Lies

Lies
Tanda Lahir yang Hilang



Raya benar-benar melakukan tugasnya dengan sempurna untuk menghabiskan uang sang suami. Tidak tanggung-tanggung, Raya menawar tiga lukisan yang dilelang dengan harga fantastis. Total keseluruhan uang yang dihabiskan Raya adalah tiga ratus ribu dolar atau lebih dari empat setengah miliar rupiah. Dengan uang sejumlah itu, Raya sudah membeli satu unit rumah cukup mewah di ibu kota negara. Namun, wanita itu habiskan hanya untuk membeli lukisan-lukisan yang ia sendiri tidak tahu apa arti dari lukisannya. Hanya satu yang pasti, tugasnya sudah selesai dan Karan pun tampak sangat puas. Bahkan, seandainya tidak dicegah, Karan akan menyuruh Raya untuk menawar lebih tinggi lagi.


“Kami sedang berusaha untuk mendapatkan anak. Itulah sebabnya istri saya berhenti bekerja. Kami sudah sepakat karena ini demi kebaikannya. Lagi pula, dia tidak akan benar-benar keluar dari industri hiburan. Saya akan pastikan jika sudah waktunya, istri saya akan kembali menyapa para penggemar dengan karya terbarunya.” Karan tampil mewakili Raya untuk menjawab pertanyaan wartawan usai acara lelang itu. Agar terlihat sebagai suami yang baik, Karan pun memutuskan untuk menjadi juru bicara Raya. Ini juga diperlukan agar Karan dapat memamerkan kemesraan mereka sekaligus mengonfirmasi bahwa hubungannya dengan Raya sangat harmonis. Tidak ada persoalan seperti yang dituduhkan oleh para reporter.


“Apakah Ibu Raya akan bergabung dengan agensi yang baru perusahaan Anda akuisisi? Apakah itu sebabnya Anda mengakuisisi perusahaan itu?” celetuk reporter yang lain.


Lagi-lagi tentang akuisisi agensi itu. Ya, memang benar Karan melakukannya untuk Raya. Ia bahkan menempatkan Sekar dalam posisi pimpinan rumah produksi sekaligus agensi model dan aktris guna memastikan anak perusahaan keluarga Reviano itu berjalan dengan baik. Namun, tentu saja Karan tidak bisa menyebutkan hal tersebut di depan umum. Ia tidak bisa melontarkan niatannya dengan begitu jelas karena ia harus menjaga citranya sebagai seorang suami yang sangat baik.


“Tentu itu tidak ada hubungannya dengan istri saya. Reviano Group punya kebijakan sendiri dalam mengatur arah kemajuan perusahaan. Mengakuisisian sebuah perusahaan atau kebijakan lainnya tidak bisa hanya ditentukan oleh saya seorang diri. Kami punya dewan direksi dan pejabat perusahaan. Dan itu adalah keputusan perusahaan secara bersama-sama,” ujar Karan. Hebat sekali. Sebaiknya ia tidak menjadi seorang pengusaha melainkan seorang penguasa karena cara bicaranya yang normatif itu sangat cocok dengan janji-janji para pemimpin yang selalu terdengar saat masa pemilihan. Seandainya Karan memang berniat memimpin suatu daerah dan maju menjadi calon, sudah pasti Karan akan terpilih dengan hasil suara mutlak karena ia punya segalanya. Ketampanan, kekayaan dan keahlian dalam berbicara. Tiga hal yang mutlak dimiliki untuk menggaet hati para pemilih.


“Kalau begitu, saya ingin bertanya pada Ibu Raya. Bu, selama ini Anda selalu aktif dalam kegiatan sosial. Dan hari ini Anda bahkan sudah menyumbangkan 4,5 miliar rupiah dalam acara amal ini. Apakah Anda akan tetap melakukan hal seperti ini kedepannya?” Wartawan lain melontarkan pertanyaannya selepas Karan selesai berbicara.


Kali ini Karan tidak ingin menjawabnya. Ia melepaskan tangannya dari punggung Raya agar memberikan kesempatan pada sang istri untuk menjawab. Dan dengan tenang Raya menanggapi pertanyaan wartawan itu. “Ya, saya harap saya bisa terus menyebarkan kebaikan kepada orang banyak dengan banyak cara. Tidak hanya melalui dana tapi juga kerja keras. Seperti yang dikatakan suami saya barusan, saya akan kembali ke dunia hiburan dalam waktu dekat. Dan kembalinya saya ke dunia hiburan kali ini bermaksud untuk membantu yayasan sosial milik suami saya. Mungkin dengan keterampilan dan tenaga saya serta dukungan suami tercinta, saya bisa membantu lebih banyak orang, terutama anak-anak yang berkekurangan.”


