Lies

Lies
Batasan



Karan menjemput Raya tepat pukul lima sore. Sebelum matahari terbenam, mobil mewah asal Jerman itu sudah ada di ruang parkir bawah tanah gedung apartemen. Karan tidak bisa menunggu di depan, ada banyak wartawan di sana. Kejadian kemarin saja sudah menyulitkannya dan Raya, pria itu tidak mau menambah masalah dengan melibatkan para awak media tersebut. Sebab, Karan punya masalah lain. Masalah yang lebih serius yang tentu saja menyangkut tentang sang istri.


Di dalam mobil itu Karan menyenderkan kepalanya dengan tangan menggenggam sebuah ponsel yang layarnya masih menyala. Di layar itu terdapat gambar Raya dan juga Reagan. Mereka terlihat mesra sekali. Karan tahu ini hanya sebatas akting, semua aktor di muka bumi pun melakukan yang sama. Terlebih kedua orang itu tidak berdua saja, ada belasan bahkan puluhan staf berada di dalam apartemen. Jadi, tidak ada alasan sebenarnya yang menyulut api amarah Karan.


Akan tetapi, Karan merasa kesal. Foto-foto yang dikirimkan oleh mata-mata yang ditugaskan Ian itu menunjukkan sisi lain yang tidak pernah Karan lihat sebelumnya. Sisi Raya yang begitu ceria. Raya yang tersenyum lepas tanpa beban. Raya yang sangat akrab dengan Reagan. Lagi-lagi ini memang hanya akting. Raya melakukannya persis seperti yang ada di naskah dan instruksi dari sutradara dan penulis. Hanya saja, istrinya itu tidak pernah bersikap seperti itu saat berada di depan Karan. Ia lebih cenderung berusaha sebagai wanita penurut yang tidak punya kehendak sama sekali. Memang tidak buruk, malah harusnya Karan menyukai itu. Sayangnya, sisi Raya yang bahagia inilah yang mengusik Karan.


“Pak, ini permen mint untuk Anda. Sebaiknya Anda menyegarkan mulut sebelum Ibu Raya datang.” Ian menyerahkan satu kantung permen mint kepada Karan yang ia beli dari minimarket beberapa saat yang lalu. Penyebabnya karena untuk pertama kalinya setelah hampir sepuluh hari, Karan merokok. Pria itu menghabiskan tiga batang produk tembakau itu di ruang kerjanya di kantor tepat beberapa menit setelah mendapatkan foto-foto kedekatan Raya dan Reagan.


Karan cemburu, dadanya berdebar karena rasa marah. Hampir saja seluruh lemari kaca di ruangan kerja itu porak poranda dibuatnya. Beruntung Ian cepat-cepat masuk setelah mendengar bunyi pecahan kaca dari gelas yang dilemparkan Karan. Inilah sebabnya ruangan Karan berada di lantai paling utama gedung di mana hanya ruangannya dan ruangan Ian beserta sang sekretaris saja yang ada di sana. Kalau tidak, kabar bahwa Karan adalah pria baik hati dan ramah akan dianggap hoaks oleh masyarakat karena pada kenyataannya, Karan sama sekali tidak seperti itu.


Karan mengambil bungkus permen itu dan memakan salah satunya. Ia juga mengatur napasnya agar emosinya tidak meluap lagi. Karan begitu ingin hubungannya berjalan lancar, jadi ia hanya perlu sedikit mengalah. Misalnya dengan tidak menunjukkan betapa cemburunya ia atas kedekatan Raya dan Reagan. Meskipun itu sulit, meskipun itu sama sekali bukan caranya. Hanya demi Raya, demi sang istri Karan rela menjadi pribadi yang bukan dirinya sendiri.


Karan menggeram lagi sambil mengacak-acak rambutnya. “Aku ingin mengurungnya, Ian. Aku ingin mematahkan kakinya agar tidak lari dariku. Kenapa dia sangat suka melakukan ini padahal aku sudah berbaik hati padanya? Kenapa dia malah mendekati pria lain?”


