Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
SALAH PAHAM DAN MEMAHAMI



Udara dingin, tempat yang jauh dari keramaian, serta Vila milik keluarga yang hanya berisi pelayan. Keadaan yang sangat mendukung, untuk melakukan apa saja kepada wanita tak berdaya yang kini kedua matanya meremang sambil mengusap-usap bibirnya dengan punggung tangan.


Kiandra mendengus melihatnya, lalu memalingkan muka dan menyisir rambutnya kasar.


"Kalau tak mau, seharusnya kau menolak atau berteriak. Membuat orang merasa bersalah saja." ucapnya tanpa dosa.


Kening Anna berkerut mendengar penuturan pria yang beberapa menit lalu memeluk tubunya begitu erat sampai tak bisa bergerak, serta untuk kedua kali mencium bibirnya dengan begitu berhasrat.


Baru saja dia berterima kasih kepada Kiandra, karena sudah memberi hadiah yang baginya sangat mewah. Sempat pula ia berpikir, bahwa benar pria itu menyukai dirinya yang apa adanya. Akan tetapi, semua itu tertepis oleh tindakan yang kurang ajar.


Anna tertunduk, dadanya sesak menahan nestapa. Sedang air matanya tak mau di ajak berkompromi.


Dia tahu aku akan menolak perhiasan, maka memancing dengan barang mahal lain. Dan bodohnya aku terpancing. Mungkin dia mengira bisa berbuat semaunya, karena merasa sudah  membayar.


batin Anna perih.


Delana, punya dosa apa kau di masa lalu, sampai hidupmu kini cuma di kelilingi pria-pria brengsek...??


Anna menutup mulut, agar isak nya yang tak terkontrol tak terdengar.


"Hei, sudah jangan menangis." Kiandra yang melihat bahu Anna yang sampai terguncang karena tangis merasa sedikit bersalah.


Anna tak menanggapi. Tetapi, ia berupaya untuk tegar, meski wajahnya berurai air mata.


Harusnya aku tak mengajaknya ke Vila. Pikiranku jadi aneh-aneh begini.


Kiandra memijit pelipisnya yang pusing, karena otaknya terus mengarah ke hal-hal mesum.


Ia menghela nafas, masih terasa lembutnya bibir Anna yang tadi sempat di cecap dan di rasakan nikmatnya.


Sialan, pasti ada yang tak beres dengan isi kepalaku.


Kiandra mengacak rambutnya emosi.


Dia yang minim pengalaman dengan wanita betul-betul di buat bingung. Ia juga tak tahu harus bersikap bagaimana, karena sudah melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kali. Mungkin dulu ia bisa pura-pura tak peduli. Namun, kini perasaannya makin besar dan rumit.


Padahal aku sampai mengatakan menyukainya.


batin Kiandra sedikit menyesal.


Ia makin kesal, karena yang di hadapi adalah tipe wanita seperti Anna, yang cuma diam dan tak mau mengungkapkan isi hati.


Lebih baik dia mengomel seperti Kirana, dari pada cuma diam dengan wajah minta peluk begitu.


Mata Kiandra menyipit dengan kedua alis hampir menyatu, menatap Anna yang masih sibuk menghapus sisa-sisa air mata di pipi.


Di sisi lain, angin dingin yang berhembus, terus menerus mengodanya untuk mencari kehangatan dari lawan jenis-nya itu.


Setelah mampu meredam gairahnya sendiri, Kiandra mengambil boneka teddy bear raksaksa yang sedari tadi di biarkan tidur di tanah, lalu mengamati senyum lucu-nya yang di buat dari benang berwarna hitam.


"Anda harus tahu Chief, tidak semua hal di ukur dengan uang dan kemewahan."


Tiba-tiba ucapan Aldo terlintas di pikiran.


"Minta maaf lah dengan tulus. Tanpa embel-embel apapun. Mungkin...anda masih bisa di maafkan."


Kiandra merenung sembari menatap boneka beruang putih itu. Kemudian menoleh ke arah Anna lagi, yang masih membelakangi sambil memeluk dirinya sendiri yang nampak kedinginan.


Malam yang kian larut memang membuat hawa di kawasan puncak itu makin dingin. Ujung hidung Kiandra bahkan sudah seperti es, dan itu makin membuatnya terdesak untuk segera meninggalkan tempat itu.


