.
"Baru sebentar." Anna menjawab.
Kiandra berdecak. "Kemarin kau juga bilang begitu. Tapi, ternyata hampir setengah jam kau mematung di belakangku."
Anna menanggapi dengan menipiskan bibir.
"Kenapa tidak langsung panggil saja?" pria dengan kaos warna merah itu mengkerutkan kening.
"Kau sedang melamun dan terlihat sedih. Jadi aku..."
Kalimatnya terputus karena tiba-tiba Kiandra mengecup bibirnya.
"Aku memang sedang sedih. Tapi, kalau melihatmu, sedihku hilang." ia menatap istrinya baik-baik.
Seketika pipi Anna bersemu melihat wajah Kiandra dalam jarak sedekat itu.
Warna matanya indah sekali.
pujinya dalam hati.
Dari dulu dia memang sudah jatuh cinta pada warna bola mata Kiandra yang menurutnya sangat unik.
Kalau kita punya anak, apa nanti juga akan punya mata seperti itu?
batinnya bertanya.
Tapi... si kembar warna bola matanya gelap seperti Kak Dave. Jangan-jangan nanti anakku pun lebih condong ke aku.
Raut wajahnya berubah muram.
"Sedang memikirkan apa?" tanya Kiandra ingin tahu.
"Tidak kok!" ia langsung geleng-geleng.
Kenapa aku malah berpikir tentang anak? padahal kami sedang berduka.
Ekspresi Anna semakin lesu.
"Kau sedang sakit?" suaminya khawatir.
"Tidak." Anna mengeleng. "Kenapa tanya begitu?" ia heran.
"Wajahmu pucat." jawab Kiandra sembari memeluk pinggang si istri.
"Pucat apanya?" Anna malah tertawa.
Mereka berjalan beriringan keluar kamar, kemudian melewati lorong panjang berisi figura-figura foto anggota keluarga Marthadinata dari masa ke masa.
"Aku senang Ibu sudah lebih sehat." Anna membuka obrolan.
"Jangan-jangan Ibu nekat ke dapur lagi?" selidiknya.
"Tidak ada yang bisa melarang Ibu, kan?" Istrinya itu tersenyum.
Kiandra menghela nafas. "Seharusnya Kirana tidak pulang dulu ke Tawangmanggu." ujarnya.
"Kama dan Kalila kan harus sekolah." Anna mengingatkan. "Toh setelah kenaikan kelas, Kak Kirana dan keluarganya juga akan pindah ke rumah ini." ia melanjutkan.
Kiandra berhenti melangkah, kemudian menoleh ke arahnya. "Aku minta maaf." ia berkata pelan.
"Minta maaf untuk apa?" istrinya tak mengerti.
Kiandra mengusap rambutnya yang mulai panjang ke belakang. "Harusnya setelah menikah aku membawamu bulan madu dan membahagiakan mu. Tapi..."
"Seperti bukan Kiandra saja." Anna terkekeh.
Namun, Kiandra tak membantah.
Anna gantian mengandeng lengan pria yang telah menjadi suaminya tersebut, kemudian mendekap dan mereka kembali berjalan bersama.
"Bulan madu bisa kapan saja." ia berkata. "Lalu soal membahagikan, aku sudah sangat bahagia sejak kau mengatakan mencintaiku."
"Ke, kenapa kau jadi pintar gombal?" Kiandra menutupi rasa malu dengan nada ketus.
"Aku kan belajar darimu." Anna pura-pura pongah.
"Hei, hei.." Kiandra mengacak rambut istrinya sebal.
Mereka berjalan sembari bergurau, lalu menuruni anak tangga dengan hiasan kepala naga di ujungnya dan sampailah mereka di ruang makan setelah melewati ruang keluarga yang luas.
Dari kejauhan pasangan itu sudah melihat si Ibu yang mendadak terlihat renta, dengan rambut putih yang di gelung, sedang memandangi kursi yang biasa di pakai oleh si Ayah.
"Maaf kami lama, Bu." Anna menghambur ke arahnya dan mengambil tempat di sisinya.
Kiandra mengikuti langkah si istri, kemudian duduk di depan mereka.
"Ibu tadi mengajari Delana memasak rawon daging kesukaanmu." senyum mengembang di wajah ibu mereka yang kurang tidur.
