
Karan tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia tidak bisa membuka mulutnya sedikit pun. Napasnya sesak. Jantungnya bergemuruh. Sudah lama sekali ia tidak mendengar nama itu. Nama yang usang dalam ingatannya. Bila perlu nama yang harusnya ia lenyapkan dari kepalanya. Padahal hanya sedikit orang yang tahu nama itu. Mungkin hanya segelintir orang saja. Salah satunya Raya. Masalahnya, Raya tidak ingat siapa pemilik nama itu. Ia lupa ingatan. Lantas, bagaimana sang bibi tahu tentang nama itu? Terlebih wanita paruh baya itu menyebut ia dan Raya.
Karan hanya bisa memikirkan satu kemungkinan. Sepertinya Raya sudah ingat tentang masa lalu mereka. Karena semua data-data tentang Farraz sudah dienyapkan. Satu-satunya yang tidak bisa dihancurkan adalah ingatan yang tersimpan di dalam ingatan penduduk di kampung di sepanjang jalan Asoka. Termasuk ingatan Raya meskipun wanita itu sempat kehilangan ingatannya sendiri. Jadi, kemungkinan identitas Farraz muncul ke permukaan sangatlah besar. Jika itu benar-benar terjadi, Karan tidak akan tahu apa yang terjadi di kemudian hari.
Jalan Asoka selalu menjadi perbincangan setiap kali membicarakan tentang Karan dan Raya. Penyebabnya hanya satu. Karena kedua orang itu punya kenangan di sana. Ada salah satu SMA yang ada di sana dan juga sebuah panti asuhan yang sangat ikonik di sana. Yang melambangkan daerah itu. Tentunya selain dikenal sebagai kawasan kumuh dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. Kemiskinan akan selalu berjalan searah dengan kejahatan karena orang-orang akan berbuat jahat setiap perut mereka kosong. Itulah yang membuat daerah itu dipenuhi oleh orang-orang yang sering berbuat kejahatan. Jalan yang menyimpan banyak misteri untuk Karan dan Raya. Jalan yang juga membuat mereka kehilangan kebahagiaan.
Ada rahasia besar yang tumbuh dan berkembang di perkampungan di Jalan Asoka. Rahasia tentang siapa Karan sebenarnya. Bukan tanpa sebab Karan membantu daerah itu dan memajukannya. Itu bukan karena rasa iba dan pedulinya terhadap sesama. Karan tidak sebaik itu. Ia melakukan kegiatan amal bukan untuk melakukan kebaikan, tetapi untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat. Untuk membuat citranya sangat baik di depan masyarakat. Hingga menjadi panutan bagi beberapa orang. Dengan begitu, Karan bisa dengan mudah mengembangkan perusahaan Reviano bahkan sampai membangun perusahaannya sendiri. Biar bagaimanapun, Karan harus membuktikan dirinya berguna agar bisa bertahan dalam keluarga itu. Karena hanya itulah yang bisa Karan lakukan sebagai bentuk balas budi.
Alasan paling tepat mengapa daerah di sepanjang Jalan Asoka diperbaiki oleh Karan adalah karena daerah itu adalah tempat tinggal Karan. Setidaknya selama 16 tahun ia tumbuh dan besar di sana. Melewati masa kanak-kanak hingga dewasa dengan melewati jalanan kumuh itu. Hidup sebagai seorang anak yang tinggal di panti asuhan di sana. Sejak kecil, kemiskinan dan kejahatan adalah hal yang lumrah Karan lihat sehari-hari. Kampung tempat tinggalnya tidak pernah sepi dari keributan. Entah karena terjadi sesuatu tindakan kriminal atau malah didatangi polisi yang mencari seorang penjahat di sana.
Meskipun berlangsung lama, tidak ada perubahan yang berarti di kampung itu. Hidup masyarakat semakin terjepit dan terancam, sementara para pejabat daerah hanya menutup mata. Menganggap kampung-kampung kumuh di sepanjang Jalan Asoka tidak pernah ada dalam wilayah kekuasaan mereka. Ah, salah. Kampung-kampung itu pernah ada dalam radar mereka saat pemilihan umum berlangsung. Untuk mendapatkan suara dari lebih dari seribu orang dewasa yang tinggal di lima kampung kumuh itu. Mungkin suara seribu orang tidak cukup untuk memenangkan pemilihan suara, namun bisa jadi penentu di antara dua orang yang sering menjadi kandidat pemimpin daerah.
