Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
HUBUNGAN



"Kau bilang ingin mentraktirku, tapi kenapa kita malah ke sini?" mata Kiandra menyipit dengan kening berkerut membaca tulisan warna-warni bertuliskan Happy Time.


Aldo yang berdiri di sampingnya terkekeh. "Traktirkan kan, bukan cuma makanan Chief." ucapnya ringan.


Bola mata Kiandra berputar dengan mulut sedikit membuka.


"Ayo, Chief. Saya traktir mandi bola." Aldo tertawa sembari mengandeng lengan Kiandra, dan menarik masuk ke area bermain dengan ornamen khas Mesir tersebut.


"Heh, apa kau gila?" pria berkemeja maroon itu kelabakan. Tetapi, Aldo sudah terlanjur membawanya masuk ke dalam.


Di hari kerja seperti ini, area bermain di salah satu Mall besar di kota tersebut itu memang tidak terlalu ramai. Beberapa anak yang sedang bermain, serta para orang tua yang mendampingi melihat sekilas ke dua pria dewasa yang sedang membeli kartu, sebagai pengganti koin atau uang untuk menikmati fasilitas di situ.


Kiandra yang menunggu Aldo melakukan pembayaran, melihat sekeliling yang di penuhi mesin-mesin permainan dengan lampu warna-warni dan musik khas anak-anak.


Hingga tak sengaja ia bertatap mata dengan seorang anak kecil kisaran usia tiga tahun, yang langsung menangis dan berlari ke ibunya.


Dari kejauhan anak itu seperti mengadu, sembari menunjuk-nunjuk ke arahnya.


Memang aku berbuat apa?


batinnya heran dengan wajah dingin.


Tangis anak itu makin kencang, seraya langsung bersembunyi ke pelukan si Ibu.


Kening Kiandra berkerut, lalu membuang muka sambil melipat kedua tangan ke dada.


Dasar bocah!


umpatnya dalam hati.


.


"Ini untuk Anda, Chief." Aldo yang sudah datang, memberikan satu kartu dengan logo bertulisan Happy Time.


Kiandra melirik sesaat, kemudian setengah hati menerima. "Kita tak benar-benar akan mandi bola kan?" selidiknya.


Aldo terbahak. "Kalau Anda mau, saya siap menemani kok, Chief."


"Kau saja temani anak-anak itu!" ucap Kiandra sambil berjalan lebih dulu.


Sembari menahan geli, Aldo mengejarnya. "Tunggu, Chief!" ia berkata. "Anda kan tidak tahu cara menggunakan kartunya."


"Enak saja! Kau pikir aku tak pernah main permainan seperti ini?" ia menatap Aldo dengan kedua alis hampir menyatu.


"Ya.. Saya pikir, Anda mainnya cuma di Perpustakaan." pria itu nyengir.


Muka Kiandra semakin masam.


Awalnya CEO muda itu memang nampak ogah-ogahan, serta sedikit canggung, karena sekian tahun tak pernah bermain seperti ini. Tapi lambat-laun, ia mulai bisa menikmati, bahkan ikut tenggelam bersama Personal Asistennya bermain tembak-tembakan, motor cross dan capit boneka, yang membuat Kiandra mengebrak mesin berbentuk kotak itu, lantaran sepuluh kali gagal mengambil boneka.


"Siapa yang menciptakan permainan seperti ini? Sudah jelas ini penipuan!" ujarnya marah.


Anda bilang penipuan, tapi Anda di tipu sampai sepuluh kali, juga tetap di ulangi.


batin Aldo yang melihat Kiandra memainkan mesin capit boneka itu lagi.


Entah berapa kali Kiandra mencoba, sampai kartu miliknya harus di top up berkali-kali. Hingga beberapa menit kemudian ia berseru girang, karena berhasil mendapat boneka beruang yang mungkin harganya tak seberapa, jika di bandingkan dengan uang yang ia keluarkan untuk top up kartu.


"Ini yang namanya pantang menyerah." Kiandra berkata bangga sambil memamerkan boneka kecil berwarna pink tersebut.


"Chief memang keren." Aldo angkat jempol sembari nyengir kuda.


Setelah berhenti sebentar untuk membeli es teh di Tong Tji, mereka melanjutkan menjelajah area Happy Time.


