
Tiba-tiba ponsel milik Aldo berbunyi, tepat saat mobil yang ia kendarai keluar dari area Hotel bintang lima itu. Ia merogoh saku kemeja yang berada di balik jas, kemudian mengambil smartphone yang terus memperdengarkan lagu dari Tunderous dari band asal Korea Selatan Stary Kids.
"Halo?" Aldo menjawab lembut panggilan telpon tersebut.
"Mas, di mana kamu sekarang? Apa baik-baik saja?" suara seorang wanita dari dalam speaker ponsel terdengar khawatir.
"Ada apa, Bu?" tanya Aldo heran. "Aldo baru saja pulang kerja dan sedang dalam perjalanan ke rumah." ia menjelaskan.
Si penelpon menghela nafas. "Syukurlah kalau begitu Mas." ucapnya.
Aldo tersenyum. "Bapak pripun kabare, Bu? Sudah di bawa ke Dokter, kan?" ia bertanya.
"Sudah. Begitu uang yang Mas kirim masuk, Mbak dan Ibu langsung membawa Bapak ke Dokter." kata si penelpon yang ternyata Ibunya.
Aldo senang mendengar penuturan si Ibu. "Ya sudah, Bu. Ini Aldo sedang menyetir, nanti..."
"Mas." potong suara dalam speaker.
"Iya, Bu?" Aldo tetap menanggapi dengan sopan, meski ia sedikit kesulitan menelpon sambil membelokkan setir mobil.
"Anu...eeemmm... kalau Mas keluar saja dari situ bagaimana?" ragu ia bertanya.
"Keluar?" Aldo tak mengerti.
"Dari Perusahaan itu, Mas." si Ibu menekankan.
Seketika raut muka Aldo berubah. "Kenapa, Bu?" selidiknya. "Apa terjadi sesuatu di rumah?" ia menebak.
Hening tak ada suara apapun selain radio yang sedang Aldo putar di dalam mobil. Sampai akhirnya, samar-samar pria itu mendengar isakan dari dalam speaker ponsel.
Aldo segera menepikan mobil Mazda CX-5 warna Snowflake White Pearl Mica miliknya ke pinggir jalan.
"Ada apa, Bu? Kenapa menangis?" tanyanya mulai cemas.
Isakan itu berubah menjadi tangis. "Orang itu datang ke rumah, Mas..." ia menjawab di sela tangis.
Kedua mata Aldo seketika melebar.
"Dia sudah tahu semua, termasuk siapa kamu Mas..." tangisnya kian menjadi. "Ayo pulang saja, Ibu ndak mau terjadi sesuatu sama kamu. Ibu takut Mas..."
Aldo meneguk ludah.
"Ibu sudah pernah bilang, lupakan saja. Kamu tidak ada kaitannya dengan semua yang terjadi di masa lalu. Kamu anak Ibu, kan, Mas?"
Namun, Aldo tak lagi mendengar apa yang si Ibu ucapkan, sebab pikirannya tengah berkutat jauh tentang apa yang akan terjadi setelahnya.
Pantas saja akhir-akhir Vic begitu waspada padaku. Sampai-sampai dia mengikuti kemanapun aku pergi.
batin Aldo menyimpulkan.
"Mas? Mas Aldo, kamu dengar apa yang Ibu sampaikan?" di dalam speaker ibunya masih saja mengkhawatirkan keselamatannya.
Aldo memjamkan mata sesaat untuk menenangkan diri. "Iya Bu, Aldo dengar." ia berkata. "Ibu tenang saja, sebentar lagi Aldo akan resign dari sana."
"Secepatnya ya, Mas?" ibunya mendesak.
"Secepatnya Bu." Aldo menurut. Tetapi, sinar mata pria itu terlihat berbeda di kegelapan.
.
Tak jauh dari mobil Aldo yang terpakir, Victoria yang memakai helm fullface mengawasi setiap gerak-gerik pria itu. Penampilannya seperti pria, membuat siapa pun tak menyangka ia seorang wanita.
"Semua pekerjaan memiliki resiko sendiri-sendiri."
Victoria teringat ucapan Ayahnya.
"Tapi cuma dengan uang tersebut, kau dan Ibu mu bisa selamat dari persalinan yang membahayakan itu."
Victoria mempererat genggaman tangannya pada stang motor. Pikirannya kalut, kala membayangkan jika ia lahir dari uang yang di dapat dari peristiwa pembunuhan itu.
Iya, ia menyebut pembunuhan, meski keluarga itu meninggal karena kecelakaan. Tetapi, semua yang terlibat juga tahu siapa dalangnya.
Ironisnya, tak sampai dia berusia satu tahun, Ibunya tetap saja meninggal karena kangker yang ternyata masih bersarang di tubuhnya.
