
Karan begitu teguh dengan pendiriannya untuk menghancurkan Raya. Tidak hanya mengundang wartawan dari berbagai media di ibu kota, Karan juga bahkan mengerahkan media massa milik perusahaan media perusahaannya. Hanya demi satu hal. Karan ingin memastikan berita tentang Raya tersebar di seluruh pelosok negeri agar didengar oleh semua masyarakat negara ini. Mendengar bagaimana sosok Raya yang sebenarnya, yang tentu saja tidak sesuai dengan apa yang ditunjukkan Raya selama ini di depan kamera. Agar citra bagus Raya rusak begitu saja sehingga tidak ada peluang bagi wanita itu untuk mendapatkan penghasilan dari kariernya sebagai seorang model.
Itulah konsekuensi besar karena sudah meninggalkan Karan. Tidak hanya meninggalkan Karan, Raya juga sangat berani melayangkan surat cerai kepadanya. Sesuatu yang bahkan tidak ingin Karan lakukan pada Raya. Semarah dan sebencinya pria itu kepada sang istri, tidak ada sedetik pun terbesit di benaknya untuk menceraikan Raya. Meskipun ia sempat memberikan ancaman kepada Raya saat wanita itu meninggalkan rumahnya bahwa ia tidak akan menganggap wanita itu sebagai istrinya lagi. Tapi apa yang terjadi, Karan tetap tidak menceraikan Raya. Pria itu malah masih menunggu kepulangan istrinya yang tidak kunjung datang sampai detik terakhir. Malah sepucuk surat dari pengadilan agama yang mampir ke gedung perusahaannya.
Dan hari ini, berita itu akan tersebar di seluruh media massa terkemuka di negara ini. Karan tidak ingin menyia-nyiakannya. Pria itu menonton tayangan televisi yang berisi konferensi pers yang dilakukan oleh Ian. Karan tidak menyaksikannya di kantor meskipun hari ini adalah jam kerja perusahaannya, ia memilih melakukannya di rumah. Bukan pula di ruangan keluarga atau minimal di dalam kamarnya. Karan malah menyaksikan berita itu di dalam kamar Raya. Tempat tidur yang sebulanan ini kosong itu kini diisi oleh tubuh Karan.
Sejak malam hari, pria itu sudah memutuskan untuk tidur di dalam kamar Raya. Ia tidak bisa mengejek sang empunya kamar, setidaknya ia ingin mengejek jejak-jejak yang ditinggalkan oleh wanita itu. Menunjukkan bagaimana berkuasanya Karan sekarang yang jauh berbeda dari sebelumnya. Dengan uang, Karan bisa melakukan apa pun sesuka hatinya. Ia bisa mendapatkan Raya, dan ia juga bisa mencampakkan Raya. Ya, ini dibuat seolah-olah Karan sedang mencampakkan istrinya dengan cara yang sangat kejam kendati yang terjadi justru sebaliknya. Justru Karanlah yang telah dicampakkan oleh Raya.
Karan yang merasa hancur dan kesepian atas kepergian sang istri, namun pria itu enggan mengakuinya. Ia tidak mau kelihatan sebagai pria yang lemah. Cukup 12 tahun lalu Karan mengalaminya. Menderita hanya karena dirinya tidak kuat. Saat itu Karan tidak punya apa-apa. Tidak ada uang dan kekuasaan. Tubuhnya juga sangat lemah sehingga mudah untuk ditindas dan dilecehkan. Bahkan ia pun ditinggalkan oleh wanita yang dikasihinya dan harus mrngalami setiap penderitaan akibat membela wanita itu hanya seorang diri saja.
Dengan tubuh yang lemah Karan mengambil ponselnya dan menelepon Ian yang saat ini berada di depan kamera, bersiap melakukan konferensi persnya. Karan pun berbicara kepada sang asisten saat laki-laki itu mengangkat teleponnya. “Mulai saja sekarang,” titah Karan dengan mata yang memandang ke layar televisi besar di dalam kamar itu.
Ian terlihat menganggukkan kepalanya, memberikan aba-aba kepada staf yang ada di sekelilingnya, tanda bahwa ia sudah siap untuk menyampaikan apa yang diminta oleh Karan. Lalu, ia menjawab apa yang dikatakan sang majikan. “Baiklah Pak. Saya akan mulai sekarang,” katanya.
Setelah memutuskan panggilan itu, Karan meletakkan ponselnya di atas nakas dengan kedua matanya masih setia menatap ke depan. Ian memulai konferensi pers hari itu. Ada beberapa poin yang akan disampaikan Ian. Salah satunya mengenai rencana perceraian Karan dan Raya. Ian menyampaikan sesuai dengan apa yang diminta oleh Karan, yaitu menjelaskan bahwa perceraian ini atas inisiasi Raya yang tidak terima karena kepergok tengah berselingkuh dengan pria lain. Masalahnya Ian tidak menyebutkan nama orang yang berselingkuh dengan Raya. Sengaja untuk menimbulkan keributan di tengah masyarakat. Dengan begitu masyarakat akan mencari tahu sendiri siapa saja pria yang berdekatan dengan Raya. Semua yang dilakukan wanita itu akan terekspose dengan sendirinya sekalipun Raya sama sekali tidak punya niatan mengkhianati Karan.