"Ayo Chief, tanding basket dengan saya." ajak Aldo sambil menunjuk permaian basket yang ada di sudut.


Kiandra yang sedang meminum jasmine tea lewat sedotan, mengangguk sambil merangkul Personal Asistennya tersebut menuju ke sana.


Aldo yang di perlakukan sedemikian sedikit tertegun, kemudian balas merangkul Chief nya itu sambil tersenyum riang.


Mereka bermain basket seperti dua orang kawan karib yang lama tak bertemu, bahkan menarik perhatian beberapa pengunjung yang di dominasi Ibu-ibu dan anak-anak.


Yah, bayangkan saja, mana ada dua pria dewasa berpakaian kantoran yang seasik itu bermain, sampai ada acara teriak-teriak setiap kali berhasil memasukan bola.


"Saya pikir Anda cuma bisa pegang pulpen, Chief." Aldo yang kalah terkekeh.


"Berani-beraninya kau meremehkan Atasanmu, sialan!" ujar Kiandra yang keningnya sampai berkeringat karena terlalu bersemangat.


"Mana saya berani Chief." Aldo pura-pura takut, sembari melipat lengan kemeja sampai siku.


Keduanya nampak senang, serta bermaksud tanding ulang, ketika dering ponsel Kiandra terdengar.


Pria itu memberi tanda stop dengan tangan, lalu menjauh sambil mengeser layar ponselnya.


"Halo?" ia berkata.


Aldo memperhatikan Kiandra dari kejauhan. Ia yang tadinya penuh tawa, kini nampak tenang dengan sinar mata sayu menatap ke arah Chief nya.


Tak berselang lama, Kiandra dengan terburu menghampiri. "Aku pulang dulu." ucapnya.


"Ada apa, Chief?" Aldo bingung.


"Tidak. Tidak apa-apa." ia mengeleng tak fokus, lalu berbalik hendak pergi.


"Chief!" panggil Aldo.


Kiandra menoleh ke arahnya. "Ada apa?" tanyanya dengan kening berkerut, sebab ia sedang terburu-buru.


Kiandra berdecak, lalu segera berlari menjauh dengan boneka pink yang di dapatnya tadi.


Sementara Aldo masih memandangi punggung-nya, dengan tatapan yang sulit di jabarkan.


.


Kiandra mengendarai mobil menuju Rumah Sakit, begitu tadi mendengar kabar Ayahnya pingsan.


Kenapa orang tua yang bahkan tidak pernah sakit flu mendadak jatuh bisa pingsan?


ia berkata dalam hati.


Meski tahun-tahun terakhir ini hubungannya dengan sang Ayah tidak begitu baik. Tapi, bukan berarti ia tak cemas. Dahulu mereka sangat dekat, dan tak bisa Kiandra pungkiri, karena Ayahnya lah, ia memiliki ilmu bisnis yang mumpuni, serta mendapat penghormatan setinggi ini di usia muda.


"Kian, anak lelaki Daddy." pria berwajah mirip dengannya itu tersenyum sampai kedua matanya membentuk bulan sabit.


Mendadak dada Kiandra sesak, mengingat kenangan masa kecil yang di penuhi kebanggaan sang Ayah kepadanya. Ia injak pedal gas dalam-dalam, membuat mobil jenis SUV itu melaju kencang di tengah jalan raya.


.


Begitu tiba di Rumah Sakit, ia segera menelpon Kirana untuk bertanya tentang ruangan tempat Ayahnya di rawat.


"Iya, aku sudah hampir sampai." ia berkata sambil mematikan sambungan telpon dan keluar dari pintu lift.


Kiandra mempercepat langkah, ketika dari kejauhan sudah melihat kakak perempuan, beserta suaminya sedang duduk di lorong perawatan kelas presidential suit.


"Kenapa malah di luar? Mana Ibu? Daddy?" Kiandra bingung.


Sontak Kirana meletakkan jari telunjuk ke bibir, seraya memberi kode dengan ujung mata.


Kiandra melihat ke arah yang di maksud, kemudian berjalan mendekat ke ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka itu. Di dalam Ayahnya terbaring dengan jarum infus di tangan, dan Ibunya duduk di samping ranjang.


