
Kiandra sedikit berpikiran negatif, ketika ia dan Anna memasuki ruangan utama yang mirip aula besar dengan banyak foto-foto anggota keluarga Kerajaan Kelantan dari jaman dahulu.
Saat mereka melangkah mendekat, Kiandra bisa melihat Ibu, kakak perempuan, Dave dan bahkan Ayahnya terlihat sedih.
Mungkin jika yang menangis adalah si Ibu atau kakak perempuannya saja, ia tidak akan seheran ini. Akan tetapi, ini Ayahnya dan Dave, yang sampai ia seusia inipun tak pernah melihat mereka meneteskan air mata, kini berwajah sembab.
Apa keluarga Anna berbicara buruk?
batin Kiandra tak tenang.
Tidak mungkin! Seburuk apa omongan mereka, sampai membuat Daddy terluka dan menangis?
ia pesimis sendiri dengan dugaannya.
"Kian..." Anna *3***** bagian belakang kemejanya.
Kiandra menoleh ke arah wanita itu. Dari tatapannya, ia bisa tahu, kalau Anna pun memiliki kecemasan yang sama.
Bagaiman kalau mereka berniat membatalkan pernikahan kami? Aku kan bukan keturunan bangsawan.
pikirannya mulai ngawur.
Ck! Kenapa aku jadi rendah diri sekali? Memang apa hebatnya bangsawan kalau tak punya harta?
ia mengomel dalam hati saat tak sengaja bertatapan dengan Maheer yang di anggapnya sombong.
Namun, kakak lelaki Anna itu pun sama, terkesan berbeda dengan beberapa saat lalu ketika bersama.
"Kian, kenapa... mereka terlihat seperti habis menangis...?" Anna berbisik.
Kiandra menyenggol tangannya, sebagai kode agar ia diam. Anna menurut, walau itu membuat perasaannya makin tak tenang.
Mereka melangkah sangat pelan, sembari mengira-ngira ada apa sebenarnya.
.
"Silahkan."
begitu dekat, Ayah Anna sendiri yang mempersilahkan keduanya untuk duduk.
Mereka saling pandang, kemudian mengambil tempat di sofa besar yang berhadapan dengan kedua orang tua Kiandra dan juga kakak kandung dan iparnya.
.
Sudah lima menit Kiandra dan Anna duduk berdampingan. Akan tetapi, di antara orang tua dan saudara kedua belah pihak, belum juga ada yang buka mulut.
Kiandra yang duduk berhadap-hadapan dengan Dave mengkerutkan kening, sebab pria lima puluh tahun itu tersenyum padanya dengan kedua mata berkaca-kaca.
.
"Delana, mungkin engkau tak pernah jumpa. Tapi, engkau pasti ingat dengan Kebawah Duli Yang Maha Mulia Tuanku Ibrahim yang hilang ketika berusia tiga tahun." Ayah Anna membuka obrolan.
Kedua mata wanita itu membulat. "Tu.. Tuanku Ibrahim?" ia memutar otaknya untuk mengingat-ingat. "Uncle...? Tuanku Ibrahim yang seharusnya menjadi Sultan Kelantan?" ia memastikan.
Ayahnya mengangguk sembari tersenyum.
Sekali lagi ia dan Kiandra saling pandang, lalu sibuk sendiri dengan pikiran masing-masing.
"Mungkin ini yang namanya takdir." Ayah Anna kembali berkata. "Bertahun-tahun Ayahanda Sultan mencari, sampai akhirnya beliau jatuh sakit dan meninggal. Akan tetapi, Kakanda Ibrahim yang tenggelam ketika kami berpesiar tak pernah di temukan." pria dengan rambut yang sudah menipis itu sengaja memutus cerita untuk menghela nafas.
Tidak ada yang berbicara dalam jeda waktu tersebut. Hanya Kiandra yang menatap satu persatu anggota keluarganya, seraya mencari-cari kebenaran apa yang akan di kemukakan.
"Hingga sekarang... Papa selalu merasa tak ada hak untuk takhta, sebab takhta ini milik Kakanda Ibrahim. Dalam hati Papa berjanji, kalau suatu waktu Kakanda Ibrahim di temukan, Papa akan dengan suka rela menyerahkan tampu kekuasaan Negeri Kelantan tercinta kita ini untuk beliau." Ayah Anna sungguh-sungguh.
Pandangan Anna otomatis mengarah kepada Majeed dan Maheer. Tapi, kedua pangeran itu terlihat tak keberatan dengan perkataan sang Ayah.
Apa aku boleh menyela ucapan Sultan?
tanya Kiandra pada diri sendiri. Ia sudah tidak tahan dengan rasa penasaran yang menari-nari, sedangkan calon mertuanya itu terlalu lamban dalam menyampaikan pokok permasalahan.
"Maaf menyela, Papa."
Seperti telepati, Anna mengucapkan apa yang ada di dalam hati pria itu, membuatnya sampai melongo karena kaget dengan keajaiban ini.
Anna membenarkan letak duduk untuk mengurangi grogi, kemudian memandangi Ayah kandungnya tersebut. "Maaf, Papa menceritakan rahasia keluarga seperti ini. Apa karena ada sesuatu yang harus kami tahu sebelum kami lanjut ke pelaminan?" ia memastikan.
