
Mobil mewah Karan melaju di jalanan aspal ibu kota sampai ke bandara. Tepat beberapa meter sebelum mobil berhenti, ada puluhan penggemar Raya yang datang di pintu masuk bandara. Inilah yang Raya tidak suka jika agendanya diketahui oleh publik. Ia harus melihat penggemanya berdesak-desakan di sana. Padahal itu tidak perlu dilakukan sama sekali. Terlebih cuaca di tempat itu tidak bagus. Awan mendung mengepung bandara, mungkin sebentar lagi akan turun hujan lebat. Jika sudah begini, bagaimana para penggemar Raya itu akan pulang?
Sopir menghentikan mobil dan para pengawal langsung berdiri di pintu mobil. Karan mengulurkan tangan menyentuh bahu Raya. “Kita turun sekarang, Sayang?” tanyanya karena melihat sang istri masih membenahi tasnya. Mungkin wanita itu perlu beberapa waktu untuk bersiap.
“Ya, tapi tunggu sebenar,” sahut Raya. Matanya memandang sekitar, tampak sedang mencari sesuatu. Ada sebuah kalung pemberian sang bibi yang terlepas dari lehernya. Memang kalung itu tidak biasa Raya gunakan, tapi khusus untuk hari ini, ia pun menggunakan kalung tersebut karena ia ingin mengingat masa lalu. Kata adik dari ibunya itu, Kalung yang ia kenakan merupakan kalung milik ibu kandungnya yang diberikan kepada sang bibi. Namun karena Raya menginginkannya, akhirnya wanita paruh baya itu pun memberikannya pada Raya.
“Kau mencari apa?” Karan ingin membantu istrinya yang terlihat cemas itu. Pasti ada hal berharga yang sedang dicari oleh Raya. Kemudian, tanpa sengaja Karan melihat sebuah kalung yang jatuh di atas sepatunya. Mungkin kalung itulah yang sedang dicari oleh sang istri. “Kau mencari kalung ini, Sayang?” tanya Karan sambil mengambil benda tersebut dan menunjukkannya kepada sang istri.
Raya melihatnya dan mengangguk cepat. Tak lupa ia juga tersenyum bahagia karena telah menemukan kalung miliknya. “Iya, aku mencari ini. Bagaimana kau tahu? Di mana kau menemukannya?” tanyanya bingung.
“Ada di kakiku. Simpanlah dengan benar supaya kau tidak kehilangan benda itu terus-menerus,” komentar Karan. Pasalnya tidak sekali ini saja Raya kehilangan benda itu. Dulu sewaktu mereka bersama, Raya selalu menjatuhkan kalungnya di sembarang tempat bahkan pernah masuk ke dalam got. Berkat itulah mau tidak mau Karan harus rela menjeburkan diri ke dalam got demi mencarinya. Beruntung Karan bisa menemukan kalung itu dan memberikannya kepada Raya. “Betulkan pengaitnya kalau kau mau mengenakannya, Sayang. Aku sudah mengatakannya berkali-kali padamu,” celetuk Karan kesal.
Masalah utama mengapa Raya sering kehilangannya adalah karena pengait kalung itu sudah tidak berfungsi dengan baik. Karan pikir setelah 12 tahun istrinya itu akan memperbaiki kalung milik ibunya itu. Tetapi malah semakin parah. Karan tidak tahu apa yang akan terjadi pada Raya jika kalung itu jatuh di tempat lain, atau yang lebih parahnya hilang dan tidak ditemukan sama sekali. Sudah pasti Raya akan menangis. Hal yang hampir sama seperti yang pernah wanita itu tunjukkan dulu.
Kalimat yang terlontar dari bibir Karan tanpa sengaja itu membuat Raya tersentak. Apa maksud dari ucapan suaminya? Memang bukan pertama kali Raya mengenakan kalung itu selama mereka menikah, tetapi ini pertama kalinya ia kehilangan benda tersebut di depan Karan. Lantas, mengapa laki-laki berbicara seolah-olah ia sudah sering kehilangan benda tersebut? Memangnya kapan kalung miliknya itu pernah hilang?
