
Anna syok sampai tak bisa berkata, bahkan ketika Kiandra dengan seenaknya masuk dan duduk di sebelahnya, ia masih juga belum memberikan respon.
"Oh...kalau di Kelantan, melamun, melongo dan menangis itu budaya yang perlu di lestarikan, ya?" seloroh Kiandra sembari menarik sudut bibir.
Mendengar sindiran pria tersebut Anna cepat-cepat mengusap air matanya.
Melihat tingkah Anna yang kelabakan, Kiandra memalingkan muka sambil mengulum senyum, kemudian lekas memasang kembali ekspresi dinginnya yang biasa.
"Bagaimana..."
"Bagaimana wanita cengeng seperti ini bisa di sebut putri dari Kelantan?" Kiandra sudah memotong lebih dahulu, sebelum Anna melanjutkan kalimatnya.
Kedua mata Anna yang masih basah membulat sempurna.
"Beruntung orang seperti ku menyukaimu. Jadi bisa di pastikan, kau tak perlu membuang-buang air mata seperti ini." Kiandra berkata angkuh.
"Saya.. saya tidak..." Anna mencoba meralat.
"Ayo, jujur padaku." ucap Kiandra sembari mendekatkan wajah galak-nya.
Anna kaget sampai menjauh.
"Kau putri dari Kelantan bukan?" tanyanya serius.
Anna langsung pucat.
"Kau tak bisa pura-pura lagi sekarang, aku punya bukti." Kiandra berbohong, seraya melipat kedua tangan ke dada-nya yang membusung.
Jantung Anna mulai berdebar kencang.
Dia punya bukti? Bukti apa? Apa jangan-jangan Rico yang memberi tahu?
pikiran Anna mulai kacau.
Sedangkan Kiandra diam-diam geli, sebab berhasil membuat wanita dengan rambutnya yang di kuncir sederhana itu kebingungan.
"Kenapa diam saja? Mau aku cium dulu baru buka mulut?" gertaknya pura-pura marah.
Anna tersentak. Ia tatap Kiandra dengan pandangan nanar. Rasa-rasanya ia tak mungkin menghindar dari tuduhan di sertai ancaman yang membuat dirinya malu tersebut.
Sialan, kenapa dia malah pasang wajah seperti itu? Ingin mengoda atau bagaimana?
Kiandra gagal fokus dan malah memperhatian bibir Anna yang berkali-kali di gigit pemiliknya, serta ekspresi gelisah yang menurut Kiandra sangat meresahkan nurani kelelakiannya.
Tidak, tidak. Kalau di sini bisa kebablasan nanti.
batin Kiandra yang waras memperingatkan.
Melihat kekalutan pria yang duduk dengannya di pinggir ranjang itu makin membuat Anna tak tenang, jemari tangannya mulai dingin dan debaran di jantung makin tak karuan.
Apa ini waktunya aku jujur...?
ia bertanya pada dirinya sendiri.
Anna teringat moment kedekatannya bersama Kiandra, serta betapa pria itu terlihat sangat perhatian meski dengan cara yang sedikit ekstrime.
Dengan posisinya sebagai pewaris tunggal kerajaan bisnis Marthadinata-Sanjaya Groub, mungkin saja dia bisa membantuku. Papa juga dekat dengan Mr Andreas, jadi pasti semua bisa teratasi. Lalu setelah sekian lama aku bisa pulang ke Kelantan. Aku bisa pulang....?
Anna berangan-angan akan rumah yang sangat dia rindukan.
Perlahan ia mengangkat muka, dan mendapati Kiandra masih memandang dirinya dengan mimik angker.
Tapi... pasti dia menginginkan....
Anna kembali mengigit bibir bawahnya.
Hatinya resah setiap kali mengingat ciumana penuh hasrat dari pria itu. Jujur Anna sempat terbawa suasana, tapi kemudian luka batinnya menutup semua, hingga hanya hina yang tersisa.
"To, tolong...jangan cium saya..." cicit Anna setelah beberapa menit tenggelam dalam masa lalu.
Apa dia bilang?
kedua alis tebal Kiandra saling bertaut. Ia tatap wanita yang kini merunduk sambil menautkan jari-jari tangannya di pangkuan.
Kenapa malah ngomong ke arah situ? Apa aku ada tampang c*bul? Harusnya dia tahu tadi itu cuma bercanda!
Kiandra tak habis pikir.
"Saya akan jujur. Ta, tapi... " Anna berkata ragu.
pungkas Kiandra emosi, sebelum Anna menyelesaikan ucapan.
Pria itu sudah keburu kesal dengan sikap Anna yang tak mengerti tentang perasaannya. Tentang bagaimana dia harus menurunkan ego nya yang maha tinggi, hanya untuk menemui dan mendekatinya seperti ini.