"Apanya yang tidak apa-apa? Kau tak dengar tadi Dokter bilang apa? Aku benar-benar tak habis pikir, kenapa sudah setua ini kau tetap saja seenaknya sendiri?"


Kiandra mendengar Ibunya mengomeli Ayahnya yang sedang sakit.


"Sudahlah Sayang, aku malah jadi benar-benar sakit, kalau melihatmu menangis begini." bukannya marah, si Ayah malah mengusap-usap pundak istrinya agar tenang.


"Kau ini..." Ibu Kiandra tak sanggup untuk marah lagi, dan cuma bisa menghapus air mata di pipi.


"Marisa..." Ayahnya bangkit dari tidur, kemudian memeluk si Ibu.


Kiandra yang melihat adegan kedua orang tuanya tak jadi masuk ke ruang perawatan, serta memilih menunggu di luar bersama Kirana dan Dave.


Mereka sempat khawatir, karena sang Ayah memiliki penyakit komplikasi. Tapi untungnya, kali ini Dokter hanya mendiagnosa kelelahan, di sertai nasehat panjang agar tidak terlalu banyak pikiran dan lebih bisa menjaga pola makan.


"Aku pikir Daddy..." air mata Kirana jatuh ke kedua tangannya yang saling tertaut di pangkuan.


Kiandra yang duduk di sampingnya menoleh, kemudian tanpa berkata apa-apa, mengenggam tangan kakak perempuannya.


Kirana terkejut dan memandangi adiknya. Tetapi, Kiandra hanya merunduk.


Tak ada suara di situ, kecuali omelan si ibu yang terdengar samar dan di selingi isak tangis.


Namun, Dave yang berdiri di sudut, tersenyum dengan hati bungah.


.


.


Sejak peristiwa itu, hubungan mereka semua membaik. Termasuk Anna yang mulai mendapat tempat di keluarga Marthadinata.


Hingga tak terasa, hari perayaan ulang tahun pernikahan kedua orang tua Kiandra sudah di depan mata.


Pria itu tak bisa menyembunyikan kekaguman, ketika Anna yang sudah di rias dan memakai gaun bernuansa gold yang seragam dengan milik anggota keluarga yang lain berdiri di hadapannya.


"Astaga... lihat mulutnya yang tak bisa menutup." seloroh Kirana yang ikut membantu Anna fitting.


Ibunya yang berdiri di samping Anna geli. "Apa anak Ibu ini, masih tak mau menikah?" ia bertanya.


"A, apa?" Kiandra gagap dengan muka memerah.


Kakak dan Ibunya tertawa. Sedangkan Anna sudah tertunduk dengan muka yang sama merahnya dengan Kiandra.


Tak ada lagi yang mempermasalahkan siapa Anna. Termasuk Ayah Kiandra yang ikut tersenyum, ketika melihat keluarganya yang lain nampak antusias menyambut hubungan putra semata wayangnya dengan wanita asing itu.


Meski kekikukan masih ada. Tapi, benang kusut yang selama ini membelit keluarga tersebut perlahan mengendur dan mulai terlepas.


Di antara semuanya yang terlihat berbahagia, tentu saja ada yang paling bahagia, yaitu sang Ibu.


.


"Rasanya aku tidak butuh apa-apa lagi." ia berkata pada suatu malam, saat suaminya menanyakan ingin hadiah apa untuk kado pernikahan.


Si suami yang tidur di sebelahnya tersenyum. "Kau ingin sekali melihat Kian menikah ya, Sayang?" tanyanya.


Wanita yang sudah menemani separuh lebih perjalanan hidupnya itu mengangguk sambil tersenyum lebar.


Sesaat suaminya tertegun, karena selama pernikahan mereka, istrinya itu terlihat biasa-biasa saja dengan semua pemberian mewahnya. Tetapi, kali ini Ibu Kiandra itu mengangguk, yang artinya dia sangat menginginkan hal tersebut.


"Aku akan berusah mengabulkannya." ucapnya sembari mengecup kening istrinya.


"Andre.." ia menatap penuh cinta pada sang suami.


Begitulah hubungan orang tua Kiandra yang selalu harmonis dan romantis, hingga fisik mereka menjadi tua seperti sekarang.