
Karan tidak bisa menghentikan kepergian Raya. Itu membuatnya begitu frustrasi. Karan bingung harus melakukan apa untuk sekarang. Bahkan saat ditanya oleh Ian, pria yang biasanya mempunyai segudang ide untuk mendekati Raya itu malah kehabisan ide sama sekali. Yang bisa dilakukan Karan hanya menunggu Raya sambil berharap wanita itu mau menyerah dan kembali padanya. Karena meskipun Karan sudah mengancam tidak akan menganggap Raya sebagai istrinya ketika wanita itu sudah meninggalkan rumahnya, Karan tidak sepenuhnya menginginkan hal itu. Selalu ada kesempatan bagi sang istri untuk kembali. Mungkin hanya masalah waktu. Karan harus memberikan Raya beberapa hari agar wanita itu bisa menenangkan diri. Setelah itu Raya akan pulang seperti yang selama ini terjadi.
Hari lepas hari Karan menunggu kedatangan Raya, namun prediksi Karan salah besar. Raya tidak kunjung pulang. Wanita itu juga tidak menunjukkan diri dari lingkungan luar. Hanya iklan parfum milik perusahaan Varenlah yang menjadi iklan terakhir yang bisa Karan saksikan di layar kaca. Tidak ada tawaran yang masuk ke Raya lagi. Karan sudah meminta Ian memantau manajemen Raya seandainya ada informasi dari sana. Tidak hanya Raya, manajer sang istri juga terlihat menghilang. Rumah kecil yang menjadi tempat tinggalnya sudah dijual olehnya. Menurut kabar yang Karan dengar, sang manajer sudah menangani model lain yang lebih fokus promosi di luar negeri. Itulah sebabnya Ika lebih sering tinggal di luar negeri ketimbang di Indonesia.
Awalnya Karan mengira Raya tinggal bersama bibinya di Jakarta. Tetapi hasil penyelidikan Ian justru menampakkan informasi yang berbeda. Selama ini bibi Raya sudah memulai bisnis kecil-kecilnya dengan menjual belikan perhiasan. Karena terkenal sebagai ibu Raya Drisana dan kerap kali muncul menemani Raya, bisnisnya pun berjalan lancar. Anehnya meskipun cukup menguntungkan sang bibi tidak mau menjual perhiasan secara berlebihan. Hanya beberapa saja dalam seminggu. Itu pun nominalnya tidak terlalu tinggi. Seperti hendak mengatakan bahwa ia berjualan hanya demi mengisi waktu luang, bukan benar-benar untuk mencari uang.
Jika tidak bersama bibinya dan manajernya, lantas ke mana Raya pergi? Di mana wanita itu berada sekarang? Karan mencoba melacak Raya dengan cara lain, yakni dengan melacak transaksi kartu kerdit dan ATM wanita itu. Sayangnya, tidak ada satu pun tanda-tanda bahwa Raya telah menggunakan benda-benda itu.
Begitu juga ponsel Raya yang sengaja ditanamkan alat yang bisa ditangkap Karan untuk melacak wanita itu. Saat Karan melakukan pengejaran setelah mendapatkan sinyal dari ponsel itu, Karan justru dikejutkan dengan kenyataan bahwa ia menemukan ponsel itu di tempat penjualan ponsel. Raya menjual ponsel mewahnya dalam harga yang sangat murah. Hanya beberapa juta rupiah padahal wanita itu membelinya dengan harga puluhan juta.
Karena tidak suka benda milik istrinya digunakan orang lain, Karan pun menebus ponsel itu dengan uangnya sendiri. Selain alasan itu ponsel milik sang istri, Karan juga tidak mau kenangan-kenangan mereka yang sempat ia ambil melalui kamera ponsel Raya menghilang begitu saja pasalnya, Raya sama sekali tidak mengambil atau menghapus foto-foto yang ada di dalam ponsel itu.
Sehingga jika ponsel itu jatuh ke tangan orang lain, otomatis semua kenangan Karan dan Raya pun akan terekspos oleh orang itu. Yang menakutkan adalah jika orang itu membeberkannya ke publik. Sekali lagi, Karan tidak peduli dengan reputasinya, tetapi reputasi Raya harus ia jaga sampai kapan pun.
“Permisi Pak, saya ingin mengantarkan sesuatu untuk Anda,” tukas Ian sambil membawa sebuah dokumen di tangannya untuk Karan. Dokumen itu kiriman dari seseorang yang sangat penting sehingga harus diantarakan sendiri oleh Ian meskipun ia bisa menyuruh sekretaris perusahaan untuk melakukan itu.
