Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
BERTAUT



"Kenapa diam saja? Ayo cepat buka tas pencuri ini!" ibu bertubuh subur itu tak sabar.


"Jangan!" raut wanita itu makin gelisah.


Orang-orang semakin curiga, tak terkecuali Kiandra yang melihat ke arahnya, lalu beralih pada tas warna putih yang kini ada dalam genggaman.


"Aku tidak mencuri, sungguh!" ia menatap Kiandra lekat, berharap pria itu mempercayai.


"Berikan tasnya!" si ibu yang sudah emosi, berusaha mengambil tas tersebut dari tangan Kiandra, namun pria itu langsung mengelak.


"Kau tak mau memberikannya?"si penuduh marah bukan main. Sebab dengan perbedaan tinggi badan, dia tak mampu menjangkau tas tersebut.


Kiandra tak bergeming. Dalam hati ia masih menimbang harus bersikap bagaimana.


Sedang si satpam meragu. Meski tak begitu mengingat. Namun ia yakin, jika pernah melihat dan tahu pria berperawakan tinggi dengan kemeja merah dan jeans tersebut.


"Jangan-jangan kalian komplotan pencuri!" tunjuk si ibu ke muka Kiandra.


Kening pria itu seketika berkerut.


"Kalian bersekongkol untuk mencuri, kan? Ayo mengaku saja! Sekalian aku jebloskan kalian berdua ke penjara!"


Kiandra tak habis mengerti dengan pikiran dangkal si wanita yang berusia tak lebih tua dari ibu nya tersebut. Sama-sama berusia lanjut, nyatanya tak membuat seorang bisa sama bijaknya.


Aku bersyukur Ibu tak sepicik orang ini. Ucap Kiandra dalam hati.


Sebetulnya bisa saja dia bersikap arogan dengan langsung mengusir atau balik melaporkan si Penuduh atas pencemaran nama baik. Namun Kiandra Mahika yang di besarkan dengan kehormatan dan tanggung jawab, bukanlah orang seperti itu.


Sedang ramai-ramainya, seorang lelaki enam puluh lima tahunan muncul di antara mereka.


"Ada apa ini?" ia bertanya. "Ada apa, bu?" tanyanya lagi pada si ibu bertubuh gemuk yang sedari tadi terus berkata kasar.


"Dia mencuri dompetku, Pak. Tapi tak mau mengaku!" ia menunjuk si wanita.


"Hah?" Lelaki itu kaget. "Dompet ibu ketinggalan di mobil, makanya bapak ke sini cari-cari ibu." Dia mengeluarkan dompet tebal berwarna hitam mengkilat dari saku celana.


Sontak semua yang hadir menyoraki. Sedang si ibu gemuk yang sedari tadi menuduh ini dan itu, kini menganga sangking syoknya.


Di saat semua orang takjub akan kebenaran yang terjadi, wanita itu segera mengambil tas selempangnya dari tangan Kiandra dan menjauh dari kerumunan.


Tentu saja kali ini Kiandra tak tinggal diam. Di kejar wanita itu di antara keramain swalayan besar yang mirip mall tersebut.


Wanita itu berjalan cepat sembari melihat bawah.


"Hei, tunggu." Kiandra menghadang wanita itu tepat sebelum ia hendak menuruni tangga eskalator.


Sambil tetap menunduk, dia mencoba menghindar ke kiri. Namun Kiandra ikut ke kiri. Dia ke kanan, Kiandra tetap menghadang langkahnya.


"Aku tidak mencuri." Akhirnya ia mendongkak ke atas untuk melihat pria yang menghalangi.


"Siapa yang mengatakan kau pencuri?" Kiandra tak mengerti.


Keadaan swalayan yang benderang, membuat mereka bisa melihat jelas satu sama lain.


Ekspresi si wanita yang awalnya kesal, mendadak tertegun, kemudian si lanjut dengan dua pipinya yang merona merah. Dia langsung membuang muka.


"Kau tak ingat aku?" Kiandra mengira wanita tersebut memalingkan muka karena tak mengingatkanya.


Wanita itu masih tak menjawab.


"Kita bertemu di Club James Bond beberapa minggu lalu." Kiandra menerangkan.


"Permisi." Beberapa orang hendak menggunakan eskalator, membuat mereka terpaksa menyingkir.


.


Kiandra melipat kedua tangan ke dada sambil memperhatikan wanita yang masih saja enggan melihat ke arahnya.


Di saat seperti ini, biasanya apa yang di bicarakan laki-laki dan perempuan,ya...? dahi Kiandra berkerut, pandangannya mengawang, mengira-ngira hendak mengobrolkan apa.


"...Yang waktu itu...Tolong di lupakan.."


"Apa?" Kiandra sampai membungkung, sebab suara wanita itu kecil dan hampir tak terdengar.


Wanita dengan rambut panjang bergelombang itu mendongkak untuk melihat lawan bicaranya yang seperti tiang listrik. "Tolong lupakan kejadian di Club." Suaranya di keraskan.


"Kenapa?" Kiandra bertanya tanpa ada maksud apa pun.


"Karena...karena...ya, memang harus di lupakan." Wanita itu menjawab, setelah sempat kebingungan.


Kiandra tak puas dengan jawaban yang di terima.


"Hari ini juga." Ia kembali berkata. "Aku tidak mencuri." Dia menatap Kiandra baik-baik, kemudian menunduk dan mengosok kedua tangan gelisah. "Jangan ingat-ingat aku lagi." Ia meminta.