Victoria kecil belajar banyak dari takdir yang kejam itu, bahwa menghilangkan nyawa, pastilah akan di bayar dengan nyawa pula.
Namun, yang membuat hati-nya miris, kenapa harus ada sentimen seperti ini antara dia dan sisa keluarga itu.
Fokus Vic!
ia memperingati diri sendiri.
.
.
Malam semakin larut, tapi bukannya makin hening, keadaan kota malah semakin ramai oleh para pedagang di pinggir jalan, Cafe yang buka dua puluh empat jam, serta Club-club malam yang makin menjamur di kawasan tertentu di daerah ibu kota.
Termasuk Club James Bond milik Roy, yang mulai sedikit rusuh dengan pengunjungnya yang teler dan terlena oleh musik keras yang di remix seorang DJ laki-laki bergaya hip-hop.
Anna ingin pulang, sejak ia menghabiskan segelas orange juice setengah jam yang lalu. Tetapi, Kiandra begitu asik mengobrol bersama kawan-kawannya itu, sehingga tidak menyadari atau memang tidak peka akan dia yang tak nyaman berada di situ.
Bagaimana aku mengajaknya pulang?
batin Anna sembari melirik ke arah Kiandra.
Mendadak ia merasa ada yang memperhatikan. Dan benar saja, Alexa yang duduk di ujung sana masih menatap tajam ke arahnya.
Kenapa dia terus-terusan memandangiku begitu? Apa dia cemburu?
ia menebak dalam hati, karena hanya wanita itu satu-satunya yang tidak tersenyum padanya, apa lagi bersikap ramah seperti yang lain.
"Enak kan rasanya pergi bareng cewek?" ucap Ethan sambil ngemil kacang kulit.
"Enak." Kiandra yang masih bungah karena bisa memamerkan Anna kepada teman-temannya menjawab singkat.
Roy dan Ethan langsung terbahak.
"Nanti lebih enak lagi." bisik Roy yang duduk paling dekat dengan Kiandra.
Kening Kiandra berkerut. "Nggak usah macing-mancing." ia gantian berbisik. "Kembalikan saja uangku, karena aku sudah membawanya ke sini." tandasnya di telinga teman pria perokok itu.
Roy mengulum senyum sambil menjauh, lalu menjentikan ujung rokok, membuat abu yang masih membara itu berjatuhan ke asbak. "Sejak kapan CEO Marthadinata-Sanjaya Groub perhitungan soal uang?" ia terkekeh.
"Sejak kalian menyuruhku melakukan hal konyol." Kiandra melipat kedua tangan ke dada sembari menjatuhkan punggung ke kursi.
"Konyol tapi ketemu jodoh." seloroh Ethan. "Harusnya kau berterima kasih kepada kami." ia bergurau dengan melempar kulit kacang ke arah Kiandra.
Namun, dengan cepat pria itu mengindar, tetapi imbasnya Anna yang malah terkena lemparan kulit kacang.
Sontak semua menertawakan ekspresi terkejut Anna yang terlihat lucu. Tak terkecuali Kiandra sendiri. Bahkan Alexa yang sedari tadi diam seribu bahasa, tertawa terpingkal-pingkal.
Anna yang canggung berada di lingkungan dan orang-orang baru, tertegun oleh lemparan kulit kacang yang sama sekali tidak terasa sakit itu. Ia menoleh ke arah Kiandra yang masih menertawakannya, dan perlahan kedua matanya berair.
"Aalaaahh...cuma kayak gitu doang nangis." Alexa berseru ketika air mata Anna jatuh membasahi pipi.
Serentak teman-temannya yang lain berhenti tertawa.
"Eh?" Kiandra kaget. Tak menyangka pacarnya itu akan menangis karena hal sepele seperti ini.
Itu tidak sakit, kan?
tanyanya dalam hati, karena dia sudah sering terkena lemparan kulit kacang.
"Maaf... Eh, tadi itu salahku. Aku yang tidak sengaja melempar." Ethan tak enak hati.
"Ngapain sih minta maaf?" sergah Alexa yang dari awal tidak menyukai kehadiran Anna di situ.
Ethan langsung mendelik ke arahnya. Tetapi, Alexa malah buang muka.
"Anna, kami minta maaf." Roy ikut merasa bersalah.
Mendengarnya Alexa mendengus. "Manja banget." celetuknya ketus.
Di bawah meja Ethan menyaruk kaki temannya itu, seraya menyuruhnya untuk tak berkata kasar. Tapi, tetap saja wanita itu bersikap jutek.
Anna mengusap air matanya sampai kering. "Maaf..." ia tertunduk. "Tadi... saya hanya terkejut, jadi...."
Kalimat Anna terpotong, saat tangannya yang berada di bawah meja di genggam oleh Kiandra.
Anna menengadah, dan mendapati pria itu sudah memandanginya.