Mata Karan melotot dan tubuhnya tegang. Ini tidak ada dalam pembicaraan sebelumnya. Raya kembali ke dunia hiburan? Omong kosong apa yang baru saja disampaikan oleh sang istri? Sepertinya ini memang ide yang sudah dipersiapkan oleh Raya sejak lama. Terbukti wanita itu memanfaatkan wartawan agar menjadi saksi kembalinya ia ke pekerjaannya. Jadi jika Karan tidak membiarkan Raya bekerja, para wartawan itu akan selalu menuntut penjelasan darinya.


Dengan sigap Karan merapatkan tubuhnya ke tubuh Raya. Ia merangkul pinggang sang istri lagi supaya membuat wanita itu berhenti melontarkan ucapan yang tak masuk akal sehingga memancing amarahnya. “Ya, itu benar. Kami sedang menyiapkan kembalinya Raya Drisana ke industri hiburan. Manajemen dan agensi dari Reviano Group akan menjamin semua proses kembalinya Raya berjalan lancar. Jadi, tolong berikan dukungan kepada istri saya.”


Kali ini Rayalah yang terkejut. Padahal ia pikir rencananya kembali bekerja akan berjalan mulus. Itulah sebabnya ia memakai para wartawan. Tapi siapa yang sangka Karan justru menggunakan itu untuk menyerangnya lagi? Pria itu bahkan mengumumkan kalau ia akan bekerja di bawah agensi milik sang suami. Padahal Raya belum memutuskan kontrak dengan agensi lamanya. Secara hukum ia masih merupakan artis di bawah agensi tersebut. Namun sayang, Raya tidak bisa mengelak sekarang. Lebih baik ia diam sebelum Karan melemparkan sesuatu yang akan mengikat Raya lebih lagi.


Adu argumentasi tersebut akhirnya selesai. Saat mereka hendak kembali ke tempat duduk mereka semula untuk mengikuti acara selanjutnya, secara tiba-tiba pelayan yang sedang membawa nampan berisi beberapa gelas minuman menabrak Karan. Akibatnya, kemeja putih dalam jas hitam Karan pun ternodai bekas minuman itu. Karan sangat marah, tetapi ia tidak bisa meluapkannya begitu saja. Kejadian ini memancing seluruh pasangan mata untuk mengarah padanya. Tidak mungkin ia mengeluarkan sumpah serapahnya atau memukuli sang pelayan di depan semua orang, terutama di depan para wartawan. Karan pun hanya bisa menghela napas kesal.


“Kau tidak apa-apa, Sayang? Apa ada yang terluka?” Karan mengalihkan pandangannya ke arah Raya. Meskipun posisi mereka cukup dekat, beruntung dres putih sang istri tidak terkena noda. Karena kalau sampai itu terjadi, Karan benar-benar tidak akan bisa menahan emosinya. Ia tidak masalah jika pakaiannya kotor, tapi ia tidak suka hal itu menimpa Raya. Istri cantiknya itu harus terlihat sempurna di depan umum seperti yang selama ini selalu ditampilkan oleh sang super model.


Raya dengan cepat menjawab, “Ya, aku baik-baik saja. Tapi bajumu ....” Ucapan Raya tertahan. Ia tahu suaminya pasti sedang marah besar, tapi ia tidak menyangka pria itu bisa menyembunyikan kemarahannya dengan sangat baik. Wajah tampan Karan tampak begitu tenang, bahkan sangat tenang meskipun nada suaranya seolah-olah sedang mengkhawatirkan kondisinya.


“Ya, aku baik-baik saja,” balas Karan. Ia menoleh pada sang pelayan. “Tolong berhati-hati lagi kedepannya. Karena saya tidak mau melihat istri saya terluka,” tukasnya dengan wajah ramah namun dengan tatapan dan nada suara yang mengancam.


Raya sangat pintar membaca suasana. Ia langsung mengajak suaminya pergi dari tempat itu untuk mengganti pakaian. “Ayo Karan, kau harus mengganti bajumu. Aku akan meminta Ian membawa baju cadangan untukmu.” Untung saja mereka membawa baju cadangan di dalam mobil. Baju yang seharusnya mereka gunakan untuk acara makan malam nanti. Berhubung terjadi insiden seperti ini, maka mau tidak mau baju-baju itu harus dipakai lebih cepat dari perkiraan semula.