Pada saat itulah mereka berbondong-bondong datang ke Jalan Asoka. Hanya demi kekuasaan mereka menahan bau busuk air sungai yang menyebar di sekitar kampung, yang tidak pernah dibersihkan dan menjadi tempat pembuangan sampah masyarakat. Lalu, memasang tampang ramah bak seorang malaikat yang akan menyalamatkan penduduk kampung dari kesulitan. Dan tentu saja meminta warga untuk memilih mereka. Bisa dengan sogokan atau dengan cara terang-terangan yang sangat frontal.
Satu-satunya yang disyukuri penduduk kampung saat kedua kandidat itu datang adalah untuk sesaat, kampung mereka menjadi kampung yang damai. Tidak ada kejahatan yang terjadi. Tidak ada bunyi sirene polisi atau ambulans yang sering memekikkan telinga. Justru sebaliknya, untuk beberapa hari masyarakat tidak akan menderita lagi menahan perut mereka yang kosong karena mereka mendapatkan bantuan dari kedua kandidat. Dua kilogram beras, beberapa butir telur dan mi instan sudah cukup untuk membeli satu suara penduduk di sepanjang Jalan Asoka. Karena bagi masyarakat, siapa pun yang terpilih tidak akan berpengaruh pada hidup mereka. Kemiskinan akan terus menjerat dan hidup mereka akan selalu dibayang-bayangi tindakan kriminal.
Jadi, mengapa mereka tidak mengambil keuntungan saja dari acara yang disebut pesta rakyat itu? Jika dengan menjual satu suara mereka bisa makan selama tiga hari, mereka akan lebih memilih menjualnya. Jangankan hanya suara dalam pemilihan umum, beberapa orang di daerah itu pun sudah beberapa kali menjual tubuh dan nyawa mereka demi mendapatkan uang.
Lantas, apa yang membuat Karan rela merevitalisasi daerah itu? Apakah hanya karena salah satu kampung di Jalan Asoka adalah rumah masa kecilnya? Tidak. Karan tidak punya perasaan sentimental seperti itu. Ia tidak peduli dengan rumah yang hanya sebuah bangunan. Selain karena janjinya pada Raya, Karan melakukannya karena beberapa warga yang telah menyelamatkannya, membantunya untuk keluar dari tempat mengerikan yang pernah ia tempati selama dua tahun. Dari sebuah ruangan sempit yang dikelilingi tembok dan ditutup dengan besi-besi kuat. Dari penjara.
Tidak ada yang percaya bahwa Karan Reviano yang merupakan orang terpandang, seorang pengusaha sukses yang memiliki citra mulia di depan kamera, dan seorang anak tunggal dari keluarga konglomerat Reviano pernah mendekam di dalam penjara selama dua tahun. Semuanya tidak akan percaya jika Karan yang sekarang memang Karan Reviano yang sebenarnya. Karena pada kenyataannya, Karan bukanlah putra tunggal keluarga Reviano yang sakit-sakitan itu. Karan yang sekarang adalah pria yang menggantikan Karan asli sepuluh tahun lalu. Ia menggantikan seorang pemuda yang telah meninggal satu tahun sebelumnya, yang kematiannya dirahasiakan oleh orang tuanya dan tidak diketahui oleh satu orang pun, bahkan oleh keluarga besar Reviano.
Nama Karan yang sebenarnya adalah Farraz. Seorang pemuda penyuka matematika dan sangat pintar di sekolah. Anak yang tinggal di panti asuhan sejak bayi karena ditinggalkan oleh orang tuanya. Ayahnya adalah seorang pengusaha kecil di ibu kota yang berengsek karena telah meninggalkan ibunya setelah menidurinya. Tepat satu tahun setelah kelahiran Farraz, laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu akhirnya tewas dalam kecelakaan mengenaskan di jalan tol. Sementara ibunya meninggal setelah melahirkan Farraz. Alhasil, Farraz yang masih bayi pun harus dirawat oleh teman sang ibu yang kebetulan menjadi salah satu pengurus di sebuah panti asuhan yang ada di Jalan Asoka. Itulah yang membuat Farraz harus mendekam di tempat kumuh nan mengertikan itu.
