Lies

Lies
Pertemuan Ketiga



Tidak mungkin Karan lupa dengan wajah itu. Wajah Raya yang selalu ia rindukan. Setiap melihatnya saja sudah membuat jantung Karan begitu berdebar. Itu tidak pernah berubah sejak awal pertemuan mereka sewaktu masih duduk di bangku SMA, juga di pertemuan mereka ketika Karan ingin menikahi Raya. Tubuhnya tidak akan pernah salah mengenali. Hatinya selalu bisa beraksi pada sosok wanita itu. Raya Drisana yang begitu Karan rindukan seumur hidupnya. Sang mantan istri yang penuh dengan penyesalan ketika melepaskannya.


Sekarang pun sama. Jantung Karan berdebar kencang. Saking kencangnya mungkin Luca yang ada dalam gendongannya dapat mendengar dengan jelas. Karan tidak percaya ini. Ia memang ingin bertemu Raya, tapi ia tidak menyangka akan secepat ini. Terlebih kini Raya berada di hadapannya, dalam jarak yang bisa dijangkau oleh Karan. Masalahnya, kaki Karan tidak bisa diajak bekerja sama dengan baik. Keduanya mendadak lumpuh tampa alasan sehingga sulit digerakkan. Sepertinya ia terlalu syok melihat Raya di sana dan tidak tahu harus berbuat apa.


Apakah ia boleh mendekatinya? Sanggupkah ia bertemu dengan Raya secara langsung? Karan bertanya-tanya di dalam hatinya. Mungkin ini adalah kesempatan yang diberikan padanya. Karan pun memutuskan untuk mendekatinya. Namun ketika kakinya baru saja bisa melangkah lagi, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah samping yang sontak menghentikan gerak kakinya.


“Luca!” Suara orang itu. Karan menoleh dan melihat Edgar sedang mendekatinya. Dengan wajah panik pria itu berjalan cepat menghampiri sang putra. Saat tiba, ia langsung menyentuh tangan bocah itu. “Luca, kau tidak apa-apa? Ke mana saja kau ini? Daddy benar-benar terkejut mencarimu ke mana-mana!”


Karan tersentak. Ia tersadar atas apa yang terjadi. Pelan-pelan ia menyerahkan Luca ke gendongan Edgar dan menyatakan permintaan maafnya. “Maaf Pak, saya tadi menemukan Luca di restoran saat saya sedang makan malam. Seharusnya saya langsung membawa Luca pada Anda atau sekadar menghubungi Anda agar Anda tidak khawatir. Maafkan saya.”


Karan mengutarakan ketulusannya karena ia memang salah bertindak. Padahal ia tahu Luca tidak didampingi oleh siapa-siapa di sana, artinya ia terpisah dengan orang tuanya. Sebagai seorang ayah, Edgar pasti khawatir dengan kondisi sang anak. Tetapi apa yang Karan lakukan? Bukannya mengembalikan Luca pada Edgar atau setidaknya menghubungi pria itu untuk sekadar memberi tahu bahwa Luca sedang bersamanya, Karan justru membiarkan Luca berlama-lama ada di sisinya. Ia benar-benar merasa sangat bersalah.


Melihat penyesalan Karan membuat Edgar tak enak hati. “Tidak Pak, bukan seperti itu maksud saya. Saya malah berterima kasih karena Luca ada bersama Anda. Saya sudah mencarinya ke mana-mana dan saya takut dia mengalami sesuatu yang mengerikan. Untung saja Anda menjaganya dengan baik. Terima kasih Pak. Dan maafkan putra saya yang sudah menyusahkan dan mengganggu Anda selama seharian ini.”


Karan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak Pak, saya benar-benar tidak terganggu. Saya senang karena bisa bermain dengan Luca.” Pria itu kemudian teringat tentang Raya. Ia dengan cepat berpamitan pada Edgar. “Kalau begitu, saya izin pergi karena saya punya urusan lain.”


“Ya Pak, silakan. Sekali lagi terima kasih.”


Karan hanya membalas dengan seulas senyuman. Ia tidak menanggapi hal itu karena fokusnya sudah berada di tempat lain. Sayangnya ketika Karan menoleh ke arah di mana ia melihat Raya, wanita itu sudah tidak ada di sana. Karan berusaha mencarinya, mulai dari menyusuri lobi hingga mendatangi beberapa tempat, termasuk restoran tempatnya tadi menyantap makan malam. Akan tetapi, hasilnya nihil. Ke mana pun Karan mencari di dalam gedung itu, ia tidak juga bisa menemukan sosok wanita yang ia lihat sebagai Raya tersebut.


Apakah ia salah lihat? Karan kembali pada pertanyaan awalnya. Mungkin saja ia salah mengenali orang. Atau karena rasa rindunya yang besar dan begitu menggebu hingga ia sampai berhalusinasi. Karan menyugar rambutnya secara kasar sambil menghela napas panjang. Tidak apa-apa. Mungkin sekarang ia tidak bisa menemukan keberadaan Raya, tapi bukan berarti Karan tidak akan pernah bertemu dengan wanita itu lagi. Lagi pula, pertemuan mereka ada di depan mata. Karan hanya butuh waktu beberapa detik saja sampai ia bisa bertemu sang mantan istri lagi.


