Lies

Lies
Cara Untuk Melindungimu



Raya tidak tahu tentang hal itu. Wanita itu tidak ingat luka-luka yang pernah ia terima 12 tahun yang lalu dan bagaimana cara Karan untuk membalaskannya. Entah mengapa, setelah bertemu lagi sekarang, Raya justru dengan mudahnya melupakan hal itu. Karan tidak masalah seandainya Raya lupa dengan luka-luka yang selalu menghiasi tubuhnya. Tetapi yang paling menyakitkan bagi Karan adalah Raya lupa tentang dirinya. Raya tidak pernah ingat bagaimana perasaan Karan padanya, begitu pun sebaliknya. Eksistensi Karan di kehidupan Raya seolah-olah tidak ada sama sekali.


Biarlah. Untuk sementara Karan akan tetap bersabar menghadapi istrinya itu. Ia tidak ingin bertindak gegabah sama sekali. Masa lalu mereka, dan kemarahan ini akan Karan simpan sendiri. Yang terpenting bagi Karan adalah membuat Raya kembali ingat akan dirinya. Cara apa pun itu akan Karan tempuh agar Raya bisa mengenang kembali masa-masa indah mereka di bangku SMA. Agar luka dan duka itu tidak hanya ditahan Karan seorang diri. Agar kebencian Karan terhadap wanita itu bisa berkurang. Agar semua orang bisa bahagia, meskipun Karan sendiri tidak tahu apa arti kebahagiaan itu sendiri.


Dengan langkah tegap Karan mendekati Raya yang duduk di atas lantai pesawat. Sudah lebih dari sepuluh menit wanita itu terperenyak di sana. Karan tidak ingin melihatnya lagi. “Berdirilah, duduk di mana saja asal jangan di lantai,” ucapnya. Lantai itu, meskipun merupakan lantai pesawat tetap saja dingin. Pendingin ruangan mereka diatur dalam suhu minimal karena Karan menyukai keadaan yang dingin. Masalahnya, pakaian yang dikenakan Raya tidak terlalu tebal sehingga wanita itu harus mencari tempat untuk menghangatkan tubuhnya.


Raya menatap Karan dengan nanar. Ia tidak pernah bisa mengerti jalan pikiran Karan. Mau dilihat dari mana pun sikap Karan benar-benar aneh. Baru beberapa menit yang lalu pria itu bak seorang monster kejam yang ingin menerkam siapa saja. Wajahnya begitu garang dan kemarahan tampak di wajahnya. Tetapi sekarang, hanya berjarak kurang lebih sepuluh menit, Karan sudah mengubah air mukanya seperti seorang suami yang begitu perhatian terhadap istrinya. Sisi Karan yang seperti apa yang sebenarnya harus Raya percayai? Yang mana kepribadian sesungguhnya dari pria itu?


“Kenapa kau selalu keras kepala, Raya? Tidak bisakah kau mendengarkanku sekali saja?” ungkap Karan begitu melihat tatapan kesal yang Raya lemparkan padanya.


“Mendengarkanmu? Sekali saja? Karan, aku selalu mendengarkanmu. Aku menuruti setiap perkataanmu tanpa mengeluh, termasuk semua perintah gilamu. Apa itu tidak cukup untukmu?” Raya menjawab dengan berapi-api. Baru saja emosinya sudah mereda, tetapi begitu melihat Karan berdiri di dekatnya dalam jarak satu meter sambil menatapnya dengan tatapan penuh kasih seperti itu, rasa marah Raya kembali meluap. Ia bukan seorang aktris dan mereka tidak sedang memerankan sebuah sinetron. Karan tidak boleh terus-terusan mempermainkannya dengan perubahan emosi yang begitu drastis seperti ini.


“Kalau begitu lakukan apa yang aku katakan tadi. Jangan duduk di atas lantai.”


“Kenapa? Sekarang kau sedang bertingkah seolah-olah kau sangat peduli terhadapku padahal selama ini kau memperlakukanku jauh lebih buruk dari seorang tahanan.”


Embusan kasar keluar dari mulut Karan. Pria itu mengatur napasnya terlebih dulu sebelum ia berjongkok di depan istrinya. “Dari dulu sampai sekarang, sedetik pun aku tidak pernah tidak peduli padamu, Raya. Aku sangat peduli. Itulah kenapa aku bertindak tegas kepadamu karena itu caraku untuk melindungimu.”


