Lies

Lies
Saingan yang Muncul Kembali



Karan mengantarkan Raya ke lokasi syuting video musik sekitar pukul delapan pagi. Semua orang di sana sudah bersiap untuk melakukan syuting pertama. Perlengkapan pun sudah disusun. Meskipun mulai pukul sembilan, Raya suka tiba lebih awal agar bisa mempelajari lokasi lebih lama. Menurutnya, foto dan video yang dikirimkan sutradara kemarin masih belum cukup. Raya butuh pengamatan langsung, dengan begitu ia tahu sudut terbaiknya dan bagaimana ia harus berakting di depan kamera.


Inilah perbedaan Raya dengan model lainnya, utamanya model pendatang baru yang bermunculan belakangan ini. Karena Raya lahir dari sebuah kontes kecantikan, ia berusaha keras agar selalu mempertahankan kualitasnya, baik secara fisik maupun tangkat prefesionalitasnya. Raya sangat berdedikasi terhadap pekerjaannya, itulah sebabnya banyak sekali potografer ataupun sutradara yang suka bekerja sama dengannya.


“Aku turun di sini saja. Kau bisa pergi ke kantor sekarang,” tukas Raya, namun tidak ada jawaban dari sang suami. Raya melirik Karan dan mengikuti pandangan pria itu yang menyalak tajam ke arah luar mobil. Rupanya ada seorang laki-laki yang mencuri perhatian mereka. Reagan, rekan kerja Raya sekaligus laki-laki yang Karan hancurkan kariernya beberapa hari yang lalu. Mengapa pria itu ada di sana? Apa yang terjadi sebenarnya?


Raya juga terkejut bukan main. Kabar yang ia dapatkan dari sutradara memang ada pergantian lawan mainnya hari ini karena model utama pria awalnya sedang terluka akibat kecelakaan lalu lintas. Tapi Raya tidak tahu Reaganlah yang terpilih menjadi penggantinya. Jujur, Raya pun bingung bagaimana Reagan bisa kembali ke dunia hiburan. Skandal yang dibuat Karan begitu besar hingga hampir dipastikan kariernya akan hancur. Jadi, bagaimana Reagan bisa bangkit?


“Aku benar-benar tidak tahu, Karan. Aku tidak tahu dia ada di sana.” Raya berkata cepat-cepat karena takut suaminya akan berpikiran tidak-tidak tentang dirinya. Di dalam mata cokelat Karan, Raya melihat kemarahan yang begitu besar yang membuat wanita itu begitu khawatir. “Memang ada pergantian model karena model sebelumnya kecelakaan semalam. Tapi sungguh, aku tidak tahu penggantinya adalah laki-laki itu.”


Karan mendesah kasar. Ia pasrah dengan apa yang akan terjadi, lalu menepuk kepala Raya dengan lembut. “Ya, aku tahu,” ungkapnya. Raya itu wanita penurut. Tidak mungkin Raya akan melanggar perintahnya terlebih mereka sedang berusaha membangun komitmen bersama. Karan tidak pernah meragukan Raya, tapi ia tidak bisa seratus persen memercayai wanita itu. Terlebih ketika ada orang lain yang menghasutnya. Dan mungkin Reagan akan melakukan itu.


“Aku hanya ingin bekerja, tapi kalau kau merasa keberatan, aku bisa mengundurkan diri dari syuting video klip musik ini.”


Raya mengeluarkan pendapat yang akan membuatnya sangat kesulitan. Mengundurkan diri sekarang akan menyalahi aturan dalam perjanjian yang telah ia tandatangani. Apalagi ini terbilang sangat mendadak. Raya tidak hanya akan membayar denda yang sangat banyak, wanita itu juga akan terkena imbasnya, yakni menjadi objek kemarahan semua staf yang sudah bersiap untuk syuting.


“Tidak perlu, Sayang.” Karan mengetuk hidung Raya dengan pelan. “Pergilah bekerja. Aku tidak akan melarangmu. Tapi jangan terlalu dekat dengannya. Kau tahu bagaimana aku bukan? Aku adalah pria pecemburu.”


