Lies

Lies
Pria yang Manis



Raya menghela napas yang panjang. Ia tidak bisa membiarkan Karan melakukan sesuatu lagi yang membuat orang lain kehilangan pekerjaannya. Awalnya Karan sudah nyaris menghancurkan karier Reagan hanya karena sebuah kecemburuan. Akan lebih buruk jika Karan tiba-tiba memecat semua pegawai yang ada di tempat penginapan itu hanya karena satu kesalahan, tetapi karena dirinya, puluhan orang nasibnya tengah di ujung tanduk sekarang.


Ya, pelayan itu memang salah karena telah lancang mengamati Raya yang sedang tertidur, Raya juga tidak suka dengan perbuatannya. Seandainya Raya berada di posisi Karan dan mendapati ada seorang pelayan wanita yang dengan lancangnya mengamati sang suami yang tengah terlelap di atas ranjang, Raya juga akan marah dan mungkin melakukan hal yang sama dengan Karan. Namun, Raya akan memilih memecat pelayan itu dan tidak melimpahkan kesalahan si pelayan kepada pelayan lain yang mungkin sudah melakukan yang terbaik untuk melayani para tamu.


Raya pun angkat suara karena ia percaya saat ini hanya ia sajalah yang bisa menghentikan sang suami. “Karan, jangan pecat semuanya. Terserah kau mau melaporkan kesalahan itu pada manajer tempat penginapan ini, tapi jangan pecat semua. Kita masih cukup lama di sini. Aku tidak mau mengurus semuanya sendirian,” cetus Raya. Memang Karan membawa beberapa pelayan pribadi mereka ke Milan, tetapi tugas pelayan-pelayan itu hanya mengurusi kebutuhan pribadi Raya dan Karan, bukan untuk memasak atau bersih-bersih penginapan. Jika semua pelayan yang ada di tempat itu dipecat, akan sulit mencari pengganti mereka dalam waktu dekat.


Dan ternyata, ucapan Raya benar-benar berdampak bagi Karan. Ia mengikuti apa yang dikatakan istrinya. “Pergilah, aku akan mengatakan kesalahan pelayan itu kepada manajer kalian,” seru Karan kepada para pelayan itu. Ketika meraka pergi, barulah Karan menghampiri Raya. “Kau mau turun sendiri atau perlu aku bantu turunkan?”


Dengan cepat Raya menggelengkan kepalanya. Ia tahu arah pikiran Karan terlebih ketika pria itu mengamati potongan gaun malamnya yang sedikit rendah hingga menunjukkan dadanya yang terbuka. Apalagi saat ini Raya tidak mengenakan apa-apa untuk melindungi dadanya kecuali gaun tipis itu. Entah mengapa begitu karena yang memakai pakaiannya adalah Karan. Mungkin ini adalah hasil karya mesum dari sang CEO untuk istrinya. “Tidak, aku turun sendiri saja,” tolak Raya. Ia bergerak dan menapaki lantai marmer kamar itu. Beruntung ada sendal di samping ranjang yang melindungi kedua kakinya dari dinginnya lantai marmer.


“Makanlah Sayang. Setelah ini kita harus pergi ke suatu tempat.” Karan mengatakannya sambil menunjukkan makanan terbaik yang ada di tempat itu. Meskipun Raya pernah ke sini untuk pemotretan, tapi dibandingkan dirinya, Karan lebih sering menginap di tempat ini. Jadi, pengetahuan Karan tentang makanan terenak di sini lebih baik dari sang istri.


Raya meneguk air mineral dari gelas hingga tandas, lalu menjawab ucapan suaminya. “Pergi ke mana?” tanyanya. Mengingat hari sudah siang bahkan menjelang sore hari, Raya pikir aktivitas mereka hari itu hanya akan berada di dalam kamar seharian penuh. Tubuh Raya masih sakit, dan ia pun merasa lelah. Kalau boleh, tentu saja Raya memilih akan tetap berada di dalam kamar saja.


“Giardini Pubblici Indro Montanelli. Kau pasti pernah ke sana ‘kan?”


“Ya, aku pernah melakukan salah satu pemotretan majalah di sana.” Waktu itu tepat dua tahun setelah Raya debut sebagai model. Bukan majalah ternama, hanya majalah lokal ibu kota saja sebagai bagian dari sampul depannya. Meskipun begitu, Raya tetap saja merasa senang. Selain menjadi peserta acara kecantikan yang membuat Raya beberapa kali masuk majalah, baru kali ini Raya menjadi sampul sebuah majalah tanpa embel-embel acara tersebut. Tentu itu adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi Raya. Dan dari majalah itulah nama Raya semakin terkenal di kalangan fotografer yang membuatnya sering sekali menjadi langganan sampul majalah setelah itu. Bayaran yang terima Raya memang tidak mahal, tetapi dari tempat ternama di Milan, Giardini Pubblici Indro Montanelli, Raya mulai menjadi model yang cukup diperhitungkan.


