
Raya terbelalak. Ia tidak menyangka Karan akan memberikan ancaman yang begitu menggoda seperti itu. Benar, Raya tidak bisa berkutik. Memang ia tidak bisa menghabiskan uang dengan begitu banyak karena rasa hematnya yang begitu tinggi. Namun, Raya lebih suka menghambur-hamburkan uang suaminya ketimbang mendapatkan hukuman dari pria itu. Pasalnya, Karan tidak pernah main-main saat memberikan hukuman. Pria itu akan menepatinya apa pun yang terjadi. Alhasil, Rayalah yang akan menderita seharian karena tidak bisa turun dari tempat tidur seperti yang ia rasakan kemarin. Wanita itu tidak mau lagi mengalami hal yang sama.
Raya pun menyetujui perintah Karan. Entah apa yang ditampilkan dalam lelang kali ini. Kendati berkecimpung di dunia modelling sejak lama dan sering mengamati mode serta gaya berpakaian artis-artis mancanegara, tetapi pengetahuan Raya akan seni sangat payah. Mungkin jika pelajaran seni muncul sekarang dan Raya wajib mengikutinya, niscaya wanita itu akan menjadi murid pertama yang tidak naik kelas karena sebegitu buruknya penilaian Raya akan seni, terutama seli lukis.
Nahasnya hari ini, di dalam acara lelang yang diselenggarakan oleh bibi Karan, barang-barang yang disuguhkan adalah lukisan-lukisan lama yang tidak dikenal oleh Raya, bahkan melihatnya pun rasanya wanita itu tidak pernah. Semuanya unik, dan juga aneh di mata Raya. Ketimbang lukisan yang terlihat begitu realistis, lukisan-lukisan tersebut malah lebih condong terlihat abstrak. Raya tidak akan tahu apa yang sedang dilukis andai ia tidak mendengar penjelasan makna yang disampaikan oleh pembawa acara. Ia pun mulai mengangkat papan nomor di tangannya ketika lukisan bertema anak-anak muncul.
“Tawaran pertama 20 juta rupiah. Adakah yang ingin menawar lebih tinggi?” seru sang pembawa acara.
Dengan penuh percaya dari Raya langsung menawarkannya dengan harga tinggi. “100 juta,” katanya. Raya tidak perlu melirik ke arah Karan, tapi ia yakin suaminya itu sedang menyeringai. Benar-benar laki-laki yang aneh. Alih-alih melarang istrinya untuk hidup boros, suaminya itu malah menyuruhnya menghabiskan uang yang sengaja pria itu bawa ke tempat ini. Tentu saja alasan utamanya bukan untuk memberikan sumbangan, melainkan untuk memamerkan harta kekayaan. Toh, itulah yang menjadi tujuan dari acara amal ini dilaksanakan. Dan bukan hanya Karan saja yang berpikiran seperti itu, mayoritas konglomerat yang hadir pun sepakat dengan nilai-nilai keangkuhan semacam itu.
“150 juta,” sahut seseorang yang berada di belakang Raya, tepatnya dua baris dari bangku yang Raya duduki. Ucapan pria itu membuat Raya terpancing, ia pun menawar dengan jumlah yang lebih mahal.
“300 juta,” ucap Raya. Sontak semua orang yang ada di sana bereaksi. Mereka mulai ribut dengan nominal yang disebutkan Raya. Ada yang berpikir pengetahuan Raya tentang seni begitu rendah karena sebuah seni yang hanya dihargai 20 juta ditawar hingga 300 juta. Ada pula yang mulai mencibir Raya, menganggap sang super model hanya ingin memamerkan kekayaan tanpa tahu nilai seni sama sekali.
Anehnya, ada juga orang yang menaikkan tawarannya di atas nominal yang disebutkan Raya. Orang yang sama dengan orang pertama yang melawan Raya. “400 juta,” cetus laki-laki itu.
Karena penasaran, Raya pun menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya ia melihat orang yang sedang beradu dengannya itu. Reagan, sang model laki-laki yang kini sudah kembali ke dunia akting. Sama seperti Raya, Karan pun terkejut dengan kehadiran Reagan di sana. Rasanya marah sekali. Seandainya mereka tidak berada di tempat umum ingin sekali Karan menghampiri Reagan dan memberikan pukulan mematikan di wajah rupawan laki-laki tersebut.
“500 juta,” ungkap Raya lagi. Ia tahu ini sangat berlebihan, tetapi ia harus melakukan hal ini. Karan sudah marah besar melihat kehadiran Reagan. Satu-satunya cara agar Raya bisa menenangkan Karan hanyalah dengan memenangkan duel lelang ini. Lagi pula, nominal yang disebutkannya masih jauh rendah dari jumlah yang laki-laki itu siapkan untuk lelang. Raya hanya membantu untuk menghabiskannya.
“Jadi bagaimana Pak Reagan? Apakah Anda mau menambah penawaran?” Sang pembawa acara memberikan kesempatan karena Reagan tampak ragu-ragu.
“Baiklah, apakah ada penawar lain?” sambung sang pembawa acara. Tentu saja tidak ada yang mau menawar lebih tinggi dari setengah miliar rupiah hanya untuk sebuah lukisan yang bahkan nama pelukisnya saja tidak terkenal. Karena itulah sang pembawa acara pun mengesahkan bahwa lukisan seorang anak perempuan yang sedang duduk di atas tanah dengan wajah yang kotor karena bermain lumpur itu sebagai milik Raya Drisana. “Ibu Raya, silakan naik ke atas. Dan untuk menyerahkan bukti tanda kepemilikan, saya undang Pak Reagan untuk naik ke atas panggung.”
