Lies

Lies
Aku Hanya Melihatmu



Karan masih saja mengelak meskipun sedang terdesak. Raya tahu kesalahan suaminya, tetapi ia masih saja mengikuti langkah pria itu. Meskipun sedikit lelah karena terus saja berputar-putar di tempat yang nyaris sama, Raya mendapatkan pengalaman baru dengan sang suami. Pengalaman berkencan dengannya di jalanan kota Milan. Persis seperti yang dikatakan Karan, tidak ada satu pun orang yang mengenali Raya. Wajar saja karena mayoritas penduduk di kota Milan termasuk orang-orang yang cuek. Sekalipun Raya seorang artis Hollywood yang sering mengisi layar lebar, ia yakin tetap tidak ada yang akan mengambil foto-foto atau mengganggunya seperti yang sering Raya alami di Indonesia. Mungkin ini salah satu budaya orang barat yang perlu ditiru oleh masyarakat Indonesia, yaitu selalu menjaga privasi orang lain.


Ada hal lain yang Raya sukai dari pengalaman kesasar mereka ini. Sesuatu yang jarang Raya alami bersama Karan di tempat mana pun. Karan menggenggam tangannya seolah-olah tidak akan mau membuat Raya pergi dari sisinya. Sesekali Karan juga berjalan sambil melirik ke arah Raya, memastikan istrinya itu dalam kondisi baik. Ketika Raya terlihat sedikit kelelahan, Karan akan mengajak Raya berhenti berjalan sejenak atau setidaknya pria itu akan memperlambat langkahnya. Karan akan menyesuaikan langkahnya dengan Raya yang pelan sebab langkah kaki Raya jauh lebih pendek dari langkah kaki yang Karan ambil.


“Apa kau sudah lelah? Apa kita kembali saja?” tanya Karan pada akhirnya. Ucapan itu mengejutkan Raya. Apakah Karan sudah menyerah sekarang? Setelah hampir dua jam mereka berputar-putar, apakah pria itu kini sadar bahwa ia salah arah hingga membuat mereka kesasar? Raya mengamati wajah Karan. Pria itu tampak tertekan. Ada juga penyesalan yang terlihat dari sorotan matanya. Sepertinya pria itu benar-benar merasa bersalah karena telah keras kepala hingga memaksa mereka berjalan sejauh ini.


Bukannya menyetujui ucapan Karan, Raya malah menantang laki-laki itu dengan mengucapkan satu kalimat, “Jadi kau sudah menyerah?”


Jelas saja Karan terbelalak. Menyerah bukanlah kata yang ada di kamus hidup Karan. Ia tidak mau menyerah dan tidak akan pernah melakukan hal itu apa pun terjadi. Raya saja yang sudah menghilang dari hidupnya selama 12 tahun bisa ia dapatkan kembali. Harta kekayaan yang selama ini hanya Karan mimpikan sepanjang hidupnya di masa lampau, kini benar-benar ada di dalam genggaman tangannya. Perusahaan yang makmur dan memiliki ratusan ribu pekerja bisa dipimpin dengan baik oleh Karan. Bagaimana mungkin ada kata menyerah dalam hidup Karan? Mustahil sekali.


“Tidak! Aku tidak menyerah,” elak Karan karena ia memang merasa tidak menyerah sama sekali. Hanya saja, Karan tidak mau bersikap egois. Ia bersama Raya sekarang. Andai saja ia sendirian melintasi belasan kilometer, maka ia tidak akan pernah menyerah. Namun, Raya tidak sekuat Karan. Istrinya itu punya fisik yang rapuh, tidak sepertinya yang sudah teruji. Jadi, alangkah baiknya jika Karan menghentikan keras kepalanya ini. Lebih baik mereka kembali ke tempat penginapan ketimbang berjalan-jalan tanpa arah seperti ini. Ia tidak mau membuat Raya menderita karena kelelahan berjalan kaki. “Aku hanya tidak ingin melihat istriku kelelahan,” sambung pria itu.


Raya tersenyum senang. “Benar, aku lelah. Tapi aku ingin masuk lagi ke Giardini Pubblici Indro Montanelli. Sudah lama aku tidak ke sana. Kau bisa menemukannya untukku bukan?” Raya berkata dengan memasang wajah antusias. Jika boleh jujur, kakinya sudah terasa sakit. Mungkin sekarang sudah bengkak. Walaupun ia sudah memakai sepatu kets yang cukup nyaman, tetapi tetap saja berjalan sejauh ini bisa membuat kakinya terluka. Belum lagi bekal yang mereka siapkan sudah habis mereka santap beberapa saat lalu. Persediaan air mineral di botol minuman mereka pun sudah semakin menipis. Namun, Raya tetap ingin mengembalikan wajah ceria Karan, dan ia pikir inilah satu-satunya cara untuk melakukan itu.


