Lies

Lies
Gambar Provokatif



Kehidupan itu sulit, juga termasuk kehidupan menjadi seorang super model seperti Raya. Selalu saja ada orang-orang yang membencinya, yang menjelek-jelekkannya di belakang, namun tiba-tiba memujinya setinggi langit saat mereka bertemu. Orang-orang munafik yang tidak pernah berhenti merasa iri dengan pencapaian orang lain. Mungkin mereka juga tergolong orang-orang yang tidak bisa bertahan lama di dunia hiburan.


Sama seperti setiap orang punya tujuan hidup, maka setiap orang juga berhak melalui berbagai macam cara untuk mencapai tujuan hidup mereka. Itu yang Raya yakini. Dengan pemikiran itulah ia tidak mengurusi apa yang orang lain lakukan. Raya hanya ingin segala yang dikerjakannya berjalan sukses agar usahanya tidak sia-sia.


“Ibu, mari kita coba pakaiannya,” seru seorang staf menghampiri Raya yang baru selesai dirias. Sebenarnya panggilan ibu cukup menggelikan di telinga Raya. Selama ini ia dipanggil Mbak atau Kakak. Tidak jarang beberapa staf yang sudah akrab dengan Raya juga langsung memanggil nama padanya tanpa canggung sama sekali. Sepertinya mereka mulai mengubah panggilan itu karena status Raya sekarang, yaitu sebagai istri seorang pengusaha terhormat. Mereka pasti sungkan padanya.


Dengan dibimbing oleh staf tersebut, Raya mencoba kostumnya, sebuah dres elegan berwarna merah. Tidak ada yang salah dengan dres itu. Namun saat Raya memakainya, ristleting bagian belakang tidak bisa ditutup. Staf itu pun mulai kebingungan melihatnya.


“Aduh kenapa tidak bisa ditutup ya? Padahal ukuran baju ini sudah disesuaikan dengan ukuran Ibu Raya yang biasanya. Apa masih pakai ukuran model kemarin ya?” gumam staf itu sembari berusaha untuk menutup lagi dres yang dikenakan Raya.


Raya tersentak. “Ukuran biasanya? Ukuran yang mana?”


“Itu Bu. Ukuran Ibu sebulan yang lalu. Saya yakin sudah mengirimnya dua hari lalu ke pihak perusahaan. Sepertinya mereka salah mencari pakaian.”


Wajah Raya berubah pucat pasi, tangannya saling meremas. “Bisakah kau panggil manajerku. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengannya.”


Meskipun ini bukan waktu yang tepat, tapi sang petugas tetap mengikuti permintaan Raya. Ia pun mengangguk. “Baik Bu. Sebentar, akan saya panggilkan ke sini.”


Saat staf itu pergi, Raya memandang tampilannya di depan cermin. Sekilas, tidak ada yang berbeda dengan tubuh langsingnya. Semuanya tetap sama seperti satu bulan lalu. Akan tetapi, Raya teringat apa yang Karan katakan semalam bahwa ada yang berbeda dengan tubuh Raya. Terutama bagian dadanya yang terlihat lebih berisi. Sepertinya berat badan Raya bertambah selama sebulan belakangan.


Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan?


Di rumah Raya memang beberapa kali berolahraga, tapi tidak setiap hari. Khususnya saat Karan ada di rumah. Jangankan untuk berolahraga, Raya saja tidak akan mampu bangun di pagi hari karena harus meladeni pergulatan ranjang yang panas bersama sang suami. Karan tidak akan melepaskannya semalaman penuh. Bahkan, mereka akan tetap melanjutkannya di pagi hari selama Karan masih punya tenaga dan waktu.


“Mbak, ini saya Ika. Saya boleh masuk?” celetuk Ika seraya mengetuk pintu.


Raya yang masih setia menatap cermin, berbicara, “Ya, masuklah. Pintunya tidak dikunci.”


Suara pintu terbuka dibarengi dengan pandangan Raya yang nanar. “Kenapa Mbak? Apa ada yang salah?” tanya Ika khawatir. Wajah Raya begitu pucat padahal wanita itu baru saja dirias. Tubuhnya juga sedikit gemetar.


