
Di atas ketinggian lebih dari 35 ribu kaki dari permukaan daratan, Karan memeluk Raya dengan erat. Ketakutannya akan ketinggian tidak muncul lagi, malah perasaan lebih besar dari itu yang muncul. Perasaan ingin memakan istrinya sekarang juga. Tentu bukan memakan dalam konteks sebenarnya, melainkan konteks yang lebih intim. Raya benar-benar membuatnya gila bahkan hanya dengan mencium aroma tubuhnya saja. Aroma vanila yang manis dan menggoda.
Bercinta di atas langit.
Raya tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Ia tidak seliar dan semesum itu. Meskipun, sekali lagi, meskipun ia menyukai Karan secara fisik, termasuk cara laki-laki itu memperlakukannya, namun kewarasannya masih terjaga. Memang benar pesawat yang mereka tumpangi merupakan pesawat pribadi, bukan pesawat komersial yang bisa dinaiki oleh sembarang orang. Tetapi tetap saja, ada orang lain selain mereka di sana. Selain pilot dan asistennya, pesawat itu juga memiliki pramugari pribadi. Belum lagi beberapa pengawal dan pelayan yang ikut serta dalam keberangkatan ini. Walaupun para anak buah Karan itu berada di tempat lain di pesawat itu, bukan ruangan yang sama dengan yang ditempati Karan dan Raya sekarang. Yang artinya, hanya Karan dan Rayalah yang berada di sana.
Raya sudah melihat sedikit pembukuan perusahaan, tidak terlalu banyak karena fungsinya di Reviano Group hanya seorang direktur yayasan. Sama sekali tidak berpengaruh terhadap kemajuan perusahaan. Raya juga tidak pernah memata-matai suaminya atau mencuri data-data perusahaan yang dipegang oleh laki-laki itu. Padahal seandainya Raya mau melakukannya, dengan mudah ia akan mendapatkannya. Tidak ada larangan bagi Raya keluar masuk kamar sang suami. Begitu pun dalam mengakses ponsel atau laptop milik Karan. Karena pada beberapa kesempatan, laki-laki itu sering menitipkan barang-barangnya pada Raya selagi ia pergi ke toilet. Raya bukanlah Karan yang melintasi batas privasi sekalipun ia adalah istri sah dari sang CEO.
Satu hal yang Raya ketahui tentang perusahaan Reviano Group adalah alasan mereka memakai pesawat pribadi. Mereka, terutama para pemimpin perusahaan sering kali bolak-balik ke luar negeri. Apalagi keluarga Reviano. Ayah dan ibu Karan merupakan orang-orang selain pemimpin perusahaan yang aktif memakai kendaraan itu. Alasannya karena orang tua Karan itu sering berlibur. Penggunaan inventaris perusahaan tidak menyalahi aturan sebab sampai detik ini dan akan berlaku sampai sang ayah mati, Reviano Group tetaplah milik ayah dan ibu Karan. Mereka merupakan pemegang saham tertinggi perusahaan. Bahkan jabatan ayah Karan saja masih seorang presiden direktur. Itulah sebabnya beberapa keputusan yang hendak Karan ambil, harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari sang ayah.
Nikmat sekali bukan hidup seperti Karan? Seorang anak konglomerat yang dengan hitungan detik bisa mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Sesuatu yang membuat mayoritas masyarakat yang hidup dalam lingkup kemiskinan merasa iri. Walaupun tentu saja Karan tidak hanya menjadi anak konglomerat manja yang hanya menghambur-hamburkan uang orang tuanya. Pria itu bekerja keras memakmurkan Reviano Group dan bisa membuat perusahaannya sendiri tanpa campur tangan orang tuanya.