Raya mengangguk cepat. “Ya, aku tidak akan macam-macam.” Wanita itu mencium bibir Karan sebentar. Lalu ia mengambil tasnya. “Aku akan keluar. Hati-hati di jalan.”


“Pasti. Dan jangan lupa meleponku saat kau beristirahat. Terutama saat kau ingin makan siang.”


“Kenapa? Apa kau akan datang lagi ke sini untuk makan siang bersamaku?”


Karan mendekati Raya dan mencium pipi wanita itu. “Rahasia,” katanya.


Raya tersenyum. Ia turun dari mobil Karan, dan tepat saat itu, sang manajer juga sudah tiba di sana. Sang manajer menghampiri Raya dan mengajak wanita itu ke ruang ganti.


“Ini baju ganti pertama dan ini yang kedua, Mbak. Mbak harus memakai yang ini terlebih dahulu,” ungkap sang manajer menjelaskan. Ia menyerahkan dres putih kepada Raya agar digunakan wanita itu.


Konsep video klip musik kali ini cukup sederhana. Temanya adalah kesedihan di mana sang wanita menangisi kepergian kekasihnya yang ia sangka telah meninggal dunia. Bayangan sang kekasih menari-nari, menemani keseharian sang wanita. Mengapa disangka sudah meninggal, karena beberapa saat kemudian, hal yang tidak mengejutkan terjadi. Ternyata yang meninggal dalam kecelakaan mobil itu bukanlah kekasihnya, melainkan dirinya sendiri. Namun, ia tidak bisa melupakan kekasihnya hinga menjadi hantu.


Konsep yang unik itulah yang menjadi pemicu mengapa Raya mengambil tawaran sebagai model. Tidak banyak hal yang harus ia lakukan di sana, hanya perlu menatap ke arah laut dengan tatapan sedih dan terluka. Itu cukup mudah mengingat Raya juga beberapa kali sempat mengalami hal yang begitu menyakitkan hingga ia kehilangan pikirannya.


“Mengapa Pak Karan membiarkan Mbak bekerja lagi?” tanya sang manajer kepada Raya.


Raya yang wajahnya sedang dipoles make up itu menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu. Karan tiba-tiba saja mengizinkanku bekerja,” jawabnya jujur. Kemudian, ia berpikir tentang Reagan dan mulai bertanya perihal laki-laki tersebut. “Kenapa Reagan ada di sini? Bukannya dia sudah keluar dari agensi kita?”


“Ha? Bagaimana bisa?” Raya benar-benar penasaran. Membereskan sebuah skandal bukanlah perkara mudah. Raya saja tidak bisa membersihkan namanya sampai sekarang. Karena di beberapa kesempatan, Raya selalu dicecar tentang perselingkuhan Varen. Meskipun sudah mencoba untuk menjauhkan diri dari pertanyaan seputar itu, tetap saja ada wartawan yang nakal dan menanyakannya.


“Astaga, Mbak benar-benar tidak tahu itu ternyata. Reagan adalah anak anggota dewan, Mbak. Dia juga cucu pemilik perusahaan tambang yang terkenal di Kalimantan. Dia orang yang sangat kaya. Dan video musik ini pun diproduksi oleh perusahaan sang kakek.”


Raya tidak tahu berita ini padahal dua hari yang lalu, ia seharian berada di dalam rumah bersama Karan. Ia juga menonton televisi. Tapi ia tidak melihat berita apa pun tentang Reagan. Dengan cepat, ia mengambil ponselnya dan menemukan bahwa apa yang dikatakan sang manajer benar. Reagan sudah membersihkan segalanya. Bahkan namanya lebih terkenal dari sebelumnya. Reagan juga bekerja sama dengan label musik yang begitu berpengaruh di Indonesia. Label yang menaungi band yang sedang membuat video musik ini.