“Kapan kau mengatakannya padaku?” ucap Raya pada akhirnya.
Karan pun terbelakak. Ia menyadari apa yang sudah keluar dari bibirnya beberapa saat yang lalu. Benar-benar salah perhitungan. Tidak seharusnya ia mengatakan kalimat itu kepada Raya yang jelas akan menimbulkan kecurigaan sang istri padanya. Sebaiknya Karan segera mengalihkan pembicaraan agar Raya tidak kembali mengungkit-ungkit masalah kalung itu dan membuat Karan salah bicara lagi.
“Kita turun sekarang ya? Kasihan mereka sudah menunggu lama,” tukas Karan sembari menunjuk ke arah puluhan pengawal yang berjejer untuk menahan serbuan para penggemar Raya. Jika Karan dan Raya tidak turun sekarang, mereka tidak akan bisa menahan para penggemar itu lebih lama lagi. Terlebih ketika mereka merasa curiga karena Raya tidak kunjung keluar dari mobil.
Raya mengikuti arah pandangan Karan dan ia pun setuju. Situasi sudah mulai tidak kondusif. Sebaiknya mereka keluar sekarang sebelum semuanya menjadi lebih parah. “Ya, ayo kita pergi sekarang,” serunya.
Karan pun membuka pintu dan mengajak sang istri keluar. Meskipun Raya ingin menghampiri para penggemarnya sebenatar, misalnya dengan memberikan sebuah salam kepada mereka, sayangnya hal itu tidak dimungkinkan. Entah siapa yang memotori para penggemar itu tetapi semakin lama jumlah mereka semakin bertambah. Raya dan Karan bahkan harus berlari agar bisa menghindari mereka.
“Wah, para penggemarmu mengerikan, Raya. Mereka seperti ingin memukuliku,” keluh Karan usai mereka berhasil berada di ruang tunggu VIP bandara. Masih tersisa waktu sekitar 20 menit sebelum penerbangan. Masih cukup untuk beristirahat sejenak di ruang tunggu.
Raya mengangguk setuju. “Aku tidak tahu kenapa mereka begitu. Mereka tidak seperti itu sebelumnya. Aku juga tidak mengerti kenapa mereka begitu membencimu.”
Ujaran kebencian terhadap Karan begitu kentara sewaktu mereka lewat. Ada beberapa penggemar yang menyerukan bahwa Karan adalah biang keladi dari menghilangnya Raya dari media massa. Mereka menganggap Karanlah yang menahan Raya agar sang super model tidak bisa melanjutkan kariernya. Anggapan itu memang benar adanya karena pada kenyataannya memang Karanlah yang melarang Raya kembali ke dunia hiburan. Tetapi masalahnya, mengapa meraka bisa beranggapan begitu? Dari mana mereka mendapatkan kesimpulan seperti itu?
“Mungkin mereka berpikir aku sudah mencurimu dari mereka. Padahal itu kebalikannya. Kau milikku, tapi mereka yang berusaha mencurimu dariku,” ungkap Karan tidak mau mengalah. Di saat-saat seperti ini saja Karan masih menunjukkan rasa cemburunya yang besar kepada Raya. Bahkan, pria itu tidak segan-segan melawan penggemar dari istrinya sendiri.
Logikanya, Raya bukan pertama kali berpacaran. Sudah ada beberapa laki-laki yang ia perkenalkan sebagai kekasih di depan publik. Raya juga sempat menunjukkan tunangannya kepada mereka. Hasilnya baik-baik saja. Tidak ada keributan yang terjadi dengan mengatasnamakan para penggemar. Yang terlihat justru sebaliknya. Para penggemar Raya malah memberikan dukungan besar kepada sang mantan tunangan dengan memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua.
Sebenarnya Karan tidak mau ambil pusing masalah ini. Namun setelah mendengar ucapan istrinya, mau tidak mau Karan pun ikut berpikir. Ini memang aneh. Kebencian terhadap dirinya terkesan seperti dibuat-buat. Seolah-olah ada yang mengompori para penggemar Raya itu untuk memusuhinya. Mungkin benar apa yang Raya katakan. Ini bukan murni tindakan penggemar, tetapi ada orang lain yang ingin mengambil keuntungan dari situasi ini.