Ian benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Tingkat posesif Karan sudah pada tahap yang memprihatinkan, mengenaskan sekaligus mengerikan. Sudah pasti penyebabnya karena pengalaman di masa lalu ketika Raya meninggalkan Karan begitu saja. Meninggalkan pria itu tanpa mau berbalik lagi padanya. Raya bahkan melimpahkan semua kesalahan pada Karan hingga pria itu menanggung segalanya sendirian dan menderita sampai sekarang. Andai saat itu sekali saja Raya mau datang menemuinya atau sekadar mengirimkan surat padanya, Karan tidak akan segila ini. Gila karena benci, gila karena cinta, dan gila karena takut kehilangan sosok wanita itu.


“Itu hanya akting, Pak. Saya yakin Ibu Raya tidak akan meninggalkan Anda,” cetus Ian mencoba menenangkan. Lagi pula, ia tidak habis pikir mengapa Karan selalu mengira Raya akan meninggalkannya? Selain sikapnya yang kasar, Karan adalah sosok pria yang sempurna. Wajah tampan, pekerjaan pun mapan. Terlebih Karan adalah pria yang dapat menyenangkan perempuan karena postur tubuhnya yang proporsional dan menggoda. Ian yakin jika tidak menikah dengan sang super model, Karan bisa mendapatkan wanita mana pun di muka bumi ini.


Karan menggeram lagi. “Aku tahu. Aku tidak bodoh, Ian. Aku tahu istriku hanya berakting,” cecarnya. Ya, ia memang tidak bodoh, tapi ia buta. Lebih tepatnya dibutakan oleh kecemburuan hingga tidak mau menerima apa pun yang benar. Baginya, semua yang tampak di depan mata adalah kebenaran. Masalahnya, Raya dan Reagan tampak begitu mesra. Dan kemesraan itu tidak pernah ia rasakan sebelumnya bersama sang istri.


“Pak, Ibu datang!” seru Ian tiba-tiba. Napasnya berembus karena merasa lega. Untung saja sang majikan sedang berjalan menghampiri mereka. Kalau tidak, Ian akan merasa sangat kebingungan menghadapi sikap uring-uringan Karan.


Dengan sigap Ian turun dari mobil dan membuka pintu untuk Raya. “Selamat sore Bu,” sapanya sopan.


Wajah Raya yang awalnya cemberut berubah seketika. Ia tersenyum dan balas menyapa. “Sore, terima kasih Ian,” katanya berterima kasih atas hal-hal kecil yang orang-orang sekitar lakukan untuknya. Ciri khas seorang Raya Drisana yang baik hati, peduli dan juga ramah. Tentu ini dalam konteks sesungguhnya yang berbanding terbalik dari Karan yang terkesan hanya sebuah pencitraan belaka.


Raya masuk ke mobil. Ia tidak mengatakan apa-apa sampai Karan membuka suara. “Selamat datang Sayang,” sapa sang suami. Pria itu mendekat, berniat untuk mencium pipi Raya. Namun, ketika bibirnya sudah menyentuh permukaan pipi sang istri, Raya memalingkan wajahnya dan menjauhi Karan. Bahkan, ia tidak menengok sama sekali ke arah sang suami.


Jelas Karan bingung dan marah karena penolakan itu. Tidak ada yang salah dengannya, mengapa Raya menolak ciumannya? Dan perlu dicatat, Raya melakukannya dua kali. Wanita itu juga pernah menolak Karan beberapa saat yang lalu ketika acara makan malam bersama rekan kerja Raya. Saat itu anggap saja Karan bersalah karena memaksa Raya, tapi sekarang, apa salahnya?


“Kenapa? Apa ada masalah di lokasi syuting?” tanya Karan sambil menyentuh tangan Raya. Ia terlihat begitu berusaha mengontrol emosinya karena tampak beberapa kali mengatur sistem pernapasannya. Agar ia tidak kelepasan hingga melakukan hal-hal kasar kepada Raya. Seperti sebelumnya, Karan ingin semua berjalan lancar termasuk hubungannya. Itu sebabnya sampai sekarang masalah kedekatan Reagan dan sang istri masih belum dibahas. Karan tidak ingin semuanya bertambah rumit.


“Tidak, aku hanya lelah,” sahut Raya singkat. Ia memandang ke depan, ke arah Ian yang sudah berada di dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. “Ian, bisakah kau menjalankan mobilnya sekarang?”


Ian tidak menjawab. Ia melirik ke arah Karan terlebih dahulu untuk mendapatkan persetujuan. Setelah bosnya itu menganggukkan kepalanya, barulah Ian membalas, “Baik Bu.” Ia langsung menyalakan mesin mobil dan membawa mobil asal Jerman itu melintas keluar gedung.


