
Selama berada di Milan, Italia, Karan dan Raya mengalami masa-masa yang menyenangkan meskipun pada awal keberangkatan harus dilalui dengan pertengkaran hebat di dalam pesawat. Baik Raya maupun Karan mulai melunakkan diri dengan keadaan, mereka mulai membuka diri dan menerima apa yang terjadi pada pasangan satu sama lain. Kini Karan tahu apa yang terjadi pada Raya hingga wanita itu melupakan masa lalu mereka termasuk melupakannya. Raya mengalami gangguan kejiwaan yang menyebabkan ia kehilangan memori masa lalunya. Dan Karan menduga ini disebabkan kejadian di masa lampau.
Begitu pula dengan Raya. Walaupun Karan masih tidak membuka diri secara penuh kepadanya dan terkesan masih menyembunyikan beberapa rahasia di masa lalu, setidaknya Karan masih memberikan beberapa petunjuk kepada Raya. Salah satunya kenyataan bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya yang jauh sebelum pertemuan awalnya disangka oleh Raya sebagai pertemuan pertama mereka. Untung saja Karan menjelaskan hal itu sedikit sehingga Raya tidak lagi kebingungan mengapa Karan begitu mengerti akan dirinya.
“Sayang, tidak bisakah kita lebih lama di sini? Atau kita tinggal saja di Milan untuk selanjutnya. Aku bisa memindahkan perusahaanku ke tempat ini,” tukas Karan ketika melihat Raya sedang berdandan di depan meja riasnya. Wanita itu sedang mempersiapkan diri untuk pulang ke Indonesia. Hari ini waktu liburan mereka selama 10 hari sudah usai. Sudah saatnya mereka kembali ke rutinitas biasa. Dan anehnya, Karan yang biasanya hobi sekali bekerja di kantor, mendadak enggan untuk kembali ke Indonesia kendati pekerjaannya dijamin sudah menggunung sekarang.
Raya menatap wajah Karan yang terpantul dari cermin di depannya. Ia berujar, “Karan, pekerjaanmu sangat banyak. Kau harus menyelesaikan pekerjaan itu.” Wanita itu tahu betul pentingnya Karan di dalam perusahaan. Sang CEO sangat dibutuhkan untuk memutuskan hal-hal penting yang berkaitan dengan kebijakan perusahaan. Selama 10 hari ini saja, Ian sudah menghubungi Karan berkali-kali. Hampir setiap hari asisten pribadi Karan itu menelepon mereka. Jika nomor Karan tidak bisa dihubungi, maka Ian akan menelepon Raya. Apa pun akan Ian lakukan demi bisa berbicara dengan Karan. “Aku juga ada pekerjaan, Karan. Kau sudah janji mau membiarkanku kembali ke dunia model ‘kan?”
Embusan napas panjang terdengar keluar dari mulut Karan. Padahal ia benar-benar tidak ingin kembali ke Indonesia. Entah mengapa rasanya berat sekali menginjakkan kaki di sana. Karan seolah tidak punya alasan untuk kembali. Raya sudah ada di sini, di depannya. Karena selama ini, satu-satunya alasan yang membuat Karan begitu semangat menginjakkan kaki ke tanah ibu pertiwi adalah Raya. Namun, semangat itu tidak lagi muncul sekalipun Karan masih punya orang tua di Indonesia dan perusahaan yang harus diurus.
“Benar. Baiklah, kita akan pulang hari ini,” kata pria itu lemah. Ia benar-benar tidak rela untuk pulang, tetapi ia juga tidak bisa begitu saja membiarkan Raya kecewa. Jakarta memang tempat yang sulit ditaklukan. Indonesia memang negara yang sering membuat Karan terluka, tapi ia tetap harus pulang karena di sanalah tempat tinggal mereka. “Kita naik pesawat pribadi, Sayang. Jangan terlalu terburu-buru.” Karan mengingatkan Raya sambil menyentuh bahunya. Ia tidak ingin Raya terlalu tergesa-gesa mempersiapkan diri.
