
Seperti seorang anak penurut. Anna membiarkan Kiandra mengandeng tangannya.
Bedanya, kalau orang tua dan anak berjalan berdampingan. Tapi, Kiandra dan Anna berjalan berurutan seperti kereta api.
Kiandra dan si Manager mengobrol seolah tak ada orang lain di situ. Sedangkan Anna pasrah tanpa berani mengangkat muka. Ia malu sekali dengan penampilannya saat ini.
"Silahkan." Manager tersebut telah menyiapkan tempat duduk paling sudut yang langsung menghadap tembok kaca.
"Terima kasih." ucap Kiandra sembari tersenyum simpul.
"Jangan sungkan." Manager tersebut merendah. "Keluarga anda telah menjadi pelanggan tetap restoran kami dari jaman kakek anda. Jadi, tak mungkin kami tak mengistimewakan kehadiran anda di sini."
Kiandra menunjukkan eksrpresi tersanjung.
Meski ia nampak asik menikmati obrolan bersama Manager restoran. Akan tetapi, genggaman tangan Kiandra tak berkurang sedikitpun.
Setelah berbasa-basi sebentar, Manager tersebut undur diri dan di gantikan seorang pelayan wanita berkostum yukata yang melayani pemesanan.
"Kau ingin makan apa?" tanya Kiandra setelah mereka berdua duduk.
Anna masih tertunduk. Di bawah meja, ia urut-urut pergelangan tangannya yang menyisahkan hangat genggaman tangan pria yang kini tengah sibuk menbolak-balik buku menu.
"Kau makan udon saja ya?" Kiandra menjawab pertanyaanya sendiri.
Anna segera mengangkat muka. "Aku ingin sushi." serunya lantang.
Kiandra sampai tertegun, kemudian menarik ujung bibir. Membuat Anna kembali tertunduk.
Apa-apaan aku ini..?
runtuknya dalam hati.
Karena sudah lama tak merasakan kelezatan makanan negara matahari terbit itu, Anna sampai spontan menjawab.
"Buka menu di hadapanmu dan pilih sendiri." Kiandra sengaja tak menatap lawan bicara dan pura-pura masih memilih makanan, semata agar Anna tak merasa rikuh.
Awalnya Anna hanya melirik, kemudian menengadah dan mulai membuka buku tipis dengan cover tebal warna hitam tersebut, setelah memastikan Kiandra tak sedang mengintimidasinya.
Mereka duduk di tempat dengan view terbaik dari ruangan itu.
Tembok kaca yang langsung memperlihatkan pemandangan kota yang di naungi langit birunya yang indah dengan awan-awan tipis tersapu angin terlihat sangat luar biasa.
Restoran itu memang hanya berada di gedung berlantai tiga. Tapi, karena letak gedung itu sendiri berada di dataran tinggi, membuat pengunjung bisa melihat seluruh kota hingga pelabuhan.
Anna terpana menatap langit cerah di sampingnya. Rasanya sudah lama sekali ia tak merasakan sensasi kagum, senang dan berdebar seperti ini.
Kiandra yang duduk di hadapan-nya bertopang dagu, sembari mengamati tiap perubahaan dari raut Anna yang awalnya resah, gelisah, malu dan kini terukir senyum tipis yang menghiasi wajahnya yang pucat.
Apa dia tak suka dengan merk dan warna make up yang aku pilih?
Pikiran Kiandra malah terbang ke perlengkapan make up yang ia hadiahkan untuk gadis itu dan di tolak.
Tak lama dua pelayan datang dengan membawakan pesanan.
Mata Anna membulat, ketika di situ tak hanya tersaji satu varian sushi.
Aku hanya memesan satu. Tapi kenapa yang datang lima?
tanya Anna dalam hati.
Ia lirik Kiandra yang langsung meminum ocha hangat-nya, kemudian menyumpit katsu dan memakannya.
"Kau bisa melihatku lagi setelah selesai makan."
"Apa?" pipi Anna seketika merona dan mengalihkan kan pandangan. "Saya tidak..."
"Tidak usah susah-susah mencari alasan, karena aku sudah tahu." potong Kiandra sambil menyumpitkan nasi campur noriĀ ke mulut.
"Tahu apa?" tanya Anna tak mengerti. Ia memegangi dadanya dan berupaya terlihat tenang.
"Makanlah. Waktu ku tak banyak." bukannya menjawab. Kiandra malah memerintahkan hal lain.
Kalau tak punya waktu. Kenapa malah membawaku ke sini.
sunggut Anna dalam hati.