“Kenapa kau datang ke sini? Aku sudah bilang hari ini aku tidak akan melakukan pekerjaan apa-apa. Aku ingin fokus mencari Raya,” hardik Karan yang merasa marah karena melihat kehadiran Ian di dalam ruangan kerjanya.
Padahal sebelumnya ia sudah memberikan peringatan kepada pria itu agar menunda semua pekerjaannya untuk hari ini. Meskipun Karan tetap datang ke kantor, bukan berarti ia akan bekerja. Karan ke gedung pencakar langit itu hanya untuk membuang rasa stresnya. Jika beradadi rumah, Karan tidak akan baik-baik saja. Kenangan Raya akan melayang-layang di benaknya. Jadi, kantor adalah pilihan yang tepat meskipun Karan tetap tidak akan bisa membuang bayangan Raya karena kenangan itu ada di kepala Karan, bukan hanya di ruangan itu atau di dalam rumah.
“Maaf Pak. Saya hanya ingin mengantarkan surat ini kepada Anda,” balas Ian.
Sorotan mata Karan begitu tajam menghujam Ian. Padahal ia sudah mengingatkan sang asisten, tetapi malah tidak diindahkan seperti ini. “Memangnya surat apa itu?” tanya Karan penasaran. Ia mengangkat sebelah tangannya dan menunjukkan gelagat seperti meminta Ian untuk mendekat.
“Saya tidak tahu, Pak. Tapi sepertinya surat ini datang dari pengadilan agama.”
Karan terperanjat. Ia bukan pria bodoh yang tidak tahu apa arti sebuah surat yang datang dari pengadilan agama. Atau surat dengan pengadilan agama sebagai kopnya. Meskipun sudah lama tidak tinggal di Indonesia dan tidak terlalu paham aturan hukum di negeri ini, tetap saja Karan mengerti apa maksudnya. “Baiklah, berikan padaku,” ungkap pria itu.
Saat Ian menyerahkan surat itu, jantung Karan berdebar, dan semakin parah ketika tangannya menyentuh amplop surat berwarna cokelat itu. Persis seperti yang dikatakan Ian. Itu surat yang dikirimkan langsung oleh pengadilan agama. “Kau boleh pergi sekarang,” cetus Karan yang secara langsung mengusir Ian. Ia butuh waktu sendiri membaca surat itu, dan kehadiran Ian akan membuatnya tidak tenang.
“Apa maumu, Raya? Apa kau yang mengirim ini untukku?” celetuk Karan dalam hatinya sendiri. Ia tidak tahu siapa yang mengirimnya. Belum tentu juga Rayalah yang mengirimkan surat itu untuknya. Hanya saja, keyakinan bahwa ada orang lain yang mengirimnya tidak sebesar keyakinan Karan bahwa surat itu dikirim atas inisiasi Raya. Setelah lebih dari satu bulan menghilang, wanita itu mendadak muncul hanya dengan sepucuk surat. Benar-benar keterlaluan. Karan merasa kesal dan marah pada wanita itu.
Hal yang selalu Karan takuti selama ini. Selain takut ditinggalkan Raya, Karan juga takut wanita itu akan menceraikannya. Padahal selama ini Karan sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengikat Raya, mulai dari cara yang baik hingga cara terkotor sekali pun. Karan juga sudah menghamburkan harta di hamparan kaki Raya, sesuatu yang selalu dicari oleh wanita itu. Tetapi apa hasil yang Karan dapatkan sekarang? Bukan kebahagian seperti yang dibayangkan olehnya selama ini, tetapi pengkhianatan.
Mirisnya tidak hanya sekali Karan tertipu oleh Raya Drisana. Sudah dua kali dan dengan cara yang hampir sama juga. Meninggalkannya dengan cara kejam lalu menghilang seperti seseorang yang telah lenyap dari muka bumi. Andai saja Karan tidak melunak selama ini, Raya pasti tidak akan kabur darinya. Karan sangat menyesal sudah bersikap baik kepada Raya. Seharusnya ia menekan wanita itu dengan sangat keras sehingga tidak ada cara apa pun yang bisa ditempuh oleh Raya selain menyerah padanya.
Ini belum terlambat, pikir Karan. Masih ada cara agar bisa membuat Raya kembali padanya, yaitu uang. Seperti tujuan awal Raya menikahinya. Dan tujuan awal wanita itu memulai sandiwara kisah asmaranya dengan beberapa pria terkenal lain. Raya butuh uang dan popularitas. Jika kedua hal itu hilang darinya, Raya otomatis akan kembali pada Karan sebab sang CEO sama sekali tidak peduli dengan keduanya. Ia hanya peduli tentang Raya. Tentang wanita itu ada di sisinya dan berperan sebagai istrinya. Untuk mendapatkan keinginan itu, Karan akan melakukan segalanya kendati harus menghancurkan Raya sekali lagi.
