
Raya khawatir bukan main. Ia mengatur napasnya yang mulai tersengal. Begitu sebuah suara muncul di belakangnya, Raya tersentak. Bukan suara pria, artinya bukan suara Karan, sang suami. Ternyata suara itu adalah seorang wanita. “Karan?” tukas suara wanita yang sedikit melemah itu. Raya berbalik, melihat orang yang bersuara. Ternyata orang itu adalah ibunya Karan, sang ibu mertua. Dengan tersenyum kikuk, Raya membalas, “Ini aku, Ma. Bukan Karan.”
Kali ini ibu Karanlah yang terkejut. Ia menanggapi, “Raya?”
“Iya, Ma. Ini aku, Raya.”
Sang ibu berjalan mendekati sumber suara. Benar, orang yang masuk ke ruangan itu adalah Raya, menantunya. “Apa yang kau lakukan di sini, Nak?” tanyanya penasaran.
“Ah, a-aku ....” Raya berbicara gugup, bingung bagaimana harus menanggapi sang ibu mertua. Alasan apa yang harus ia katakan? Apakah ia harus berbohong? Atau ia jujur saja kalau ia begitu penasaran dengan masa lalu suaminya. Mungkin ibu Karan akan mengerti. Mungkin juga wanita paruh baya itu akan menceritakan benda-benda apa saja yang ada di dalam ruangan itu. “Aku tidak bisa tidur, Ma. Lalu, aku lihat ruangan ini. Aku penasaran, jadi aku masuk. Maaf karena aku masuk tanpa izin dari Mama.”
Alih-alih marah, ibu Karan justru tersenyum lembut seolah-olah perbuatan Raya tidak bermasalah sama sekali. “Tidak apa-apa Nak. Kau boleh kapan saja masuk ke sini. Tapi, apakah suamimu tahu kau ada di sini?”
Raya menggelengkan kepalanya. “Tidak Ma.”
“Ya, begitulah dia. Dia tidak akan mau siapa pun mencari tahu tentang masa lalu yang ada di rumah ini.”
Ucapan ibu Karan menyentak Raya. Jadi benar Karan memang menyembunyikan masa lalunya, bahkan sang ibu pun mengamininya. Tapi apa masalahnya. Benarkah hanya karena penyakit itu? Memangnya apa salahnya kalau seseorang sakit? Karan tidak perlu merasa kecil hati pada Raya jika masa lalunya hanya dihabiskan di rumah dan di rumah sakit. Tidak ada yang salah dengan itu. Raya malah merasa takjub dan benar-benar ingin memuji Karan. Terutama semangat pria itu dalam pemulihan kesehatan. Terbukti sekarang tubuh Karan sudah lebih dari sehat hingga pria itu sanggup berdebat dengan Raya.
“Kenapa kau berdiri di situ? Apa yang kau lihat?” Ibu Karan bergerak ke samping Raya. Ia membuka lemari tempat Raya berdiri di depannya, kemudian membukanya. “Oh ini. Ini baju-baju Karan masih bayi. Lucu bukan?” celetuk wanita itu merasa bangga dengan koleksi baju bayi putranya. “Yang sebelah sini dipakai Karan waktu dia umur enam bulan. Kau tahu, badannya sangat gemuk jadi kami harus membeli baju baru untuknya.”
Senyuman yang terulas di bibir sang mertua menular pada Raya. Padahal Raya belum punya anak, tapi ia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. “Aku tidak tahu Karan pernah gemuk, Ma. Rasanya tidak mungkin karena sekarang tubuhnya sangat kekar.”
Sang ibu mengangguk, menyetujui perkataan menantunya. “Ya, tapi setelahnya, dia benar-benar kurus. Apalagi setelah dia sakit. Mama sampai khawatir bukan main karena berat badan anak itu.”
“Tapi Ma, kenapa Karan tidak mau membicarakan mengenai hal ini pada media? Maksudku, Karan bahkan tidak membicarakan penyakitnya padaku. Padahal aku tidak akan bermasalah dengan itu.” Ya, tidak masalah karena selain masa lalu, penyakit yang diderita Karan juga bukanlah penyakit menular yang harus dijauhi oleh orang lain. Tidak ada alasan bagi Karan untuk merasa rendah diri hanya karena penyakitnya.
Raya bisa mengerti. Tidak mudah bagi seorang ibu yang melihat putranya mengalami penyakit pernapasan sejak kecil. Bahkan, ibu itu harus menyaksikan sendiri sang anak menderita karena kesulitan bernapas. Itu bisa diterima. Mungkin Raya juga akan seperti itu jika kelak ia memiliki anak. Ia tidak akan bisa melupakan setiap detik perkembangan anaknya dari bayi hingga tumbuh besar hingga menikah seperti yang dialami Karan.
“Kenapa Karan ingin menghapusnya, Ma? Menurutku itu tidak salah. Karan tidak perlu menyembunyikan penyakitnya.” Raya masih belum menemukan jawaban pasti dari pertanyaannya itu.
