Lies

Lies
Tidak Ada Harapan



Tidak ada rahasia yang bisa ditutupi dengan mudah. Semuanya akan terbongkar pada waktu yang tepat. Itu pula yang Raya alami. Ia sudah merasakan bahwa keadaan saat ini sudah tidak terkendali lagi. Ayahnya semakin brutal memukulinya. Tidak ada tempat yang tersisa, seluruh tubuh Raya telah habis dipukuli oleh sang ayah. Tangan, punggung dan kaki. Mungkin bagian kaki bisa ditutupi, tetapi bagian tangannya tidak bisa disembunyikan dengan baik. Alhasil Farraz pun mengetahui luka yang selama ini berusaha tengah disembunyikan oleh Raya dari siapa pun, terutama dari sang kekasih.


Pertamanya Raya bisa menghindar dari Farraz ketika pria itu menanyakan perihal memar biru di tangannya. Memar yang ia dapatkan saat menahan pukulan sang ayah yang begitu barbar. Apalagi kali ini sang ayah tidak hanya menggertak saja. Tidak juga hanya menggunakan tangan kosong. Tangkai sapu yang patah menjadi saksi betapa kejamnya sang ayah memperlakukan putrinya. Akibatnya tangan Raya membiru dan terasa begitu nyeri. Untung saja saat itu Raya berhasil melarikan diri dari pria itu meskipun ia harus tidur di rumah tetangganya. Seburuk apa pun rumahnya, tetap saja kamarnya menjadi tempat yang paling nyaman untuk ditinggali. Selain itu, pakaian dan buku-bukunya ada di sana yang membuat Raya pun harus melewatkan tugas yang diberikan guru untuk ia kerjakan di rumah.


Inilah alasan kuat mengapa Raya tidak bagus dalam prestasi akademik, ia tidak pernah punya waktu untuk belajar. Setiap hari mengurusi ayahnya yang selalu membuat keributan. Saat masuk SMA, ia pun harus bekerja setelah pulang dari sekolah dengan membantu tetangganya. Di akhir pekan justru ia harus bekerja di sebuah restoran di desa seberang. Raya kehabisan waktu dengan hal-hal lain hingga ia tidak punya waktu untuk mengembangkan dirinya sendiri. Jangankan untuk belajar, hanya untuk beristirahat saja Raya tidak bisa. Hanya dengan menemani Farraz yang sedang latihan basket adalah cara Raya menikmati hidupnya. Mungkin pemuda itu tidak tahu, tapi bagi Raya, Farraz adalah segalanya, sebagai tempat Raya untuk melepaskan rasa penat sehari-hari.


Setelah kejadian itu, tidak disangka Raya mengalami hal yang lebih buruk lagi. Hubungannya dengan Farraz begitu buruk berkat permintaan pihak sekolah yang memaksanya untuk putus hubungan dengan pria itu. Raya tidak masalah dengan dirinya, tetapi ia bisa melihat kekecewaan besar terpancar dari mata pria itu. Terlebih ketika Farraz tampak sangat tidak terima dengan keputusan Raya untuk berpisah. Sama seperti Raya yang juga enggan menjauh dari Farraz, pria itu selalu mencari cara agar bisa mendekatinya lagi.


Raya tahu usaha itu, bahkan ketika Farraz melibatkan teman-temannya di dalam kelas. Raya harus bersyukur karena ia tidak perlu repot-repot untuk menghindar karena teman-teman Farraz pada dasarnya hanya orang-orang yang malas. Mereka hanya melacak kegiatan Raya tanpa mengetahui kenyataannya sebenarnya. Bukan aktivitasnya yang Raya sembunyikan dari Farraz, tetapi tentang perbuatan buruk sang ayah. Raya tidak mau orang yang disuruh Farraz memata-matainya itu benar-benar mengikutinya sampai ke rumah dan bertemu sang ayah. Kemudian, ia akan menyaksikan bagaimana Raya disiksa oleh orang tua kandungnya tersebut.


“Kau disuruh Farraz bukan?” ujar Raya saat memergoki teman Farraz yang sedang mengikutinya. Tentu saja Raya tahu karena tingkah pemuda itu begitu mencurigakan. Ditambah Raya juga mudah untuk mengenali hawa asing di sekitarnya. Dan selama beberapa hari ini, Raya selalu merasa aneh setiap kali pulang sekolah seolah-olah ada yang sedang mengikutinya. Ternyata dugaannya tepat karena memang ada orang yang mengikutinya. Raya pun menghampiri orang itu tanpa basa-basi sama sekali.


Orang itu tidak bisa mengelak, tapi ia juga tidak bisa kabur. “I-iya,” tukasnya. Apa yang ditawarkan Farraz cukup menggiurkan untuknya. Pemuda itu berjanji untuk membantunya dalam pelajaran. Sesuatu yang tidak mungkin diabaikan olehnya. “Lakukan saja apa yang kau ingin lakukan dan abaikan aku.”