Setelah pengumuman perceraian itu, Karan juga memerintahkan Ian untuk menyampai sesuatu di media, yaitu pesan yang diberikan Karan kepadanya. Karan berpesan agar Raya segera pulang ke rumah dan menyelesaikan urusan mereka secara kekeluargaan. Karan ingin berdiskusi lagi dengan Raya mengenai masa depan mereka. Meskipun pada akhirnya memang harus berpisah, Karan ingin mereka berpisah secara baik-baik. Tidak seperti sekarang yang penuh dengan aksi kucing-kucingan.
Dengan begitu Karan melakukan pencarian secara terbuka kepada masyarakat bahwa ia sedang menunggu kepulangan Raya dan tidak menemukan wanita itu di mana pun. Karan tahu ini akan menimbulkan masalah lain untuknya. Masalah yang membuat penilaian masyarakat terbelah. Sebagian masyarakat akan membelanya, tetapi sebagian lagi pasti akan tetap memercayai Raya dan menganggap Karan sebagai pihak yang bersalah. Di antara mereka pasti ada yang menuduhnya berbuat kekerasan kepada Raya. Terutama para penggemar garis keras wanita itu. Meskipun pada kenyataannya hal itu tidak salah sama sekali. Karan memang melakukan kekerasan pada Raya. Ia mengekang wanita itu, mengurungnya dan bahkan berlaku kasar saat melakukan hubungan suami-istri.
Tetapi, Karan bukanlah pria bodoh yang tidak mempersiapkan apa pun. Saat ia tahu kemungkinan nama baiknya akan ikut terseret, Karan sudah menemukan kartu ASnya. Ia masih menyimpan beberapa bukti perselingkuhan Raya, termasuk salah satu adegan yang sempat menjadi kontroversi beberapa bulang yang lalu, yaitu adegan mesra Raya dan Reagan. Sekalian saja Karan akan membuka semuanya di depan publik. Namun, Karan tidak mengungkapkannya secara langsung. Pria itu menyuruh orang lain untuk menyebarkannya seolah-olah ditemukan secara acak oleh warga net.
*****
Nyatanya apa yang dilakukan Karan memang mendulang hasil yang sangat positif. Meskipun awalnya cukup berliku karena keterlibatan beberapa pihak, termasuk Reagan yang mendadak muncul dan melakukan konferensi pers di depan media. Sang model membela dirinya dengan mengatakan bahwa skandal ia dan Raya tidak benar adanya. Itu hanya bagian dari promosi dan mereka hanya menjalankan peran secara profesional. Tetapi di ujung konferensi persnya, Reagan menyampaikan bahwa ia juga tidak menampik kenyataan bahwa ia memang menaruh perasaan pada Raya. Ia telah menyukai wanita itu sejak lama, sejak mereka berada di manajemen yang sama karena Raya adalah seniornya yang sering membantunya.
“Saya tidak tahu detailnya, tetapi yang saya lihat, Pak Karan adalah pria yang posesif dan pemaksa. Dia tidak suka jika Raya membantah ucapannya. Pernah saya secara tidak sengaja melihat Raya mendapatkan kesulitan karena suaminya yang selalu memata-matainya ke mana pun dia pergi. Bahkan menanamkan alat pelacak di ponsel Raya,” ungkap Reagan membeberkan fakta itu kepada awak media. Tidak tanggung-tanggung Reagan juga mengatakan bahwa Raya pernah dikurung di dalam kamar oleh Karan.
Awalnya Karan tidak ingin menanggapi masalah itu, tetapi saat sang ayah menghubunginya, Karan pun berubah pikiran. “Apa kau tidak bisa membereskan masalah pribadimu sendiri? Ini terlalu berisik. Kau bisa membuat perusahaan dalam masalah,” kata sang ayah memperingati. Hal itulah yang membuat Karan akhirnya berpikir bahwa masalahnya sudah sangat besar. Jika tidak dihentikan sekarang, maka akan berimbas pada perusahaannya.
Karan sebenarnya tidak punya masalah seandainya ia kelihalang jabatan ataupun hartanya karena masalah ini. Tetapi semuanya berbeda jika sudah menyangkut masalah orang tuanya. Sang ayah sudah berbicara, artinya masalahnya sudah begitu berlarut-larut. Karan tidak mau membuat orang tuanya kesulitan, terlebih setelah apa yang mereka lakukan padanya selama ini. Setidaknya hanya untuk memikirkan balas budi, Karan akan turun tangan sendiri.