"Benar!" Anna berseru. "Ibu bilang, kau sangat suka rawon dengan sambal cabai setan yang pedas." ia berusaha ceria untuk mengusir duka.
Sebenarnya Kiandra ingin menasehati si Ibu agar jangan terlalu memaksakan diri. Tetapi, kode dari Anna membuatnya mengurungkan niat.
"Terima kasih, Bu." ucapnya setulus mungkin.
"Sama-sama, nak." Ibunya tersenyum lebar. "Ayo, kalian makan yang banyak." lanjutnya sambil membuka piring.
Kiandra dan Anna saling pandang. Mereka tak mengatakan apa-apa. Akan tetapi, mereka paham untuk tak lagi menunjukkan kesedihan.
Tujuh hari cukuplah untuk berkabung, dan setelahnya kita harus melanjutkan hidup tanpa melupakan orang terkasih yang sudah mendahului.
"Ught!" Tiba-tiba Anna menutup mulut.
"Ada apa, nak?" Ibu Kiandra yang duduk di sebelah merespon cepat.
Tetapi, Anna tak lekas menjawab dan malah menatap si suami.
"Ada apa?" Kiandra yang sedang menikmati rawon ikut bingung.
"Ma.. Maaf, Bu. Tapi... kenapa masakan Ibu jadi tidak enak...?" Anna berkata dengan wajah yang ingin menangis.
"... Saya.. mual dengan rasa rawonnya..." Anna segan untuk mejelaskan.
"Hei, jangan mulai lagi. Kemarin sudah sembuh kan mual-mualnya?" Kiandra yang duduk di seberang meja berseru.
Anna semakin tak enak hati. Tetapi, ia betul-betul tidak kuat dengan aroma pala yang terasa mengedap di lidah.
Padahal tadi aku juga ikut mengolah bumbunya.
batin Anna tak mengerti.
"Coba jelaskan pada Ibu, apa yang mual-mual? Apa Delana sakit?" Ibu mereka bingung.
"Tidak, bu." Anna yang menjawab. "Hanya mual saja. Tapi, ibu tidak usah khawatir, ini hanya muncul kadang-kadang."
Awalnya wanita dengan banyak kerutan di bawah mata itu tertegun. Tetapi, tiba-tiba cahaya matanya berubah cerah. "Kau hanya mual saat mencicipi rawon kesukaan suamimu, nak?" ia bertanya.
Anna membulatkan kedua mata.
Kiandra yang ikut menyimak obrolan ibu dan istrinya mengkerutkan kening.
"Sepertinya... iya." Anna menjawab ragu, lalu melirik Kiandra. "Dan... terkadang dia sangat bau.." ia menunjuk suaminya.
"Hei, aku selalu memakai parfume dari..."
"Kian." tegur si Ibu. "Jangan panggil istrimu 'hei'. Dia punya nama, kan?" tandasnya tegas.
Kiandra langsung diam.
Kenapa jadi aku yang kena omel?
batinnya sembari memilih melanjutkan makan.
"Delana." Ibu mertuanya memegangi kedua tangannya. "Apa kau tahu, kalau Ayah Kiandra sangat menyukai rendang?" ia bertanya dengan nada lembutnya yang biasa.
"Daddy... suka rendang?" Anna kurang paham maksud ucapan si Ibu.
Wanita dengan daster dari Kencana Ungu itu mengangguk sambil tersenyum.
"O, oohh.. begitu." Anna berusaha maklum, meski bola matanya yang berputar menunjukkan ketidakmengertian.
Apa Ibu sedang berhalusinasi?
Kiandra yang mendengar mau tak mau ikut berpikir.
"Dulu pun, waktu Ibu hamil anak pertama, Ibu tidak menyukai masakan rendang." ia menjelaskan.
Kiandra langsung batuk-batuk.
"Bu, kami baru saja menikah dan kami..." Anna tak melanjutkan kalimatnya karena teringat sesuatu.
"Senangnya Ibu akan bertambah cucu."
wanita yang selama seminggu ini terus menangis sendirian di dalam kamar, kini terlihat betul-betul bahagia.
.
Tak membuang-buang waktu, siang harinya Kiandra dan Anna mendatangi Rumah Sakit Ibu dan Anak untuk cek kandungan.