Reagan lagi? Raya tersentak. Sebenarnya siapa Reagan? Apa posisinya hingga pria itu yang diminta untuk menyerahkan bukti kepemilikan lukisan kepadanya? Walaupun kepalanya dipenuhi tanda tanya besar, Raya tetap naik ke atas panggung setelah mendapatkan izin dari Karan. Raya tidak mau membuat keributan dengan memantik kemarahan Karan. Lebih baik wanita itu bernegosiasi dengan rasa posesif sang suami.
“Sebelum saya menyerahkannya, saya akan menyampaikan makna dari lukisan ini.” Reagan mulai menjelaskan alasannya berada di atas panggung. Lukisan itu adalah lukisan yang dibuat oleh seorang ibu yang terkena penyakit kanker. Anak yang dilukisnya itu adalah anaknya yang sedang bermain di atas lumpur dan lukisan itu merupakan lukisan terakhirnya sebelum sang ibu meninggal dunia. Dan sang ibu itu merupakan asisten rumah tangga yang pernah bekerja di rumah Reagan, sementara anak itu sekarang menjadi sahabat Reagan. “Memang sang pelukis bukanlah pelukis terkenal yang sering kita dengar namanya, tetapi lukisan ini tidak kalah nilai dan maknanya dengan lukisan-lukisan terkenal lainnya. Dan saya sebagai orang yang menjaga lukisan ini sangat bersyukur bahwa orang yang memiliki lukisan ini adalah Raya Drisana, rekan kerja saya sendiri.”
Semua orang menyambut dengan riuh ucapan Reagan. Tidak disangka ada makna yang begitu dalam dari lukisan tersebut. Mereka menduga bahwa Raya bisa memahami makna dari lukisan itu hingga sang super model mau merogoh sakunya untuk menawar lukisan itu. Padahal kenyataannya, Raya hanya asal menawar saja. Dari semua lukisan yang sudah dilelang sebelumnya, hanya lukisan anak ini saja yang membuat Raya tergugah dan mau menawar dengan harga yang tinggi.
Setelah penyerahan bukti kepemilikan, Karan langsung berdiri dan membantu istrinya yang turun dari tangga panggung. Karan merangkul pinggang Raya dengan posesif sambil berbisik, “Kau luar biasa, Sayang. Bagaimana kau bisa mencuri perhatian begitu besar, hm? Apa kau sudah merencanakan ini sebelumnya?”
Raya cepat-cepat menggeleng. Sebelum Karan mulai berpikir yang aneh-aneh dan tak masuk akal, ada baiknya Raya langsung mengklarifikasinya. “Karan, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku sama sekali tidak tahu Reagan ada di sini. Aku juga tidak tahu lukisan ini adalah sumbangan dari Reagan.”
Karan terkekeh melihat wajah panik Raya. Ia mengecup pipi sang istri sebelum membiarkan wanita itu duduk. “Aku tahu, Sayang. Aku mengerti. Kau tidak perlu takut seperti ini,” ungkapnya. Bagaimana Karan tidak tahu karena jelas-jelas ia melihat wajah terkejut Raya ketika melihat Reagan. Bukti bahwa Raya tidak tahu pria itu akan hadir di tempat ini. Lagi pula, Raya juga tidak mengerti apa pun tentang seni lukis. Sebab, dari semua barang sebelumnya yang telah terlelang, Raya malah memilih lukisan biasa yang nilainya tak sefantastis sebelumnya. Satu-satunya alasan Karan tetap diam meski sudah mengetahui kelemahan istrinya adalah karena ia ingin melihat wajah kalut sang istri yang kebingungan saat melihat beberapa lukisan. Bagi Karan itu adalah hiburan yang tidak ternilai harganya.
Satu-satunya masalah bagi Karan hanyalah Reagan. Bagaimana pria itu bisa masuk ke dalam acara ini? Karan benar-benar penasaran. Seingatnya keluarga dari sang ibu tidak punya kaitannya dengan Reagan, apalagi keluarga suami dari bibinya. Walaupun tidak begitu dekat dengan keluarga besarnya, Karan tetap memantau siapa saja orang yang menjalin hubungan dengan keluarganya. Karan melakukan itu karena ia yakin suatu saat akan membutuhkannya ketika ia berada di dalam situasi yang sulit. Misalnya untuk mengajak kerja sama atau yang terburuk adalah untuk mengancam mereka yang berani mengusik kekuasaannya.
Karan menatap tajam ke arah Reagan yang sedang turun dari atas panggung. Reagan masih sempat melempar tatapan pada Raya dan tersenyum pada wanita itu. Senyuman yang membuat Karan naik pitam hingga ia membayangkan bagaimana cara merobek bibir pria tidak tahu malu tersebut. Karan tidak mau mengakuinya, tapi ia memang terusik dengan kehadiran Reagan. Ia yakin laki-laki itu pasti sedang merencanakan sesuatu untuk merebut Raya dari sisinya. Dan Karan, meskipun harus kehilangan nyawanya tidak akan pernah menyerahkan Raya pada pria mana pun di muka bumi ini.