Ia tatap Kiandra yang duduk tenang dan tengah menyantap hidangannya. Pria itu terlihat cuek dan kaku. Bicaranya pun tegas dan lugas tanpa pandang bulu. Anehnya, semua tindaknya begitu berkesan.
Kiandra mengetuk-ngetuk pinggir mangkok sup miso dengan sumpit kayu-nya.
Kiandra menatapnya tajam, menyuruh agar dia lekas menyantap makannya.
Apa dia tidak bisa menyuruh orang baik-baik?
batin Anna dengan wajah masam.
Di situ ada 5 varian sushi, yaitu, Spider roll yang memakai soft shell crab renyah yang mudah di makan, Caterpillar roll bagi penyuka belut dan alpukat, kemudian ada Spicy tuna roll dengan taburan wijen di atasnya, California roll dan Dragon roll yang berbentuk seperti naga dengan taburan daun bawang kering.
Anna meneguk ludah melihat semuanya.
Rasanya aku ingin memakan semua.
ia berujar dalam hati.
Tapi tentu saja dia tak boleh rakus. Secara ajaib bisa datang dan makan di restoran mewah ini saja sudah merupakan keberuntungan.
Ini saja.
Anna menarik piring lonjong berisi California roll lebih mendekat ke arahnya.
Tanpa sadar ia tersenyum melihat berkah makanan enak tersebut.
Makanan yang dahulu tak Anna perhitungkan, sebab jika menginginkan tinggal beli. Makanan yang juga kadang ia buang begitu saja dengan alasan sudah dingin atau sudah kenyang.
Mengingat itu membuat Anna sedih dan rindu akan rumah.
Air matanya hampir mengalir dan Anna ingin menghapusnya, ketika tiba-tiba sebuah potongan sushi sudah terjulur di depan hidung.
Anna kaget dan air matanya terlanjur mengalir, saat tahu Kiandra lah yang hendak menyuapi.
Kening Kiandra berkerut dan mata mereka saling pandang. Pria itu perlahan menurunkan sumpitnya, saat menyadari Anna menangis.
Tak mau Kiandra salah duga. Anna cepat-cepat menghapus air matanya.
"Maaf. Saya bukannya sedang bersedih. Saya hanya..."
"Kau lapar sampai menangis?" tebak Kiandra.
"A, apa..? lapar..?" Anna keheranan.
"Makanya cepat makan." perintah Kiandra galak. "Orang bisa salah sangka, kalau kau terus pasang wajah memelas seperti ini."
Astagaa...
Anna sampai tak punya waktu untuk bersedih, karena omongan pahit dari pria dengan gelang cartier yang menyembul di balik lengannya itu.
"Kenapa masih melamun? cepat makan!" kening Kiandra makin berkerut. Ia kesal dengan Anna yang menurutnya sangat lamban dalam mengerjakan sesuatu.
Dia benar-benar Kirana dua.
batin Kiandra sambil memasukan potongan sushi dragon roll ke mulut.
Setengah dongkol, Anna mulai memakan satu persatu potongan sushi California roll dengan isian kepiting dan mentimun.
Baru saja potongan California roll habis. Kiandra sudah menyorongkan Spider roll ke arah-nya.
"Saya..."
"Habiskan." sebelum Anna bicara lebih, Kiandra sudah memotong.
Meski kesal. Tapi Anna yang pecinta sushi tentu tak akan menolak. Apa lagi dari awal dia sudah begitu mendamba makanan berbentuk gulungan nasi yang di potong-potong itu.
Anggap saja ini bayaran karena dia sudah bicara kasar padaku.
Anna berkata begitu dalam hati untuk mengusir rikuh.
Tiba-tiba terdengar ribut-ribut dari ujung ruangan. Membuat pengunjung yang sedang menikmati makan, serentak menoreh ke sumber suara.
"Saya sudah booking dari hari kemarin, dan hanya terlambat lima belas menit. Bagaimana bisa pihak resto memberikan meja saya untuk orang lain?" pria berkemeja cokelat itu terlihat marah.
Samar-samar dari tempatnya duduk Anna bisa mendengar suara keras dari pelanggan yang kecewa itu.
"Lihat apa kau?" tegur Kiandra, saat Anna mendongkak tinggi-tinggi agar bisa melihat pelanggan tersebut.
Mendengar teguran Kiandra, Anna yang penasaran mengurungkan niat dan kembali duduk manis.
"Jangan suka ikut campur masalah orang lain. Orang lain saja tak mau mencampuri masalahmu." Ucap Kiandra santai, sembari membersihkan tangan dengan tisu.