Lies

Lies
Sentuhan Membara



Merasa terganggu dengan pakaian milik mereka, Karan pun membuka seluruh kancing baju miliknya dan menyibakkan dres milik istrinya. Membuang kedua pasang pakaian itu secara sembarangan di pinggir ranjang, lalu mengamati bentuk tubuh Raya yang ada di bawahnya. Ukuran tubuh Raya tampak berbeda sekarang. Jauh berbeda dari sebelumnya. Sekarang, wanita itu terlihat lebih sintal. Tubuhnya padat dan berisi. Karan bahkan tidak menyadari ini sebelumnya kendati ia sudah menggendong tubuh Raya beberapa kali.


Di bawah sorotan sinar matahari pagi kota Milan, Karan memandangi tubuh Raya, nyaris tidak ada satu bagian pun yang lolos dari tatapan mata sang CEO. Sementara Raya hanya melihat otot di pipi laki-laki itu yang berkedut seperti sedang menahan sesuatu, lalu bibirnya terbuka. Ia menggeram. “Sial!” umpat sang CEO. Tentu tidak dengan maksud buruk. Karan hanya mengumpat karena tidak bisa menahan dirinya atas apa yang ia saksikan ini. Rasanya Karan benar-benar ingin langsung saja menyatukan tubuh mereka tanpa basa-basi. Sayangnya ia tidak bisa. Ia harus sadar diri dan memperhatikan juga keadaan Raya.


Untung saja Karan tahu sekali di mana titik yang tepat untuk menyenangkan Raya. Titik di mana ia harus menyusupkan tangannya di bagian bawah tubuh sang istri. Saat bagian itu dieksplorasi lagi oleh Karan, Raya mendesah. Suaranya terdengar parau dan seksi. Dan dengan beraninya wanita itu menarik Karan, menempelkan bibirnya dengan terburu-buru hingga gigi atasnya mengenai bibir bawah Karan. “Kau boleh menggigitnya kalau kau mau,” seru Karan di sela-sela ciuman mereka, memberikan izin sang istri untuk mengakses bibirnya sesuka hati. Ini pertama kalinya Raya terlihat terburu-buru, tidak menunjukkan sesuatu yang manis sama sekali dan malah terlihat bagaikan api yang menyala-nyala.


Saat Raya mengerang kencang, Karan akhirnya mengambil kendali. Ia mencium Raya dengan pelan-pelan, kontras dari apa yang Raya lakukan padanya. Jari-jarinya masih bergerak di bawah sana, tetapi gerakannya tidak seintens sebelumnya. Ia hanya membiarkan istrinya menikmati pelepasannya. Tadinya seperti itu, sampai Raya bergerak nekat dengan menempelkan tangan-tangan lentiknya di dada hingga perut Karan. Gerakan yang cepat dan terkesan kasar namun sanggup membuat Karan bergetar dahsyat merasakan sentuhannya itu.


“Sayang.” Karan berbicara secara spontan dengan nada memohon. Entah apa maksud dari perkataannya itu, apakah ia ingin Raya berhenti bermain-main di tubuhnya atau malah ingin wanita itu melanjutkannya. Hanya ada satu yang pasti bahwa gerakan Raya itu begitu menyiksa Karan. “Berhenti, jangan menyiksaku lagi!” cetus Karan.


Alih-alih menghentikan kegiatannya, Raya malah sukses membuat Karan tercengang. Wanita itu terkekeh, Karan bisa merasakan tawa rendah itu saat bibirny tepat berada di leher Raya. Sepertinya Raya terlihat begitu menikmatinya. Menikmati saat-saat membuat Karan tersiksa. “Apa kau mau di atasku?” tawar Karan. Matanya menangkap sinyal-sinyal nakal yang dipancarkan dari kedua netra cokelat milik sang istri. Tidak terbayangkan betapa menyenangkannya melihat wajah Raya ketika berada di atas tubuhnya. Dan menikmati setiap gerakan yang akan dibuat sang super model. Seberapa liar Raya akan memimpin hubungan mereka? Akan seberapa mengasyikkannya memandangi wajah cantik sang istri yang berpeluh?


