
Semua yang dikatakan Raya benar. Dengan mengumumkan bahwa foto-foto itu merupakan bagian dari promosi video klip lagu sebuah band terkenal, isu miring tentang kedekatan mereka pun mereda. Tidak hanya mampu menghentikan ujaran-ujaran negatif dari masyarakat, ide yang diberikan Raya juga mampu membuat perusahaan untung besar. Berkat rasa ingin tahu masyarakat yang tinggi pasca penyebaran gosip, mereka berbondong-bondong menyaksikan langsung video musik itu di berbagai platform. Alhasil, dalam waktu sehari, belasan juta orang sudah menyaksikan video tersebut dan membuat lagu itu diperdengarkan ratusan kali di televisi maupun radio. Bahkan hanya dalam satu hari setelah dirilis, Raya dan Reagan mendapatkan banyak sekali panggilan telepon dari perusahaan-perusahaan yang ingin mengajak mereka bekerja sama untuk memasarkan produk mereka.
Hasilnya sangat positif, tetapi Raya lupa satu hal. Ia lupa tentang Karan, tentang bagaimana tingkat posesif suaminya yang tidak bisa terkontrol itu. Raya memang sudah mencoba menghubungi Karan sejak isu itu beredar dua hari yang lalu. Sayangnya, Karan tidak mengangkatnya. Pria itu pun tidak membalas pesan yang dikirimkan Raya. Mungkin Karan sedang sibuk. Itulah pikiran Raya awalnya. Pikiran sederhana yang polos dan tidak tahu apa-apa.
Hingga sebuah petaka muncul. Raya berniat akan melanjutkan perbincangan mengenai program acara Putri Kecantikan Indonesia 2023, mendadak dikejutkan oleh kehebohan orang-orang di sekitarnya. Mereka saling berbicara satu sama lain ketika melihat seseorang masuk secara mendadak ke dalam ruangan, lalu berjalan ke arah Raya dan menyentuh kedua pundak wanita itu dari belakang.
“Sayang, bisakah kau keluar sekarang?” tukas orang itu dengan nada dalam yang sedikit mengancam.
Seketika Raya terbelalak. Segera ia berpaling dan tersentak melihat sosok sang suami ada di sana. “Karan? Kenapa kau ada di sini?” Sungguh Raya tidak tahu jadwal suaminya sama sekali, termasuk jadwal kepulangannya. Ini belum genap tiga hari laki-laki itu pergi ke Berlin. Lalu, apa yang dilakukannya di sini? Apalagi di ruangan tempat Raya mengadakan rapat dengan para staf produksi. Pasalnya tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana kecuali orang-orang yang memiliki kepentingan, dan Raya rasa suaminya tidak punya kepentingan apa pun di sana.
“Kesabaranku hampir habis, Sayang. Ayo pulang sebelum aku berbuat kasar di tempat ini,” ancam Karan lagi. Mata cokelat kehitamannya menyalak menatap wajah Raya. Dari sorotan mata itu jelas terlihat kemarahan, cemburu dan kebencian yang begitu besar. Karan sedang emosi. Sepertinya emosinya itu tidak bisa ditahan lagi.
“Baiklah aku akan keluar.” Raya hanya bisa pasrah sebelum Karan membuat keributan di sana. Pria itu tidak pernah main-main dengan perkataannya. Sekali Raya membantah, maka Karan akan mengabulkan perkataannya. Ia tipe yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Maaf, saya ada urusan sangat penting dengan istri saya. Bolehkah saya membawa istri saya pulang sekarang? Asisten saya ada di sini untuk membicarakan ganti rugi pemutusan kontrak kerja sama Raya Drisana. Terima kasih.”
Begitulah yang Karan katakan. Tidak hanya sebatas meminta izin ingin berbicara dengan sang istri, bahkan Karan mengatakan akan memutuskan kontrak kerja sama Raya dengan pihak acara. Ian pun sudah berdiri di balik pintu bersama tiga orang kuasa hukum yang biasanya hadir untuk membela Karan saat pria itu terlibat sebuah masalah hukum. Kemudian, Karan menarik tangan Raya dan menyuruh Ian bersama tim kuasa hukum itu untuk membereskan masalah selanjutnya.
“Karan, lepaskan!” ucap Raya yang mendesis karena menahan rasa sakit di pergelangan tangannya akibat cengkraman Karan yang begitu erat. “Karan tolong lepaskan. Aku tidak akan kabur, aku janji padamu.”
“Baiklah, maafkan aku. Ini salahku, tapi tolong lepaskan tanganku. Ini sangat menyakitkan, Karan,” rintih Raya.