“Ayahku orangnya seperti apa, Bi?” tanya Farraz pada seorang pengurus panti asuhan yang membawanya ke tempat itu. Seorang wanita yang juga merupakan teman sang ibu. Hanya wanita inilah yang Farraz anggap sebagai keluarga yang dipercayai oleh Farraz.
Meskipun dikatakan sebagai panti asuhan, tapi tempat itu tak ubah sebuah hutan rimba versi mini. Versi yang lebih ringan untuk anak-anak agar bisa bertahan hidup. Tidak hanya para pengurus yang sering mengambil uang donatur yang seharusnya diberikan kepada anak-anak di sana, tetapi juga anak-anak yang sering berkelahi satu sama lain. Sama seperti alasan orang dewasa sering berbuat kejahatan karena miskin, anak-anak itu juga bisa kelaparan. Dan mereka akhirnya berlaku kasar dan saling menyerang untuk merebut makanan milik anak lain agar perut mereka terisi makanan. Pemandangan yang tidak jauh berbeda dengan di luar panti asuhan di sepanjang Jalan Asoka.
“Dia itu laki-laki berengsek. Dia sudah meninggalkan ibumu saat kau masih dalam kandungan. Syukurlah kalau dia mati,” cetus wanita itu.
Jangan heran mengapa ucapannya begitu kasar kepada seorang Farraz yang saat itu masih berusia enam tahun. Sebab begitulah masyarakat sekitar saling berkomunikasi. Biaya sekolah yang tinggi membuat mayoritas masyarakat di sana hanya mendapatkan pendidikan yang sangat minim. Masih mending sudah bisa membaca, menulis dan berhitung karena masih banyak juga yang sama sekali buta huruf. Jadi, hanya itulah yang bisa pengurus panti asuhan itu pelajari dari lingkungan sekitarnya.
“Apa laki-laki itu tidak pernah datang ke sini sebelum meninggal?” Farraz hanya mengulangi apa yang dikatakan orang yang telah merawatnya itu. Saat sang pengurus menyebutnya sebagai laki-laki berengsek, maka Farraz akan melakukan itu. Ia tidak akan memanggil orang yang dibenci oleh wanita itu dan ibu sebagai seorang ayah. Ia tidak sudi dengan hal itu.
“Tidak. Setelah tahu ibumu hamil, dia langsung kabur. Dasar laki-laki pengecut! Setidaknya dia meninggalkan sesuatu untuk ibumu. Tapi selembar uang pun tidak! Bagaimana dia bisa hidup dengan nyaman selama setahun? Seharusnya dia mati saja setelah kabur dari ibumu.”
Setelah mengatakan kalimat kasar yang dibalut dengan kemarahan itu, Ia pun menjadi sadar akan sesuatu. Ia sudah mengutarakan hal yang buruk terhadap anak yang baru berusia enam tahun. Untunglah ia bisa dengan cepat memperbaiki suasana dengan berkata, “tapi setidaknya dia menurunkan kecerdasannya padamu. Itu hal yang harus kau syukuri dan kembangkan, Farraz. Kelak, kau harus bisa lebih kaya dari laki-laki itu agar kau bisa membalas rasa sakit hati ibumu.”
Bagi orang-orang di sana yang selalu mengalami hidup menderita, uang memang segalanya, tetapi cara untuk mendapatkan uanglah yang lebih penting. Uang dapat hilang dengan cepat, namun caranya tidak akan hilang. Itulah yang membedakan orang cerdas dan orang biasa.
"Iya Bi," sahut Farraz saat itu, saat ia masih kecil dan belum mengerti apa-apa.
Pembalasan dendam adalah pelajaran pertama yang Farraz dapatkan dari panti asuhan di daerah kumuh itu. Bagaimana cara untuk membalas rasa sakit hati dan melampiaskannya dengan cara yang tepat. Pendidikan bahwa tidak mudah memaafkan seseorang dan setiap orang yang melakukan kesalahan harus mendapatkan balasannya. Dengan pendidikan itu, Farraz tumbuh menjadi seorang pemuda yang begitu ambisius hingga ia bertemu dengan seorang gadis yang bernama Raya Drisana di bangku SMA.