Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
RICO



Rico membuka selimut putih yang menutupi tubuhnya, kemudian menoleh ke arah Radha yang masih tertidur di samping.


Hari telah larut dan beberapa jam lagi pagi menjelang. Tapi, ia sama sekali belum bisa tidur.


Di keremangan kamar, mata Rico nyalang mengingat kejadian tadi siang. Ketika Anna tiba-tiba jatuh di samping mejanya dan pandangan mereka bertemu.


Aku yakin itu Delana. Tapi kenapa penampilannya berbeda sekali?


Rico berkata dalam hati.


Ia pejamkan mata sesaat, pusing memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.


Bagaimana kalau benar itu Delana? dan dia bersama anggota keluarga Marthadinata...?


Kening Rico berkerut. Walau tak menyukai sikap Kiandra, ia tak mau bermasalah dengan keluarga itu. Terlalu berbahaya untuk sesuatu yang sedang ia rintis.


Delana..


Tanpa sadar Rico menghela nafas.


Dia masih menyimpan sosok itu jauh di dalam relung hati. Bagaimanapun, karena Delana lah dia bisa menjadi Rico yang sekarang.


Seharusnya dia berterima kasih dengan tetap mendampingi dan menyayangi gadis itu.


Namun, ego nya terlalu tinggi dan ia tak puas dengan apa yang sudah di genggam.


"Rico, aku baru saja belajar membuat kue. Kau coba ya?"


dengan raut berseri-seri, wanita mirip Anna itu menyuapkan potongan kue ke mulutnya.


Brownis pahit, karena terlalu banyak cokelat dan gosong pada bagian pinggir. Tapi, terasa begitu manis karena senyumnya yang secerah matahari.


Gesekan pada selimut ketika kedua kaki-nya ia turunkan dari ranjang, membuat Radha mengeliat dan berbalik membelakangi.


Rico diam tak bergerak, agar Radha tak menyadari jika ia masih terjaga.


Selimut yang tersibak memperlihatkan punggung mulus dari wanita yang beberapa waktu lalu telah ia nikmati berkali-kali.


Tak ada perasaan apapun yang tertinggal setelah pergumulan mereka yang hebat.


Rico memalingkan muka, lalu perlahan turun dari ranjang dan meraih celana miliknya yang terjatuh di lantai.


Setelah memakai celana tersebut, ia keluar dari kamar dan membuka pintu kulkas untuk mengambil minuman dingin.


Rumah mewah di lingkungan pusat kota ini begitu sunyi, membuat hatinya yang sepi makin terasa hampa.


Pria bercelana pendek dan bertelanjang dada itu menelusuri ruangan yang gelap karena lampu yang di matikan.


Pertemuan dengan gadis mirip masa lalu-nya itu menganggu pikiran.


Rico teguk beer bintang kaleng, setelah duduk di sofa panjang ruang tengah.


Hening, tak ada orang lain.


Malam selalu membuat perasaan siapapun lebih sensitive, tak terkecuali hati Rico yang selama ini hanya di penuhi ambisi.


"Rico..."


Cara memanggil wanita itu lembut dan terasa menyenangkan di telingan-nya yang seumur hidup hanya mengenal bentakan dan cacian.


"Papa setuju mengangkatmu menjadi Manager."


Rico tersenyum.


Masih sangat ia ingat ekspresi bahagia yang melebihi kebahagiaannya sendiri waktu itu.


Namun, seiring waktu, jabatan sebagai salah satu Manager cabang mulai terasa biasa bagi dirinya yang selalu ingin lebih dan lebih.


Rico merebahkan punggung ke sofa, lalu menegadahkan kepala.


"Delana.." panggil-nya pada langit-langit rumah yang gelap.


Di hidupnya yang penuh kepalsuan, hanya Delana lah yang nyata. Wanita itu memujanya tanpa pamrih, menatapnya dengan tulus dan memberikan semua yang dia miliki karena cinta dan percaya.


"Percaya..." Rico menarik ujung bibir, membuat wajahnya terlihat sinis.


"Aku hanya memperlihatkan sertifikat itu padamu. Tapi kenapa perusahaan saingan Papa bisa memilikinya?"