Karan tampak tidak mau mendengar. Alih-alih melepaskan tangannya atau sekadar melonggarkan genggamannya, Karan malah menarik tangan Raya lebih erat dan berjalan lebih cepat hingga Raya kesulitan mengikuti langkah suaminya. Sepatu bertumit yang ia kenakan ditambah langkah kaki Karan yang lebar-lebar membuat Raya nyaris terjatuh berkali-kali. Kini bukan hanya tangannya saja yang sakit, kaki-kakinya pun ia rasa sudah tergores oleh pinggiran sepatunya.
Sang CEO baru melepaskan tangan Raya saat mereka berada di dalam lift untuk membawa mereka turun ke lantai dasar, tempat Karan memarkirkan mobilnya. Dan sekali lagi, Raya tidak menepati janjinya. Wanita itu berusaha melarikan diri tepat ketika pintu lift telah terbuka. Dengan langkah cepat Raya hendak keluar dari sana, tetapi Karan dengan sigap menghentikannya. Pria itu pun langsung mengangkat tubuh Raya dan menggendongnya agar istrinya itu tidak bisa kabur lagi.
“Kalau kau berani keluar dari mobil, percayalah Raya, besok pagi kau tidak akan pernah lagi melihat kedua kakimu utuh,” tukas Karan penuh kemarahan melihat Raya yang masih saja ingin melarikan diri. “Jalan, kita ke rumah sekarang,” seru Karan pada sopir yang sudah duduk di kursi kemudi. Karena Ian sedang mengurus pemutusan kontrak kerja sama Raya, maka Karan pun harus membawa sopir yang lain.
“Aku tidak kabur, aku hanya ingin kau berhenti mencampuri urusanku. Hentikan pemutusan kontrak itu sekarang! Aku ingin bekerja, Karan. Aku ingin kebebasanku!” teriak Raya saat mobil sudah berhasil meninggalkan gedung stasiun televisi swasta itu. Untung saja Karan membawa mobil barunya yang mampu meredam suara dari dalam mobil. Karan membeli mobil ini beberapa jam yang lalu, ketika ia sampai di Indonesia. Awalnya Karan masih menggunakan mobil lamanya, tetapi karena terburu-buru mereka pun menabrak tiang pembatas jalan dan mobil itu harus dibawa ke bengkel.
Semua itu karena siapa? Karena Raya. Hanya tiga hari Karan meninggalkannya, tapi wanita itu sudah membuat ulah. Bayangkan, Karan harus mengambil penerbangan tercepat begitu ia baru saja tiba di Berlin. Hanya karena Karan membaca sebuah artikel yang mencatut nama istrinya. Artikel yang menampilkan foto Raya dan Reagen berciuman. Karan marah dan merasa sakit hati. Ia seperti dipermainkan oleh Raya. Padahal Karan sudah melakukan apa pun yang diinginkan oleh istrinya. Ia bahkan mengizinkan Raya menjadi juri acara kontes Putri Kecantikan Indonesia 2023 meskipun ia tahu acara itu akan menyita banyak sekali waktu sang istri.
Asalkan Raya bahagia. Asal Raya tetap menjadi miliknya dan selalu menunjukkan wajah cantiknya yang tersenyum. Tapi apa yang didapatkan Karan? Sebuah pengkhianatan. Persetan dengan akting dan profesionalisme dalam pekerjaan. Karan pun tidak peduli apakah foto itu asli atau tidak. Satu yang pasti, dalam video musik itu sudah jelas terdapat adegan-adegan mesra Raya dan Reagan yang membakar perasaan cemburu Karan. Karena itulah Karan memutuskan untuk kembali pada sikapnya yang dulu. Ia tidak mau lagi melihat Raya meninggalkannya seperti 12 tahun yang lalu.
“Kebebasan apa yang tidak kuberikan padamu, ha?” bentak Karan yang sontak saja membungkam mulut Raya. “Aku sudah berbaik hati padamu, Raya. Sangat baik. Kau ingin bekerja, aku mengizinkannya. Bahkan kau pun meminta untuk menjadi juri, aku juga mengizinkannya. Tapi apa balasan yang aku dapatkan dari semua kebaikan itu? Kau malah berselingkuh dengan laki-laki berengsek itu!”
“Karan, tidak! Aku tidak berselingkuh,” potong Raya dengan cepat. Inilah yang Raya takutkan. Kemarahan Karan. Pria itu tampak tidak menyembunyikan sama sekali amarahnya. Wajahnya, tubuhnya bahkan tangannya gemetar, menunjukkan bahwa pria itu sedang menahan gejolaknya agar tidak terlepas lebih banyak. “Aku sama sekali tidak berselingkuh dengan Reagan, Karan. Semuanya ini hanya jebakan. Kami dijebak."