“Iya, aku akan mempersiapkan diri secantik mungkin,” tukas Raya sembari menyentuh tangan Karan dan mengelusnya. Raya juga mengamati ketika Karan keluar dari kamar dengan langkah yang tidak semangat. Bukan Raya tidak peka dengan kondisi Karan. Ia tahu pria itu tidak suka pulang ke Indonesia, begitu juga dengan Raya. Entah mengapa pengalaman selama 10 hari di Milan seperti mimpi bagi Raya, dan kembali ke Jakarta seperti kembali ke dunia nyata. Tetapi begitulah kehidupan. Mereka harus menghadapi kenyataan itu apa pun yang terjadi.
Sepuluh menit kemudian, Raya selesai merias wajahnya. Ia mencari Karan di sekitar kamar, tapi tidak menemukannya. Raya baru menemukan pria itu di teras penginapan sedang meminum kopi sambil membaca sebuah tulisan di ponselnya. Seandainya saja Raya tidak melarang Karan merokok, pria itu pasti sedang menghisap tembakaunya sekarang karena begitulah keseharian Karan yang Raya dengar dari Anna. Setiap pagi jika tidak ada pekerjaan dan sedang berada di rumah, Karan akan menghabiskan beberapa puntung rokok sambil meminum kopi hitamnya. Tidak disangka kebiasaan itu terus berlanjut kendati mereka sedang berada di Milan. Bedanya, kali ini Karan tidak merokok.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Raya. Suara yang ditimbulkan oleh wanita itu menyentakkan Karan. Pria itu pun berpaling untuk melihatnya. “Apakah ada berita yang bagus dari Indonesia?”
Karan sontak menggeser bokongnya untuk memberikan tempat agar sang istri bisa duduk. “Tidak ada berita yang bagus, Sayang. Lagi pula, ini bukan berita dari Indonesia, tapi dari New York,” jelasnya.
Raya duduk di samping Karan. Meskipun Karan langsung menyembunyikan ponselnya, tetapi Raya masih sempat mengintipnya sedikit tadi. Isinya sesuatu yang berkenaan tentang kesehatan. Raya tidak tahu pasti karena ia hanya melihat gambar otak saja di sana. “Kenapa? Apakah kau akan ke New York setelah ini?”
“Mungkin, tapi aku tidak bisa memastikannya. Ian belum mengirimkan jadwal terbaruku.”
Dengan cepat Raya menyentuh pipi Karan menggunakan kedua tangannya, membimbing pria itu agar melihat ke arahnya. Kedua mata Raya menelisik wajah Karan, mengamati pria itu dengan saksama. “Apa kau sakit?” tanyanya dengan khawatir. Ia takut penyakit Karan kembali kambuh. Akan berbahaya jika Karan kembali menderita penyakit masa kecilnya.
Karan menurunkan tangan Raya. Ia menggeleng dengan cepat. “Tidak Sayang. Aku tidak sakit.”
“Jadi, kenapa kau baca artikel tentang kesehatan tadi?”
Kedua mata Karan melotot tajam. Ia terkejut, tidak menyangka kalau Raya bisa melihat apa yang ia baca tadi. Padahal ia sudah menyembunyikannya secepat mungkin. “Tidak, aku hanya membaca kiriman dari temanku. Kebetulan aku mau berinvestasi di perusahaan kesehatan milik temanku di New York dan mereka sedang membuat penelitian tentang penyakit yang menyerang otak,” ungkapnya.
“Benar kau tidak sakit?” Raya masih tidak percaya. Ia akan memastikan suaminya tidak menderita penyakit apa pun, terutama penyakit masa kecilnya.
Karan mengangguk lagi. Ia tersenyum, tetapi ada kepahitan di balik senyumannya itu. Padahal Raya yang sedang sakit sekarang, justru wanita itu yang tampak begitu khawatir padanya. “Tidak, Sayang. Aku sama sekali tidak sakit. Mau aku buktikan?”
“Bagaimana cara membuktikannya?”
Pria itu mendekati istrinya dan berbisik, “Aku akan buktikan di atas ranjang.”