Masalahnya, Raya tidak melihat kebahagiaan di hidup Karan. Empat bulan mereka bersama, Raya selalu melihat kesedihan pada sorot mata laki-laki itu. Juga rasa kesepian yang besar. Ia tidak cukup senang dengan apa yang ia terima saat ini. Atau bisa dikatakan, Karan tidak tahu bagaimana bisa menggunakan uang miliknya untuk bersenang-senang. Sepanjang hari ia bekerja seolah-olah sedang dikejar waktu. Tidak ada waktu baginya untuk beristirahat. Saat menikah pun seperti itu. Karan lebih menghabiskan sebagian besar harinya di kantor dan selalu pulang larut malam. Entah karena laki-laki itu terlalu mencintai pekerjaannya atau mungkin ia terlalu membenci kehadiran Raya di rumahnya.
“Kenapa kau diam, Sayang?” celetuk Karan ketika melihat istrinya yang tampak begong. Wanita itu bahkan tidak mendengarkan apa yang baru saja ia sampaikan, terutama undangan untuk menghabiskan hari-hari yang begitu panas di dalam pesawat. Raya seakan tengah memikirkan hal lain, yang itu membuat Karan marah. Bagaimana bisa istrinya itu memikirkan hal lain saat bersamanya? Sepertinya Karan lengah. Ia harus segera memberikan pelajaran kepada sang istri. “Sayang, kalau kau tidak menjawab aku akan merobek dresmu sekarang juga,” ancam Karan tak main-main. Ia juga sudah bersiap melakukan itu dengan meletakkan tangannya di bahu Raya. Dalam sekejap saja, Karan pastikan sudah menanggalkan dres biru milik sang istri.
Ancaman itu tampaknya berhasil. Raya pun sadar dari lamunannya. Ia bersuara, “Apa yang kau katakan tadi?” Raya tampak bingung bagaimana ia menanggapinya.
“Raya!” geram Karan. Ia mencium bibir Raya dengan kasar sampai istrinya itu tidak bisa bernapas, lalu melepaskannya dengan tiba-tiba. “Berani sekali kau mengabaikanku, hm? Apa kau benar-benar suka mendapatkan hukuman dariku?” Karan tidak suka diabaikan oleh istrinya, terlebih wanita itu sudah melakukannya lebih dari satu kali.
Raya bergidik ngeri. Hukuman. Satu kata yang paling ia benci dari Karan. Sudah banyak yang Karan lakukan padanya atas nama hukuman. Ia kehilangan pekerjaannya, terkurung selama 24 jam di rumah ataupun di kamar, tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar karena ponsel dan laptopnya disita, dan lebih parahnya Karan pun memberikan hukuman pada Raya di atas ranjang. Hukuman yang terkesan sangat kasar yang tentu saja tidak pernah terbayangkan oleh Raya sebelumnya.
“Ti-tidak. Aku tidak mengabaikanmu. Aku hanya berpikir tentang sesuatu,” balas Raya sedikit takut.
Karan berusaha menurunkan nada suaranya saat merasakan tubuh sang istri yang gemetar dalam dekapannya. “Apa?”
“Aku berpikir seberapa kaya keluargamu sampai punya pesawat pribadi semewah ini,” kata Raya. Ia berbicara jujur karena memang itulah yang sempat ia pikirkan tadi. Tetapi ia sengaja mengambil topik kekayaan untuk mengalihkan perhatian Karan karena inilah topik yang disukai oleh suaminya itu. Kekayaan dan popularitas. Karan suka saat harta miliknya disinggung oleh Raya. Karena pria itu sering memamerkannya seolah-olah menegaskan bahwa tujuan Raya menikahinya hanyalah demi kekayaannya.
“Keluargaku memang kaya, tapi aku juga tidak kalah kaya dari keluargaku, Sayang. Sekalipun suatu hari Mama dan Papa membuangku karena tidak membutuhkanku, aku akan tetap bisa menghidupimu dengan limpahan kekayaan. Jadi, kau tidak perlu khawatir suatu hari akan jatuh miskin. Selama kau tidak meninggalkanku, maka hidup glamormu akan terjamin.”
