
“Bolehkah aku meminjam kartu kreditmu?” Raya bertanya kepada sang suami sebelum membuka dompet itu. Akan berbahaya jika Raya langsung membukanya tanpa izin dari Karan. Dengan alasan begini, Karan yang begitu royal kepadanya tidak akan menolak. Pria yang selalu menghadiahkan Raya barang-barang mewah sekali pun Raya tidak membutuhkannya, pasti dengan suka rela memberikan kartu kreditnya.
Sambil memakai dasinya, Karan menjawab, “Di mana kartu milikmu? Aku rasa aku juga pernah memberikan salah satu kartu kreditku untukmu. Apa Ian tidak menyampaikannya?” Mustahil bagi Karan tidak memberikan kebutuhan dasar istrinya. Uang dan kemewahan. Karan tidak pernah punya masalah keuangan meskipun Raya hidup dengan berfoya-foya. Hanya dengan gajinya sebagai wakil direktur perusahaan keluarga Reviano, Karan sanggup memberikan Raya lima unit apartemen mahal setiap bulan di kawasan Jakarta Pusat. Tentu itu tidak digabungka dengan penghasilannya sebagai CEO dari Karan Watch, perusahaan jam tangan mewah miliknya. Dengan penghasilan itu, Raya tidak perlu bekerja lagi sebagai model karena Karan bisa memenuhi kebutuhannya.
“Kartuku ...” Raya menggigit bibir bawahnya, merasa kelu saat ia hendak berbohong. Bodoh sekali karena ia lupa bahwa ia punya kartu kreditnya sendiri. Namun, Raya tidak akan berhenti dengan mudah. Ia sudah telanjur berbohong, maka ia akan menuntaskan kebohongannya sampai akhir. “Kartuku terblokir secara tidak sengaja. Manajerku sedang mengurusnya. Dan yang kau berikan, yah, Ian memang menitipkannya padaku, tapi itu lebih sering aku gunakan untuk berbelanja kebutuhan pokok. Jadi, aku pinjamkan pada Bi Anna. Sekarang, aku tidak punya kartu kredit.”
Karan tertawa di dalam hatinya. Tidak tahukah Raya betapa buruknya kebohongan yang wanita itu buat? Dalam sebuah kebohongan alasan adalah kunci apakah kebohongan itu bisa mengelabui seseorang atau tidak. Nyatanya Raya adalah pembohong yang buruk. Tidak hanya topik kebohongannya, alasan yang digunakan wanita itu juga sangat payah, Biarpun begitu, Karan tetap mengikuti permainan Raya. Ia akan menganggap kalau Raya berkata jujur.
“Baiklah, ambil saja salah satu kartu kreditku dari dalam dompet itu. Kau boleh memilih bank mana pun,” seru Karan tanpa khawatir sama sekali. Sebab, Karan tidak menaruh apa pun di dalam dompetnya. Dulu sewaktu mereka belum menikah, Karan memang sempat meletakkan foto Raya remaja di dalam dompetnya. Begitu mereka mempunyai foto pernikahan, Karan pun menggantinya dengan foto sang istri dengan menggunakan gaun pengantin. Bukan foto pernikahan di mana ia dan istrinya bersama, tetapi foto yang hanya menampilkan Raya seorang diri.
Raya senang mendapatkan akses itu. Ia membuka dompet suaminya dan menemukan potret cantik dirinya dalam balutan gaun pengantin di sana. Kedua pipi Raya sontak tersipu. Ia tidak menyangka suaminya akan seromantis ini. Jangankan di dompet, pada layar beranda ponsel saja Raya tidak memasang foto pernikahan mereka. Bukan karena Raya malu telah menikah dengan suaminya. Bagaimana mungkin wanita itu malu menikahi seorang CEO kaya raya dan rupawan seperti Karan? Raya hanya tidak mau orang-orang selalu mengingat nama besar Karan setiap melihatnya. Ibarat kata, Raya enggan disebut-sebut sebagai istri dari Karan Reviano ketika bekerja di luar rumah.
“Aku ambil yang ini.” Raya mencabut salah satu kartu kredit berwarna biru. Lalu, ia menutup dompet Karan dan menyerahkan benda itu kepada sang suami yang sudah siap dengan setelan jasnya yang rapi. “Ini dompetmu, terima kasih.” Tidak ada yang mencurigakan dari dompet itu. Hanya ada fotonya, beberapa lembar kartu ATM dan kartu kredit, kartu identitas dan sejumlah uang tunai dalam bentuk rupiah dan dolar. Raya gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
Karan mengambil dompetnya dan menaruhnya pada saku dalam jasnya. “Aku pergi, Sayang. Aku akan menghubungimu kalau aku sudah sampai di Berlin.”
Kepala Raya menggeleng cepat. “Tidak, kau harus menghubungiku ketika kau sudah ada di bandara, waktu kau mau terbang dan setelah kau sudah mendarat di Berlin. Aku ingin memantau aktivitasmu.”
Karan terkekeh pelan. Orang bilang suami-istri itu adalah pasangan jodoh yang diikat hubungan perkawinan. Dan orang-orang bilang jodoh itu selalu memiliki kemiripan. Itulah sebabnya manusia selalu mencari kesamaannya dengan pasangan sebelum memulai hubungan. Awalnya Karan berpikir itu bualan saja, omongan kosong yang disampaikan oleh orang-orang yang mengaku pakar cinta. Tetapi sekarang, Karan yakin pernyataan itu benar. Sebab, semakin hari, Raya semakin memiliki sifat sepertinya. Contoh paling dasarnya baru saja Raya tunjukkan hari ini, yaitu sifat posesif.