Raya mengernyit, merasa bingung harus bagaimana. Di satu sisi ia merasa bersalah karena akibat perbuatannya, ralat, maksudnya perbuatan Karan, Reagan mendapatkan rumor buruk. Sebagai seorang istri, tentu saja Raya tidak tahu harus berbuat apa jika berhadapan dengan Reagan. Apalagi mereka akan menjadi lawan main dalam akting di video musik ini.


****


Seperti yang dikhawatirkan Karan, laki-laki itu memang bukan laki-laki sembarangan. Sejak Ian mendapatkan informasi tentang Reagan, Karan begitu gelisah. Dari segi apa pun Karan tidak kalah dari Reagan. Ketampanan dan kekayaan, Karan boleh berbangga diri karena mengungguli sang model. Tapi, itu tidak cukup. Karan merasa ada salah satu faktor yang bisa membuat Raya menaruh hati pada Reagan.


“Apa kita akuisisi saja label musik itu, Ian?” ungkap Karan saat berada di ruangannya di kantor. Ia nyaris mengambil rokok dan menghisapnya sebelum Ian melarangnya. “Sudah kukatakan singkirkan rokok dari mejaku!” Karan mengatakannya dengan marah. Ia bahkan melemparkan produk yang terbuat dari tembakau itu ke atas lantai.


Cepat-cepat Ian memungutnya dan membuang bungkus rokok itu ke dalam tong sampah. “Maaf Pak, sepertinya petugas kebersihan yang menyiapkannya.” Ian menemukan alasan itu setelah melihat secangkir kopi sudah ada di atas meja, tandanya ada seseorang yang masuk ke sana untuk membersihkan ruangan sebelum mereka datang.


“Bilang pada mereka, jangan letakkan rokok di mana pun yang bisa aku lihat. Kau tahu aku sedang berusaha berhenti merokok. Kalau aku melihatnya, aku tidak bisa menahan diriku,” keluh Karan lagi. Ia menyentuh kepalanya dan memijatnya pelan. Kepalanya terasa sakit, padahal jika ia merokok, kepalanya tidak akan sepusing ini.


“Baik Pak. Saya akan mengatakannya dengan tegas kepada mereka.”


Emosi Karan mulai mereda setelah beberapa saat, kemudian ia berkata lagi. “Jadi, bagaimana dengan pertanyaanku? Apakah aku harus mengakuisisi label musik itu?” Maksudnya label musik tempat bernaungnya band yang sedang membuat video klip dengan menggunakan Raya dan Reagan sebagai modelnya.


“Saya rasa itu bukan pilihan yang baik, Pak. Untuk apa Anda mengakuisisi label musik? Bukankah Ibu Raya tidak bekerja selamanya di sana? Ibu hanya bekerja beberapa hari, untuk proyek video musik ini saja. Rasanya tidak perlu Anda membeli perusahaan itu.”


Ian mengatakan sesuatu yang bijak. Untuk itulah Karan berdiskusi dengan sang asisten. Karena seandainya laki-laki itu tidak ada, Karan pasti merasa sangat marah dan gelap mata. Ia bisa melakukan apa saja di luar nalar, termasuk membeli label musik itu.


“Jadi, apa yang harus aku lakukan?”


Ian mendesah. Ia selalu merasa kesulitan setiap Karan membahas tentang Raya. Tentang kecemburuan dan rasa posesif Karan yang membabi buta kepada sang super model. “Bukankah Anda bilang ingin menjalin hubungan baik dengan Ibu Raya? Kenapa Anda tidak memberi kesempatan pada beliau untuk menunjukkan kesetian beliau pada Anda?”


“Maksudmu?” Karan mengernyit bingung.


“Maksud saya, biarkan saja Ibu bekerja dengan Reagan, Pak. Anggap saja ini bentuk toleransi Anda kepada keputusan Ibu. Dan Anda juga berniat mengajak beliau berbulan madu, bukan? Mungkin jika Anda melonggarkan pengawasan Anda sedikit, Ibu Raya akan berubah pikiran dan mau pergi bersama Anda,” kata Ian memberikan nasihat.