Aku tak yakin bisa melakukan ini.


pikir pria yang seumur hidup sangat percaya diri itu, seraya memandangi si teddy bear yang seolah tengah tersenyum padanya.


"Hei, ayo masuk." ia berseru.


Namun, Anna tak bergeming.


Kiandra kalut. Ia seperti orang bodoh yang membawa-bawa boneka jumbo.


hatinya kembali mengumpat.


Dia pijit kembali pelipisnya yang berkerut dan tengah bertarung dengan ego nya yang maha tinggi.


Namun, perlahan ia berjalan mendekati punggung wanita itu, lalu di julurkan boneka itu ke depan muka Anna melewati bahu.


"Hey, Annya, Deyanna, akyu minca maap." suara Kiandra di rubah seperti anak kecil.


Anna kaget sampai tahan nafas.


"Annya ato Deyanna, potokna akyu minca maap." Kiandra yang berdiri persis di belakang Anna mengerak-gerakan si boneka, membuatnya seolah yang berbicara.


Anna yang tadinya marah sampai menangis, kini membuka mulut lebar-lebar melihat kepala si teddy bear yang bergerak-gerakkan seperti hidup di depan matanya.


"Annya, dannan menannis yagi. Please...akyu minca maap...hik..hik..." Kiandra bahkan menirukan suara tangis anak bayi.


Anna mengulum senyum, karena suara Kiandra terdengar sangat lucu.


Tahu Anna senang, Kiandra yang awalnya enggan melakukan hal gila ini tersenyum.


"Maap, Annya. Maap...hik...hik...akyu nannis, niih..." Kiandra mendesakkan boneka berbulu lebat itu ke leher dan wajah wanita itu.


Anna memekik tertahan. Ia tak kuat lagi menahan geli.


Melihat Anna tertawa, Kiandra makin bersemangat. "Annya, Annya, maap. Maap tan akyu, Annya." ia mengelitik dengan menggunakan beruang teddy.


Tawa Anna makin kencang. Kiandra sampai terkesima, karena baru kali ini mendengar Anna tertawa. Ia sampai tak peduli pada lengan kanannya yang pegal, karena terus memegangi si boneka yang berat dengan satu tangan.


"Annya, Annya, Annya." panggil-nya terus-menerus dengan suara yang super imut.


Anna terbahak sampai perutnya terasa kram. Rasanya mustahil, pria kaku itu bisa selucu ini.


Tanpa sadar Anna mundur-mundur dan punggungnya menubruk Kiandra yang berada tepat di belakang. Seketika itu pula tawanya lenyap dan ia berbalik dengan teddy bear yang kini sudah berpindah ke tangannya.


Mereka saling pandang oleh kekikukan masing-masing. Terlebih Kiandra yang merasa konyol. Tetapi, ketika melihat kedua pipi Anna yang kini memerah oleh bahagia, ia merasa impas dan sebanding.


"Akyu minca maap." ucap Kiandra dengan muka datarnya.


Tawa Anna hampir pecah, kalau tidak lekas di tahannya. "Sudah, jangan bicara begitu. Anda tidak cocok dengan..."


"Akyu minca maap." seperti di sengaja, Kiandra malah mengulangi.


Astaga...kenapa ekspesinya tetap seperti es lilin?


Perut Anna bergolak melihat hal absurd di depannya ini.


"Akyu..."


"Iya!" potong Anna cepat, sebelum Kiandra meneruskan suaranya yang mirip bocah cadel.


Kedua mata Kiandra yang berwarna cokelat terang itu melebar. Kaget juga dia dengan Anna yang ternyata bisa berintonasi tinggi.


"Saya...sudah memaafkan Tu, eh!" seketika Anna menutup mulut. Ia melirik ke arah Kiandra was-was.


Tidak boleh memanggil Tuan muda.


ia mempringatkan diri.


Kiandra mengangkat satu alis, menunggu kelanjutan kalimat wanita itu.


"Saya sudah memaafkan. Tapi, tolong jangan di ulangi." Anna meminta.


Kiandra bersedekap, lalu berdehem beberapa kali.


"Lalu...bagaimana soal aku yang memintamu tetap bersamaku?" ia sedikit membungkuk dan bertanya balik.