"Dengar ya, aku ini hampir tak pernah memberi hadiah kepada seseorang, kecuali ibu dan Kirana." Kiandra berkata tegas.
Kini giliran Anna yang melongo tak paham apa maksud Kiandra tiba-tiba bicara seperti itu.
"Aku tak peduli kau siapa." ujarnya kemudian.
Anna tertegun.
"Standarku bukan darimana asalnya. Tapi brain, behavior dan innerbeauty." kening pria itu sedikit berkerut. "Yaah...walaupun dari tiga hal tersebut kau masih di bawah standar. Tetapi.. berhubung kau agak mirip orang yang aku sayangi, makanya...." ia melirik Anna dengan ekor mata.
aku jadi sayang dan tak mempermasalahkan hal itu.
Kiandra berdecak kesal.
Kedua pipi Anna merona, jantungnya kini tak lagi berdetak was-was. Tetapi, berdebar lembut seperti sengatan listrik yang membuat hatinya ikut merasakan sensasi yang beberapa kali sudah ia rasakan ketika bersama pria itu.
Namun, bisikan mesra Rico di telinga, kemudian merambat ke leher dan terus turun ke bawah, membuat Anna tersadar, bahwa ia tidak akan pernah layak untuk lelaki hebat dari keluarga Marthadinata tersebut.
"Loh? Kenapa malah menangis?" Kiandra kaget.
Anna kian tertunduk seiring air mata nya yang bercucuran membasahi pipi. Seandainya dulu ia tak sebodoh itu, pastilah sekarang masih hidup nyaman dan bahagia di sisi keluarganya.
"Tolong jangan membuat saya besar kepala.." Anna berkata di sela tangis.
"Hahh?" Kiandra tak mengerti.
Anna usap pipinya yang basah berkali-kali. "Saya hanya orang biasa... dengan di tolong seperti ini saja, saya sudah merasa menyusahkan semua orang di rumah ini... Apa lagi kalau sampai mereka tahu.. anda... anda..."
"Kau ini ngomong apa?" Kiandra mulai hilang sabar, walau sebenarnya ia tak pernah tega melihat wanita di sampingnya itu menangis.
"Saya... tidak bisa memberikan apa yang anda mau." Anna memberanikan diri untuk menatap.
"Yang aku mau?" kerutan di dahi Kiandra makin dalam.
"Saya..."
"Kian?" mendadak Kirana muncul di ambang pintu dengan plastik besar berisi baju lamanya yang hendak dia berikan kepada Anna.
Kedua bola mata wanita berusia lima puluh tahun yang berwarna sama dengan adiknya itu membelalak melihat keduanya.
Anna langsung bangkit dari duduk. Ia hendak menjelaskan, tapi Kirana lebih fokus kepada adiknya.
Wanita itu berjalan cepat ke arah Kiandra. "Kenapa malam-malam seperti ini kau ada di kamar Delana?" dari pada bertanya, nada bicara Kirana lebih ke menuduh.
Kiandra berdiri ketika kakaknya itu sudah berada tepat di hadapannya. Tapi, dia malah melengos tanpa berniat menjawab.
"Kau apakan dia sampai menangis?" Kirana berpaling sebentar kepada Anna, lalu kembali bertanya pada Kiandra.
"Kalau aku jawab, apa kau percaya?" adiknya yang berperawakan lebih jangkung itu balik bertanya.
Muka Kirana langsung masam. "Aku adukan ke ibu." ia berujar.
Anna yang mendengar hal itu terkejut. Ia hendak mencegah Kirana pergi, tetapi Kiandra lebih dulu bereaksi.
"Memangnya kenapa?" ucapnya menghentikan langkah Kirana. "Kau saja boleh berbuat sesuka hati. Kenapa aku tidak?"
Kirana berbalik. "Kau mau menyamakan perbuatan tidak sopanmu ini, dengan aku dan Dave?" muka wanita itu sudah merah padam.
"Perbuatan tidak sopanku?" Kiandra terkekeh. "Kau bahkan tak tahu apa yang terjadi." seketika raut Kiandra berubah sinis.
"Kau ini semakin kurang ajar!" Kirana geram. Ia benci jika adiknya itu selalu menyinggung masa lalunya bersama sang suami.
"Katakan itu pada Dave, sialan!" umpat Kiandra tak kalah emosi.
PLAAKK!
Anna menutup mulut dengan kedua tangan, ketika tanpa di duga Kirana sudah melayangkan tamparan ke pipi Kiandra.
"Ibu memang terlalu memanjakanmu!" umpatnya kemudian.
Kedua tangan Kiandra terkepal. Ia tak merasa sakit di pipi kanannya yang memerah, tapi sakit pada harga diri yang jatuh. Tanpa berkata apa-apa, ia segera melangkah meninggalkan ruangan.