Lies

Lies
Masa Kecil Karan



“Ya Ma?” jawab Raya pada sang ibu mertua. Kendati tidak sering berkomunikasi, hubungan Raya dan ibu mertuanya cukup baik dan dekat untuk sekadar tidak memberikan sapaan formal di awal.


“Bisakah besok sore kau dan Karan datang ke rumah Mama, Sayang? Mama ada arisan keluarga. Sekaligus untuk mengenalkanmu pada mereka.” Mengingat Raya tidak pernah secara resmi diperkenalkan sebagai menantu di depan keluarga besar, inilah kesempatan terbaik keluarga Karan untuk melakukannya. Karena selain di acara pernikahan, Raya tidak sering tampil di depan keluarga Karan. Dan semua orang bisa memakluminya sebab Raya seorang super model. Bukan hanya itu, Karan juga sangat sibuk sehingga ada banyak yang harus Raya lakukan untuk pria itu.


Sementara Raya sedang mendengarkan ucapan sang ibu, Karan memandanginya dengan lekat, seolah bertanya-tanya apa yang sedang ibunya itu bicarakan. Raya pun menjauhkan ponselnya sedikit untuk berbicara pada sang suami. “Mama mengajak kita ikut arisan besok,” jelasnya pada pria itu.


Karan terdiam sejenak, kemudian ia membalas, “Ya, kau boleh datang. Tapi aku tidak bisa. Tolong katakan pada Mama aku ada pekerjaan penting.”


Raya pun melanjutkan apa yang disampaikan Karan padanya. “Baik Ma, aku akan ke sana,” ungkapnya. Berhubung syuting yang ia lakukan besok cukup ringan mungkin tidak akan memakan banyak waktu. Raya bisa menyelesaikan syuting lebih awal agar bisa membantu sang ibu mertua. Ia adalah satu-satunya menantu di rumah itu, tidak elok rasanya hanya datang di acara inti saja. “Tapi Ma, Karan tidak bisa ikut karena ada pekerjaan penting besok.”


“Astaga anak itu!” gerutu sang ibu tidak terima. “Suruh dia datang setelah selesai bekerja. Mama tidak mau mendengar alasan apa pun,” tukasnya memberi ultimatum.


Raya tidak perlu menjelaskan lagi pada Karan karena suaminya itu bisa mendengar sendiri teriakan ibunya. Karan pun mengambil ponsel Raya dan berbicara pada sang ibu. “Iya, iya, aku akan usahakan datang, Ma.”


“Tidak ada namanya usaha. Kau harus datang! Harus, Karan! Ingat itu!”


“Iya, Ma. Aku akan datang setelah menyelesaikan pekerjaanku.”


“Bagus, sekarang berikan ponselnya pada Raya. Mama mau bicara penting padanya.”


Karan menyerahkan lagi ponsel itu ke tangan sang istri. Dan Raya pun melanjutkan obrolannya dengan sang ibu mertua. Tidak banyak yang dikatakan wanita tua itu. Persisnya ia hanya menyuruh Raya membawa beberapa hal sebelum datang ke rumah, termasuk mengambil kue yang sudah di pesan olehnya. Sebab tempat syuting Raya berada cukup dekat dengan toko kue itu.


Sambil mendengarkan instruksi sang ibu, diam-diam Raya melihat Karan. Pria itu terlihat murung secara tiba-tiba. Matanya memang sedang memandangi layar ponsel di tangannya, tetapi tangan Karan sama sekali tidak bergerak. Artinya tidak ada yang Karan lihat di sana. Karan hanya membuka ponselnya untuk menyamarkan tindakannya yang bingung.


Selalu saja begini. Karan paling tidak suka saat orang tuanya mengajak mereka ke rumah utama atau jika ibu dan ayah Karan berkunjung ke rumah mereka. Padahal setahu Raya, Karan menghabiskan banyak waktu dengan orang tuanya. Dilihat dari mana pun hubungan mereka tampak harmonis. Karan juga bukan anak pemberontak yang melakukan kesalahan besar pada kedua orang tuanya. Dan ayah dan ibu Karan bukan tipe pemaksa yang menginginkan kehendaknya menjadi nyata. Jadi, apa masalah utamanya di sini?


Lagi pula, Karan bisa meminta Raya tidak datang ke sana seandainya mereka bermasalah. Meskipun orang tua Karan, tapi Raya akan tetap berada di pihak sang suami apa pun yang terjadi. Yang mempersunting Raya adalah Karan, tanggung jawab Raya adalah sang suami. Ia harus memprioritaskan pria itu ketimbang yang lainnya.