Karan belum mendapatkan ide untuk memuluskan rencananya itu, tetapi rasa marah sudah melingkupinya hingga ia tidak perlu mendiskusikan apa pun lagi. Yang diperlukan olehnya hanyalah pergerakan cepat. Dengan begitu Raya akan muncul ke hadapannya. Karan pun menghubungi Ian dan meminta sang asisten masuk ke ruangannya. “Aku butuh bantuanmu. Cepat datang ke ruanganmu sekarang,” perintah Karan dengan nada otoriter.
Kesabaran pria itu sudah habis. Kesempatan untuk menyambut Raya dengan cara baik-baik saja telah menguap entah ke mana. Yang tersisa hanyalah rasa marah dan sakit hati yang membuka dendam lama Karan. Dendam yang belum kunjung terbalaskan hingga sekarang.
Begitu Ian masuk ke dalam ruangannya, tanpa basa-basi lagi, Karan pun memerintahkan Ian untuk menyewa banyak orang yang kemudian ditugaskan dalam rangka mencari jejak istrinya. “Aku mau keberadaan istriku sudah ditemukan dalam waktu tiga hari ini. Aku tidak peduli berapa banyak kau menghabiskan uangku untuk menyewa orang, tapi aku hanya ingin keberadaan istriku sudah kuketahui sebelum tiga hari,” titah sang CEO.
Tiga hari sebenarnya waktu yang cukup lama bagi Karan, tetapi ia tidak bisa terlalu memaksakan kehendak. Jika memang ingin pencarian lebih optimal, Karan seharusnya melibatkan polisi. Sayangnya Karan tidak bisa. Raya melarikan diri dari rumah, lalu beberapa hari setelahnya sebuah surat cerai sampai di kantor Karan. Artinya Raya tidak diculik atau dalam keadaan bahaya. Wanita itu kabur atas keinginannya sendiri sehingga tidak ada unsur-unsur yang bisa Karan gunakan untuk melibatkan pihak keamanan.
Ian mengangguk dengan pasrah. “Baik Tuan.”
Sebenarnya Karan hanya ingin menyampaikan itu saja kepada Ian. Namun, ia berubah pikiran setelah melihat surat yang ada di atas mejanya. Surat cerai dari Raya. Karan tidak bisa menerima ini. Ia harus membalaskan tindakan penghinaan yang Raya berikan ini dengan cara yang lebih mengerikan lagi. Karan akan menghancurkan karier Raya.
“Satu lagi Ian. Umumkan perceraianku dengan Raya. Katakan kepada media bahwa Raya mengirimkan surat cerai kepadaku dan melarikan diri dari rumah kami setelah terjadi pertengkaran besar di antara kami. Dan pertengkaran itu karena Raya ketahuan selingkuh dengan pria lain,” ungkap Karan menggebu-gebu. Jelas sekali apa tujuan Karan melakukan itu. Ia ingin menyudutkan Raya, menjadikan wanita itu sebagai satu-satunya pihak yang disalahkan dalam perceraian mereka. Karan ingin membuat Raya yang bersembunyi darinya tetap bersembunyi dan merasa tertekan dalam persembunyiannya itu.
Ian terkejut bukan main mendengar perkataan Karan. Selama ini Karan tidak pernah ingin mencelakai Raya. Semua rencana yang pria itu susun murni menyasar pria-pria di sekitar sang super model itu. Jika kali ini Karan menyerang istri yang selama ini ingin ia miliki, maka ini bukan lagi cinta. Ian yakin Karan hanya terobsesi dengan Raya.
Embusan napas berat keluar dari mulut Ian. Harusnya ia tidak terlibat dalam pertarungan pasangan gila ini. Harusnya ia tidak menuruti semua keinginan Karan yang sudah kelewat batas. Atau sejak awal, seharusnya ia tidak mendaftarkan diri sebagai asisten sang CEO. Baru kali ini Ian merasakan penyesalan yang begitu besar sebab, meskipun hanya beberapa bulan mengenal Raya, Ian merasa cukup nyaman bersama istri dari majikannya itu.
Selain baik hati dan juga ramah, Raya adalah tipe majikan yang peduli padanya. Hal yang tidak didapatkan dari Karan sekalipun ia sudah bekerja selama bertahun-tahun dengan pria itu. Dan sekarang, ia harus menuruti lagi rencana gila dari Karan yang tidak bisa ia tolak karena terikat kontrak kerja. Seandainya ia menolak dan dipejat, ia tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat sementara ia juga butuh uang.
“Baik Pak,” sahut Ian sekali lagi sambil berharap dengan tulus bahwa Raya tidak terluka dan akan baik-baik saja.