“Raya, jangan diamkan aku. Katakan jika terjadi sesuatu padamu,” tukas Karan, tidak bisa menahan rasa penasarannya. “Apa mereka melakukan hal yang tidak kau sukai? Mereka mengerjaimu lagi?”


Mata Raya terbelalak. “Lagi? Apa maksudmu lagi?”


“Maksudku, apa mereka lagi-lagi bergosip tentangmu? Seperti yang terjadi di supermarket waktu itu.”


“Tidak. Sama sekali tidak,” balas Raya. Tak lama kemudian, ia pun tersentak. “Bagaimana kau tahu mereka bergosip tentangku waktu itu?”


Kali ini Karanlah yang tampak terkejut dan sedikit gugup. “Ya, aku tahu begitu saja. Kau tahulah supermarket itu milikku. Sudah pasti semua informasi tentang kejadian yang ada di sana sampai ke telingaku.”


Masih terdengar masuk akal bagi Raya meskipun itu sedikit aneh. “Tidak ada yang bergosip tentangku. Kalaupun ada, aku ingin kau tidak ikut campur urusanku,” tanggap Raya dengan ketus.


Benar dugaan Karan. Ada yang terjadi selama proses syuting berlangsung. Raya terlihat begitu marah. Sang istri tidak pernah semarah ini dalam sepuluh hari belakangan. “Jadi, kenapa kau memasang wajah cemberut seperti ini, Sayang?” Karan menyentuh dagu Raya yang lagi-lagi ditepis oleh wanita itu. Sontak Karan menggeram marah. Ia sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Raya yang aneh ini. “Raya!”


“Apa?” balas Raya tak kala ketus.


“Lihat aku!” Karan akhirnya melakukan hal itu, menarik dagu Raya dengan kasar agar menoleh ke arahnya. “Apa yang terjadi padamu? Kalau kau tidak mau menjawabnya lagi aku akan ...” Karan tersentak, lidahnya kelu saat kata itu nyaris terucap di bibirnya. Ia akan memukul Raya. Itulah yang hendak ia katakan dan beruntung ia tidak melepaskan kalimat itu. “... aku akan marah padamu,” tambah Karan cepat-cepat memperbaiki kalimatnya.


Alih-alih menjawab, Raya justru memberikan satu pertanyaan yang menohok sang suami. “Karan, apa kau merokok lagi?”


Kedua bola mata Karan nyaris keluar saking terkejutnya pria itu. “Ya?”


“Aku tanya padamu, apa kau hari ini merokok? Di mana kau merokok? Di sini? Atau di kantormu?” Raya menepis tangan Karan dan memandangi sekitar mobil pria itu. Ia tidak menemukan bekas rokok maupun abunya di sana. Artinya Karan tidak merokok di dalam mobil. “Ah, rupanya kau merokok di kantormu,” celetuknya seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ian yang tidak sengaja mendengar percakapan Karan dan Raya merasa tertekan. Atmosfer di ruangan itu seperti baru saja terkuras. Ketegangan begitu kentara, membuat Ian merasa gugup tanpa sebab. Padahal ia tidak salah apa pun dalam kejadian ini. Bukan ia yang memaksa Karan untuk merokok. Bukan ia pula yang membelikan rokok untuk sang majikan. Pria itu mendapatkannya dari petugas kebersihan atas perintah pribadinya sendiri.


“Ya, aku merokok. Memang apa salahnya?” ujar Karan yang tidak bisa lagi mengelak atau berkata bohong.


“Kau benar. Itu tidak salah. Kau sama sekali tidak salah. Aku hanya penasaran di mana janji yang pernah kau ucapkan padaku beberapa hari yang lalu? Janji kalau kau berhenti merokok.”


“Ini tidak ada hubungannya dengan janji! Aku merokok atau tidak, bukan urusanmu.”


Sekali lagi Raya mengangguk. “Benar, bukan urusanku. Mungkin mulai sekarang kita harus memberikan batas yang jelas antara mana yang menjadi urusan kita bersama dan mana urusan kita secara pribadi. Dengan begitu aku tidak akan melewati batasanku dan kau juga tidak boleh melewati batasmu," jelas wanita itu yang secara tiba-tiba membicarakan tentang batasan antara mereka berdua, yang tidak pernah tercetus sebelumnya.