Kalimat itu memang dilontarkan dengan sangat angkuh oleh Karan, tetapi Raya terlihat sedih mendengarnya. Pria itu menyebutkan kata ‘membuang’ seolah-olah ia adalah benda yang bisa disingkirkan kapan saja oleh orang tuanya. Padahal Karan tidak diperlakukan buruk oleh mereka. Dari pengamatan Raya, kedua orang itu malah terlihat sangat menyayangi putra semata wayangnya itu. Apakah Raya salah? Mungkinkah selama ini mereka berpura-pura padanya sama seperti Karan yang berpura-pura menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya?
Karan menggeleng cepat. “Tidak, aku tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Mereka menyayangiku dan aku pun sama. Tapi kita tidak bisa memikirkan masa depan, bukan?” Pria itu mengamati raut wajah penuh kecurigaan yang Raya tampilkan. Sepertinya untuk kesekian kalinya Karan telah salah mengambil topik pembicaraan. “Maksudku, membuang dari perusahaan, Sayang. Kau tahu sampai detik ini Papa adalah pemegang saham mayoritas ‘kan? Sedangkan aku hanya punya 10 persen saham saja. Sangat jauh dari kata layak untuk mempertahankan posisiku sebagai seorang pemimpin. Entah kapan Papa akan menggantikanku dari perusahaan dengan orang yang lebih kompeten.”
“Tapi menurutku, kau sudah cukup bagus, Karan. Penjualan produk-produk perusahaan juga sangat tinggi selama kau menjadi pemimpin Reviano Group. Ya, itu hanya pengamatanku sebagai orang yang tidak mengenal bisnis sama sekali.”
Senyuman merekah di bibir tebal Karan. Ia tidak tahu ucapan Raya hanya sekadar basa basi atau ucapan tulus, tapi setidaknya ia merasa sangat terhibur mendengar ucapan tersebut. “Aku senang karena kau membelaku, Sayang,” ungkapnya jujur. “Jadi, bisakah kita melanjutkan apa yang sempat tertunda barusan, Sayang? Aku benar-benar serius ingin melakukannya di dalam pesawat.” Karan masih belum melupakan tawarannya. Malah percakapan ringan yang baru terjadi menambah keinginannya itu.
Raya cepat-cepat menolak. “Tidak, aku tidak mau. Sekarang, lepaskan aku! Biarkan aku duduk di kursiku lagi.”
“Ssst, diamlah, atau kau akan membangunkannya,” seru Karan sambil menahan pinggul Raya agar tidak bergerak sembarangan di atas pahanya. Sebab sekali saja Raya melakukan gerakan yang salah, Karan akan meneriaki nama Raya karena bokong wanita itu menyentuh inti miliknya yang menengang.
Mengerti apa yang dimaksudkan suaminya, Raya pun berhenti bergerak. Selain membenamkan wajah di bahunya, Karan tidak melakukan apa-apa. Pria itu hanya mendekapnya sambil memejamkan mata sejenak. “Karan, setidaknya jangan begini. Aku benar-benar tidak nyaman,” gumam Raya. Tidak masalah jika Karan tidur sambil memeluknya, masalahnya Raya juga ingin beristirahat. Duduk di pangkuan sang suami tidak bisa membuatnya tidur dengan nyenyak.
Kedua mata Karan terbuka. Ia pun mengikuti apa yang diinginkan oleh istrinya. “Ayo kita pindah,” tukasnya sembari mengangkat tubuh Raya dan membawa sang istri ke sebuah ruangan yang ada di depan mereka. Ruangan yang ternyata merupakan sebuah kamar tidur pribadi. Raya tidak sempat mengitari seisi pesawat sehingga ia tidak tahu apa saja isi dari pesawat yang luas keseluruhannya bisa menampung sekitar 600 orang tersebut. “Di sini kita bisa tidur dengan nyenyak,” kata sang CEO sambil membaringkan istrinya dengan lembut. Tidak lupa Karan juga melepaskan kedua sepatu milik Raya agar membuat wanita itu nyaman berbaring.