"Karan, ayo turun kita sudah sampai,” cetus Raya mengingatkan sang suami tentang keberadaan mereka. Pembicaraannya dengan sang mertua cukup panjang hingga tak terasa mereka sudah sampai di rumah. Raya membereskan barang-barangnya dan membuka pintu mobil. Namun ia berhenti. Karan tampak bergeming di kursinya. Tidak ada tanda-tanda pria itu akan bergerak. “Karan, ayo turun!” seru Raya lagi. Kali ini ia menyentuh lengan sang suami dan menepuknya pelan.


Karan pun tersadar dari lamunannya. “Ah, kita sudah sampai rupanya,” celetuknya dengan kata-kata yang membingungkan.


“Kenapa? Kau punya masalah?”


Karan menggelengkan kepalanya. “Tidak, bukan masalah apa-apa. Hanya tentang pekerjaan.”


“Sudahlah, jangan pikirkan pekerjaan lagi, Karan. Ayo kita turun. Aku sudah lapar.”


Pria itu menuruti keinginan istrinya dengan mengekorinya. “Kau boleh pergi, Ian. Jemput saja aku besok jam enam sore,” pesannya kepada sang asisten pribadi mengingat laki-laki itu meminta izin kepada Karan akan pergi malam ini ke rumah calon istrinya.


“Baik Pak, terima kasih. Selamat malam Pak, selamat malam Bu,” sapa Ian sebelum meninggalkan rumah mewah itu dengan menggunakan mobil milik Karan.


Keanehan Karan terus berlanjut. Pria itu tampak linglung meski sudah berada di atas ranjang. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Karan masuk ke kamar Raya dan tidur di sana. Padahal sewaktu makan malam, Karan mengatakan akan tidur di kamarnya sendiri karena harus menyelesaikan pekerjaannya. Ia takut akan mengganggu Raya yang sedang belajar akting.


Raya yang melihat gelagat aneh sang suami pun menghampirinya. Ia bertanya dengan lembut, “Apa yang terjadi? Masalah apa yang sebenarnya kau pikirkan?”


Embusan napas kasar keluar dari mulut Raya. Ia tidak bisa terus memaksa Karan untuk buka mulut. Sampai kapan pun pria itu akan merahasiakan hal itu darinya. Merahasiakan bahwa ia sedang gelisah karena Raya akan mendatangi rumah utama.


****


Tidak ada yang benar-benar terjadi pada sore hari menjelang malam di rumah orang tua Karan. Acara yang diadakan sang ibu mertua hanyalah acara kumpul-kumpul keluarga biasa. Mereka berbicara bersama dan mengingat-ingat masa lalu. Ada juga yang saling melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu. Acara itu dimanfaatkan mereka untuk berbicara satu sama lain.


Raya mendapat imbas terbesarnya. Status sebagai bintang televisi membuatnya begitu digemari oleh para bibi dan paman Karan. Sepupu-sepupu Karan juga tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka berswafoto bersama, lalu mengunggah foto-foto kedekatan mereka ke media sosial. Tujuannya tentu saja ingin menarik atensi masyarakat bahwa mereka sudah berfoto dengan seorang artis. Dengan begitu pengikut aku media sosial mereka pun akan bertambah drastis karena harus diakui, Raya punya tempat khusus di hati masyarakat Indonesia.


“Jadi, kapan Raya?” tanya seorang wanita berusia 40 tahunan pada Raya. Wanita itu adalah bibi bungsu Karan, anak terakhir dari keluarga ibu Karan. Karena usianya yang tidak terlampau jauh dari Karan, mereka pun dibesarkan bersama. Sang bibi banyak menghabiskan masa kecil di rumah itu, bahkan bermain dengan Karan kecil.


“Kapan apa Tante?” jawab Raya dengan melemparkan pertanyaan lagi. Jujur, ia tidak mengerti apa yang sang bibi tanyakan. Awalnya mereka membicarakan tentang pekerjaan Raya dan kisah cintanya dengan sang suami yang sudah dikarang Raya sebelumnya. Karena sering ditanyakan, Raya akhirnya membuat suatu cerita utuh tentang pertemuan mereka, lalu cerita itulah yang ia ulang-ulang perdengarkan kepada setiap orang yang bertanya.


“Kapan kau akan punya anak?” sambung sang bibi sembari menyantap makanan ringan yang ada di tangannya.