Raya menarik dirinya dari Karan. Ia menatap wajah tampan sang suami dengan tatapan membunuh. “Padahal aku sedang serius, tapi kau malah bercanda. Dasar pria mesum!” umpatnya.
Tawa ringan terdengar dari mulut Karan. “Aku memang mesum, Sayang. Tapi kau menyukai sikap mesumku, bukan? Kau tampak bahagia ketika aku menyerangmu di atas ranjang. Sudahlah Sayang, katakan saja kau menyukaiku, hmm?” Pria itu menarik Raya dan menghujani paras elok sang istri dengan kecupan-kecupan ringan.
“Karan!” Raya menggeram kesal. Ia mendorong suaminya agar menjauh darinya. “Jangan rusak riasan wajahku!” ungkap wanita itu marah. Hampir setengah jam Raya habiskan hanya untuk merias wajahnya. Tentu ia tidak suka harus mengulanginya lagi karena perbuatan sang suami.
Bukannya merasa bersalah, Karan justru semakin melancarkan aksinya. Ia menyerang Raya lagi, kali ini mencium bibir sang super model. “Kalau rusak, tinggal dihias lagi. Kalau perlu, kita batalkan kepulangan kita hari ini.”
Lagi-lagi menunda kepulangan. Raya tidak tahu mengapa Karan begitu enggan kembali ke Indonesia, tetapi ini sudah kelewatan. “Tidak mau! Tapi, kalau kau mau tetap tinggal di sini, ya sudah. Aku akan kembali ke Indonesia sendirian saja,” ancam perempuan itu. Namun ketika ia berdiri dan hendak melangkah, buru-buru Karan menarik tangan Raya yang membuat wanita itu kembali terperenyak. Kali ini bukan ke atas bangku, melainkan ke atas pangkuan Karan.
“Sekarang kau sudah mahir mengancamku rupanya,” komentar Karan sembari mendekap tubuh sang istri.
“Karena kau tidak mau mendengarkanku,” sahut Raya merajuk.
“Iya iya baiklah. Aku tidak akan membantahmu lagi. Kita akan pulang hari ini, tapi sebelum itu, aku ingin memelukmu terlebih dulu.” Tangan Karan memeluk Raya dengan hangat, tidak membiarkan angin yang berembus di sekitarnya mengganggu tubuh sang istri. “Aku mencintaimu, Raya. Sangat mencintaimu,” ungkap Karan dengan nada yang menunjukkan ketulusan hatinya. Seandainya saja tidak ada yang harus mereka lakukan, Karan ingin sekali menghentikan waktu. Ia ingin terus-menerus berada di posisi seperti ini, memeluk istrinya tanpa kekhawatiran apa pun. Tanpa dendam dan bayangan masa lalu. Hanya memikirkan apa yang harus mereka rencanakan di masa depan.
Raya tersenyum senang. Pengakuan ini yang ia tunggu-tunggu selama ini dari sang suami. Raya tidak perlu hal-hal romantis yang membuatnya terlena. Ia hanya butuh sebuah perlakuan manis kecil dari seorang Karan Reviano. Atau yang paling sederhana adalah perubahan sikap dari pria itu. Raya hanya ingin Karan memperlakukannya selayaknnya partner yang setara. Dengan berlandaskan rasa saling percaya satu sama lain. Mungkin saat ini tidak terjadi, tapi Raya yakin suatu saat nanti mereka akan tumbuh menjadi pasangan seperti itu. Hanya perlu menunggu waktu agar mereka sama-sama dewasa dalam berpikiran. Agar mereka bisa memiliki rasa saling menghormati dan menghargai pilihan masing-masing. Karena Raya juga merasakan hal yang sama dengan pria itu.
“Ya, aku juga. Aku mencintaimu, Karan,” aku Raya yang membuat Karan senang bukan main. Pria itu menyentuh pipi sang istri dan mencium bibirnya dengan dalam dan intens. Untuk menunjukkan seberapa dalam perasaannya, seberapa besar pengorbanannya mendapatkan Raya. Selama ini Karan sudah berjuang meskipun dengan cara yang tidak selalu benar. Mungkin ini saatnya Karan memetik hasil indah dari perjuangannya itu.