Mengabaikan orang yang mengikutinya bukan sesuatu yang diinginkan Raya. Ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan cepat agar tidak menimbulkan masalah baru. “Apa yang dia inginkan?”


“Tidak ada. Dia hanya ingin mengetahui aktivitasmu. Kalau aku mendapatkan informasi itu, dia akan membantuku belajar.”


Raya menyeringai. Benar-benar khas seorang Farraz, memanfaatkan kelemahan orang lain demi kepentingannya. “Baiklah, aku akan membantumu. Aku akan memberikan informasi tentang keseharianku, tapi tolong jangan ikuti aku lagi.”


******


“Sungguh, ini bukan apa-apa. Aku sudah biasa mengalaminya, jadi kau tidak perlu cemas,” tukas Raya pada hari itu. Hari di mana Farraz meminta Raya untuk membuka bajunya di hadapan pemuda itu. Sekali lagi, Farraz tidaklah menginginkan Raya untuk benar-benar menanggalkan semua pakaiannya atau sekadar berusaha untuk berbuat mesum pada gadis itu. Farraz menyukai Raya, ia mencintainya. Tetapi bukan dalam konteks yang buruk. Ia begitu tulus ingin menjaga sang kekasih. Itulah sebabnya ketika ia melihat Raya terluka, darahnya seperti mendidih. Ia marah, tetapi tidak tahu bagaimana cara meluapkannya.


“Bagaimana kau bisa mengatakan kau baik-baik saja padahal kau terluka separah ini?” Farraz mengatakannya lagi. Ini bukan pertama kali Farraz meluapkan emosinya. Mungkin lebih dari lima kali ia mengatakannya bahwa hatinya tidak sanggup melihat sang kekasih mengalami penganiayaan separah itu.


“Kau sudah mengatakan pertanyaan itu tadi, Farraz. Apakah aku harus menjawabnya berulang-ulang? Ini bukan masalah yang penting bagiku. Cepat atau lambat, luka-luka itu akan mengering dengan sendirinya.” Begitu yang diyakini Raya. Luka yang berdarah akan cepat tertutup dan sembuh. Begitu pula dengan luka lebam membiru yang ada di sekujur tubuh Raya yang akan dengan mudah pudar. Tetapi hanya ada satu yang tidak bisa hilang dengan cara apa pun, yaitu luka di hatinya. Apa yang dilakukan ayahnya begitu membekas di benak Raya dan mungkin telah tertanam di alam bawah sadarnya.


Sehingga setiap bertemu dengan laki-laki itu, harapan besarnya untuk menyingkirkan sumber masalahnya itu muncul. Ia bahkan pernah berharap suatu hari nanti ada tetangga yang mengabarkan bahwa pria itu telah ditemukan terkapar tidak bernyawa di jalanan. Raya tidak masalah sama sekali jika tidak memiliki seorang ayah. Ia malah akan bersyukur akan itu. Bila perlu, kenyataan itu bisa datang secepatnya. Baginya, lebih baik tidak memiliki ayah ketimbang memiliki seorang ayah yang menjadi beban hidupnya. Meskipun Raya juga tidak tahu apakah hidupnya akan lebih baik seandainya sang ayah sudah tiada. Tapi setidaknya ada satu hal yang tidak akan dirasakan Raya lagi, yaitu penyiksaan yang begitu menyakitkan ini.


“Bagaimana kalau kau kabur saja? Apa kau tidak punya tempat untuk kabur?” tanya Farraz. Seandainya Raya ingin kabur, ia siap membantu gadis itu. Semua uang yang ia kumpulkan akan ia berikan kepada Raya dengan ikhlas. Raya lebih membutuhkan uang-uang itu ketimbang dirinya. Namun, apa yang dikatakan Raya malah mengejutkan dirinya.


“Ke mana aku harus kabur? Memangnya ada tempat yang lebih baik dari tempat ini? Setidaknya di sini aku bisa mengatasi masalahku sendiri. Aku hanya tinggal menahan rasa sakitku sambil terus berharap laki-laki itu menghilang dari hadapanku. Mungkin dengan rasa kasih malaikat pencabut nyawa atau karena kerasukan setan. Jika dia hilang, hidupku akan membaik,” ucap Raya dengan penuh putus asa. Matanya yang selalu berapi-api dipenuhi semangat, justru terlihat kosong sekarang. Seperti orang yang tidak punya harapan sedikit pun.


Demi apa pun, Farraz tidak pernah melihat kekasihnya seperti itu. Hatinya terenyuh dan terasa sakit sekali. Ingin sekali Farraz menuntaskan rasa sakit Raya. Tapi ia bingung harus melakukan apa. Terlebih ini menyangkut tentang keluarga sang kekasih.