XXXXXX


Setelah menunggu lama agar hari cepat berlalu, hari yang ditunggu-tunggu Karan pun tiba. Ia sudah mempersiapkan segalanya, mulai dari pakaiannya hingga penampilannya. Karan juga sudah berlatih berbicara di depan cermin selama satu harian penuh. Tujuannya agar saat bertemu dengan Raya, ia bisa mengutarakan apa yang ada di hatinya dengan tepat. Pria itu juga berusaha untuk mengatur emosinya. Ia tidak ingin kejadian lima tahun lalu terjadi lagi di mana Karan dilingkupi emosi yang menggebu-gebu justru membuat keputusan yang fatal.


Lima tahun lalu Karan melakukan terlalu banyak kesalahan. Ia mengusir Raya yang sedang hamil anak mereka. Kemudian hanya demi memancing wanita itu, Karan bahkan sampai melibatkan wartawan dan membentuk opini publik yang buruk pada Raya. Yang paling parahnya, Karan mengancam Raya dengan perceraian dan membuat mereka kehilangan anak pertama mereka. Ada begitu banyak hal buruk yang terjadi sehingga Karan tidak mau kejadian itu terulang kembali. Itulah sebabnya ia sampai menyiapkan segalanya dengan benar kali ini.


“Pak, apakah kita berangkat sekarang?” tanya Ian pada Karan. Sang asisten merasa déjà vu begitu melihat apa yang Karan lakukan sekarang. Rasanya seperti melihat Karan enam tahun lalu, ketika Karan hendak bertemu dengan Raya yang saat itu berstatus sebagai tunangan pria lain. Karan memang sangat jahat karena berniat buruk karena hendak merebut Raya dari tunangannya, tetapi Karan tetap seorang manusia yang juga merasa takut akan sesuatu. Pria itu takut tidak layak saat berhadapan dengan Raya. Ketakutan yang terbilang sangat konyol karena pada dasarnya Karan adalah sosok yang sepadan untuk mendapatkan wanita mana pun terutama ketika penampilan fisik dan kemapanan sebagai faktor penentunya.


Karan menganggukkan kepalanya. “Ya, ayo kita ke sana.” Untuk terakhir kalinya Karan mengamati tampilannya di cermin sebelum benar-benar pergi ke tempat di mana Raya melakukan acara pertemuan dengan para penggemarnya.


Jantung Karan berdebar kencang saat itu, terutama saat ia sudah memasuki ruangan. Sebenarnya itu bukan ruangan khusus, hanya sebuah galeri seni lukis yang disulap menjadi tempat jumpa penggemar. Karena tidak sembarangan penggemar dapat kesempatan berbicara dengan Raya, jadi kuotanya terbatas. Hanya 100 penggemar beruntung saja yang bisa mendapatkan tiketnya. Karan salah satu penggemar beruntung itu meskipun ia harus merogoh kocek cukup dalam untuk mendapatkannya. Siapa yang sangka Raya yang hiatus di industri hiburan di Indonesia, ternyata merupakan model papan atas di Milan. Wanita itu juga sempat mendirikan sekolah khusus untuk menerbitkan pada model baru.


Karan benar-benar tidak tahu informasi itu. Ia hanya tahu selama ini Raya tinggal di New York. Siapa yang sangka wanita itu malah lebih lama tinggal di Milan. Padahal tidak ada berita heboh tentang Raya yang Karan dengar. Ah, ralat. Mungkin ada, tapi Karan saja yang tidak pernah mendengarnya. Selama ini Karan hanya sibuk mengurusi bisnis keluarga sambil menata hatinya yang hancur. Ia juga sibuk merindukan Raya yang justru terlihat sukses di negeri orang. Memang begitulah orang yang sudah memiliki bakat. Seberat apa pun ia dijatuhkan, ia akan menemukan cara untuk bangkit.


Sama seperti Karan yang tetap bisa membangun perusahaannya setelah skandal besar pernikahannya yang menghebohkan satu negara. Juga seperti Raya yang mampu kembali menjadi seorang model terkenal. Mereka menemukan tempat mereka masing-masing. Dan itu patut untuk disyukuri.


“Pak, Ibu Raya sudah berada di depan gedung. Sepertinya sebentar lagi beliau akan masuk ke ruangan ini,” celetuk Ian memberi tahu pada Karan. Ia tahu dari seorang pengawal yang ia tempatkan di luar gedung. Sebenarnya ia ingin pengawal itu ikut masuk ke dalam, tapi Karan melarangnya. Sang CEO tidak ingin acara sang istri jadi terasa tidak nyaman karena kehadiran pengawal itu.


Karan meneguk salivanya, merasa begitu gugup. “Aku sudah siap,” cetusnya sembari mengatur napas dan debaran jantungnya.


Akan tetapi, semuanya sia-sia ketika pintu ruang seni lukis itu terbuka di mana seorang wanita bergaun putih melangkah dari arah luar. Wanita itu masuk dengan langkah penuh percaya diri di depan seratus pasang mata para penggemarnya seolah-olah sedang berad di sebuah karpet merah. Dengan senyuman lembutnya dan wajah cantiknya ia melambaikan tangan ke kanan dan ke kiri, menyapa para penggemar yang sudah menunggunya dengan ramah. Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Pertemuan kembali Karan dengan sang mantan istri yang sosoknya tidak pernah terlupakan dalam hidup Karan.