Raya meneguk teh yang ada di dalam cangkir. Kemudian ia menjawab secara diplomatis karena sebelumnya wanita itu sudah memperkirakan pertanyaan semacam ini akan ditanyakan padanya. “Kami masih muda, Tante. Karan juga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dan kebetulan aku masih punya beberapa proyek di waktu yang akan datang. Mungkin setelah semuanya selesai, kami akan mempertimbangkan punya anak.”


“Jangan lama-lama Raya. Kalian ‘kan tidak muda lagi. Sudah lebih dari cukup untuk mempunyai momongan. Jangan karena pekerjaan jadi kalian lupa untuk merencanakan masa depan kalian.”


Raya mengangguk patuh. “Baik Tante, aku akan terus mengingatnya.” Agar persoalan keturunan ini tidak lagi dibahas, Raya pun mulai mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain. Ia bertanya tentang hal yang menghantuinya selama ini, yaitu kehidupan masa kecil Karan. “Tante tinggal di sini sampai kapan dulu?”


Sang bibi meletakkan piring cemilannya di atas meja. “Sampai aku berusia 15 tahun. Jadi aku tinggal di sini kurang lebih selama lima tahun. Itu karena ibu kami masih hidup sehingga Kakak merawat kami berdua di sini.”


“Berarti Tante lihat Karan lahir dong?” cetus Raya lagi yang tidak mau kehilangan momentum. Mereka sudah membicarakan tentang rumah utama, jadi tidak ada alasan mereka tidak membicarakan tentang masa kecil Karan.


“Benar, aku melihat semuanya. Karan itu bayi yang rewel. Dia menagis hampir sepanjang malam. Aku jadi kena imbasnya karena harus bergantian dengan Ibu dan Kakak menjaganya.”


Karan adalah bayi yang rewel. Raya harus mencatat itu dalam benaknya. Pantas saja sekarang sang suami banyak menuntut ini itu padanya. Rupanya pria tersebut sudah sangat menyulitkan orang-orang di sekitar bahkan masih bayi. “Aku bisa membayangkannya, Tante. Sepertinya Karan memang rewel.”


“Ya, dia juga begitu cerewet sampai usia tiga tahun.”


Kalimat itu membuat Raya berpikir keras. Mengapa hanya sampai berusia tiga tahun? Memangnya apa yang terjadi setelah itu? Raya pun mengutarakan rasa penasarannya. “Kenapa Tante? Apa ada yang terjadi pada Karan?”


“Waktu dia berusia empat tahun, tiba-tiba pernapasannya berhenti. Kami sekeluarga panik dan langsung membawanya ke rumah sakit. Beruntung Karan masih bisa terselamatkan.”


Raya tersentak. Jadi Karan sempat merasakan pengalaman mengerikan itu ketika ia masih kecil. Pengalaman berada di ujung maut tanpa bisa melakukan apa-apa. Nurani Raya pun tersentuh. Ia merasa iba dengan keadaan sang suami. “Syukurlah Karan selamat,” gumam Raya secara spontan.


“Benar, kami bersyukur dia selamat. Tapi penyakit pernapasannya itu tidak hilang begitu saja. Karan kecil begitu menderita karena penyakit itu. Dia bahkan harus menghentikan sekolah formalnya dan bersekolah di rumah. Kakak mengundang guru terbaik agar mengajari Karan di rumah ini ataupun di rumah sakit jika dibutuhkan. Karena kondisi Karan sering tidak menentu sehingga ia bisa sewaktu-waktu dibawa ke ruang UGD.”


“Memang penyakit apa yang Karan derita saat itu, Tante?”


Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak, mungkin mencari tahu nama dari penyakit Karan. “Aku tidak ingat namanya. Tapi kata dokter, ada lendiri di saluran pernapasan Karan yang menghambat bocah itu bernapas.”


Itu pneumonia atau orang awam menyebutnya sebagai radang paru-paru. Penyakit yang menyerang alveoli atau kantung udara. Pasti saat itu terjadi infeksi dalam paru-paru Karan sehingga kantung udaranya meradang dan berisi lendir. Penyakit yang bisa disebabkan oleh virus atau jamur, dan biasanya bisa disembuhkan dengan perawatan yang intensif. Jadi, Karan menderita penyakit seperti itu sewaktu ia kecil? Apakah penyakit ini yang ingin Karan sembunyikan dari Raya hingga pria itu selalu menutup mulut tiap kali ditanya perihal masa lalunya?