“Siapkan konferensi pers secepatnya,” perintah Karan pada Ian.
Berita ini sudah sangat panas di tengah-tengah masyarakat. Tidak jarang di antara mereka ada yang memperbincangkan masalah rumah tangga Karan dan Raya dalam pergaulan sehari-hari mereka. Ada yang mengutarakan opininya, dan ada juga yang bertindak bak seorang cenanyang yang bisa memprediksi masa depan kedua orang itu. Dengan intensitas perbincangan yang begitu tinggi, setiap berita yang diberikan media massa maupun media sosial akan selalu menjadi trending di beberapa mesin pencarian di internet. Itulah sebabnya hanya dalam waktu hitungan menit, wartawan yang memang sudah berkeliaran di sekitar gedung perusahaan Karan, bisa datang ke lobi gedung. Mereka sudah siap dengan peralatan mereka untuk menuliskan berita terbaru untuk media mereka masing-masing.
Dengan berbalutkan pakaian kantor biasanya, Karan tampil di depan media. Pria itu memasang wajah sedih dan terpukul. Jangan tanya bagaimana Karan bisa menampilkan wajah seperti itu secara natural karena ia sudah belajar untuk mengatur ekspresi sejak berada di New York. Ayahnya selalu berpesan bahwa ada kunci lain bagi seorang pengusaha untuk memperoleh kesuksesan, yaitu berhasil mengontrol ekspresinya di depan masyarakat. Hal itulah yang membuat Karan begitu ahli memanipulasi ekspresi wajahnya sendiri.
“Selamat siang rekan-rekan media. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini,” kata Karan berbasa-basi. Ia memaksakan seulas senyum sedih terbit di bibirnya untuk menarik simpati masyarakat yang menyaksikan tayangan itu. “Pertama, saya meminta maaf kepada masyarakat Indonesia karena sudah menimbulkan keributan. Saya tahu ini masalah pribadi kami yang tidak seharusnya menjadi perbincangan publik. Sekali lagi saya mohon maaf,” ungkapnya dengan mengatur nada suaranya serendah mungkin agar terdengar sedikit serak. Ditambah wajah Karan yang cukup berantangan dengan munculnya rambut-rambut halus di sekitar wajahnya akan semakin menimbulkan rasa iba masyarakat.
Bahwa Karan begitu tersiksa dengan masalahnya hingga tidak ada waktu untuk bercukur. Menunjukkan betapa tersiksanya Karan dengan ketidakhadiran Raya di hidupnya. Pasalnya selama ini, Karan tidak pernah sekalipun menunjukkan tampilan yang berantakan seperti itu. Ia selalu memastikan tampilannya sempurna saat berada di samping Raya. Agar ia bisa pantas berada di sisi sang super model yang glamor dan mewah. Tidak mungkin Karan menampilkan sisi terburuknya sementara wanita itu begitu indah di depan publik. Mungkin dari Rayalah Karan belajar sesuatu yang berharga bahwa penampilan sangat penting untuk menunjukkan kelas seseorang.
“Mengenai apa yang disampaikan oleh Saudara Reagan, saya sangat menyayangkan hal tersebut bisa diutarakan oleh seorang artis yang mempunyai banyak pengikut tanpa adanya bukti sama sekali. Tetapi saya tidak ingin membawa ini ke ranah hukum karena saya benar-benar ingin menyelesaikan segalanya dengan cara yang tenang. Ini demi saya dan juga Raya. Biar bagaimanapun, saya sangat mencintai istri saya. Wanita itu adalah bagian dari hidup saya. Saya benar-benar ingin diberikan kesempatan untuk berdiskusi. Tetapi jika hal itu tidak bisa terwujud, saya berharap kami berpisah dengan cara yang baik. Hanya itu saja.”
Tidak banyak yang Karan sampaikan dalam konferensi persnya. Selain pembelaan diri dan mengungkapkan rasa cintanya, Karan menjawab beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh beberapa wartawan. Dan dalam hitungan jam saja, gelombang dukungan mulai bermunculan kepada Karan. Bahkan beberapa penggemar yang awalnya mendukung Raya, kini berbalik mendukung Karan. Tidak sampai di sana, harga saham perusahaan Reviano Group yang tadinya sempat jatuh kini meningkat tinggi. Karan pun mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari masalah ini.
“Sial!” umpat Karan sambil duduk di kursi kerjanya. Ia yang sudah berhenti merokok memulai lagi kebiasaan buruknya itu. Di dalam ruangan CEO itu, Karan menghabiskan beberapa batang rokok hanya dalam waktu kurang dari satu jam saja. Karan merasa putus asa dan sedih. Hatinya terasa kosong. Segala yang dilakukannya itu memang membuatnya menerima keuntungan besar, tetapi ia tidak merasakan apa pun selain sebuah kehampaan. Karan sama sekali tidak bahagia dengan kondisinya sekarang.