Masih jelas teringat, syok nya wajah wanita itu ketika mendapat kabar bahwa setengah aset milik keluarganya telah berpindah tangan.


Maafkan aku Delana..


ucap Rico dalam hati.


Mungkin aku jahat padamu. Tapi kau tak tahu seberapa jahat dunia kepadaku.


Rico menegakkan tubuh, lalu mengambil beer bintangnya yang tak lagi dingin dan meminum sampai habis.


"Rico?" suara seorang wanita terdengar, membuat Rico menoleh ke sumber suara.


Radha telah terbangun dan kini berdiri tak jauh darinya.


"Kau sudah bangun?" tanya-nya sembari menguap.


"Iya, aku terbangun dan tak bisa tidur lagi." jawab Rico bohong.


Wanita berambut panjang tergerai dengan lingerie tembus pandang warna merah itu berjalan ke arahnya.


"Matahari saja belum muncul. Apa yang sedang kau pikirkan? " ia duduk di pangkuan Rico dan begelayut manja.


"Memikirkanmu." Rico terkekeh, kemudian memeluk pinggang ramping wanita tersebut.


"Iihhh...nakal." Radha mencubit pelan dada bidang Rico yang terbuka, saat pria tersebut mulai menelusupkan jari tangannya ke sela paha.


Tak butuh waktu lama, mereka telah larut dalam percintaan yang mengairahkan di atas sofa ruang tengah.


Keadaan rumah yang hanya ada mereka, membuat pasangan tersebut leluasa melakukan apapun.


"...Riico.." Radha menagkup pipi pria yang kini menindih dan memberinya kenikmatan.


Meski keadaan gelap, tapi ia masih bisa melihat betapa rupawan pria yang kini tengah menguasai tubuhnya itu.


Radha kalungkan kedua lengannya pada pundak pria tersebut, lalu mulai mengimbangi permainanya.


Bagi sebagian orang, berhubungan badan sebelum menikah adalah tabu.


Tetapi, bagi orang yang sudah terbiasa akan dosa, itu hanya perkara sepele yang tak perlu di ributkan. Lucu, membuat orang mengelus dada.


.


Anna tersentak dari tidur. Nafasnya memburu dan keringat dingin mengucur membasahi rambut serta kening.


Air matanya jatuh satu persatu. Dia mimpi buruk lagi.


Ia mencoba mengatur nafas, sembari memegangi dadanya yang berdebar kencang.


"Kau wangi..., seperti bau uang."


Bisikan Rico di mimpinya terlintas.


Anna menutup mulut agar suara tangisnya tak terdengar.


"Dari awal kau hanya dimanfaatkan oleh bajingan itu!"


"Perempuan bodoh!"


"Apa yang kau lakukan pada keluargamu?!"


"Kita harus menanggung kerugian yang kau timbulkan!"


"Para pegawai berdemo meminta hak gaji dan tunjangan yang belum terbayarkan."


"Musibah datang karena aib di keluarga Tengku yang mestinya menjadi teladan."


"Mama pingsan!"


"Mamaa..!"


"Maammaa...!"


Anan meringkuk, seraya menutup kedua telinga dengan tangan.


Mereka mengeroyok dengan kata-kata menyakitkan dan menyalahkan-nya.


Anna menangis sembari menahan suara, sebab Nisa tidur di ruang samping yang hanya di sekat kayu triplek.


Maaf...maaf kan aku yang cuma bisa melarikan diri...


batin Anna merana.


Dia sama sekali tak menduga, nasibnya akan begini menyedihkan. Tak hanya gagal sebagai seorang anak. Ia juga gagal dalam hidup.


"Will you marry me?" Rico bersimpuh di hadapannya, lalu membuka kotak kecil berwarna merah.


Sebuah cincin berlian dengan ring emas putih. Nampak berkilauan tertimpa ribuan cahaya lilin yang di gunakan sebagai dekorasi pelengkap lamaran malam itu.


Anna terkesima sampai meneteskan air mata.


"Yes, i will." ia menjawab gemetar. Bukan karena takut, tapi karena begitu bahagia.


Rico memeluk, kemudian mengendongnya. Mereka berputar-putar sambil tertawa, seolah seluruh dunia milik berdua.


Kenangan terindah, sekaligus paling menyakitkan dalam hidup Anna.