“Berat badanku naik, Ika. Dresnya tidak muat di badanku. Bagaimana ini?” Raya berbalik badan, menunjukkan punggungnya yang tidak tertutup ritsleting dengan sempurna.


“Mbak tenang saja. Saya sudah menyiapkan ini untuk Mbak.” Ika menyerahkan bungkusan kepada Raya. Isinya sebuah korset dengan warna yang senada dengan warna kulit Raya.


“Bagaimana kau bisa menyiapkannya?”


“Saya hanya berjaga-jaga, Mbak. Eh, ternyata berguna juga di saat darurat,” tukas Ika berbohong. Tidak mungkin Ika asal membawa benda itu ke lokasi pemotretan. Sebelum datang ke rumah Raya, Ika sudah menduga berat badan Raya akan naik. Sang super model sudah menceritakan pola hidupnya yang dihiasi oleh makan dan bersantai, kontras dengan kehidupan padat Raya sebelum menikah. “Nah, dicoba dulu, Mbak. Karena dres Mbak sama sekali tidak terbuka, saya yakin tidak akan ada yang menyadari Mbak pakai ini.”


Yang dikatakan Ika ada benarnya. Meskipun ini adalah pembodohan publik tapi Raya tidak punya pilihan lain. Ia harus bergerak cepat agar pemotretan masih bisa berlangsung dengan lancar. Raya pun melepaskan pakaiannya dan mengenakan korset itu. Tepat sebelum staf itu kembali, Raya sudah memakai dresnya dengan sempurna.


Sayangnya, orang-orang di lokasi pemotretan sadar apa yang tengah dikenakan Raya. Sekalipun pemotretan itu berjalan lancar, tetapi sepanjang sesi di depan kamera, Raya bisa melihat ada banyak orang yang berbisik-bisik di belakang fotografer. Tanpa diberi tahu pun Raya sudah menyadari apa yang sedang mereka bicarakan. Pakaian Raya dan apa yang ada di balik pakaiannya. Memang secara kasat mata tidak tampak terlalu jelas, tapi di mata mereka yang telah lama di industri hiburan, mereka akan tahu mana tubuh yang dibentuk dengan korset dan mana tubuh yang asli.


“Terima kasih atas kerja samanya,” tukas Raya kepada semua staf usai sesi pemotretannya berakhir. Setidaknya ia harus menghabiskan waktu dua jam di tempat itu guna mendapatkan foto yang sempurna. Karena kecintaan Raya pada dunia model ditambah sikap profesionalismenya yang tinggi, Raya sama sekali tidak mengeluh kendati harus beberapa kali mengulang pemotretan.


Ketika baru saja keluar dari ruang ganti pakaian, Ika menghampiri Raya dengan wajah yang begitu terkejut. “Ibu, ada sesuatu,” ungkapnya menggebu-gebu.


“Pak Karan ada di sini, Bu. Beliau sedang berbicara dengan fotografer dan tim marketing.”


Raya terperangah. Karan ada di sini? Untuk apa? Benar bahwa gedung supermarket ini adalah milik keluarga Reviano, tetapi tidak mungkin Karan secara kebetulan datang ke gedung ini. Pasti pria itu sedang merencanakan sesuatu dan rencana itu akan berhubungan dengannya.


Secepat mungkin Raya bergerak ke tempat pemotretan. Benar saja, suami tampannya itu sudah ada di sana, sedang asyik mengobrol dengan sang fotografer. Sesekali ia tersenyum ketika matanya melihat ke layar monitor di mana sedang menampilkan gambar Raya. Bibir pria itu pun bergerak, melontarkan pujian kepada hasil karya sang fotografer.


“Karan!” panggil Raya yang menyita perhatian orang-orang di tempat itu. Raya berdecak kesal sambil menghampiri suaminya. “Kenapa kau ada di sini?”


Dengan sigap Karan meletakkan tangannya di pinggang Raya, mendekap wanita itu agar menempel di sisinya. “Tentu saja untuk menjemput istri cantikku ini.”


Semua orang yang ada di sana bersorak histeris. Karan justru menanggapinya dengan tersenyum, sementara Raya merasa begitu risih. Ia tidak suka mengumbar kemesraan seperti ini. Apalagi di depan rekan kerjanya yang baru saja menjelek-jelekkannya di belakangnya. Tidak tahu apa gosip apa lagi yang akan muncul setelah ini. Raya sama sekali tidak bisa menebaknya.