“Baiklah, kau tunggu di sini saja. Aku akan bertanya pada orang-orang sekitar,” ucap Karan menemukan solusi yang seharusnya sudah ia tempuh sejak tadi. Hanya karena keangkuhannya, Karan tidak mau melakukannya. Ini adalah tindakan konyol. Karena perbuatannya, ia harus melihat Raya kelelahan seperti ini. “Pintu masuk timur ada di sana, Sayang. Sekitar lima menit dari sini. Tapi, kita kembali ke penginapan saja ya? Besok saja kita kembali ke sini,” tawar Karan sembari mendekati istrinya yang sedang duduk di bangku jalan. Wanita itu terlihat sedang menggoyang-goyangkan kakinya karena merasa tidak nyaman. Sepertinya ada yang salah dengan kedua kakinya.


“Kau yakin? Apa tidak sekarang saja? Tinggal lima menit lagi kita sampai. Bukankah itu sayang?” kata Raya sembari menarik kedua kakinya agar Karan tidak terlalu memperhatikannya.


Alih-alih menjawab, Karan justru berjongkok di depan Raya. Ia menyentuh kaki kiri Raya. Meskipun sudah ditarik sekuat tenaga oleh wanita itu, tetap saja Karan bisa memegangnya. “Kakimu bengkak ternyata. Maafkan aku, Sayang. Tidak seharusnya aku bersikap keras kepala sampai melukaimu seperti ini. Aku benar-benar menyesal,” tukas Karan. Dalam nada suaranya terdengar penyesalan yang sangat besar.


“Ini bukan apa-apa. Aku masih bisa berjalan, Karan.” Raya mencoba memaksakan diri berdiri, tapi ternyata gagal. Ia kembali terperenyak di atas bangku. Ternyata dampak dari bengkak itu sudah terasa sekarang. Rasa nyeri sudah mulai menjalar di kedua kakinya.


“Sayang, tidak!” cegah Karan saat Raya mencoba untuk berdiri lagi. Inilah Raya yang ia kenal selama ini. Raya yang suka memaksakan diri dan selalu menyembunyikan rasa sakitnya. Karan tidak mau penyesalan di masa lampau terjadi lagi, di mana Karan terlambat menyadari luka yang Raya terima. Akibatnya Raya menanggung semua itu seorang diri saja sementara Karan tidak tahu apa-apa sama sekali. “Kau terluka, Sayang. Jangan berdiri lagi.”


“Tapi, kita harus ke sana.”


Karan menggelengkan kepalanya. “Iya, tapi tidak sekarang. Kita pergi besok. Sekarang kita pulang.”


Wajah Raya berubah kecewa dan ia menghela napas panjang. “Baiklah ... tapi, bagaimana caranya kita kembali ke penginapan kalau aku tidak boleh berdiri?”


Raya mengernyit tidak mengerti. “Maksudnya?”


Dalam keadaan masih berjongkok, Karan memutar tubuhnya. Kini punggungnya lah yang berada di depan Raya. “Ayo, aku akan menggendongmu,” tukas Karan sembari melirik ke belakang.


Kedua mata Raya terbuka lebar, namun ia tetap menuruti perkataan suaminya. Ia pun mendekati punggung Karan. “Ini pertama kalinya ya,” celetuk Raya setelah mereka berjalan di mana tubuhnya sudah digendong oleh Karan. Ia menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian dengan tangan yang berkaitan satu sama lain di depan leher Karan.


“Tidak,” balas Karan.


“Tidak?” Raya mengerutkan keningnya. “Apa kita pernah melakukan ini sebelumnya?”


Ya, sering. Saat kita masih remaja. Kau selalu terluka karena terjatuh saat memanjat pohon untuk mencuri buah tetangga. Dan aku harus menggendongmu di punggungku seperti ini. Atau saat kau tertidur saat menungguku latihan basket. Aku tidak akan membangunkanmu, tapi memilih menggendongmu.


Karan ingin sekali mengatakan hal itu pada Raya, tapi ia tidak bisa. Kalimat itu hanya bisa tersimpan dengan sempurna di dalam hatinya tanpa bisa keluar dari bibirnya. Ini adalah saat-saat tersedih untuknya, di mana semua kenangan masa lalu mereka tidak pernah diingat oleh sang istri sama sekali. Menyimpan kenangan ini membuat dadanya terasa sesak. Seandainya Karan tidak punya kontrol diri yang kuat, pasti sekarang ia sudah menangis. Benar-benar pria yang menyedihkan.


“Ya, aku pernah menggendongmu saat kau ketiduran di ruang tamu rumah kita. Apa kau lupa?” Karan sengaja mengalihkan pembicaraan dari yang ada di dalam hatinya.


“Iya, aku ingat. Tapi waktu itu tidak seperti ini. Kau menggendongku di depan.”


“Memang apa bedanya? Sama-sama aku gendong ‘kan?”


“Sangat berbeda karena di posisi ini, aku bisa melihat apa yang selama ini kau lihat. Aku bisa memosisikan diriku menjadi dirimu.”


Karan tersentak mendengarnya. “Tidak ada yang menarik menjadi diriku.”


“Tidak, ini sangat menarik.”


“Kau tidak akan bisa melihat apa-apa ketika berada di posisiku, Sayang. Karena aku hanya akan melihatmu.”