
Bola mata Raya tertuju pada Karan. Wajah pria itu kembali pilu. Ia benar-benar menunjukkan rasa sakit hatinya dan juga ketidakrelaannya. Jika ingin ditelisik lebih dalam, Raya juga tidak menerima kenyataan ini. Baginya ini juga tidak adil karena selama bertahun-tahun ia tidak tahu apa yang terjadi. Hidup dalam tekanan dan rasa bersalah tanpa tahu di mana letak kesalahannya. Walaupun tidak seperti Karan, Raya juga merasa bersalah dengan kejadian ini.
“Benar, ini tidak adil untukmu ... juga tidak adil untukku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak bisa menemuimu dan aku tidak bisa menebus kesalahanku.” Raya mengatur napasnya yang terasa sesak. Ia tidak ingin menangis. Itulah sebabnya ia begitu kesulitan menahan air matanya. “Maafkan aku, Karan. Karena perbuatanku, kau harus mendekam di penjara. Ini semua salahku. Seharusnya aku bisa menggantikan rasa sakitmu di penjara, tapi aku tidak bisa.”
Karan dengan cepat mengamit tangan Raya. Kepalanya menggeleng cepat, ingin menyampaikan bahwa ia tidak bisa melihat apa yang dilakukan oleh Raya. “Tidak Sayang, jangan katakan itu. Kau memang tidak pantas untuk masuk penjara hanya demi orang seperti itu. Kau terlalu baik untuknya. Aku tidak akan rela kalau kau sampai berada di posisiku, dan aku bersyukur karena bisa melakukannya demi dirimu. Sama sekali tidak menyesal. Dan ketika kita bertemu lagi, walaupun saat itu aku masih menyimpan kemarahan padamu, tapi aku merasa senang kau tumbuh dengan baik. Jadi, jangan salahkan dirimu.”
Tangannya menempel pada pipi Karan, itu membuat Raya sedikit berdebar. Bukan berdebar karena perasaan romantis seperti yang ia rasakan selama ini, melainkan rasa iba melihat Karan. Meskipun begitu, Raya harus tegas pada sang suami. Mereka harus berpisah. Ini demi Karan dan dirinya. Hubungan mereka sudah sangat buruk. Jika dipaksakan justru akan menyakiti satu sama lain. Inilah saatnya Raya mengutarakan keinginannya yang sesungguhnya.
Raya melepaskan tangannya dari Karan, ia tidak bisa terus berbicara dalam keadaan seperti itu. Meskipun berat, sudah seharusnya ia memutuskan hubungan mereka. Ia mengamit tangan Karan di pangkuannya dan berkata, “Karan, bisakah kita berpisah? Aku ingin kita bercerai. Jadi, tolong lepaskan aku, ya. Tolong!” Raya berbicara dengan bersungguh-sungguh. Kendati ini akan menyakiti mereka karena memang tidak ada perpisahan yang mudah, namun ini bisa membuat mereka akan berhenti untuk saling menyakiti.
“Bercerai?” Karan mengernyit. Ia begitu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Tidak disangka Raya akan mengajaknya bercerai secepat ini. Memang Rayalah yang paling ingin bercerai dengannya, tetapi Karan tidak menyangka dalam keadaan seperti ini. Dalam rencana Karan setidaknya mereka harus berbincang panjang tentang sesuatu karena ada banyak hal yang tidak bisa disampaikan Karan selama ini. Misalnya bagaimana kehidupan mereka selama ini, termasuk perasaan satu dengan yang lain.
Namun harapan Karan itu tidak sejalan dengan apa yang diinginkan Raya. Nyatanya wanita itu memang bersikeras untuk berpisah. Kalau bisa secepat mungkin. “Ya, aku mau bercerai secepatnya. Mungkin bulan ini sudah selesai. Aku juga ingin menghindari persidangan secara langsung. Kau tahu bagaimana keadaanku sekarang. Aku masih tidak sanggup menghadapi wartawan dan menjawab pertanyaan mereka.” Raya memegang perutnya seolah menunjukkan ketidakberdayaannya karena telah kehilangan sesuatu yang paling berharga dari dalam sana. Kehilangan separuh jiwanya.