“Bagaimana menurutmu? Apakah ada orang lain yang ingin mengganggu kita?” tanya Karan berusaha mencari tahu. Mungkin saja istrinya tahu siapa orang-orang di antara mereka yang menyimpan dendam kepadanya. Karan ingin melihat dari perspektif Raya karena jika dari perspektifnya, maka tidak hanya satu dua orang saja yang membencinya. Ada ratusan bahkan ribuan orang, termasuk para pengusaha yang kehilangan keuntungan karena dimonopoli oleh Reviano Group.
Kepala Raya bergerak, wanita itu menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Setahuku, aku tidak punya musuh sama sekali. Aku juga tidak tahu siapa orang yang membencimu sampai harus mengendalikan para penggemarku.”
“Ya sudahlah, jangan pikirkan itu lagi. Sekarang, kita harus kembali fokus untuk liburan, Sayang. Itulah tujuan kita melakukan bulan madu ini, bukan? Kalau kau tetap memikirkannya, bulan madu kita tidak akan terasa menyenangkan.”
Ucapan itu seratus persen benar. Karan dan Raya harus melupakan kejadian barusan. Bisa saja para penggemar itu hanya ingin melampiaskan kemarahan mereka karena jarang melihat Raya muncul di media. Dan pada akhirnya mereka menjadikan Karan sebagai sasaran kemarahan mereka. Sebenarnya, Raya bisa memanfaatkan itu untuk mendapatkan izin dari Karan. Terlebih laki-laki itu sangat memikirkan citra baiknya di depan publik. Kalau Raya bisa mendapatkan kesempatan, mungkin ia bisa kembali lagi bekerja sebagai model. Tentunya dalam jangka waktu yang lama.
Selagi mereka menunggu, Karan melakukan hal lain. Ia memang mengatakan kepada sang istri agar melupakan kejadian barusan. Tetapi yang ia lakukan malah berbanding 180 derajat. Karan tetap ingin mengusut kecurigaan sang istri tentang siapa dalang yang memotori pergerakan para penggemar itu. Karan pun menghubungi Ian. Ia terpaksa melakukannya karena hanya Ian sajalah anak buah yang paling Karan percayai dan paling bisa diandalkan. Sang CEO menjelaskan duduk permasalahannya kepada asistennya itu dan berharap sang asisten bisa mendapatkan informasi secepatnya.
“Karan, ayo! Katanya, pesawat kita sudah siap,” panggil Raya saat diberi tahu oleh salah seorang petugas bandara. Ia tidak tahu dengan siapa suaminya itu berbicara, tapi tampaknya begitu serius hingga laki-laki itu tidak mendengarkannya. Raya pun berinisiatif mendekati suaminya. Namun saat mendekat, Raya tanpa sengaja mencuri dengar perbincangan Karan dengan seseorang yang ia yakini adalah Ian.
“Ya, lakukan saja. Tapi ingat, jangan sampai istriku tahu apa yang sudah kau lakukan padanya. Lakukan dengan cara yang bersih,” perintah Karan pada Ian yang menyentakkan Raya. Sebelum sang suami memutuskan perbincangannya, cepat-cepat Raya kembali ke tempat duduknya dan bersikap seakan-akan tidak pernah mendengar perbincangan Karan dengan Ian.
“Apa kita sudah bisa pergi sekarang?” ucap Karan yang kembali ke kursinya di samping Raya.
Raya pun mengangguk cepat. “Ya, katanya kita harus pergi.”
“Bagus.” Karan memasukkan ponselnya ke saku jas bagian dalam.
“Karan,” panggil Raya tiba-tiba.
“Ya?” sahut Karan.
“Apa ada masalah?”
Karan menggelengkan kepalanya. “Tidak ada Sayang. Semuanya baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir,” tukasnya dengan menunjukkan seulas senyum di wajah tampannya. Senyum yang kini terlihat mengerikan dari sudut pandang Raya. Ia benar-benar tidak bisa memercayai apa yang suaminya itu katakan. Sama sekali tidak bisa percaya.