“Kau bisa memimpin di atasku kalau kau mau.” Karan mencoba menawarkan lagi. Membayangkan lagi posisi itu, di mana ia memegang pinggul Raya yang bergoyang, menjaga wanita itu agar tetap stabil di atasnya. Sial! Hanya dengan imajinasi kotor tentang istrinya saja sudah membuat intinya menegang sempurna, menyesakkan celana yang mengurungnya.


“Tidak,” balas Raya cepat.


“Kau yakin?” Karan mencoba bernegosiasi lagi. “Aku tidak akan memberikan kesempatan kedua untukmu, Sayang.”


Sebelah bibir Karan terangkat, pria itu menyeringai. “Baiklah, ini permintaanmu,” katanya meyakinkan. Karan mulai menurunkan wajahnya, mulai dari leher hingga ke tempat yang diinginkan oleh Raya untuk dijamah. Karan pun melakukannya, menciumnya, menggigit lembut puncaknya, dan menghisapnya. Ketka tubuh Raya melengkung ke atas, Karan menyeringai lagi. Terlebih saat ia bisa melihat bagaimana Raya mengatupkan gigi-giginya menahan untuk tidak menjerit. “Kau bebas berteriak di sini, Sayang. Ruangan ini kedap suara. Tidak akan ada yang akan mendengar suaramu dari luar,” ucap Karan yang seolah-olah mengerti penderitaan Raya. Pasti wanita itu ingin menjeritkan namanya dengan keras, namun ia menahannya karena takut didengar orang lain.


“Oh, ya ampun!” tukas Raya sambil mengatur napasnya. Tampaknya ia merasa kesal karena mengetahui informasi telat yang disampaikan oleh Karan barusan. Harusnya Karan bisa mengatakannya lebih awal agar ia tidak ragu untuk bersuara. Karena ketidaktahuannya itulah yang membuat bibirnya harus sedikit terluka karena digigit dengan keras.


“Astaga, maafkan aku, Sayang. Kalau saja aku memberi tahumu lebih cepat, bibir ini pasti tidak akan terluka.” Karan berbicara sambil mengecupi bibir bawah Raya dan sesekali menjilatnya, berharap dapat mengurangi rasa sakit wanita itu. Kemudian, Karan meletakkan kaki di antara kedua kaki Raya, menyukai bagaimana cara istrinya itu menggeliat-geliat karena putus asa di bawahnya.


Raya ingin mendorong Karan karena pria itu sangat suka bermain-main dengannya. Namun alih-alih mengutarakannya, yang keluar dari mulutnya justru sesuatu yang sangat berbeda. Ia malah memanggil namanya sang suami. "Karan," celetuknya disertai dengan napas yang terpatah-patah. Karan membuat napasnya tidak bisa normal.


"Ya, sayang," sahut Karan. Ia mencium puncak kepala Raya tanpa menghentikan perbuatannya. "Bernapaslah, Sayang. Bernapas," celetuknya yang khawatir melihat istrinya yang kesulitan bernapas.


Raya memang wanita berbeda. Yang dilihat Karan dari pengalaman rekan bisnisnya tentang para wanita milik mereka. Rata-rata wanita akan ahli setidaknya terbiasa dengan urusan ranjang jika lebih dari tiga kali melakukannya. Tetapi Raya tidak. Ia begitu polos dan lugu meskipun Karan sudah mengajarinya.


Akan tetapi, Karan ingat bagaimana rasanya menyentuh Raya, dan agak menyesal karena tidak sering merasakannya lagi. Apalagi hampir beberapa hari belakangan mereka tidak berhubungan intim yang membuatnya begitu menderita. Seakan ia bisa mati jika tidak mencicipi wanita itu. Seakan hidupnya bergantung pada hasratnya terhadap wanita itu. Karan teringat pergolakan batinnya saat berusaha mengekang gairah liar yang ditimbulkan sang istri dalam dirinya. Namun, ia tidak sanggup berpaling dari godaan manis wanita itu, tidak mampu mencegah dirinya menerjang Raya, sebelum akhirnya mereka terjun ke dalam gairah memabukkan.


Saat menyatukan tubuh mereka, Karan menatap mata wajah Raya lekat-lekat dan melihat hasrat yang luar biasa besar dari sorot mata wanita itu, sebesar hasratnya sendiri, hingga ada gagasan yang sempat melintas di benaknya. Pikiran liar yang bertentangan dengan keyakinannya selama ini, termasuk apa yang diinginkan oleh sang istri.