“Benar, kau terlihat sangat cantik di foto majalah itu,” sahut Karan. Ia punya beberapa eksemplar majalah yang berisikan gambar Raya, salah satunya saat foto itu diambil di salah satu jalan di Giardini Pubblici Indro Montanelli. Berkat foto itu Karan menjadi lebih sering mendatangi tempat itu guna mengamati lokasi tempat Raya berfoto lebih dekat. “Aku mau kita ke sana. Ke lokasi di mana kau melakukan pemotretan. Kali ini aku yang akan menjadi fotografer untukmu.” Karan mengucapkan hal itu dengan penuh percaya diri. Memang kemampuan pengambilan gambarnya tidak sebagus fotografer profesional, tetapi Karan sudah belajar beberapa teknik. Dan ia tidak akan mungkin mengecewakan Raya dengan teknik itu.


“Tapi, kita ‘kan sekarang sedang berbulan madu. Kenapa kita ke sana?”


Raya sontak terkejut. Ia tidak menyangka ucapan semanis itu akan diucapkan oleh Karan. Suami yang hadir untuk mengenang kesulitan yang dialami oleh istri. Artinya Karan ingin mendukung Raya sepenuhnya. Bisakah Raya memahami seperti itu? Apakah ini sebagai bentuk dukungan penuh Karan agar Raya bisa kembali ke industri hiburan? Raya ingin berharap, tetapi harapannya itu terlalu tinggi. Ia takut akan kecewa untuk kesekian kalinya.


“Baiklah, kita ke sana,” balas wanita itu.


Karan memang menerima persetujuan Raya, tetapi ia tidak menyangka istrinya itu akan terlihat begitu murung. Padahal Karan sengaja memilih Giardini Pubblici Indro Montanelli sebagai tempat mereka berkunjung hari ini. Ada sesuatu yang sedang Karan siapkan di sana. Sayangnya reaksi yang ditunjukkan oleh Raya sungguh berbeda dengan apa yang dipikirkan olehnya.


*****


Karan meminta Raya mengenakan pakaian yang nyaman karena mereka akan berjalan jauh. Anehnya, mereka tidak menaiki kendaraan pribadi. Karan mengajak Raya mengenakan kendaraan umum. Supaya Raya bisa menikmati hari-harinya sebagai masyarakat biasa, sebagai penduduk lokal. Dan itu ide yang bagus. Raya menyukainya karena sudah sangat lama Raya tidak menikmati perjalanannya seperti ini. Biasanya ke mana pun Raya melangkah hanya sebatas untuk mencari uang. Selalu ada manajer di sampingnya yang membacakan jadwal padat Raya meskipun Raya sedang menikmati pemandangan. Atau kamera yang selalu mengikutinya setiap kali Raya berada di suatu tempat. Tidak di Indonesia, bahkan ketika di luar negeri pun Raya mengalami hal yang sama. Mungkin sekarang, dengan ditemani Karan, Raya bisa menikmati hari-harinya sebagai orang biasa, bukan seorang super model.


“Kita sudah dua kali berkeliling di sini, Karan. Kau yakin jalannya ke arah sini?” ujar Raya bertanya. Ia memandangi sekeliling dan keningnya mengernyit. “Apa kita tidak kesasar?”


“Kesasar? Mana mungkin! Aku sudah bolak-balik di jalanan ini lebih dari lima kali. Tidak mungkin kita kesasar sekarang.”


“Iya, tapi kau pernah melewati jalanan ini dengan berjalan kaki?”


Karan menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku menaiki mobil.”


Sontak Raya menepuk keningnya. “Ya ampun! Aku yakin kita sekarang kesasar,” ucapnya yakin. Raya benar-benar tidak menyangka Karan akan menunjukkan sisi yang sangat berbeda seperti ini. Sisi yang ceroboh dan kikuk. Tetapi anehnya, Raya tidak merasa kesal sama sekali. Malah ia menyukai Karan yang seperti sekarang. Pria itu terlihat seperti pria normal bagi Raya. Bukan Karan yang sempurna dan ingin menguasai segalanya.