Saat melangkah ke luar, bibi Karan menghampiri mereka. Karan adalah anak kesayangan dari kakaknya, satu-satunya keturunan Reviano yang terkenal begitu kaya, terlebih Karan merupakan orang yang memimpin Reviano Group. Tidak baik jika Karan terusik karena kejadian barusan atau bahkan sampai merusak suasana hatinya. Wanita itu harus meminta maaf agar berita ini tidak sampai terdengar ke telinga sang kakak ipar. Sebab dari informasi yang beredar, kakak iparnya selalu menuruti permintaan Karan.


“Karan, Raya, kalian baik-baik saja? Apa ada yang terluka?” tukas sang bibi mendekati pasangan keponakannya.


Raya tersenyum lembut. “Tidak Tante, kami baik-baik saja. Kami hanya butuh ruangan untuk berganti pakaian.”


Sontak sang bibi menjawab, “Syukurlah. Maafkan Tante karena tidak bisa mengurus acara ini dengan baik. Oh ya, ayo sini. Kalian bisa gunakan ruangan ini untuk berganti pakaian.” Wanita paruh baya itu mengajak Karan dan Raya ke ruangan tunggu VIP yang tidak jauh dari ballroom gedung. “Di ruangan ini tidak ada kamera CCTV. Jadi kalian bisa leluasa menggunakannya.” Sang bibi pun keluar untuk memberikan waktu kepada kedua orang itu berganti baju.


“Sayang, kau tidak perlu berganti baju. Bajumu masih bagus,” ucap Karan ketika Raya membantunya melepaskan jas.


“Tidak apa-apa. Lagi pula, kita adalah suami-istri. Aku ingin menggunakan pakaian yang warnanya sama dengan pakaianmu. Atau jangan-jangan kau tidak suka memakai pakaian yang sama denganku?” Raya melemparkan tatapan penuh curiga pada Karan.


“Mana mungkin itu. Aku sangat suka menunjukkan kepada dunia kalau kau adalah milikku.” Karan memeluk Raya ketika wanita itu berusaha melepaskan kancing-kancing kemeja putihnya. “Tapi aku belum menghukummu tentang ucapanmu pada wartawan tadi, Sayang. Sejak kapan aku mengizinkanmu bekerja, hm?”


“Jadi kau tidak akan membiarkanku bekerja? Meskipun kau sudah memaksaku bergabung ke agensimu?”


“Ssst, bukan memaksa Sayang. Aku lebih suka kata merebut. Aku merebutmu dari agensi lamamu,” kata pria itu dengan dibalut seringai di bibir tebalnya.


Ketika Raya berhasil melepaskan kemeja Karan, mendadak pintu ruangan itu terbuka. Bukan Ian, tetapi sang bibilah yang membuka pintu itu. “Ups, maaf. Tante tidak sengaja. Tante tidak bermaksud mengganggu kalian,” celetuk wanita itu yang merasa canggung melihat kemesraan Karan dan Raya. Ia menyodorkan dua tas berukuran sedang kepada mereka. “Ini, Tante mau mengantarkan baju kalian yang dititipkan asisten Karan.”


Raya yang terkejut buru-buru mengatur napasnya. Padahal mereka tidak melakukan apa-apa tapi rasanya seperti baru saja terciduk sedang melakukan hal yang negatif. Raya menghampiri sang bibi dan mengambil kedua tas itu. “Terima kasih Tante. Maaf sudah merepotkan Tante,” ujar Raya merasa tidak enak karena sudah menyulitkan keluarga sang suami. Seharusnya Ian saja yang mengantarkan pakaian mereka. Setidaknya jika Ian yang melakukan itu, Ian akan mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Tante tidak merasa repot. Tante malah merasa bersalah karena membuat pakaian Karan kotor.” Pandangan sang bibi mengarah pada Karan yang sedang membelakanginya, menampilkan tubuh pria itu yang proporsional meskipun terdapat beberapa luka lama di sana. Seperti luka goresan benda tajam. Akan tetapi, sang bibi tersentak saat melihat punggung sebelah kanan Karan yang kosong. Padahal ia yakin harusnya ada sesuatu di sana. Sesuatu seperti tanda lahir milik laki-laki tersebut. Ke mana tanda itu sekarang? Bagaimana mungkin bisa hilang?