Semua yang ada di ruangan melihat ke arahnya. Tak terkecuali Kiandra sendiri. Tetapi, jelas pandangannya bukan terkejut, heran atau apapun. Tapi, kagum.
Apa ini sifat aslinya?
dalam hati ia bungah.
.
"Delana, coba engkau tengok potret Almarhum Kakekmu." Ayahnya tak langsung menjawab malah memerintahkan hal lain.
Meski bingung, tapi Anna melakukan apa yang di suruh. Begitupun Kiandra yang penasaran. Mereka berdua melihat foto seorang pria kisaran usia tiga puluh tahunan dengan baju kebesaran bangsa Melayu lengkap dengan keris yang terselip di pinggang.
"Itu Kakekmu waktu muda?" bisik Kiandra ingin tahu.
Anna tak menjawab, sebab masih fokus meneliti foto berukuran besar yang terpasang di dinding tersebut.
"Hei, kenapa diam saja? Aku bisa mati penasaran." Kiandra kembali berbisik di telinganya.
Akan tetapi, Anna tetap tak menyahut dan malah menoleh ke arah Dave. Mereka saling pandang, serta perlahan senyum mengembang di wajah masing-masing.
Ternyata karena ini, makanya aku merasa dekat dengan Anda...
batin Anna dengan perasaan meluap.
Melihat putrinya memahami maksudnya, Sultan Kelantan itu ikut tersenyum sambil menghela nafas lega.
"Nenek engkau cakap, Tuanku Ibrahim sangat mirip dengan Almarhum Ayahanda Sultan. Dan itu terbukti dengan hadirnya Tuan Dave di sini." ia menjabarkan.
"Apa?!" Kiandra yang bereaksi. "Ma, maaf..." ia tak enak karena sudah berbicara keras. "Maksud saya... Eemmm.. Kakak saya... Dave...?" ia memandang kebingung pada keluarganya.
"Kian, kau tahu Dave bukan anak kandung Daddy, kan?" Kirana yang menjawab.
Seketika adiknya itu tertegun.
"Orang tua kandung Dave adalah istri pertama Daddy dan Om Rendy." ia meneruskan.
Mulut Kiandra membuka tanpa suara.
Dia memang tahu, Ayahnya punya saudara angkat yang sudah meninggal jauh sebelum ia lahir. Tapi, soal Dave adalah anak dari saudara angkat Ayahnya itu baru kali ini di dengar.
"Daddy tidak pernah bisa berterus terang tentang hal ini." Ayahnya yang sedari tadi diam angkat bicara. "Daddy pikir, asal kau tahu Dave dan Kirana tak ada hubungan darah itu sudah cukup. Tapi, kau malah tumbuh dengan menyimpan kemarahan serta kecewa yang mendalam." mata berwarna cokelat terang yang di bingkai kulit yang telah keriput itu kembali meremang.
Kiandra tak mampu berkata-kata. Apa lagi saat melihat Ibunya yang duduk di samping si Ayah tengah tertunduk sambil menitikan air mata.
Semua serba mendadak untuk Kiandra yang sama sekali tak memikirkan soal rahasia keluarga Anna ataupun cerita kelam di keluarganya.
Akan tetapi, yang jelas Dave bukanlah anak hasil perselingkuhan istri pertama Ayahnya seperti yang di kira selama ini. Tetapi, hubungan cinta istri pertama Ayahnya dengan saudara angkat Ayahnya sendiri yang bernama Rendy. Nama asing yang wajahnya pun tak ia ingat sama sekali.
Serta yang lebih mencengangkan, Rendy yang menurut cerita Ayahnya adalah anak yang di ambil dari Panti Asuhan, sebenarnya adalah Tengku Muhammad Ibrahim Petra yang seharusnya menjadi Sultan Kelantan, yang tak lain kakak kandung Ayah Anna, yang juga berarti Paman Anna sendiri.
Kerumitan apa lagi ini?
Kiandra yang tak siap dengan fakta-fakta yang ada mendadak sakit kepala.
Namun, semua itu di pertegas dengan tes DNA yang di lakukan hari itu juga. Meski hasil tes baru keluar satu minggu kemudian. Tetapi, sudah terlihat jelas dari hasil pemeriksaan darah, yaitu Dave memiliki golongan darah langka O rhesus negatif yang juga di punyai keluarga Petra.
Ayah dan Ibu Kiandra sampai menangis sambil berpelukan ketika mendengar hal itu.
"O Rhesus negatif... Iya, orang biasa tak mungkin memiliki golongan darah macam itu, kan..?"
Kiandra mendengar Ayahnya meracau bak anak kecil di pelukan si Ibu.
"O Rhesus negatif... O Rhesus negatif.. Astaga, Ren..."
Sampai Kiandra berbalik arah, ia masih bisa mendengar racauan Ayahnya di sela-sela tangis keduanya.
Seandainya Kiandra mengerti, bahwa yang tua juga pernah muda. Dan bahwa kejadian yang berlangsung bertahun-tahun lalu, bagi mereka serasa baru terjadi kemarin.