Karan tidak langsung bergabung dengan Raya. Ia melihat jendela dan memastikan semuanya sudah tenang. Kemudian, ia melepaskan jas beserta dasinya. Saat ingin menaruh jasnya di dalam lemari, Karan mengambil ponselnya, menghidupkannya dan menyambungkannya ke wifi pesawat. Beberapa pesan bermunculan ketika benda itu sudah menyala. Beberapa di antaranya adalah pesan di mana Ian sudah menemukan bukti siapa orang yang memotori para penggemar Raya. Ternyata orang itu adalah Reagan.
Benar apa yang dikatakan Raya. Para penggemar asli Raya tidak pernah sama sekali mencampuri urusan pribadi wanita itu. Selama Raya masih tampil di media massa, mereka tidak peduli siapa kekasih yang berada di sisi sang super model. Memang sejak menikah Raya jarang muncul di media massa, tapi bukan berarti tidak pernah sama sekali. Terhitung sudah tiga proyek yang dilakukan oleh Raya dalam empat bulan ini, termasuk salah satunya menjadi seorang bintang dalam video klip musik sebuah band ternama.
Karan pun membuat Raya seolah-olah aktif di dunia sosial dengan memberikan beberapa sumbangan dengan mengatasnamakan sang super model. Bahkan, media sosial Raya yang awalnya tidak sering digunakan menjadi tempat di mana para penggemar mendapatkan kabar terbaru dari Raya. Hampir setiap hari Karan membuat sebuah postingan di sana dengan mengunggah foto kebersamaannya dengan sang istri.
Yang membuat Karan kesal adalah mengapa selalu Reagan? Ada apa dengan laki-laki itu? Baiklah, mungkin saja Reagan menyimpan dendam terhadapnya karena telah menghancurkan karier sang model sewaktu ia marah dulu. Tetapi Reagan sudah kembali ke dunia hiburan. Kali ini ia malah menjadi lebih baik. Dari informasi yang Ian bagikan, Karan tahu bahwa Reagan baru saja menjadi pemain utama dalam sebuah film yang melibatkan produser dan sutradara kenamaan Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, untuk memproduksi film laga itu, mereka sampai menggunakan teknologi yang biasanya digunakan pada film-film Hollywood. Bukankah itu prestasi yang luar biasa, yang tidak akan dicapai Reagan jika ia tetap bekerja menjadi seorang model? Seharusnya Reagan berterima kasih pada Karan. Berkat Karanlah laki-laki itu mengeluarkan pontensi terbaik dirinya sebagai seorang aktor.
Eit, tunggu dulu! Jika ditelisik jam diterbitkan berita tentang Reagan itu dengan waktu keberangkatan Karan dan Raya, maka waktunya sangat cocok. Itu artinya apa yang membuat Raya tersenyum saat mereka berada di mobil tadi adalah berita tentang Reagan. Jelas ini membuat Karan naik pitam. Berani sekali Raya tersenyum pada laki-laki selain dirinya? Apakah ini petanda bahwa Raya mempunyai hubungan khusus dengan Reagan?
Memikirkan itu saja sudah membuat Karan terbakar. Ia marah dan kesal. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Karan tidak mau kehilangan Raya untuk kedua kalinya setelah 12 tahun yang lalu. Meskipun harus berbuat kasar, meskipun harus membuat Raya menangis dan membencinya, Karan tidak akan pernah melepaskan wanita itu sampai kapan pun.
Dengan wajah merah padam, Karan mendekati Raya yang sedang memejamkan matanya. Pria mengeluarkan sebuah suara dalamnya yang terdengar begitu mengerikan. "Sampai kapan kau terus berbohong dariku, Raya?"