Karan merasa sedih. Ia kembali meneguk salivanya. Raya menyerang mentalnya dengan sangat kejam. Sang istri selalu menunjukkan bahwa ada yang tidak lengkap di antara mereka, yakni anak. Itu cara yang sangat efektif karena Karan memang merasa sangat menyesal karena tidak bisa berinteraksi secara langsung dengan sang anak. Setidaknya menyapanya saat masih berada di dalam rahim sang istri. Namun apa yang terjadi, bukannya bersikap baik, Karan malah memperlakukan ibu dan anak itu dengan cara yang sangat buruk.
“Apa ini memang keinginanmu? Apakah tidak ada kesempatan untukku? Satu kali lagi Raya, tolong.” Karan mencoba untuk membujuk sang istri. Mungkin saja masih ada kesempatan terakhir untuk pria sepertinya. Apa pun akan Karan lakukan demi bisa berbaikan dengan Raya.
Karan memang merasa kesulitan, tapi Raya jauh lebih menderita darinya. Terlebih mereka baru kehilangan anak mereka. Itu pasti memberikan pukulan telak pada hidup Raya. Dulu, sewaktu Karan masih tinggal bersama orang tua angkatnya, ia melihat bagaimana menderitanya sang ibu yang merindukan putra semata wayangnya yang sudah dipanggil Sang Kuasa. Hal yang sama pasti juga dirasakan oleh Raya.
Sebelum menjawab Karan mendekati dirinya ke tubuh sang istri. Ia menghapus air mata yang tiba-tiba menetes dari kedua bola mata sang istri. Ini pasti juga tidak mudah bagi Raya. Keputusan untuk bercerai bukanlah hal yang gampang diputuskan begitu saja. Raya pasti sudah muak dengan pernikahan mereka. Dan perpisahan mungkin bisa menjamin hidup Raya jauh lebih baik. Itulah yang paling utama. Karan ingin sang istri bahagia bagaimana pun caranya.
Pria itu merengkuh tubuh sang istri. Dengan suara dalamnya yang serak karena menahan tangis, Karan berbicara, “Baiklah, ayo kita bercerai.”
Itu pelukan terakhir yang bisa Karan berikan pada Raya. Sebuah pelukan perpisahan yang sangat menyedihkan. Tidak ada yang tahu bagaimana patah hatinya Karan saat itu karena ia menyembunyikannya. Bahkan ia mewujudkan semua yang diinginkan Raya tentang perceraian mereka. Prosesnya cukup cepat hingga wartawan saja tidak bisa mendapatkan informasi dengan tepat kapan tepatnya pengadilan memutus hubungan suami-istri pasangan itu. Yang tampak hanyalah sebuah konferensi pers Karan yang mengatakan bahwa ia dan Raya sudah resmi berpisah. Dan pernyataan pria itu pun diamini oleh salah satu staf yang bekerja di pengadilan agama.
Sejak keputusan itu terbit, Karan kembali ke kehidupan lamanya. Bekerja. Pria itu juga lebih mendekatkan diri pada orang tua angkatnya. Walaupun bukan anak kandung mereka, Karan tetap diperlakukan baik. Mereka malah menganggap Karan sebagai putra kandung mereka sendiri. Seperti janji awal Karan, bisnis keluarga harus maju. Itu adalah tujuan awal Karan diadopsi oleh mereka. Untuk mewujudkan itu, Karan memfokuskan dirinya hanya untuk Reviano Group dan perusahaan jam tangan yang sudah sempat ia dirikan.
Meskipun begitu gila kerja tidak membuat Karan bahagia. Menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor dengan setumpuk dokumen, sama sekali tidak membuat Karan merasa senang. Ia memang punya tujuan untuk mengembangkan perusahaan, tapi ambisi hidupnya sendiri sudah pupus. Karan tidak bisa menemukan arti dalam hidupnya. Sebagian besar hanya demi mencari uang.
Padahal yang terjadi sebenarnya, Karan begitu kesepian. Pria yang tampak sukses dan selalu diliput media karena prestasinya di dunia bisnis itu tak ubah seorang duda yang merasa hidupnya begitu hancur. Ia merindukan kekasihnya ... merindukan istrinya ... merindukan seseorang yang bisa ia jadikan sebagai tempat untuk pulang.