Rasa tegang membuat perut Kiandra sampai mulas saat menunggu istrinya di periksa. Dan ketika di layar monitor betul-betul terlihat calon anaknya, ia merasa Tuhan betul-betul ada dan nyata dalam hidup manusia.
"Hei, kau mengandung anakku." bisik Kiandra seraya meraih tangan istrinya dan mengecup lembut.
Anna yang masih berbaring di ranjang hanya bisa mengalirkan air mata haru tanpa bisa mengucap sepatah katapun.
Ia teringat masalah-masalah berat yang membebaninya di masa lalu, serta berkali-kali merayunya untuk mati saja.
Namun, untuk apa dia mati? Masalah tidak akan selesai dengan mati, dan itu terbukti dengan orang matipun masih minta di doakan.
Anna terisak menyadari kebodohannya dulu.
"Hei, kenapa semakin kencang menangis?" Kiandra yang cemas memeluknya. Ia tak peduli sedang di ruang periksa yang hanya di sekat oleh kordeng dan ada seorang Dokter serta Perawat di baliknya.
"Aku... Aku hanya senang di cintai orang sepertimu." Anna berkata sambil mengusap pipinya yang basah oleh air mata.
Pria narsis bin sombong yang sebenarnya pemalu di depan orang yang di sukainya itu tertegun.
"Aku janji akan menjaga dan melahirkan anak kita dengan sehat, selamat, tanpa kurang satu apapun." Anna berkata sungguh-sungguh.
Mendadak dalam pikiran Kiandra terlintas kenangan saat pertama melihat Anna dengan piyama keropi di Club James Bond, kemudian kakinya yang langsung berlari ke arahnya yang di ganggu pemabuk.
Ia tersenyum menyadari sesuatu.
Ternyata bukan karena kau mirip Kirana. Tapi, karena memang aku yang ingin melindungimu.
Kiandra berkata dalam hati.
"Terima kasih, Sayang." ucapnya kemudian.
Anna yang tadinya masih sibuk dengan air mata seketika kaget. "Sayang..?" tanpa sadar ia mengulang.
"Iya." Kiandra berkata dengan gaya angkuhnya yang biasa. "Mulai sekarang, aku panggilnya Sayang." tandasnya sembari menyembunyikan rasa malu.
"Kenapa tiba-tiba ingin memanggilku begitu?" tanyanya ingin tahu.
"Karena..." Kiandra mencari-cari alasan yang tepat. "Karena begitulah Daddy memanggil Ibu." ia berkata tegas.
Anna terkekeh.
"Hei, kenapa malah tertawa?" Pria itu kesal.
"Kenapa jadi 'hei' lagi?" Anna geli.
"Sial..." desisnya sambil memalingkan muka.
Anna menutup mulut menahan tawa.
Anakku, Papamu lucu.
ia berkata dalam hati sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Tanpa mereka sadari, di balik kordeng tebal, Dokter dan Perawat yang tadi menangani ikut geli dengan kemesraan pasangan itu
"Aku akan telpon teman-temanku." Kiandra sudah mengambil ponsel dari saku celana.
"Kenapa malah teman-teman dulu yang di hubungi?" istrinya heran.
Karena dulu mereka mengatakan aku impoten.
ia cuma bisa membatin.
"Harusnya keluarga dulu, kan?" Anna melanjutkan.
"Betul juga!" Kiandra seperti mendapat pencerahan.
Anna mengulum senyum.
"Akan aku hubungi Ibu, lalu Kirana, baru teman-temaku." Suaminya itu sudah mengeser-geser layar ponselnya yang berlambang buah apel.
"Kenapa harus di telpon? Kita pulang dan temui saja mereka langsung." Anna menyarankan.
"O.. iya, aku lupa kalau kita sedang di rumah sakit." Kiandra hampir tepuk jidat.
"Astaga kau ini..." Anna mencubit pundak suaminya gemas.
Kiandra pura-pura kesakitan. Padahal hatinya bungah luar biasa.
Seperti lilin kecil, kabar itu mengusir duka dan memberi cahaya.
Seducing Miss Introvert
Semarang, 15 Maret 2023
E.N.D.I.N.G
...----------------...
Jika kau bertanya padaku berapa kali kau datang dalam pikiranku, maka akan ku katakan padamu; "Satu kali saja."
Karena kau datang dan tidak meninggalkanku.
-Rumi-