“Oke Sayang, aku akan menghubungimu,” seru Karan. Usai mencium bibir Raya dengan mesra, Karan membawa kopernya ke depan rumah, tempat di mana Ian sudah menunggu dengan mobilnya. Sebelum naik ke dalam mobil, Karan kembali memeluk Raya dengan erat. “Kalau kau mau bekerja, pergilah bekerja. Aku akan mengizinkannya.”
“Aku tidak punya banyak pekerjaan,” balas Raya sedih.
“Maksudku, kau boleh mengambil pekerjaan menjadi juri itu, Raya. Pergilah, lakukan apa yang kau inginkan.”
Kedua manik cokelat Raya membulat sempurna. Ia melepaskan pelukan Karan dan menatap suaminya, “Kau mengizinkanku menjadi juri kontes itu?”
“Bukankah itu yang kau inginkan?”
“Kalau begitu lakukan saja. Aku mengizinkannya.”
Alangkah senangnya Raya hari itu. Ia tidak menyangka Karan akan mengizinkannya melakukan apa yang ia inginkan selama ini. Menjadi juri dalam ajang yang membesarkan namanya. Bukan karena Raya ingin memamerkan kesuksesannya, Raya hanya ingin berterima kasih pada acara itu secara benar. Seandainya Raya tidak ikut kontes itu, atau seandainya tim produksi tidak mengekspos dirinya terus-menerus, pasti tidak akan ada yang mau menjadikannya model terkenal seperti sekarang.
“Terima kasih Karan!” tukas Raya begitu bahagia. Ia bahkan mencium bibir Karan di tempat itu. Di depan Ian, tukang kebun dan Anna. Namun, Raya tidak peduli. Ia justru mengalungkan tangan di leher Karan sambil memperdalam ciumannya.
Selang beberapa menit, Raya baru melepaskan ciumannya. Ian berdiri mematung sambil menundukkan kepalanya, begitu pula dengan anak buah Karan yang lain. Padahal Ian ingin mengingatkan Karan tentang jam keberangkatan pesawat, tapi siapa yang berani mengganggu majikannya yang sedang bermesraan itu? Salah-salah Karan malah marah besar dan membatalkan penerbangan mereka hari ini. Ian lebih suka Karan datang terlambat yang penting sang CEO tetap mengikuti semua jadwal padat yang telah ia susun dengan susah payah.
“Sial!” umpat Karan secara mendadak. “Ingin rasanya aku membatalkan semua jadwalku,” tukasnya yang membuat Ian sontak melotot ke arahnya. Kemudian, Karan menyambung lagi, “tapi aku tidak bisa. Aku kasihan pada Ian. Dia akan mati kalau aku terus-menerus menyuruhnya mengubah jadwal sesuka hatiku.”
“Terima kasih atas pengertiannya, Pak,” sahut Ian memuji kebaikan sang atasan. Bosnya itu benar, ia bisa mati muda bahkan belum menikah jika terus-terusan begadang demi menyelesaikan jadwal pekerjaan sang CEO.
“Benar, kau pergilah sekarang. Nanti kau bisa terlambat,” ujar Raya membenarkan. Karena Karan tampak enggan bergerak, mau tidak mau Raya harus membuka pintu belakang mobil dan memaksa suaminya untuk masuk. “Hati-hati, jangan lupa apa yang kukatakan tadi!”
“Baiklah, aku pergi,” pamit Karan.
Raya melihat mobil mewah itu melaju meninggalkan pekarangan rumah. Aneh sekali, wanita itu merasa lega dan sedih pada waktu bersamaan. Ia lega karena orang yang selama ini mengaturnya sudah pergi, tapi ia sedih karena merasa kehilangan sosok Karan. Meskipun menyebalkan di awal-awal pernikahan, sikap Karan sekarang sudah berubah drastis. Hal itulah yang membuat Raya berpikir kalau pernikahannya dengan Karan tidak seburuk apa yang ia bayangkan selama ini.
****
Hari itu juga, usai melihat kepergian suaminya, Raya melanjutkan kegiatannya. Izin sudah ia dapat dari Karan, itulah sebabnya ia langsung menghubungi manajernya untuk membuat jadwal pertemuan dengan produser acara kontes Putri Kecantikan Indonesia tahun 2023. Tidak hanya dengan produser acara, Raya juga harus melakukan pertemuan dengan produser televisi tempat acara itu diliput. Dan sepanjang hari dihabiskan Raya di luar rumah. Ia bertemu banyak orang dan membicarakan banyak hal, tentunya tentang acara tersebut.
Sampai pada satu titik, semua orang yang ada di ruangan pertemuan terkejut bukan main. Mereka berbisik satu sama lain usai melihat layar ponsel atau laptop mereka masing-masing. Hanya beberapa orang yang tampak biasa saja karena fokus mereka tertuju pada susunan acara. Raya salah satunya. Ia tidak akan tahu apa yang terjadi jika manajernya tidak datang menghampirinya dan memberikan ponselnya di mana menunjukkan sebuah adegan mesra antara dirinya dan Reagan.
“Loh, kenapa bisa begini?” tukas Raya merasa bingung. Ia melemparkan tatapan penuh tanda tanya ke arah sang manajer. Dan manajernya pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda bahwa ia sama bingungnya dengan Raya. “Coba tolong hubungi pihak sutradara video musik itu, Kak. Cepatlah!” tukas Raya terburu-buru. Ia yakin isu ini akan menjadi tajuk seksi untuk dibahas oleh para wartawan. Raya tidak bisa membayangkan betapa gilanya mereka memburunya nanti.