Raya tertawa keras. Ia tidak pernah mendengar bahwa melindungi seseorang adalah dengan cara menjadikannya tahanan rumah. Mengurungnya, membatasinya dari dunia luar bahkan mengatur setiap pergaulannya. Dibandingkan dengan perlindungan, Raya lebih suka menyebutnya sebagai penyiksaan. “Konyol sekali. Kau tidak melindungiku, tapi menyiksaku, Karan.”


“Oh ya? Jadi, seperti apa yang kau sebut sebagai perlindungan, hm? Apa dengan mengerahkan para penggemarmu untuk membenciku, begitu?”


“Kau tidak mengerti ‘kan? Begitu juga aku, Raya. Bagaimana kau bisa mengerti jika kau ada di posisiku? Aku mendapatkan informasi kalau teman akrabmu itu, si model berengsek itu tidak hanya mengawasi istriku dan meneleponnya saat aku tidak ada. Dia juga mengerahkan para penggemar istriku, mengompor-ngompori mereka agar membenciku dan menggerakkan mereka ke bandara. Asal kau tahu saja Raya, humas perusahaanku tidak sebesar itu hingga berhasil membawa para penggemarmu untuk menghadang kita di bandara. Itu bukan perbuatanku.”


Pernyataan itu sungguh mengejutkan Raya. Pasalnya Karan, seberapa bencinya pun terhadap Reagan, tidak akan mungkin menuduh Reagan melakukan sesuatu tanpa bukti. Sama seperti cara Karan mendapatkan informasi tentang Reagan yang mengawasi dan meneleponnya, pria itu juga pasti sudah mendapatkan bukti tentang Reagan yang mengerahkan para penggemar itu. “Kenapa dia melakukan itu?” ucap Raya bingung. Rasanya ia tidak punya masalah berat dengan Reagan hingga membuat pria itu ingin membalaskan dendam padanya. Baiklah, Karan mungkin punya. Apakah Reagan sudah tahu bahwa Karan pernah menjatuhkan kariernya beberapa minggu yang lalu? Apakah itu yang membuat Reagan membalas sampai seperti ini?


“Kau tidak mengerti ‘kan? Begitu juga aku, Raya. Aku sudah berusaha mencari alasannya sampai membuat kepalaku sakit. Tapi satu hal yang aku sadari. Dia menyukaimu. Pria berengsek itu berani menaruh hati pada istriku,” geram Karan kesal.


“Itu tidak mungkin. Kami hanya berteman selama ini.” Itulah yang Raya percayai selama ini, selama ia mengenal Reagan.


“Persetan dengan teman, Raya! Di dunia ini tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan yang tulus tanpa melibatkan perasaan. Terserah kau percaya atau tidak, tapi aku bisa membuktikan kalau yang aku katakan ini bukanlah omong kosong.”


Keadaan Raya sudah mulai melunak sekarang. Perasaan marahnya perlahan-lahan menurun, mungkin terganti dengan pikirannya yang kacau memikirkan alasan di balik perbuatan Reagan. Padahal Raya betul-betul menganggap Reagan sebagai rekan kerjanya dan teman terbaik di agensinya dulu. Tidak disangka Reagan akan menyerangnya seperti ini.


Di tengah pemikirannya itu, mendadak Raya berteriak, “Wah, apa yang kau lakukan, Karan? Turunkan aku!” Tubuhnya melayang di udara karena Karan mengangkatnya secara tiba-tiba.


“Karena kau tidak mau mendengarkan ucapanku, maka aku tidak punya pilihan selain memaksamu, Raya. Suka atau tidak, beginilah caraku melindungimu.” Karan hanya ingin menyadari bahwa ia tidak akan bisa menyakiti Raya. Sikapnya memang kasar, kepribadiannya memang terkadang berubah-ubah dan tak menentu. Tetapi sejak dulu, Karan tidak akan bisa melihat Raya terluka. Itulah sebabnya ia bisa melakukan apa saja untuk melindungi Raya, termasuk apa yang ia lakukan 12 tahun lalu. Semuanya hanya demi sang cinta pertama.


Karan menurunkan Raya di atas ranjang dengan pelan-penan, lalu menyelimuti tubuh istrinya itu karena ia merasakan bagaimana dinginnya kulit Raya ketika tidak sengaja bersentuhan dengan kulitnya. “Aku mungkin tidak seperti pria lain di luar sana, Raya. Tapi yang harus kau ketahui adalah hanya aku satu-satunya pria yang rela melakukan apa pun demi dirimu, meskipun aku harus menyerahkan nyawaku sendiri. Dan itu tidak akan pernah sanggup dilakukan oleh pria berengsek itu, atau pria-pria mana pun yang ada di sekitarmu,” tekan Karan sambil menatap tajam ke arah istrinya.