"Kenapa aku harus mengingatmu?" Kiandra keheranan.


Wajah wanita itu seketika merah padam. Dia malu oleh pertanyaan Kiandra.


"Pokoknya jika kita bertemu, jangan sapa atau mengajakku bicara!" ucapnya ketus, lalu berbalik pergi.


"Hei..." Kiandra hendak mencegah. Namun di urungkan niatnya tersebut. Kenapa dia seperti marah? Kiandra bertanya dalam hati. Apa dia masih kesal karena di tuduh mencuri? ia menebak. Yaah..tadi memang keterlaluan. Kiandra ikut sakit hati.


Di kelurkan ponsel dari saku celana jeansnya, lalu mulai mengetik sesuatu.


Akan aku tambah beberapa cctv di sudut tersembunyi, kemudian mengedukasi satpam tentang praduga tak bersalah. Kiandra telah larut dalam dunianya. Kebersihan foodcourt, barang kosong...


Kiandra menuangkan ide dan masukan untuk kemajuan swalayan-nya pada ponsel, sambil sesekali berhenti untuk berpikir, lalu kembali mengetik dengan penuh semangat.


Soal pekerjaan Kiandra memang begitu antusias. Sebentar saja, dia telah melupakan target yang harus cepat dia dapatkan, dan kali ini pun kembali lepas begitu saja.


Begitu serius Kiandra mengetik dan berpikir, hingga tak sadar jika dengan hanya kemeja merah dan celana jeans biasa, kemudian bersandar pada tembok, membuat pengunjung yang lewat di depannya terpesona.


.


.


Suara lonceng yang di pasang di atas pintu berbunyi, ketika wanita itu masuk.


"Tumben cepat sekali." seorang ibu berusia empat puluh tahun berseru sambil menyemproti bunga-bunga potong yang memenuhi hampir seluruh ruang. "Sudah dapat kertas pembungkusnya, Anna?" ia bertanya setelah wanita itu mendekat.


Anna mengeleng.


Si Ibu menghentikan kegiatan menyemprot dan melepas sarung tangan plastiknya.


"Maaf Tante Nisa, tadi... mendadak kepala saya pusing sekali, jadi..." Anna kesulitan untuk berbohong.


"Tidak apa-apa, kau bisa membelinya besok. Toh swalayan itu dekat dengan toko bunga kita." ia tersenyum.


"Terima kasih." Anna menunduk. "Nanti malam saya coba ke sana lagi."


"Jangan sungkan." Wanita yang di panggil Tante Nisa itu menepuk-nepuk pundak Anna. "Kau sudah makan? Jangan-jangan kau lupa makan siang, makanya pusing."


"Sudah Tante, saya sudah makan." Anna masih saja kikuk.


"Syukurlah kalau begitu." Dia terlihat lega.


"Terima kasih."


"Berapa kali mau bilang terima kasih?" gurau wanita dengan rambut keriting yang di gelung itu.


"Eh, maaf." Anna membulatkan mata, lalu menunduk. "I, iya...Tante.."Dia berucap pelan.


Nisa mencoba maklum dengan sikap karyawan yang di pekerjakan beberapa minggu lalu dan sekarang tinggal bersama di ruko yang merangkap tempat usaha tersebut.


"Tante naik dulu ke atas, kau jaga toko sebentar." Nisa melepas celemek warna hijau muda dengan tulisan 'Nisa Florist' yang di bordir.


"Iya."


"Sudah hafal nama-nama bunga dan harganya, kan?" dia bertanya.


"Sudah."


"Kalau belum, sudah Tante siapkan catatan di atas meja." tunjuknya pada sebuah buku di atas meja kasir.


"Terima kasih." Anna menundukkan kepala.


Nisa tersenyum. Meski masih saja merasa aneh dengan Anna. Namun beberapa waktu hidup bersama, Nisa berani bertaruh, bahwa Anna anak yang baik.


Dia naik ke lantai atas yang menjadi tempat tinggal mereka, setelah menjelaskan semua.


Anna segera mengikat rambut panjangnya, lalu memakai celemek yang  sama dengan yang di pakai Nisa tadi.


Dia mulai mengganti air dalam wadah bunga potong, lalu memilah bunga yang sudah mulai layu dengan yang masih segar, kemudian menata ulang.


Dia juga menyapu dan mengelap kaca. Anna bekerja dengan rajin, meski tak ada orang atau pun cctv yang mengawasi.


"Kenapa aku harus mengingatmu?"


Pertanyaan Kiandra tiba-tiba terlintas, membuat gerakan mengelap kaca Anna terhenti.


Dia berwajah oriental. Tapi kulitnya lebih gelap dan matanya lebar. Anna berkata dalam hari.


Kedua pipi Anna kembali memerah. Warna matanya indah sekali. Ia tersipu.


"Rico kabur setelah membobol brangkas!"


Mendadak wajah Anna berubah pucat. Kemarahan serta tudingan yang di alamatkan padanya mendadak memenuhi isi kepala.


Lap kaca yang di pegangnya terjatuh, namun Anna hanya diam.


"Kau yang memberi tahu Rico? Kau yang memberi tahu bajingan itu Delanna?!"


Seketika Anna terduduk di lantai sambil menutupi wajahnya yang di penuhi air mata.