“Karena dia ...” Ucapan sang ibu terpotong. Wanita itu seolah-olah tersentak karena teringat sesuatu. “Sudahlah, Nak. Jangan bicarakan lagi tentang ini. Kalau kau ingin terus bertahan di samping suamimu, jangan pernah bahas masa lalunya. Dia tidak akan pernah menerimamu jika kau mengungkit-ungkit masalah ini lagi. Sekarang, kembalilah ke tempat tidurmu. Kau sudah terlalu lama meninggalkan suamimu di kamar. Itu tidak baik.”
Meskipun alasan yang diberikan ibu Karan benar, namun Raya merasa seperti ia baru saja diusir dari sana. Raya merasa begitu curiga. Sepertinya ibu mertuanya itu sedang menutupi sesuatu. Sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh banyak orang, termasuk Raya. Jika sudah seperti ini, Raya merasa semakin penasaran. Ia ingin mencari tahu lebih dalam lagi tentang Karan. Sebab ia merasa, pria itu seperti terikat padanya. Utamanya terikat masa lalu dengannya.
Sayangnya Raya tidak punya pilihan. Ia pun pamit kepada sang ibu mertua. “Baiklah Ma, aku kembali ke kamar dulu. Selamat malam,” tukasnya sembari melenggang kembali ke kamarnya. Ia naik ke atas ranjang di mana Karan terlelap di sana. Wanita itu bernapas lega, untung saja Karan tidak bangun. Sekarang, ia harus tidur. Benar-benar tidur karena tidak ada lagi yang bisa ia kerjakan.
****
Raya sudah terlelap. Mata cantik itu menutup dengan rapat. Akan tetapi, kali ini Karanlah yang membuka mata. Bukan terganggu karena gerakan Raya yang naik ke atas ranjang. Karan memang sudah bangun sejak lama, tepatnya sejak Raya beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar. Karan awalnya berpikir mungkin saja Raya merasa haus hingga ingin mengambil minum di dapur. Kulkas di dalam kamar itu memang hidup, tapi Karan yakin tidak ada isinya. Untuk apa kulkas itu diisi padahal tidak ada yang tidur di kamar itu?
Karan mengikuti Raya keluar kamar. Dugaan awalnya salah besar. Alih-alih ke dapur seperti yang Karan prediksi, Raya malah berjalan ke ruang tamu. Ah, tidak. Maksudnya ruangan yang ada di dekat ruang tamu. Ruangan khusus yang dibuat sejak Karan kecil. Ruangan yang menyimpan barang-barang kenangannya yang tidak pernah ingin Karan lihat lagi. Sejak usia 18 tahun, ayah Karan mengeluarkan semua barang dari kamarnya, bermaksud untuk membuangnya. Namun, ibu Karan marah besar. Ia pun menangis sambil memohon agar ia bisa menyimpan barang-barang kenangan masa kecil Karan. Akhirnya, ruangan yang tadinya menjadi tempat olahraga sang ayah pun disulap menjadi tempat penyimpanan barang-barang usang itu.
Raya masuk ke sana tanpa rasa takut sama sekali. Padahal Karan sudah melarangnya untuk mencari tahu tentang masa lalunya. Ini pasti karena sang bibi yang dengan beraninya buka suara dan menceritakan perihal masa kecil Karan pada Raya. Seandainya adik sang ibu itu tidak jujur, sudah pasti Raya tidak akan bertindak seperti ini. Karan juga yakin inilah sebabnya mendadak Raya minta untuk menginap di sini walaupun wanita itu tidak terlalu suka berhubungan dengan orang tuanya. Ayolah, Karan tahu semua yang dilakukan sang istri kendati tubuhnya ada di luar negeri. Raya tidak akan bisa menyembunyikan apa-apa darinya.
Beberapa saat kemudian, Karan melihat ibunya berjalan ke arah ruangan itu. Ia pun bersembunyi di tempat lain agar tidak terlihat oleh ibu dan istrinya. Karan ingin tahu apa yang disampaikan oleh sang ibu kepada Raya. Apakah wanita tua itu akan marah?
Rupanya tidak. Dengan leluasa wanita itu memberikan izin pada Raya masuk ke ruangan itu. Tidak sampai di sana, sang ibu juga mulai bercerita tentang masa kecil Karan. Hal yang paling dibenci oleh pria itu untuk dibicarakan. Ia kesal kenapa ibunya malah bernostalgia kepada Raya padahal ada banyak orang yang bisa diajak bicara selain wanita itu? Tidak cukupkah sejak pagi hingga menjelang malam sang ibu berbicara dengan adiknya? Bahkan, keluarga dari sang ayah juga menjadi ladang curhat ibunya. Karan tidak peduli jika ibunya membicarakan tentang dirinya kepada orang lain, asalkan tidak kepada Raya.
Karan tidak bisa membiarkannya. Ia ingin membuat ibunya berhenti bercerita. Namun, ketika ia hendak bergerak, sang ibu sudah keburu mengusir Raya. Ya, ini bagus. Sudah sewajarnya Raya diusir dari sana. Kalau perlu diusir dari rumah itu. Dengan begitu Karan tidak akan khawatir lagi istrinya akan mencari tahu perihal masa lalunya.