“Karena ini pertama kalinya Raya kembali ke pekerjaannya sebagai model setelah pernikahan kami, saya bermaksud untuk mengadakan jamuan makan malam bersama. Saya telah menyiapkan sebuah restoran untuk semua staf yang sudah bekerja keras hari ini,” kata Karan membuat pengumuman.


Raya menengadah, menatap wajah suaminya dengan heran. Ia tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Karan. Mungkinkah ini salah satu dari rencananya?


“Tidak perlu terlalu banyak berpikir, Sayang. Aku hanya ingin memanjakanmu di depan orang-orang. Nikmatilah karena aku sangat jarang berbuat seperti ini kepadamu,” bisik Karan di telinga Raya.


“Apa tujuanmu?” jawab Raya dengan geram.


Tangan Karan terangkat ke kepala Raya dan mulai membenahi anak-anak rambut Raya yang berantakan. “Tujuanku hanya dirimu, Sayang. Aku hanya ingin menunjukkan seberapa besar rasa cintaku padamu.”


Sontak Raya bergidik ngeri. Ungkapan rasa cinta Karan bak sebuah sihir jahat bagi Raya, sihir yang bisa menghipnotisnya kalau ia kehilangan kesadaran. Untung saja Raya masih bisa berpikir hingga ia bisa membedakan mana pernyataan Karan yang palsu dan asli.


“Jika kau merencanakan sesuatu, cepat hentikan sekarang,” ancam Raya.


“Bukan aku. Tapi kau.” Karan memeluk tubuh Raya sambil berbisik, “Mamamu ... ah, tidak. Tantemu sedang berusaha mendirikan agensi artis tanpa sepengetahuanku. Apakah kau menceritakan sesuatu padanya hingga dia berpikir akan membawamu pergi dariku?”


“Tante?” Raya merasa begitu bingung. Ia tidak pernah tahu bibinya membuka sebuah agensi artis karena sejak menikah dengan Karan, Raya sangat jarang berkomunikasi dengan siapa pun, termasuk pada adik dari ibu kandungnya itu. “Tidak, aku tidak menceritakan apa pun, Karan. Aku bersungguh-sungguh!”


Karan membelai kepala Raya dengan lembut. “Baiklah, aku akan percaya padamu, Sayangku. Tapi kalau aku tahu kau berbohong, aku akan melakukan sesuatu pada Tantemu itu. Kau tahu menghancurkan sebuah perusahaan sangat mudah bagiku ‘kan? Jadi, jangan macam-macam, Sayang. Jangan pernah main-main denganku. Kau mengerti, hm?”


Raya mengangguk patuh. “Iya, aku mengerti.”


“Bagus. Sekarang temui manajermu dan ambil perlengkapanmu. Kita harus berada di restoran sebelum para staf datang ke sana.”


Dengan patuh Raya menuruti perkataan Karan. Dan selagi istrinya itu pergi, Karan kembali menemui sang fotografer. Ia memandangi lagi gambar-gambar Raya di layar monitor. Saat melihat sebuah gambar, Karan langsung bersuara, “Bolehkah saya meminta foto yang ini? Saya berjanji tidak akan menyebarluaskan foto istri saya ke pihak luar. Saya hanya mau menyimpannya untuk diri saya sendiri.”


Sang fotografer melihat gambar itu. Karena bukan gambar yang dibutuhkan, ia pun mengizinkannya. “Tentu saja Pak. Tapi saya tidak bisa memberikannya begitu saja. Anda pasti tahu maksudnya.”


“Anda tenang saja Pak. Saya akan memberikan kompensasi yang setimpal untuk foto istri saya,” kata Karan. Seberapa pun uang yang harus ia keluarkan dari rekeningnya, Karan tidak akan menyesal karena Raya yang ada di gambar itu benar-benar cantik. Tubuh sintalnya yang terbalut dres merah, tatapan matanya yang sayu namun memikat serta gerakan tubuhnya yang begitu sempurna. Di mata Karan, Raya di foto itu terkesan sedang mengirimkan sinyal provokatif padanya. Sinyal agar Karan bisa segera menyeret Raya ke atas ranjang.